"Kamu baik-baik aja, Jihan?" tanya Zia, khawatir melihat Jihan yang beberapa hari sering diam, melamun. "Hem ... baik," sahut Jihan, terdengar tidak yakin. Zia mendekat, duduk di sebelah sahabatnya itu. "Semenjak pulang dari kantor kak Nasim, kamu jadi kelihatan murung, emangnya ada apa? Ada masalah?" Jihan mengangkat pelan bahunya, menggeleng pelan, bingung, harus cerita pada Zia atau tidak. Zia belum sepenuhnya pulih, Jihan takut masalahnya malah membuat Zia ikut terpikir. Jihan tahu, curhat membuat hatinya lega, tapi, Jihan tidak ingin egois. Bagaimana pun semua orang menyangkalnya, curhat juga bisa membuat orang yang mendengarkan menyerap kesedihan yang ada, itulah faktanya. "Ayolah Jihan, aku juga ingin menjadi sahabat yang berbakit. Masa kamu terus yang nolongin aku, aku ga

