Ngarai Kematian

2418 Words
(Hutan Tarang)   Seett...   Ni’mal bersama gadis berambut panjang berhenti di ujung jurang yang membentang. Di sisi kanan dan kiri, terlihat jalan setapak kecil yang mengitari jurang berada di dekat tebing terjal. Angin menerpa rambut serta kain panjang yang membalut gadis bermata cokelat. Di saat yang sama pula, cincin Ni’mal menyala hijau tosca. Jarinya pun bergetar-kesemutan. “Ayo, cari jalan memutar lain. Mereka akan kehilangan jejak kita di sini!” bujuknya melangkah menarik tangan Ni’mal. Gadis itu tak menyadari cincin Ni’mal yang menyala.   Plak! Ni’mal melepaskan pegangan gadis tersebut. “Azizah, cucu sang Datuk, benar?”   “Iya! Kau mau ke mana? Ayo cepat! Atau mereka akan tiba!”  Menarik napas dalam, Ni’mal memejamkan mata setelah mengamati cincinnya yang masih menyala samar. “Pergilah. Lari sejauh mungkin. Kau bisa sampaikan pada PM ataupun warga desamu jika aku telah hilang.” “Ma-maksudmu?” “Pergi, kembalilah ke desa! Mereka tak akan menyakiti kalian jika aku tak ada bersama kalian,” jelas Ni’mal sembari mengatur napas.   “Apa kau mau menyerah?”   Pemuda berjaket hitam merah menenangkan diri. Menghirup napas pelan lewat hidung. Ia coba merasakan keberadaan sesuatu yang dicari. Fokusnya tertuju pada indra pendengaran, hingga ia sili berganti mendengar suara para manusia dalam radius di bawah lima kilometer.   “Apa yang akan kau lakukan?” Azizah bertanya, tak tahu apa yang sedang Ni'mal perbuat.   'Ke mana perginya buronan itu!'  'Mustahil dia sudah menjauh dari tempat ini!'   'Dia pasti masih ada di dekat sini!'   'Kita bisa mencarinya!'   'Hai Melon! Bagaimana mungkin kau bisa mengimbangi Arjuna Merah! Apa yang tadi kau lakukan! Kau benar-benar tak terluka?'  'Aku hanya mengajaknya berbicara seraya terus menembak.'   'Aku seperti merasakan keberadaan Kak Ni’mal di sana!'   “Hey! Kau kenapa diam begitu!” Azizah, mengguncang kedua pundak Ni’mal. Memaksanya membuka kedua mata.   “Ck! Diamlah!” celetuk Ni’mal ketus. Hening selama lima detik, Ni’mal kembali memejamkan mata. Ia, mengatur pernapasan. Wajah Gus Armi, adalah sosok yang tergambar jelas di benaknya. Sebab dengan mengingatnya, entah bagaimana ia lebih mampu menajamkan indranya.   'Kau bawa sembilan orang lain untuk pergi ke timur! Kau bawa lima belas orang lain ke arah selatan! Kau bawa sisanya ke barat! Aku dan Melon akan coba cari ke utara!'   'Benar! Kak Ni’mal ada di depan sana!'   'Agni, apa kau yakin jika Ni’mal ada di sana?'   'Teh, Agni pasti tahu jelas aura keberadaan Kak Ni’mal. Karena dia sendiri yang menghadapi Kak Ni’mal saat jadi Arjuna Merah di Sayembara lalu.'   Ni’mal, mengernyitkan dahi. “Puspa... Kah? Suara Rahaf?” bisiknya masih memejamkan kedua mata.  'Tolong!'  Mengerjapkan mata cepat, Ni’mal menoleh ke arah jurang. “Lastri!” teriaknya yakin.   “Eh? A-apa? Ada apa?” Azizah bingung.   Cuuiing!  Sebuah suar merah, tertembak ke langit. Suaranya berada di belakang mereka.   Ni’mal dan Azizah, serempak menoleh ke belakang. Dilihatnya rombongan PM yang mengacungkan senapan sembari berteriak, “jangan bergerak!”   “Ciloko tenan!” gerutu Ni’mal menoleh ke wajah Azizah yang sedikit panik. 'Jika aku lari sendiri, gadis ini akan mereka bawa! Sial!'   Grep!   Ni’mal sigap meraih tangan Azizah. Ia membawanya melompat ke arah jurang. Azizah yang panik, seketika berteriak histeris.   ***   “Argh...!” Ni’mal yang terguling di jurang, kewalahan mengatur keseimbangan. Duri dan ranting kering yang berserakan, menggores kulit tangan dan kaki yang tak terlapis jaket hitam-merahnya. Belum lagi, batuan yang telak menggores kepala. Ketika curamnya tanah tak mungkin lagi jadi jalurnya menggelinding, Ni’mal terlempar ke arah jurang tanpa tanah sebagai penghalang. Gesit, Azizah menggapai selendang, lalu meluncurkannya ke arah Ni’mal. “Tangkap!”   Splaat! Kedua mata cokelat Ni’mal, sayu-berfokus pada selendang hijau tosca itu.  Grepp!   Erat memegang kain, Azizah justru turut tertarik dan jatuh ke jurang yang sama. Mereka, kembali berteriak serempak.   ***   (Padepokan Gajah Putih, Kadipaten Cidewa Hideung.)  Ki Ageng Jagat bersila di bawah pohon beringin rindang. Kopi hitam dan sebungkus rokok, turut menemaninya berbincang dengan pria berblangkon cokelat. Gus Armi.   Usai mengisap rokoknya, Ki Ageng Jagat bicara, “jadi... Tinggal hitungan bulan saja sebelum purnama merah muncul, ya?”  Menyeruput kopi lempung, Gus Armi mengangguk. “Ni’mal sudah cukup lama belum ditemukan. Padahal... Kemarin Ayahnya mampir ke curug Dirga.”   Ki Ageng Jagat membuka kedua mata lebar. “La-lalu... Apakah dia juga sedang mencari putranya?”  Gus Armi Menggeleng, kembali mengisap rokok sembari menatap lawan bicara. “Tidak. Sepertinya dia yakin, bila Ni’mal akan datang mencarinya nanti.”   Menghela napas, Ki Ageng Jagat menunduk. “Pemuda itu bukanlah anakku... Tapi mengapa aku yang khawatir...” Diam lima detik, Ki Ageng Jagat bertanya lagi, “lalu, apakah Prabu Paku Utomo... Akan melakukan pergantian kepemimpinan sebelum Purnama Merah?”  “Tanggung jawab beliau, mengenai sayembara kemarin belum selesai.”   “Maksudnya... Pusaka Manunggal itu, kah?”   “Ya...” Gus Armi mengangguk sekali. “Dia yang secara sukarela ingin mewariskan pusaka itu... Pada Ni’mal.”   “Jadi, meskipun Ni’mal dicap sebagai buronan... Tak masalah jika PM yang menangkapnya?”   “Entah, Mbah... PM sendiri dibentuk oleh oknum-oknum yang merencanakan niatan buruk. Dan tradisi itu, sudah mendarah daging dalam organisasi.” Gus Armi, teringat pada pemalakan warga sipil oleh para PM di berbagai daerah. “Tapi usaha licik apa pun yang akan mereka lakukan, kita harus siap mengatasinya.”   ***   (Dasar jurang, Ngarai Kematian.)  “Duh.... Gusti...” Ni’mal, memegang dahinya yang berdarah. Lukanya sudah mengering, namun terasa perih. Tubuh kekarnya yang berlapis busana hitam tampak basah.   Mengambil posisi duduk, Ni’mal memandang sekitar. Ia berada di dasar jurang-seperti rawa-rawa tanpa tanaman. Hanya ada bongkahan batu-batu keras, serta air tenang beraroma anyir. 'Beruntung aku masih hidup setelah terjatuh dari sana...' Ni’mal bernapas lega, menoleh ke belakang atas di mana tebing jurang nan curam menjulang.   Menoleh ke kanan, pemuda itu melihat Azizah tengah kesakitan meraba lutut. “Kau tak apa?” tanyanya perlahan menghampiri su gadis.   Nyengir, Azizah diam memandang luka.   “Kalau saja tadi-” belum selesai bicara, Ni’mal menarik napas dalam. 'Hmm... Dia bukan Puspa. Tentu dia tak setangkas itu,' pikirnya mendekat.   “Maaf...” ucapnya menunduk.   “Kau... Bagaimana bisa kau menemukanku? Bukan para PM yang memintamu membawaku, kan?”   “Datuk yang memintaku mencarimu... Beliau bilang, aku... Harus menemanimu sampai di Pohon Pasak...”   “Untuk menemukan Pohon Pasak, apakah ada pusaka yang harus dibawa? Seperti... Sebagai kunci menuju ke sana, mungkin?"   Azizah menggeleng, mendongak. “Tidak. Tapi...” gadis berambut panjang itu menunjuk ke tebing. “Harusnya tadi, kita lewat sana...”  Menghela napas berat, Ni’mal menatap Azizah. “Lalu kenapa tadi kau tak langsung bilang saja!”   “A-aku... Tadi kan sudah bilang, jalannya ke samping ka-”   Ni’mal menyela, “sudahlah... Terlambat. Lagi pula...” Ni’mal, melirik ke arah kanan. Di man tiga buah mulut gua, terpampang di sana. Semuanya gelap, lembap. Namun tak ada sedikit pun lumut yang tumbuh. “Aku seperti mendengar suara seseorang yang kukenal," gumamnya berjalan pelan.  Baru tiga langkah Ni’mal berjalan, suara Lastri membuatnya terpaku pada bayang bebatuan di sekitar gua.   “Tolong!”   Kedua matanya terbuka lebar. Pemuda bercincin akik yang menyala hijau tosca, melesat cepat-menimbulkan bunyi gemercik pada kubangan air yang tak seberapa. “Lastri!”   Lastri, gadis bersweater putih dengan celana jeans panjang, berlari ke arah Ni’mal. Busana perempuan berhidung mancung tersebut, telah banyak berlumur tanah. Lengan kanan gadis itu, terluka-seperti luka sobek. Tubuh Ni’mal, tergerak untuk berlari menghampiri.  Rasa pusing serta kedua telinganya, berdenging hebat. "Erghh!"  Wuz!  Blak! Sebongkah batu besar, melayang-menimpa Lastri dari belakang. Seketika, sang gadis meregang nyawa.   ***   'Perasaanku tak enak... Ada apa, ya?'   “Teteh, kenapa?” Rahaf memegang lengan kanan Puspa. Gadis berkacamata itu, menoleh ke kanan saat  Agni turut berhenti melangkah. “Ke-kenapa?” Rahaf, segera menoleh lurus ke depan. Ke arah rombongan PM yang tampak dengan senapan lengkap. Ada lima belas orang.   “Duh! Kenapa mereka di sini! I-ini kan belum kawasan perbatasan!” Rahaf cemas.   Agni, buka mulut, “tak apa... Mereka tak tahu kita di sini sedang mencari Kak Ni’mal. Bersikap biasa saja.” Puspa menambah, “lagi pula mereka juga tak punya hak untuk memaksakan kita bicara. Mereka tak punya bukti apapun," ujarnya yakin.  'Leres saur Rahaf... Eta sanes wilayah wates deui...Mung naha aranjeunna aya didieu? Boa pihak PM PM oge milari Ni'mal? (Benar kata Rahaf... Ini bukan wilayah perbatasan lagi... Tapi mengapa mereka di sini? Apa mungkin pihak PM juga mencari Ni’mal di sekitar sini? Atau jangan-jangan...)'  “Hey kalian! Diam di tempat!” salah satu PM di barisan terdepan, berteriak. Mereka menodongkan senapan. Salah satu anggota PM lain, bertanya ketika rombongan mereka sudah berjarak tujuh meter dari Puspa, “apa yang kalian lakukan di sini?”   Agni menyahut, “dan apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah ini sudah bukan perbatasan wilayah Arsir?” “Diam kau bocah! Aku bertanya pada cucu Ki Ageng Jagat!” bentaknya.  Mengerti Agni tersinggung segera menyerang, Puspa menepuk pelan pundak gadis berjubah hitam-merah. “Kami hanya sedang mencari sesuatu,” Puspa menjawab.   “Ah, jangan-jangan kalian berkomplot dengan buronan yang se-” belum selesai berargumen, PM di sebelahnya menabok keras pundaknya.   Puspa seketika paham bila benar para PM telah melihat Ni’mal di sana. “Jika kalian tak keberatan... Kami akan undur diri.”   Rombongan PM serempak hening. Hanya suara jangkrik hutan yang kini terdengar.   Blaam!   Bunyi sesuatu yang amat keras, membuat mereka semua menoleh ke arah jurang. Ketika spontan para rombongan hendak bergerak, salah satu PM mengangkat tangan tinggi. Hal itu membuat mereka urung bergerak.   Rahaf terbelalak menatap jurang. “Teh... Aku yakin i-”   Agni, menyumpal mulut gadis berkacamata. “Ayolah Teh! Kita sudah sejauh ini... Apa hanya karena cecunguk seperti mereka, kita harus menjauh?” bisiknya. Gadis berambut panjang itu, perlahan meraba selendang yang membalut tubuh.  'Agni benar...' pikirnya memandang tajam para PM. “Kalian berdua, segera periksa keadaan di bawah sana. Aku segera menyusul.”   Mendengar kalimat tersebut, para PM kembali menodongkan senapan ke arah Puspa.   ***   (Ngarai Hitam)   “Lastri!” teriak Ni’mal. Ia tersadar dari penglihatan masa depan yang terpintas. Pemuda dengan tubuh penuh luka, memaksakan kedua kakinya melangkah di antara air keruh. “Haaargh!”   Wuz!   Ni’mal memijak keras tanah hingga retak. Air di sekitar kakinya, tersebar naik. Di saat yang sama, sebuah batu besar dari balik bayangan gua, meluncur cepat ke arah mereka. Cincin batu akik Ni’mal yang tadi menyala hijau tosca, kini berubah perlahan jadi merah.   Azizah terpana melihatnya. Ia tak menyangka, pria yang ditemukan dengan luka sukma yang parah, ditambah telah beradu tinju dengan sang Ayah, masih bisa bergerak seperti itu. 'Bagaimana... Mungkin...'   “Lastri! Merunduk!” Ni'mal berteriak manakala sebuah batu berdiameter tiga belas meter, hancur dalam sekejap oleh tinjunya.   Braaal!! Batu besar itu, hancur jadi serpihan-menyebar ke penjuru arah.   Namun saat beberapa kepingan batu hendak mengenai Lastri, Ni’mal secara tiba-tiba berada di dekat gadis tersebut. Ia sigap menepis remukkan batu hanya dengan kedua kaki bergantian.   Gadis berbaju putih histeris. Ia menjerit, menangis.   Azizah memakai selendangnya untuk menepis sebuah batu yang meluncur ke arahnya. Alhasil, ia tak melihat Ni’mal yang sempat berteleportasi ke samping Lastri.   Mengatur napas perlahan, Ni’mal berlutut memegang pundak Lastri. “Kau tak apa?”   Lastri yang masih terkejut, spontan memeluk Ni’mal erat. Gadis itu menangis tanpa kata. Kedua tangannya yang kecil, mencengkeram erat punggung jaket Ni’mal.   Azizah berjalan terseok dengan kakinya yang terluka. Ia menghampiri mereka berdua.   “Lastri... Kau tak apa? Bagaimana mungkin kau bisa ada... Di sini?” Ni’mal, pelan bertanya.   Namun gadis itu hanya menangis. Enggan menjawab. Teror dan trauma teresirat dari sorot mata jernihnya.  Meraba lengan Lastri yang luka, Ni’mal menajamkan kedua mata ke arah gua. “Manusia, atau... Makhluk Hitam yang melukaimu?”   Wuuung!   Sesuatu dengan cepat, kembali meluncur dari dalam goa. Alhasil, Ni’mal yang tengah mendekap Lastri, bergegas melompat. Ia, membawa gadis itu menghindar.   Blakk!   Azizah yang lengah tertabrak oleh sesuatu-yang rupanya adalah seorang gadis dengan baju zirah perak. Celana dan ikat pinggangnya, dari batik mega mendung. Gadis berambut panjang itu, terlempar kuat.   Ni’mal memejamkan kedua mata. Ia samar merasakan hawa yang teramat panas dari dalam gua. Gua yang ada di depan, dan gua yang ada di sebelah kanan. 'Kanin? Bukan!' ia samar mengingat aura para Kanin yang pernah ia binasakan sekaligus merasakan aura makhluk halus yang pernah mengganggunya ketika bermeditasi. 'Dedemit? Bukan juga!'   Kini, tampak kedua sorot mata yang merah menyala dari gua di depan Ni’mal. “Wahahahaha!” Sesosok makhluk dengan badan atas bak genderuwo, dengan tubuh bagian bawah serupa dengan kalajengking, muncul dari gelap bayangan gua. “Kaakaang! Sepertinya hari ini kita makan besar!” ada rantai yang membelit leher dan badannya.   Cepat menaruh Lastri di belakang punggung, Ni’mal mengambil kuda-kuda. 'Makhluk Hitam yang bisa bicara? Apa seperti... Penunggu Gunung Katresnan?'   Bunyi entak ratusan kaki yang bergemercik di bebatuan, membuat Ni’mal dan Azizah menoleh ke sisi kanan. Di sana, sesosok makhluk bertubuh genderuwo dengan bagian bawah kelabang raksasa, tiba. Matanya, sama merah menyala. Rantai pun, membelit tubuh kekarnya.   “Siapa kalian!” Ni’mal membentak. Matanya, menatap lawan bergantian. Sosok bertubuh kelabang, kini mengitari mereka dengan tubuhnya yang cukup panjang. Tiga puluh meter. “Lucu sekali kau bertanya, hai manusia!” Sambil terus memutari mereka, sosok bertubuh kelabang itu menoleh ke belakang. “Apa kau tak merasakannya, Adinda?”   Ni’mal, kedua kakinya gemetar. Napasnya tak tenang. Selain karena tekanan energi yang mengimpit, tubuh besar kedua lawannya mendominasi keberanian. 'A-aku... Apa yang harus kulakukan!'   Dlap!   Sang Genderuwo bertubuh bawah kalajengking, melompat tinggi. Ia, mendarat di dekat Ni’mal yang sudah bersiaga. Lastri, ambruk tak sadarkan diri. Ketakutannya yang teramat, membuatnya pingsan.   “Apa maksudmu... Kakang?” Genderuwo bertubuh kalajengking, memiringkan kepala memandang Ni’mal. “Apa maksudmu... Kehampaan jiwanya? Rasa bimbang... Dan... Ketakutan?”   “Ahh... Benar. Sepertinya aku salah terka. Lagi pula tak mungkin Arjuna Merah akan gentar melihat kita!”   Ni’mal terbelalak.  “Apa yang kau tahu tentang Arjuna Merah!” Dlap! Mendengar teriakan Ni’mal, kedua makhluk itu cepat-cepat menjauh.  Si kalajengking melompat-menempel di dinding tebing, sedangkan si kelabang menarik badannya menjauh, lalu melingkarkan tubuh bawah bak ular yang siap menerkam.   Pemuda berjaket hitam, terheran. 'Kenapa? Kenapa Mereka, mengatur jarak?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD