POV: Iqbal
AC di ruangan ini hidup semua, mengakibatkan suhu udara menjadi sangat rendah. Namun, aku masih berkeringat. Entahlah, aku juga tak mengerti. Apakah semua pasien mengalami ini, atau hanya aku saja.
Di menit-menit terakhir proses cuci darah berlangsung, hal seperti ini selalu terasa. Tubuhku rasanya diserang rasa panas dari dalam, sehingga satu-satu bulir keringat mulai terlihat di dahi.
Padahal pagi tadi, saat baru mulai, udara terasa begitu dingin. Bahkan selimut tebal yang disediakan perawatnya tidak sepenuhnya menghilangkan sensasi dingin yang menyerang tubuh.
Huufftt. Aku mengibaskan telapak tangan ke wajah.
Walau demikian, proses cuci darah hari ini berjalan lancar. Tidak ada keluhan yang berarti. Kepalaku pun tidak begitu pusing.
Aku langsung memesan ojek online begitu keluar dari rumah sakit, rasanya ingin cepat-cepat pulang, makan siang, lalu melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"Halo, Abang!"
Deg! Jantungku berdegup mendengar suaranya. Suara yang tidak asing. Tanpa aba-aba, wajahku yang sedari tadi menatap layar HP terangkat, menatap wajahnya.
"Kita ketemu lagi, ya," sambungnya.
"Eh, i-iya," jawabku.
"Ini helm-nya, Bang. Alamat yang biasa kan?"
"Hm," sahutku pendek.
"Hemat banget sama suara, Bang. Lagi sariawan ya? Hehehe." Ia terkekeh.
Aku diam saja.
Namun, di dalam d**a seolah bergemuruh. Bukan, bukan gemuruh amarah, tapi hatiku tiba-tiba saja berseru senang.
"Akhirnya, dia lagi yang mengambil orderanku, setelah sekian lama. Yeaaay!"
Tidak, kata-kata itu tidak terlontar di mulutku, hanya di dalam hati saja.
Mengapa? Entahlah, aku pun tak tahu.
Perempuan ini melaju begitu pelan di jalan raya. Ah, ini terlalu pelan. Bisa-bisa keburu hujan sebelum sampai di rumah.
***
Gerimis yang sedari tadi mengiringi pemakaman jenazah, tiba-tiba saja menebal saat semua orang melangkah pulang. Menyisakan aku dan beberapa keluarga dekat yang masih berdiam diri di dekat dua gundukan tanah merah yang semakin basah.
Nenek setia berdiri di sampingku memegang sebuah payung hitam lebar, cukup untuk melindungi tubuh kami berdua.
"Ayo kita kembali ke dalam rumah, Bal." Nenek berkata pelan.
Aku bergeming.
Beberapa anggota keluarga lainnya mulai memutar badan dan kembali ke dalam rumah yang hanya beberapa meter dari sini.
"Nenek duluan saja," jawabku.
"Ayolah. Hujannya semakin deras, nanti malah kamu yang sakit, Bal."
Sakit? Aku sudah lebih dari sakit, Nek! Batinku menjerit.
Kata-kata yang sempat diucapkan ayah dan ibu tiba-tiba saja terngiang di telingaku.
"Iqbal, nanti SMA di sini yaa. Biar kita sekeluarga bisa kumpul lagi."
Ayah, ibu, bukankah kita tahun ini akan berkumpul kembali setelah tiga tahun lamanya Iqbal memisahkan diri untuk bersekolah. Bukankah ayah dan ibu yang meminta Iqbal untuk melanjutkan sekolah di sana agar kita tak lagi berjauhan? Agar keluarga kita kembali utuh seperti dahulu kala.
Mengapa sekarang malah kalian yang pergi menjauh? Mengapa malah kalian yang meninggalkan Iqbal sendiri? Mengapa kalian berdua begini tega? Bukankah ayah dan ibu sayang pada Iqbal!?
Aaaahhhhh!!!
Bulir-bulir bening sukses menganak sungai dari ujung mata ke sudut bibirku, melawan derasnya hujan yang sedari tadi coba dihalangi payung yang dipegang nenek. Terus saja mengalir meski sekuat hati kucoba menahannya.
Aku menangis tersedu-sedu, seiring dengan langit yang semakin menderu, menyerbu bumi pertiwi dengan milyaran tetes air hujan.
"Ayo, Iqbal. Sudah-sudah, yang sabar." Nenek mengusap punggungku, lalu dengan pelan menarik lenganku.
Kali ini aku menurut. Kasihan juga nenek jika harus ikut hujan-hujanan menemaniku di sini. Jangan sampai gara-gara ulahku, wanita yang sudah berumur itu malah jatuh sakit.
Langkahku gontai, seperti tanpa daya. Separuh celana sudah basah dan berlumpur.
Saat hendak masuk ke dalam rumah, aku berbalik sejenak, lalu berucap dalam hati.
"Yah, Bu. Aku ingin marah, tapi entah marah pada siapa? Karena sejatinya tiada yang salah. Tak ada lagi yang dapat kulakukan sekarang, selain menerima semuanya dengan hati lapang. Selamat jalan, Ayah. Selamat jalan, Ibu. Aku akan menantikan masa di mana kita sekeluarga bisa benar-benar berkumpul kembali.
Yah, aku akan sangat merindukan masa-masa saat kita menghabiskan akhir pekan dengan membersihkan kebun belakang rumah, atau memancing di danau. Tangan kokohmu yang pernah mengangkatku saat terjatuh ke dalam sumur, takkan pernah terlupakan.
Ibu, aku akan rindu saat kita duduk bersama untuk makan malam, dengan menu makanan yang ibu masak, yang tak satu pun terasa tidak enak di lidahku. Omelanmu akan sikap nakalku sebagai bukti betapa sayangnya ibu akan putranya, akan selalu melekat di memori, menjadi kenangan abadi buatku.
Aku, putra kecil kalian yang masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya, akan berjuang menjalani hidup ini sendiri, mulai kini. Tunggulah di sana, Ayah, Ibu. Aku berjanji menjadi anak yang membuat kalian bangga.
Tenang saja. Aku tidak akan menyusul kalian terburu-buru.
Selamat tinggal."
***
Tiga malam berturut-turut setelah kematian ayah dan ibu, aku selalu memimpikan mereka. Mimpi yang justru membuatku semakin larut dalam kesedihan dan keterpurukan. Mimpi yang kuinginkan, tapi malah justru memperburuk keadaan.
Dalam mimpi itu, aku melihat ayah dan ibu bergabung dengan segerombolan orang berwajah cerah. Wajah mereka berseri-seri, seperti orang yang baru saja menerima kabar baik. Aku memanggil-manggil dengan sekuat-kuatnya, tapi tak ada satu pun yang menolehkan kepala. Suaraku terhalang oleh lapisan tipis yang tak dapat terjangkau.
Mereka terus berjalan mengikuti gerombolan orang berwajah cerah tersebut. Ayah dan ibuku juga terlihat ceria, wajah mereka tampak senantiasa tersenyum di sepanjang perjalanan. Tak ada beban, tak ada duka nestapa, seperti yang tengah kuderita.
Apa mereka benar-benar bahagia di sana?
"Ayaaah! Ibuuu!" Aku terus memanggil agar mereka kembali, tidak meninggalkanku sendiri di sini.
Namun, nihil. Suaraku tertelan jarak yang semakin jauh. Pemandangan itu terus berulang, hingga akhirnya aku terbangun dari tidur.
Semua ini terasa sangat mendadak, tanpa tanda-tanda, begitu sulit dipercaya. Ayah dan ibuku sehat walafiat, tanpa penyakit berat apa pun yang mereka derita. Bahkan setahuku, ayah dan ibu adalah tipikal orang yang selalu menjaga pola hidup sehat. Mereka jarang sekali diserang penyakit-penyakit ringan seperti demam ataupun batuk.
Namun, takdir memang selalu saja tak dapat ditebak ke mana arahnya. Ayah dan ibuku ditakdirkan meninggalkan dalam kecelakaan tragis di perjalanan lintas provinsi. Bus yang mereka tumpangi masuk ke dalam jurang. Hampir separuh dari penumpang Bus tersebut termasuk sopirnya meninggal di tempat kejadian.
***
"Jangan melamun terus, Iqbal." Suara nenek terdengar dari pintu kamar, entah sudah berapa lama ia berdiri di sana.
"Kenapa gak dimakan nasinya? Itu nenek masakin khusus buat kamu loh."
Pandangan matanya berpindah pada piring di atas nakas yang sama sekali belum kusentuh.
Tujuh hari semenjak kematian ayah dan ibu, kupikir suasananya akan lebih baik, tapi ternyata masih sama saja.
Pemakaman kedua orangtuaku ada di belakang rumah. Setiap kali aku melewatinya saat hendak ke kamar mandi, rasa sesak di d**a kembali hadir. Begitu banyak orang yang datang menjenguk, senantiasa menasehatiku untuk ikhlas menerima, tapi tetap saja rasa sesak itu ada.
"Belum lapar, Nek," jawabku singkat.
Tatapan lesu terlihat di cermin. Begitu cepat kondisi psikis mempengaruhi fisik. Tubuhku semakin kurus, entah sudah turun berapa kilo dalam seminggu ini. Mataku terlihat cekung dengan wajah pucat. Tak lagi berseri seperti dulu. Tak ada makanan yang mau masuk ke perutku, ditambah lagi aku hampir tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak.
Setiap kali mataku terpejam, mimpi-mimpi aneh selalu datang yang berimbas aku langsung terbangun dan susah tidur lagi. Saat bisa tidur, hal serupa kembali datang. Terus berulang demikian.
Pandanganku beralih ke nasi goreng dengan telur separuh matang di atas nakas. Tadi pagi nenek memasaknya khusus untukku. Ketika sehat dulu, aku sering kali meminta nenek memasak menu itu setiap datang ke rumah ini.
Nasi goreng buatan nenek memang lezat, bumbunya pas, apalagi ditambah dengan telur yang kuningnya masih lumer.
Menu itu selalu menjadi favoritku. Tidak pernah tidak habis sebelum dingin. Namun, sekarang rasanya begitu aneh, di lidahku apa pun terasa hambar, bahkan air putih terasa pahit. Aku juga seperti kehilangan semangat hidup.
Sepertinya, menyusul ayah dan ibu adalah keputusan yang paling tepat. Aku ingin mati saja.
***
Benar kata pepatah lama. Sedalam apa pun sebuah luka, cepat ataupun lambat, waktu selalu berhasil menyembuhkannya.
Waktu adalah obat paling mujarab atas segala macam luka kehilangan. Waktu juga wadah terbaik untuk menulis kenangan-kenangan baru sebagai lembar penutup kenangan lama.
Sehari dua hari, sakitnya memang begitu terasa, teramat sangat memilukan. Seminggu dua minggu, mungkin bisa dibilang belum ada perubahan. Ketika kedua nama itu muncul di ingatan, kedua wajah itu hadir di pelupuk mata, rasanya luka yang perlahan sembuh, dirobek kembali dan menganga seperti sedia kala.
Sebulan dua bulan, kita mulai terbiasa. Sakitnya mungkin masih ada, belum sepenuhnya hilang. Terutama di momen-momen tertentu, saat sedang sendiri, saat tertimpa masalah baru. Namun, sekali lagi, hati kita mulai bisa menyesuaikan diri. Mulai paham bagaimana cara menerima apa yang telah terjadi.
Begitu juga denganku. Seratus hari setelah kematian keduanya, aku mulai melanjutkan pendidikan, walaupun sebenarnya sudah telat beberapa bulan. Namun, tidak mengapa, aku adalah anak pintar, mengejar ketertinggalan pelajaran bukanlah hal yang sulit.
Akhirnya kuputuskan untuk masuk ke sebuah SMA Negeri di yang tidak jauh dari rumah nenek. Aku tinggal dengannya. Lagipula, nenek sudah bertahun-tahun hidup seorang diri, semua anaknya laki-laki, merantau ke luar kota. Demikian tradisi yang berlaku di kampungku, anak laki-laki harus meninggalkan rumah, merantau ke negeri orang.
Seluruh aset keluargaku yang ditinggalkan oleh ayah dan ibu di negeri seberang dijual. Sebagai anak semata wayang, cukup banyak harta warisan yang ditinggalkan untukku. Jika aku pandai berhemat, uang ini tentunya lebih dari cukup untuk modal pendidikanku hingga Perguruan Tinggi nanti.
Hari ini, esok, lusa dan seterusnya, akan kuarungi samudera kehidupan ini tanpa ayah dan ibu.
Sanggupkah? Kita lihat saja nanti.