Kamu, Kamu, Kamu Lagi (2)

1386 Words
POV: Andini Hiruk-pikuk di rumah sakit, suara TOA petugas yang memanggil-manggil, obrolan para pasien yang coba membunuh rasa bosan menunggu, juga pedagang yang masih berusaha mencari peruntungan, bahkan ada beberapa orang pengemis yang masuk sesekali dengan berbagai macam kekurangan. Semua pemandangan itulah yang menghiasi pelupuk mataku beberapa jam belakangan. Sesekali, telinga juga menangkap suara sirine ambulan, pertanda ada pasien gawat yang dibawa ke IGD. Bosan, tentu saja. Hari ini pasien di poliklinik begitu ramai, sehingga waktu yang diperlukan untuk menunggu antrian juga lebih lama. Pasien yang datang rata-rata adalah orang-orang yang sudah agak berumur, sehingga sulit bagiku untuk mencari teman sebaya yang sekiranya dapat diajak mengobrol. Sedari tadi yang bisa kulakukan hanyalah memainkan gawai, berselancar di sosial media. Namun, lama-kelamaan bosan juga, lagipula aku tak punya cukup kuota internet untuk berlama-lama menonton video. Sebuah TV dengan layar besar di depan sana juga tidak menarik untuk ditonton karena hanya menayangkan informasi kesehatan yang berulang-ulang. Ah, coba kalau yang ditanyangkan di sana adalah Drama favoritku. Tentu menunggu selama apa pun tidak akan terasa. Udara semakin panas. Di luar sana matahari bersinar terik, tidak hujan seperti biasanya. Entah mengapa cuaca tidak mendukung, kalau misalkan hujan turun di saat seperti ini, tentunya udara akan terasa sedikit lebih sejuk. Ayah menemukan teman mengobrol sebaya dengannya, terlihat asyik dari tadi, entah apa yang sedang mereka bahas. Padahal keduanya sama-sama belum begitu lurus saat berbicara. Begitulah, ketika bertemu dengan orang yang tepat, bahkan hanya menggunakan bahasa isyarat pun, orang tetap bisa berkomunikasi dengan baik. Aku menunggu menit-menit yang dihabiskan oleh seorang pemuda di ruangan dokter. Mendengar namanya dipanggil tadi menarik perhatianku. Tidak sabar menunggunya keluar lagi, untuk memastikan. Beberapa kali kulihat jam digital di layar HP, menghitung berapa menit yang sudah dihabiskan. Benar saja, menunggu membuat waktu terasa lebih lama. TOA berbunyi lagi, pertanda pasien berikutnya dipersilahkan masuk. Saat itulah kulihat laki-laki itu melangkah keluar. Maskernya tersingkap hingga dagu, membuatku bisa melihat seluruh wajahnya. Benar saja, itu adalah dia, pelanggan ojek online yang sering kuantar, dengan nickname Luka Abadi. Tidak salah lagi. Matanya melirik ke arahku sejenak, sepertinya juga menyadari keberadaanku di sini. "Hai, Abang ...." sapaku. Namun, tiba-tiba ia melengos pergi dengan langkah cepat setelah memasang kembali maskernya dengan benar. Huh! Aku mengumpat kesal. Sombong sekali dia. Menyesal menyapanya tadi. *** Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya giliran ayah tiba. Aku membimbingnya berjalan menuju ke ruangan dokter. Kabar baiknya, setelah berkonsultasi sebentar, dokter bilang kondisi ayah sudah jauh lebih baik, sehingga ada beberapa obat yang tak perlu diminum lagi. "Tetap dijaga makanannya ya, Pak. Semoga lekas sembuh. Ini resep obatnya, silakan ditebus di apotek." Begitu tuturan yang dokter sampaikan dari balik maskernya. "Baik, terima kasih, Dok." Kami