(Ngarai Hitam)
“Hmmmm... Kau benar, Kakang! Meski samar tapi aku bisa merasakannya! Aura manusia b***t yang menjadikan kita seperti ini!” Sang Genderuwo kalajengking, melompat-menerjang Ni’mal. Ekor tajamnya, membidik lurus.
Sett! Drap!
Memeluk Lastri yang tak sadarkan diri, Ni’mal lanjut melompat tinggi ke udara. Kepalanya menoleh ke belakang, lalu melemparkan tubuh Lastri ke arah Azizah. “Tangkap!”
Tep!
Berhasil menangkap, Azizah menaruh pelan Lastri di samping gadis muda yang juga tak sadarkan diri. Saat Azizah hendak melesat bergabung dalam pertarungan, Ni’mal yang baru mendarat di genangan air, berteriak, “diam di sana dan jaga saja mereka! Dua makhluk ini urusanku!”
Menggeram, Genderuwo dengan tubuh kelabang mengepalkan tangan kirinya yang bercakar. “Arjuna Merah! Sekarang tiba hari pembalasan bagimu!”
“Dengar...” Ni’mal mengatur napas, mencoba memberanikan diri tuk bicara, “aku tak ingat siapa kalian, bahkan masa laluku sendiri sebagai Arjuna Merah. Aku... Mohon maaf, jika aku pernah mencelakai kalian... Tapi, bisakah kita ber-”
Wuzz!
Sang Kalajengking, meluncurkan kembali sengat tajamnya. "Hragh!" Ni’mal yang terkejut, berhasil sedikit menggeser badan. Meski kakinya terkena serpihan batu yang hancur oleh ekor kalajengking. “Erghh!”
Pemuda dengan rambut lebat itu, memandang tajam si monster. Sang Genderuwo kelabang, buka mulut, “kau memohon maaf dengan mudah, setelah kau membuat kami berdua sengsara!”
“Aku Arya! Dan dia Eka Birawa! Kami, adalah manusia yang kau tumbalkan demi seonggok batu yang kau cari-cari!”
Ngiiiing....
Ni’mal, kembali terganggu oleh dengingan pada kedua telinga. Rasa pusing dan mual, seketika membuatnya berlutut, jatuh ke bawah. 'Ka-kau... Ni’mal dari Tim PM khusus Senlin, bukan? Bukankah kau telah lama menghilang?'
'Hey, Ni’mal... Apa ini sungguh tak apa? Bukankah ini... Melanggar aturan?'
'Ba-baiklah, Arjuna Merah. Apa kau yakin, ini aman untuk manusia seperti kami?'
'Aku pegang kata-katamu. Jika sesuatu yang buruk menimpa kami, maka kami tak akan melepaskanmu!'
'Ni’mal... Kau tak waras!'
'Ni’mal!' Suara-suara serta kilasan masa lalu, terpintas cepat bak video yang terputar ulang di kepala Ni’mal.
“Aaarrgh!” Ni’mal menunduk memandang kedua lutut yang tergenang air. Hidungnya kembali mimisan.
Azizah yang khawatir, hendak bergerak menghampiri. "Kau kenapa!"
Sosok Genderuwo bertubuh kelabang, menyemburkan cairan ungu-dari asam, tepat di depan kaki gadis tersebut. Cairan korosif melelehkan bebatuan yang jadi pendaratan. “Diam di sana, hai makananku! Aku tak mau tubuhmu hancur sebelum aku kunyah di dalam mulut!” serunya mengacungkan tangan ke arah Azizah.
'A-aku harus bagaimana...' Gadis bermata cokelat meraba daerah leher yang tertutup kain busana. Jarinya meraba sesuatu-seperti kalung dari tasbih yang melingkar hingga tengkuk. 'Mustahil jika... Aku bisa membunuh mereka...'
Arya sang genderuwo bertubuh kalajengking, menapak mendekati kepala Ni’mal. “Sekarang, tunjukan pusakamu yang membuat kami sengsara seperti ini!”
Lelaki berjaket hitam merah, makin bimbang dan dilema. Ia benar tak tahu apa yang mesti dilakukan. 'Melawan? Untuk apa melawan jika... Aku yang bersalah? Bukankah, artinya aku pantas menerima ganjaran atas apa yang aku lakukan?'
“Ohhh...” Arya sedikit melangkah mundur. “Jadi kau mau menyerah saja, ya?”
Splat! Graap!
Arya, menggunakan tangan kanannya yang berbentuk ekor ular untuk melilit tubuh Ni’mal. “Jika begitu... Biarkanku siksa dirimu sebelum ajalmu!”
Wuuuung!
Ni’mal dilempar keras ke arah tebing batu.
Bral!
Usai mendarat keras di tebing, ia terjatuh ke air yang sedikit menggenang, merendam sebagian tubuhnya yang lemas. 'Aku menyerah... Aku... Tak lagi punya alasan hidup...'
Ced!
Ekor tajam si kalajengking melesat mengincar perut yang terbalut jaket hitam. Namun, sengat tajam kalajengkingnya tak mampu menembus kain yang Ni’mal sandang. Alhasil ia memilih menyasarkannya pada kaki sasaran.
Clep!
“Eeerggh!” Paha Ni'mal tertembus oleh ekor lawan. Tubuhnya dengan ringan, diangkat ke atas.
“Haaaa!” Arya meluncurkan cakar kirinya berkali-kali, tetapi tak ada yang mampu mengoyak tubuh Ni’mal yang berlapiskan jaket hitam. Geram, ia meremas lanjut melemparkan tubuh Ni’mal ke arah Azizah.
Wuung!
Perempuan berambut lebat, melompat bermaksud menangkap Ni’mal yang terhempas. Nahas, ia justru ikut terbanting sebab daya lontar kuat-yang membuat Ni’mal melayang. "Aaaahh!"
***
(Di tempat dan saat yang sama)
Agni dan Rahaf terhenti. Kedua gadis spontan mengambil kuda-kuda. Api menyala pada kedua telapak tangan Agni, sedangkan Rahaf mundur selangkah dan berada di belakang Agni.
Di depan mereka, sesuatu berwarna hitam muncul naik dari bayangan sebuah pohon besar. Sosok yang baru muncul itu, mengenakan busana serba hitam, panjang. Topeng yang ia kenakan, berwarna merah. "Wilujeng siang, Adek-adek manis..."
“Cepot!” bisik Agni cemas.
***
(Belasan tahun silam)
Indurasmi berkilau bersama gemintang di langit malam. Ni’mal, di usianya yang menginjak enam tahun tengah menikmati nyanyian jangkrik di malam hari. Mbah Purwadi membawakan sebuah gunungan wayang. Gunungan yang berukirkan lukisan sesosok kepala harimau di tengah, di kelilingi pepohonan jati. Ni’mal yang sudah menanti sang kakek dengan duduk di teras rumah, sumringah dengan pendar mata berbinar. “Kakek... Itu wayang?”
Mengangguk lalu melepas blangkon di kepala, Mbah Pur tersenyum dan duduk di samping cucu. “Ini, namanya gunungan, Le.”
Ni’mal mendengung. “Gunungan itu yang paling lemah di pagelaran wayang ya, Kek?”
Menaikan alis, Mbah Pur mengangkat-memangku Ni’mal kecil. “Kenapa begitu?”
“Kan... Setiap ada lakon yang melawan Makhluk Hitam di pagelaran, dia hanya diam. Sampai-sampai, Makhluk Hitam tak mengganggunya, ‘kan?”
Mbah Pur tertawa kecil. “Lah gunungan itu, kalau di dunia nyata ya, seperti gunung yang kita tempati ini. Dia besar, tapi diam. Dan sabar meski banyak manusia dan makhluk lain yang menginjak-injaknya.”
“Ooohhh.... Begitu...” Sang bocah lugu meraba gunungan tersebut. “Terus ini gambar apa, Kek? Apa ini kepala gunungan?” tanyanya meraba gambar kepala harimau.
Jeda sejenak, Mbah Pur tarik napas. “Dia... Adalah makhluk yang menjaga manusia dan Makhluk Hitam.”
“Apa dia baik, Kek?”
Mbah Pur mengangguk. “Tentu.” sahutnya mendekap Ni’mal lembut. Ia bersenandung. Gendhing jawa. Suaranya merdu, sampai-sampai Ni’mal perlahan merasakan kantuk. “Thole, sudah malam. Tidur ya?”
“Mmmm... Kek, tadi Ni’mal lihat pagelaran wayang di balai desa. Ni’mal... Bingung, Kek.”
Menaruh gunungan di samping, Mbah Pur bertanya, “bingung kenapa, Le?”
“Sri Rama itu, selalu jadi pahlawan dan orang baik. Seperti Arjuna. Tapi, Rahwana sebenarnya juga bukan Raja yang jahat, kan?”
Mbah Pur, nampak serius. “Kenapa Ni’mal berpikir begitu?”
“Rahwana jahat, karena menculik Dewi Sinta. Tapi, setelah menculik Dewi Sinta, kenapa dia malah baik dan memberikan semua permintaan Dewi Sinta? Kalau dia benar jahat, dia pasti seperti Buto Ijo yang akan membunuh manusia.”
Mendengar argumen Ni’mal, Mbah Pur tertegun sejenak. 'Iki bocah kok wis mikir jeru ngene, (Ini anak kok sudah bisa berpikir dalam begini,) batinnya.
“Kasihan Rahwana kan, Kek?”
Mbah Pur membuang napas berat. “Terkadang takdir seperti mempermainkan seluruh makhluk dan seisinya. Namun, hanya alasan yang benar-yang di benarkan oleh Sang Maha Pencipta, yang patut dilangkahi.”
“Maksudnya, Kek?”
Mengelus kepala Ni’mal, Mbah Pur tersenyum. “Kalau... Thole yang jadi Rahwana... Apa yang akan Thole lakukan?”
“Mmmmmm... Ni’mal akan minta maaf pada Sri Rama dan Dewi Sinta. Dan tidak akan membuat sedih orang-orang lagi,” jawabnya lugu.
Menghadapkan wajah Ni’mal pada wajahnya, Mbah Pur tersenyum. “Lalu, jika setelah meminta maaf Sri Rama dan Dewi Sinta tetap ingin balas dendam, padahal Thole sudah tidak melakukan kesalahan yang sama, Thole bagaimana?”
“Dewi Sinta dan Sri Rama kan, baik. Pasti akan memaafkan,” jawabnya yakin.
Menatap dalam netra Ni’mal, Mbah Pur pun hening. Ia kembali membelai lembut rambut sang cucu. “Lalu, kalau Thole itu Arjuna yang tak sengaja membunuh Makhluk Hitam, dan kemudian keluarga Makhluk Hitam itu memburu Thole... Bagaimana?”
Ni’mal kecil, melirikkan kedua matanya ke kanan dan kiri bergantian. “Ni’mal... Akan melawan. Tapi, kalau dia sudah kalah, Ni’mal mau pergi. Tidak mau membunuhnya.”
Mencium kening cucunya, Mbah Pur tersenyum. “Pinteer!”
***
(Ngarai Hitam, masa kini.)
“Ka... Kek...” Ni’mal tersadar. Air matanya lirih mengalir, bukan sebab rasa nyeri yang teramat dari pahanya yang berlubang sebab serangan lawan, melainkan karena jelasnya kilas masa lalu pada mimpinya yang singkat. Tubuhnya tengah dipegang oleh tangan kanan Arya-sang Genderuwo kalajengking.
“Nahh... Akhirnya kau sudah sadar,hai Arjuna Merah!”
Ni’mal menunduk mengatur napas perlahan. “Sudah aku bilang, kan... Kalau aku minta maaf...”
“Maafmu, tak akan bisa meluluhkan hati kami! Sekarang, matilah kau Arjuna Merah!” Makhluk dengan ekor kalajengking itu, meluncurkan sengatnya yang tajam-membidik wajah Ni’mal yang ada di genggaman tangan.
Wag!
Ni’mal dalam sekejap berhasil membuka belenggu erat jemari sang monster. Ia lanjut melompat memperhatikan sengat tajam kalajengking menusuk-menembus telapak tangan lawannya sendiri.
Jleb!
Clak!
"Hyahh!" Di saat yang sama, Azizah melesat mengayunkan sebuah pedang panjang dari belakang, berhasil memotong ekor si monster kalajengking.
"Hwaargh!" jeritnya kesakitan. Arya melompat mundur. Darah yang barusan tersembul, membasahi tubuh Azizah. Mendarat di bebatuan yang terselimut air.
Ni’mal melirik pedang yang digunakan Azizah untuk memotong ekor lawan. Pedang dengan ukiran aksara jawa di tengahnya. 'Hati akan menuntunmu pada cahaya?' pikirnya usai membaca ukiran pada bilah pusaka tersebut.
“Kau tak apa?” Azizah bertanya lesu. Darah-darah monster yang membasahi kulitnya, perlahan terserap masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
“Da-dari mana kau dapat pedang itu? La-lalu...” Ni’mal, menoleh ke belakang, di mana Lastri tengah dijaga oleh seorang gadis berambut panjang. 'Dia sudah siuman...'
“Awas!” Azizah mendorong Ni’mal, lanjut menangkis serangan ekor dari Genderuwo kelabang.
Twaang!
"Ahhhk!" Nahas, ia terlempar menabrak tebing. Pedang yang digunakan pun terlepas dari tangan.
Mengambil kuda-kuda, Ni’mal teringat jelas pesan mendiang sang Kakek. “Jika kalian masih ngeyel ingin membunuhku, jangan salahkan bila aku melumpuhkan kalian!” pupil mata pemuda berjaket hitam merah, perlahan berubah dari cokelat terang menjadi merah.
“Benar! Tunjukan dirimu yang sebenarnya agar aku tak segan mencabik tulangmu!” Genderuwo Kelabang melesat cepat. Kaki-kaki kelabangnya yang banyak, lincah berlari di atas bebatuan basah.
Sedangkan Arya, melompat dan mengarahkan ekornya yang telah buntung untuk menyerang.
Swuss!
Ni’mal mengelak dengan melompati terjangan sang monster kelabang. Ketika di udara, ekor sang kalajengking menyambar. Pemuda berjaket hitam lanjut memutar badan, menghindar. Telapak tangan kanannya, menempel di permukaan keras kulit kalajengking. Ia menjadikannya sebagai pijakan tuk melambung, mendekati pedang Azizah yang tergeletak.
Wuz!
Tep!
Manakala tangkai pedang tersebut erat di genggam Ni’mal, ukiran aksara jawa di sana, menyala terang. 'Me-menyala?'
“Kakaaang! Rupanya itu pusaka si tua bangka!” teriak Arya.
Pemuda bermata cokelat melirik ke arah pedang yang ia pegang. 'Apapun pedang ini, itu artinya mereka takut dengannya...' Terpintas wajah pria tua yang telah menolong Ni’mal. 'Mungkinkah... Ini pedang Sang Datuk yang dititipkan pada...' Ni’mal, menoleh ke belakang.
“Akaang! Awas!” Gadis berbaju besi di sebelah Lastri berteriak.
Drap!
Mengerti bila ia akan diserang, Ni’mal melompat memutar badan di udara. Ia berhasil menghindari terjangan Genderuwo bertubuh kelabang.
Tap!
Pemuda dengan pedang panjang di tangan, menapakkan kaki di atas kepala lawan, lanjut melesat ke arah Arya. Wajah genderuwo bertubuh kelabang, menyeringai. Ia, menyemburkan racun ke punggung Ni’mal.
Wurr!
Seringai di wajahnya hilang ketika racun yang mendarat di punggung Ni’mal, tak mampu merusak jaket hitam sasaran. “Apa!”
Slak!
Dalam sekejap Ni’mal memotong tangan berwujud ekor ular si monster hitam.
Tep!
Baru mendarat sebentar, Ni’mal kembali melompat, lalu mengarahkan ujung tajam pedang dengan ukiran aksara jawa di sana.
Jlub!
"Berhenti bergerak atau lehermu lepas!" kecam Ni'mal.
Arya menjerit kesakitan saat benda tajam lawan menusuk-menembus punuk hingga leher. “Kurang ajar kau!”
Slak!
Bodohnya ia justru memutar badan ke belakang, yang mana membuat lehernya sendiri terlepas.
Ni’mal melompat memijak punggung si makhluk berbulu, lalu mendarat-berlutut di bebatuan. Napasnya tersengal. Kakinya terasa berat, sempoyongan.
“Adindaaa!” Genderuwo bertubuh kelabang berteriak. Ia cepat menghampiri tubuh sang adik yang telah meregang nyawa.
Ni’mal coba melambatkan keluar-masuk napas yang berontak. 'Kakiku... Kaku! Kenapa ini!'
“Arjuna Merah! Tiada ampun bagimu!” Sang monster kelabang hitam meluncur ke arah Ni’mal. Tangan bercakarnya mengayun keras ke tubuh sasaran yang sudah lelah.
Blag!
Wung!
Pemuda berambut lebat terlempar jauh. Punggungnya kembali mendarat keras di tebing. Pedangnya pun, terjatuh dari tangan. "Hugh!" Ni'mal nyingir menahan nyeri.
Kepala Genderuwo berbadan kelabang, menumbuhkan sungut dan tanduk. Cakar tangan kirinya, memanjang. “Mati kau!” ia mengincar kepala Ni’mal.
Wung! Dar! Dar! Dang!
Dua buah perisai gaib yang tak terlihat, hancur. Namun, perisai ketiga, berhasil menahan kuku si genderuwo.
Ni’mal yang sempat diam berpikir, lirih menaikkan garis bibir. Ia paham bila Rahaf yang membuat perisai gaib tersebut. 'Dasar bocah...'
“Pergilah jika tak ingin jadi monyet-kecoa bakar!” Gadis berjubah hitam merah, terjun dari langit. Tinju kanannya, terbakar oleh api. Agni.
Blamm!
Punggung sang monster, telak jadi pendaratan. Makhluk itu tersungkur dengan tubuh yang terbakar. "Hwaargh!"
Belum usai, Agni menempelkan telapak tangannya di punggung berbulu sang monster. “Api Banaspati!” “Graaaaaaaaaaa!” Api yang menjilat tubuhnya, membesar dan berubah jadi merah. Tubuh sang monster kelabang, terbakar habis jadi abu.
Ni’mal menutup wajah dengan tangan kiri. 'Apa semua Makhluk Hitam lemah pada unsur api, ya?'