POV: Iqbal
Pagi-pagi sekali, saat ayam masih bersiap-siap untuk berkokok, aku sudah terbangun dari tidur. Matahari masih nyaman di peraduan, udara dingin masih begitu kentara. Aku bersiap menjalankan rutinitas pagi.
Segala macam peralatan yang kotor sehabis dipakai semalam, kucuci bersih, lalu dikembalikan ke tempatnya. Lantai yang berdebu, kusapu, jika bernoda maka akan ku-pel. Baju yang sudah dicuci kemarin sore, kujemur di kawat besi pagar belakang kontrakan. Setelah semuanya selesai, barulah aku mandi.
Pagi Rabu, harus bersiap lebih awal dari biasanya, karena pukul 6 pagi, aku sudah harus berangkat ke Rumah Sakit. Cuci darah dimulai sebelum pukul 7, sedangkan perjalanan ke sana butuh waktu lebih dari setengah jam. Bisa lebih cepat tentunya jika pengemudi ojek online-nya ngebut.
Tidak begitu banyak peralatan yang perlu dibawa. Hanya beberapa berkas tanda pengenal dan kartu asuransi yang sudah tersedia di dalam tas hitamku.
Kemudian, sebotol air minum yang sudah terisi penuh, dan sedikit cemilan yang sudah disiap dari semalam untuk jaga-jaga kalau perutku lapar nanti.
Pasien-pasien lain mungkin tidak perlu serepot itu. Anggota keluarga mereka bisa saja pergi ke kantin untuk membeli makanan. Jika mau makan nasi pun, bisa disuapkan. Namun, karena aku sendiri, tentu saja harus lebih mandiri. Alih-alih membawa bekal nasi, aku lebih suka membawa cemilan saja, agar tidak repot saat memakannya.
"Sesuai aplikasi, Mas?" Seorang laki-laki paruh baya yang menggunakan jaket hijau bertanya saat aku naik di belakangnya.
"Iya, Pak. Rumah sakit."
"Siaap."
Kami pun meluncur.
Ya, hari ini, rutinitas cuci darah kembali kulakukan. Beberapa waktu lalu, aku sempat mengambil jadwal sore, tapi ternyata jadwal pagi jauh lebih cocok untukku. Karena selain udaranya masih sejuk, kondisi badan juga masih segar setelah istirahat semalaman. Lagi pula, udara malam itu tidak baik untuk kondisiku yang rentan demam.
Kondisi fisik dan psikis sangat berpengaruh pada kelancaran proses cuci darah. Semoga saja kali ini semuanya berjalan lancar, tanpa hambatan, sehingga pulangnya nanti juga tidak begitu pusing, dan bisa kembali melanjutkan aktivitas.
Semoga saja.
***
Bulan separuh bersinar sempurna di atas sana, tidak begitu terang, tapi penampilannya lebih dari cukup untuk bisa dibanggakan oleh penghuni langit malam lain. Tak ada secarik pun awan yang berdaya menghalanginya. Di sekelilingnya, bintang-gemintang bertaburan, susunan mereka sama sekali tidak rapi alias berantakan, tapi tetap saja terlihat indah.
Malam ini, ribuan bahkan mungkin jutaan pasang mata tengah mengadah menikmati keindahan mereka. Termasuk sepasang mata milik seorang anak laki-laki tanggung yang baru saja beranjak remaja. Di halaman rumah milik neneknya, ia duduk bersandar pada sebatang pohon jambu air yang mulai lapuk, beralaskan sebuah tempat duduk handmade dari ban mobil bekas yang dipotong dua.
Bedanya, mata-mata yang lain memandang berseri, menikmati keindahan malam ini bersama pasangan tercinta, sebagian lainnya sembari bercengkrama dengan keluarga terkasih, sedangkan ia memandang dengan mata sendu. Masih tersisa sembab bekas tangis berhari-hari. Mata yang baru saja usai berduka. Ya, duka mendalam, yang hari demi hari rasanya semakin dalam saja.
Laki-laki itu adalah aku. Ya, Iqbal kecil, yang kehilangan kedua orangtua di kala baru beranjak remaja. Usiaku tepat lima belas tahun kala itu, kelas tiga SMP. Ayah dan ibuku, dua orang yang paling kusayang, juga paling menyayangiku, direnggut pergi begitu saja meninggalkanku. Tiba-tiba, tanpa aba-aba.
Tidak tanggung-tanggung, keduanya sekaligus.
Aku seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Ingin menangis, menangis sendiri tanpa sandaran. Ingin mengadu, entah ke mana mengadu. Banyak orang di sekeliling, tapi tak satu pun yang kurasa benar-benar mengerti. Mereka hanya melontarkan ungkapan-ungkapan kosong tentang kesabaran, tentang kekuatan, bahkan takdir yang sama sekali tak kubutuhkan.
Aku seorang remaja yang suka petualangan. Aku senang hidup mandiri.
Namun, tidak seperti ini.
***
"Iqbal, nanti SMA di sini yaa. Biar kita sekeluarga bisa kumpul lagi." Ibu berujar di ujung telepon kala itu.
"Hah? Kenapa, Bu? Guru Iqbal udah nawarin ke sekolah favorit di sini. SMA teladan gitu. Kami udah sempat survey ke sana, sekolahnya bagus kok, Bu. Fasilitasnya juga lengkap."
"Udahlah, di sini aja. Dekat ayah sama ibu. Udah cukup tiga tahun kamu jauh dari kami, Nak."
Tamat SD, aku memutuskan untuk sekolah ke luar Provinsi, jauh dari orangtua. Permintaan yang awalnya begitu sulit dipenuhi oleh ayah dan ibu yang tidak rela harus berjauhan dengan anak semata wayang mereka.
"Kami sudah pernah kehilangan seorang anak, dan kami menyesal karenanya. Tolonglah, Nak. Jangan biarkan kami menyesal untuk kedua kalinya." Bahkan kata-kata seperti itu sempat keluar dari mulut mereka demi menahan keinginanku.
Namun, mau tidak mau, akhirnya mereka melepaskan karena aku mengancam tidak mau sekolah lagi jika tidak diberikan izin.
Dari kecil, aku memang bukan sosok anak manja yang selalu ingin berlindung di bawah ketiak orangtua. Aku mencintai petualangan, suka mencoba hal-hal baru. Apalagi setelah ikut pramuka, kecintaan pada petualangan semakin menjadi-jadi.
Menurutku, bergantung pada orangtua itu adalah hal yang sama sekali tidak keren. Aku benci anak-anak manja, juga orang-orangtua yang memanjakan anak-anak mereka.
Sesuai keinginan, aku akhirnya bersekolah di sebuah sekolah alam, Boarding School selama kurang lebih tiga tahun belakangan. Sekolah yang benar-benar tipeku. Lokasinya berada di lembah, antara dua ngarai.
Tak ada kebisingan dan hiruk-pikuk kendaraan di lingkungan ini. Pada pagi hari yang terdengar hanya kicauan burung-burung. Siang hari, saat matahari bersinar terik, cahayanya tak terlalu membakar kulit. Pepohonan tumbuh subur di setiap sudut, hingga mengurangi teriknya hari.
Di akhir pekan, kami para murid-murid punya banyak destinasi wisata alam yang bisa dikunjungi. Mulai dari yang paling mudah dijangkau seperti air terjun, sungai, tempat pemandian, ikan larangan, dan lainnya. Hingga yang paling sulit dijangkau, seperti puncak-puncak bukit yang punya surga tersembunyi di titik tertingginya.
Tiga tahun begitu cepat berlalu, hingga akhirnya beberapa bulan ke depan akan datang hari kelulusan.
"Iqbal, mau ya, Nak. SMA di sini juga bagus kok. Yang penting kita bisa kumpul lagi. Emang kamu gak kangen ngumpul sama ayah dan ibu?"
"Kami berdua sudah tidak muda lagi, Iqbal. Tidak ada yang tau kan ...." Ayah menyambung dengan kata-kata yang tidak ingin kudengar.
Aku tak lagi dapat mengelak, kata-kata ibu dan ayah kali ini cukup membuatku terenyuh.
"Iya, deh, Bu. Iyaa."
Jauh di dasar hatiku, aku pun sama. Aku ingin berkumpul lagi dengan kedua orangtuaku. Tiga tahun berjauhan sudah cukup untuk membuatku sadar akan berapa berartinya perhatian dan kasih sayang kedua orangtua.
"Pengumuman kelulusan nanti apa perlu membawa orangtua, Bal?"
"Belum ada pemberitahuannya, Bu, tapi kayaknya enggak deh. Soalnya tahun-tahun sebelumnya juga cuma guru-guru dan murid aja. Orangtua biasanya cuma diminta datang waktu perpisahan dan pengembalian murid kepada orangtuanya. Itu pun tidak wajib," jelasku.
"Oh, begitu. Tapi ayah dan ibu emang ada rencana mau pulang kampung kok. Sekalian ngejenguk nenek."
"Bagus deh," ujarku.
***
Sebuah bus pariwisata melaju kencang di atas aspal hitam jalan raya. Di hari perpisahan ini, sekolahku mengadakan acara makan bersama di sebuah objek wisata Lembah Harau. Tempat yang sebenarnya sudah terlalu sering kami datangi di hari libur dengan sepeda bahkan berjalan kaki sembari haiking.
Namun, kali ini sedikit berbeda, acaranya jauh lebih meriah. Semua teman seangkatanku di kelas 9 diwajibkan ikut serta. Karenanya, pihak sekolah sengaja menyewa sebuah bus untuk membawa kami semua.
Aku begitu gembira hari ini. Berbagai macam hal menyenangkan terjadi sepanjang hari. Bersama teman-teman seangkatan, guru-guru terkasih, bahkan para alumni yang menyempatkan diri hadir dalam acara perpisahan.
Sebenarnya ada satu hal lain yang membuatku lebih senang hari ini. Kedua orangtuaku akan datang dari provinsi seberang. Mereka sudah berangkat menjelang siang tadi. Kemungkinan nanti sore akan segera sampai. Itu artinya, seusai acara ini, saat pulang ke rumah nenek, sudah ada ayah dan ibuku yang menanti.
Lalu, itu juga berarti, di acara pengembalian murid kepada orangtua, ayah dan ibuku juga bisa datang.
Senangnya!
Sayang sekali, aku tidak aku sadari, rasa senang dan gembira itu tidak akan bertahan lama.
***
Aku pulang ke rumah nenek dengan menyeret sebuah koper berisi pakaian dan perlengkapan lain yang kupakai selama ini. Tangan kiriku mengalir sebuah map yang berisi ijazah dan dokumen lain tanda kelulusan dengan predikat terbaik yang berhasil kuperoleh. Berikut berbagai macam sertifikat dan penghargaan dari berbagai macam lomba-lomba dan Olimpiade yang berhasil kumenangkan selama tiga tahun belakangan.
Aku mengumpat dalam hati. Mengapa ayah dan ibu tidak ada kabar sama sekali? Dari kemarin, aku sudah menelpon nomornya berkali-kali, tapi tetap tidak bisa dihubungi.
Kutunggu-tunggu, ternyata mereka tidak jadi datang di acara pengembalian murid kepada orangtua.
Kesal!
Namun, mendekati rumah nenek suasana terasa sedikit ganjil. Aku merasakan atmosfer yang tidak biasa. Orang-orang terlihat lebih ramai dari pada biasanya, tapi suasana begitu hening. Mereka berbicara dengan nada rendah, seperti berbisik-bisik.
Saat mataku melihat ke sana kemari mencari petunjuk tentang apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja pandanganku terhenti pada sebuah bendera kuning yang tertancap di halaman.
Tar tar tar! Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepala. Getarannya terasa sampai ke dalam d**a.
Siapa yang meninggal!?
Aku berlari meninggalkan koper besar yang sedari tari kutarik, berikut dengan lembaran kertas di dalam map yang kupeluk berjatuhan di tanah. Kuabaikan.
Nenek? Mataku mencari-cari di kerumunan. Tidak, nenek baik-baik saja. Ia sedang duduk bersimpuh di sana, tangannya berkali-kali mengusap mata yang berair.
Lalu siapa yang meninggal?
Mataku tertuju pada dua jasad kaku bersebelahan yang terbujur di tengah rumah. Kain putih transparan menutupi bagian kepala mereka. Dari sini saja, bisa kukenali wajah kedua sosok tak bernyawa itu.
Mereka adalah ayah dan ibuku. Ya, ayah dan ibu sudah mati.
***
Bulan separuh di atas sana terus memancarkan cahayanya, seakan mewakilkan senyum dua sosok yang namanya tengah kusebut-sebut dalam hati. Malam ini, sang Rembulan tersenyum manis, berbanding terbalik dengan hatiku yang tengah menangis pilu.
Aku, si Iqbal kecil yang baru saja beranjak remaja, merasakan takut yang teramat sangat secara tiba-tiba. Dunia ini terlalu luas untukku yang hanya seorang diri.
Bagaimana dengan hari esok dan lusa? Akankah bisa kuhadapi semuanya tanda ayah dan ibu?
Iqbal yang menyukai tantangan dan benci pada anak-anak manja, tiba-tiba menjadi selemah ini? Ataukah selama ini aku hanya seorang anak yang sok kuat dan tangguh karena tau ada kedua orangtua di sana yang akan tetap membantu saat dilanda kesusahan?
Entahlah.
Embun mulai membasahi sebagian besar tubuhku. Malam semakin larut. Aku melangkah masuk, membawa semua kesedihan yang rasanya semakin menjadi-jadi.
Mungkin tidak akan pernah ada kata siap untuk kehilangan sosok yang berharga buat kita, tapi jujur saja, kali ini aku benar-benar belum siap kehilangan ayah dan ibu.