pun melangkah keluar ruangan. Ayah memilih kembali duduk di tempat semula, melanjutkan obrolannya. Sementara, aku melangkahkan cepat ke apotek untuk menyerahkan resep obat. Di apotek ternyata antrian tidak kalah panjangnya. Ramai sekali. Tentu saja, semua pasien dari seluruh poliklinik akan berkumpul di sini untuk menebus obat. Apotek di rumah sakit ini memang hanya ada satu, selain apotek gawat darurat yang ada di samping IGD. Aku melihat lagi ke arah jam digital, sudah hampir tengah hari. Huuuft. Aku mengembuskan napas di balik masker. "Halo, Mbak." Seseorang yang sedang duduk di kursi tepat di sampingku yang sedang mengantri tiba-tiba menyapa. "Eh, i-iya." Aku baru sadar ternyata laki-laki yang tadi juga ada di sini. Aku mencoba biasa saja, tidak bersikap terlalu ramah seperti tadi. Trauma. "Ngambil obat juga, ya?" "Iya," jawabku. "Maaf ya, Mbak. Tadi saya buru-buru mau ngambil hasil laboratorium. Soalnya dokter udah nungguin hasilnya di ruang HD." Tanpa kuminta tiba-tiba ia menjelaskan. "Oh, iya, Bang. Gak apa-apa, santai." Ya ampun, aku sudah berprasangka buruk padanya. "Siapa yang berobat?" "Ayah." "Sakit apa?" tanyanya lagi. Tidak langsung kujawab, karena sudah tiba di giliranku untuk menyerang resep obat, dan mendapat nomor antrian. Aku melotot memandang nomor antrian di atas angka seratus. Sampai kapan harus menunggu lagi? Aku memutarnya kepala, semua tempat duduk di ruang tunggu apotek ini juga terisi penuh. Ya ampun. "Sini, Mbak. Duduk." "Eh, tidak usah, Bang." Aku tau laki-laki itu juga sedang sakit, lebih baik aku saja yang sehat berdiri. "Abang duduk saja, kakiku kuat kok. Hehe." "Gak apa-apa, duduk saja. Mbak udah berdiri dari tadi, kan." "Gak usah, Bang. Duduk aja." "Mbak aja." "Abang aja." Hampir separuh isi apotek melihat ke arah kami. Menonton dua orang yang sedang berdebat tentang siapa yang harus duduk. Aku menundukkan kepala, malu sendiri. Ada-ada saja. "Yaudah gini deh," katanya lagi. "Mbak duduk dulu, nanti kalau saya udah capek berdiri, kita gantian." Dari pada berdebat terus, akhirnya aku setuju. "Baiklah. Terima kasih, Bang." "Iya, sama-sama." Suasana jadi terasa sedikit canggung dengan dia yang berdiri di depanku. Jarak kami cukup dekat, tidak lebih dari setengah meter. Aku menarik masker turun, mengelap keringat di bawah hidung. Keramaian di ruangan ini membuat udara semakin panas. Dua buah kipas angin di sudut ruangan, terasa tidak menolong. "Jadi, siapa yang berobat?" Setelah sekian lama, akhirnya ia bersuara lagi. "Ayah, Bang. Abis kena stroke beberapa bulan lalu. Sekarang udah proses pemulihan." "Ohh." Dia mangut-mangut. "Gimana tekanan darahnya?" "Dulu sempat tinggi. Sekarang udah normal lagi, asal rutin minum obat dan jaga makanan, Bang." "Oh, syukurlah." "Abang cuci darah lagi?" Aku balik bertanya. "Cuci darahnya besok. Sekarang lagi kontrol bulanan rutin. Cek darah lengkap, ngambil obat bulanan juga." "Oh, selain cuci darah Abang minum obat juga?" "Iya, saya juga punya hipertensi." Ia berujar santai. Wajahnya terlihat lebih segar hari ini, tidak seperti orang yang sedang sakit. Baru saja aku hendak bertanya apakah ia sudah lelah berdiri, tiba-tiba orang yang duduk di sampingku maju ke depan. Nomor antriannya dipanggil. Alhasil, kami berdua bisa duduk, tanpa harus bergantian lagi. "Berarti gak ngojek dong hari ini?" tanyanya kemudian. "Kayaknya enggak nih. Antriannya masih lama. Tapi kalau Abang mau pesan ojek, bisa diatur sih. Gak usah lewat aplikasi. Hehehe." Ia tersenyum lebar. "Boleh juga tuh," candanya. "Hmm." Aku ingin bertanya, tapi takutnya dikira tidak sopan ataupun lancang. Namun, setelah melihat suasananya sedang bagus, akhirnya kuputuskan untuk mengutarakan. "Bang, aku boleh nanya gak?" "Ha? Itu kan udah nanya," candanya. Aku tersenyum lebar. "Maksudnya, nanya yang lain." "Hahaha. Iya, boleh. Tanya aja, santai." "Abang udah berapa lama cuci darah? Terus kenapa bisa cuci darah? Kalau misalnya gak cuci darah, gimana? Kan Abang kelihatan sehat aja nih, gak kayak orang yang lagi sakit." Laki-laki itu menggaruki kepalanya. "Ternyata pertanyaannya banyak, ya. Saya kira satu, Mbak." "Eh, kebanyakan ya, Bang. Kalau gak dijawab juga gak apa-apa, kok." "Saya cuci darah dari umur delapan belas tahun. Sekarang saya udah mau dua puluh tiga tahun, umurnya. Kenapa saya cuci darah? Karena ginjalnya udah gak berfungsi, jadi harus digantiin sama mesin. Kalau gak cuci darah gimana? Ya saya bakal sakit lagi. Ini bisa kayak orang sehat karena rutin cuci darah. Gitu, Mbak," jelasnya panjang lebar. Orang yang duduk di sampingnya seperti ikut mendengarkan. Tertarik dengan obrolan kami. "Penyebabnya kenapa, Dek?" Tiba-tiba orang tersebut ikut nimbrung. "Kok masih muda bisa cuci darah?" Ia berpikir sejenak. "Gak tau juga, Buk. Takdir kayaknya." Aku ikut tersenyum. Teringat obrolan laki-laki itu dengan seorang bapak-bapak di poliklinik beberapa waktu lalu. Seorang bapak-bapak yang mengeluhkan hidupnya yang harus kontrol sebulan sekali beberapa tahun belakangan. Sayangnya ia tidak tau kalau sedang mengeluh pada seorang laki-laki muda, yang harus cuci darah dua kali seminggu lebih dari empat tahun belakangan. Saat orang-orang seusianya mungkin sedang menghabiskan masa muda dengan hal-hal seru, masa yang paling indah dalam hidup. Ia justru menghabiskan umurnya untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri. Berjuang menggantikan kerja ginjalnya yang telah rusak dengan mesin cuci darah. Di samping apapun yang menyebabkan rusaknya ginjal yang ia punya. Entah itu kesalahan ia sendiri yang tidak pandai menjaga pola hidup, ataupun karena kecelakaan, apapun itu. Aku salut dengan sunggingan senyum yang masih sanggup ia berikan di tengah kondisi seperti ini. Lebih dari satu jam kemudian, nomor antrian laki-laki itu dipanggil, pertanda obatnya sudah siap. "Mbak, saya duluan ya." "Oke, Bang." "Jadinya pake ojek yang lain aja nih. Yaaah, gak jadi sama Mbaknya," kelakarnya. "Hehehe. Semoga kapan-kapan langganan ojeknya disambung ya, Bang." Aku menanggapi. Ia melangkah pergi meninggalkan apotek dengan langkah cepat. Ah, apa ia tak tertarik untuk menanyakan siapa namaku? Sepanjang itu waktu yang sudah kami habiskan, dengan berbagai obrolan, tapi tetap saja tak tau siapa nama masing-masing. Oh iya. Aku ingat, tadi namanya disebutkan lewat TOA. Ah, siapa ya? Ya ampun. Otakku benar-benar tidak mampu mengakses memori yang tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD