Chapter 4 - Ciuman Pertama

1971 Words
Malam ini terasa begitu cerah. Bulan dan bintang menggantung indah di angkasa, seolah-olah mereka merestui apa yang akan dilakukan Damian setelah ini. Ya, Damian berencana akan menyatakan cintanya pada Aletta. Jantung Damian berdegup kencang daritadi. Fokusnya terpecah, bukan hanya di jalanan lapang yang ada di hadapannya tapi juga di cewek cantik dan manis yang saat ini lagi duduk di sampingnya. Bagaimana ya cara memulainya? Apakah Damian harus berlutut di jalanan lalu langsung saja bilang “Aletta, maukah kamu jadi pacarku?” Ah, padahal ada berjuta cara ‘menembak’ Aletta dalam otak Damian, tapi semuanya langsung lenyap seketika Damian menatap kedua mata perempuan cantik itu. Tubuhnya seolah-olah kaku, tidak bisa digerakkan. Padahal Damian tipe cowok romantis. Romantis banget malah. Seorang Damian Rivellino, cowok blasteran Perancis-Indonesia ini tidak hanya dianugerahi wajah tampan yang sanggup bikin cewek-cewek mimisan. Tidak hanya fisik dan isi dompetnya yang sempurna, perilaku Damian yang begitu romantis dan manis juga mampu membuat cewek manapun bertekuk lutut padanya. Aletta, yang menyadari sikap Damian yang lebih diam daripada biasanya langsung penasaran. Apalagi di pelipis mulus Damian nampak sekali ada bulir-bulir keringat. Keringat dingin lebih tepatnya. Percis kayak orang yang baru lihat setan. “Kamu kenapa? Lagi sakit ya?” tanya Aletta penasaran. Damian langsung gelagapan, “Eh, anu .. Aku .. aku mau ngomong sesuatu ke kamu ..” Aletta mengerutkan dahi, “Ngomong apa?” Dengan kikuk, Damian memberikan Aletta sebuah kertas origami yang sudah dilipat-lipat jadi lebih kecil. Isinya cuman tulisan ‘Aletta, kamu mau nggak jadi pacar aku?’ yang ditulis Damian menggunakan pena berwarna pink. Sungguh cara menyatakan cinta yang unik. Aletta langsung tersenyum geli begitu selesai membaca kertas yang diberikan Damian. “Kamu kok lucu banget sih,” kata Aletta. Melihat Aletta tersenyum, Damian malah tambah keringat dingin. Jangan-jangan Aletta menertawakan Damian karena terlihat begitu bodoh? Duh, malu sekali. Sebagai cowok blasteran Perancis, yang katanya sih salah satu kota paling romantis di dunia, harusnya Damian bisa lebih romantis daripada ini. Dengan jantung yang kian berdegup kencang, Damian memegang tangan Aletta. “Kamu .. Mau nggak jadi pacar aku?” tanya Damian. Aletta terdiam sejenak, memperhatikan kedua mata Damian. Mencari-cari adakah kebohongan atau ketidakseriusan di sana. Tapi nihil. Yang Aletta temukan hanyalah harapan .. dan rasa sayang. Rasa yang nampaknya begitu besar dalam diri Damian untuk memiliki Aletta. “Kenapa?” tanya Aletta penasaran. Damian mengerutkan dahi, “Maksudnya?” “Kenapa kamu mau jadi pacar aku? Aku rasa nggak ada sesuatu yang menarik dari diri aku ..,” lirih Aletta. Setelah Aletta bicara seperti itu, ingin sekali rasanya Damian mencubit pipi cewek satu ini. Aletta selalu nampak insecure. Aletta nampaknya belum menyadari betapa cantik dan menarik dirinya. Entah apa yang membuat Aletta selalu merasa tidak percaya diri. Damian menghela napas, “Kenapa sih kamu selalu bilang kayak gitu? Kenapa kamu selalu bilang kamu nggak menarik lah, rumah kamu kecil lah .. Aku nggak peduli Aletta. Aku suka kamu apa adanya, nggak kurang dan nggak lebih.” Lagi-lagi Aletta hanya terdiam, memperhatikan sorot mata Damian. Jangan-jangan cowok ini kesambet setan? Melihat Aletta hanya diam, Damian akhirnya angkat bicara lagi. “Apa perlu aku berlutut sekarang juga supaya kamu percaya sama aku?” tanya Damian. “Aku cuman masih takut aja .. Aku takut kecewa lagi, Damian ..,” lirih Aletta. Ah, ini semua pasti gara-gara Hema. Aletta pasti masih trauma gara-gara cowok satu itu. “Apa yang harus aku lakuin supaya kamu percaya kalau aku nggak akan nyakitin kamu?” tanya Damian serius. “Beliin aku miniatur patung pancoran?” tantang Aletta. Damian langsung terkejut. Emangnya patung pancoran ada miniaturnya? Andaikata ada, mau cari di mana? “Sama satu lagi. Aku mau emas batangan yang beratnya dua kilo,” lanjut Aletta. Damian langsung melongo, “Oke .. Ada lagi?” Melihat ekspresi wajah Damian, Aletta langsung tertawa ngakak. Duh, lucu sekali cowok satu ini. “Kamu percaya sama apa yang aku bilang barusan?” tanya Aletta. Damian cemberut, “Ya abis kamu serius banget sih ..” Aletta tersenyum dan menangkupkan wajah Damian, “Aku cuman bercanda kok. Aku percaya sama kamu.” Sebuah senyuman langsung menghiasi wajah ganteng Damian, “Serius?” Aletta hanya tersenyum dan mengangguk. “Jadi .. Sekarang kita pacaran?” tanya Damian yang masih tidak percaya. Aletta mencubit pipi tirus Damian, “Iya, Damian sayang.” Reflek, Damian langsung memeluk Aletta dan mencium pucuk kepalanya, “Aku sayang sama kamu. Aku janji nggak akan nyakitin kamu.” Aletta membalas pelukan Damian dan tersenyum, “Aku juga.” Malam makin larut. Bukannya tambah sepi, jalanan malah tambah ramai. Macet di mana-mana. Aletta baru balik pukul dua belas malam. Baliknya diantar sama Damian, tentu saja. Untung besok kafe gelato tempat Aletta kerja tutup sementara. Si pak boss, Arif, mau ke luar kota soalnya. “Maaf ya gara-gara aku kamu jadi kemaleman pulangnya,” kata Damian. Aletta tersenyum, “Nggak apa-apa kok.” Setelah itu, baik Damian maupun Aletta sama-sama diam. Hanya suara beberapa kendaraan bermotor yang lalu lalang serta suara jangkrik saja yang jadi penghias, jadi pemecah keheningan di antara keduanya. Tak betah lama-lama larut dalam keheningan, Damian akhirnya menatap kedua mata Aletta yang saat ini duduk di kursi penumpang di sampingnya. “Aletta?” panggil Damian. “Hm?” “Kamu besok nggak kerja kan?” tanya Damian. “Nggak kok. Pak Arif mau ke luar kota, istrinya sakit.” Aletta lanjut bicara, “Aku boleh kan duduk di dalam mobil kamu dulu? Aku belum mau pulang. Kadang bosen dan bingung mau ngapain. Kan aku nggak punya saudara, jadi ya nggak ada yang bisa diajak ngobrol selain ibu. Kucing aku mana bisa diajak ngobrol.” Boleh dong, tentu saja. Damian tersenyum, “Boleh kok. Aku juga masih mau ngobrol sama kamu. Kamu malah masih mending lagi, masih ada ibu yang diajak ngobrol. Aku malah nggak punya siapa-siapa di apartemen buat diajak ngobrol. Tapi .. untungnya aku punya kamu sekarang.” Aletta tersipu malu, “Bagus deh. Aku senang bisa jadi teman ngobrol kamu.” Dengan perlahan, Damian mengusap pipi mulus Aletta dengan jari-jari tangannya. “Kita masih pacaran kan?” tanya Damian. Aletta tersenyum geli, “Masih lah, Damian sayang.” Damian tersenyum lebar, “Aku suka setiap kali kamu panggil aku sayang.” Dengan perlahan, Damian mendekatkan wajahnya ke wajah Aletta. Wajah keduanya kini berada begitu dekat, hingga dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Dengan lembut, Damian mencium bibir kemerahan Aletta, lalu mencium kedua pipinya. Entah mengapa, padahal dulu Aletta agak anti sama yang namanya dicium cowok. Waktu masih pacaran dengan Hema dulu, setiap kali Hema mencium Aletta, pasti Aletta akan langsung reflek dan menjauhkan tubuhnya. Seolah-olah ada alarm SOS yang bunyi dan berkata kalau Hema adalah ancaman. Itu dulu. Sekarang beda. Bersama Damian, semua terasa berbeda. Aletta seperti hanyut, terbawa arus pesona Damian yang begitu menarik dan berkarisma. Wajah Aletta memanas seketika. Wajah Aletta pasti sudah memerah, percis seperti kepiting rebus. “Aku masih nggak percaya kita pacaran sekarang,” bisik Damian. Aletta tersenyum, “Ini nyata kok. Bukan mimpi.” Damian menangkupkan wajah Aletta. Ingin sekali rasanya Damian membawa Aletta ke kamar tidurnya sekarang. Mendekap tubuh mungilnya, menciumi seluruh bagian sensitif di tubuhnya hingga Aletta mendesahkan namanya dengan kencang .. Damian mencium dahi Aletta, “Udah malam. Kamu tidur gih. Aku nggak mau kamu sakit.” “Kamu sendiri gimana? Mau pulang? Ini udah tengah malam loh,” kata Aletta. “Pengennya sih nggak pulang. Tapi masa aku nginep di rumah kamu?” Iya juga sih. Kalau ibu tahu Aletta bawa cowok ke rumah, bisa-bisa namanya langsung dicoret dari KK. “Lagipula kalau kamu nginep di rumah aku, kamu mau tidur di mana? Kamar tidur di rumah aku kan cuman ada dua,” kata Aletta. “Di kamar kamu lah. Tidur sama kamu,” goda Damian. “Dasar m***m,” kata Aletta malu-malu. Setelah berkata demikian, Aletta langsung turun dari mobil Damian. Tak lama setelahnya, Damian nyusul. Damian meraih lengan Aletta lalu mencium bibir Aletta lagi sembari menangkupkan wajah Aletta dengan kedua tangannya. Wajah Aletta terasa begitu mungil dalam tangkupan tangan Damian yang begitu besar, kokoh, dan lembut di saat yang bersamaan. Awalnya begitu bibir Damian menyentuh bibirnya, Aletta langsung membulatkan kedua matanya. Masih kaget dengan ciuman Damian yang begitu tiba-tiba. Tapi sekarang, Aletta sudah terbuai. Sama seperti Damian, Aletta ikut memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan bibir Damian pada bibirnya. Ciuman Damian terasa begitu innocent dan tulus. Tidak ada nafsu dan tidak terburu-buru. Percis seperti bocah yang baru pertama kali merasakan bagaimana rasanya berciuman. Cukup lama Damian dan Aletta berciuman, sampai akhirnya keduanya melepas ciuman masing-masing. Damian dan Aletta masih butuh oksigen. Mungkin akan beda cerita kalau Damian dan Aletta punya insang dan bukannya paru-paru. “Selamat malam,” kata Damian dengan napas yang masih sedikit terengah-engah. Bukannya menjawab, Aletta malah mencium bibir Damian lagi sekilas lalu langsung buru-buru kabur, menghilang di balik pintu rumahnya. Begitu masuk rumah dan pintu sudah tertutup, Aletta memegangi dadanya. Jantungnya berdegup kencang, seperti orang yang baru saja kelar ikut lomba lari marathon. Sementara Damian, hanya tersenyum lebar begitu bibirnya diberikan kecupan manis oleh Aletta tadi. Sepertinya baik Damian maupun Aletta tidak akan bisa tidur malam ini. ***** Hari Seninnya, Aletta sudah kembali kerja seperti biasa. Di tempat kerja, Aletta masih bertemu Hema dan Gita. Padahal Aletta sudah sangat tidak betah rasanya bekerja di tempat kerjanya yang sekarang. Tapi apa daya, Aletta tidak punya pilihan. Aletta butuh uang. Kalau tidak ada uang, mana bisa makan? Dan untungnya, Aletta punya Damian sekarang. Mungkin bisa dibilang, Damian menjadi salah satu penyemangat hidupnya sekarang. Ya, selain ibu dan si kumis, kucing berwarna oranye yang dia rawat sejak kucing itu baru lahir. Seperti biasa hari ini Damian menjemput Aletta begitu Aletta pulang kerja. Naas, setengah jam menunggu, Damian tak kunjung datang juga. Akhirnya Aletta menelepon Damian. Damian mengangkat telepon tak lama kemudian, “Halo? Aletta? Maaf aku lagi di jalan. Macet banget. Kamu udah kelar kerja daritadi ya?” Aletta tersenyum. Senang bahwa Damian baik-baik saja di sana. “Iya, nggak apa-apa,” kata Aletta. “Sepuluh menit lagi, oke?” kata Damian. “Iya. Aku tunggu ya.” “Dibayar berapa sih lo sama dia sampe segitunya?” Tiba-tiba suara seorang cowok muncul, membuat Aletta terhentak kaget. Aletta menoleh ke belakang, ternyata Hema sedang berdiri di belakangnya. Aletta mengerutkan dahi, “Kamu apa-apaan sih? Nggak lucu tau nggak.” Hema tersenyum sinis, “Nggak lucu kata kamu? Ini lucu kok. Lucu banget malah. Kok bisa-bisanya ya kamu semudah itu jatuh hati sama cowok itu? Apa karena dia berduit? Apa karena dia naik turun mobil?” Pipi Aletta langsung memerah. Aletta merasa kesal dan terhina sekali. “Ah, apa karena dia pintar muasin kamu diranjang? Dibayar berapa kamu sama dia?” cemooh Hema. Plak! Aletta langsung menampar pipi Hema. Serendah itukah harga diri Aletta di mata Hema? Hema langsung menatap Aletta dengan sinis begitu pipinya terkena tamparan tangan Aletta yang rasanya perih. Tangan kanan Hema langsung melayang ke udara, siap menampar balik pipi mulus Aletta. Tapi aksinya terhenti, seorang cowok tinggi, berpakaian jas formal ala kantoran dan berwajah kebule-bulean langsung memegang lengan Hema. Cowok itu, siapa lagi kalau bukan Damian Rivellino. “Cowok pengecut mana yang beraninya kasar sama cewek?” kata Damian dengan wajah dinginnya. Hema langsung terdiam kaku. Kali ini terasa berbeda, Hema sama sekali tidak melawan. Damian terasa mendominasi sekali. Seperti predator yang sedang melindungi mangsa hasil buruannya dari curian predator lain. Damian menepis lengan Hema dengan kasar, “Jangan pernah lo gangguin Aletta lagi.” Tanpa mempedulikan Hema, Damian melepas jas kerjanya lalu memakaikannya ke pundak Aletta yang sempit, “Kamu nggak apa-apa kan?” Aletta menggeleng, “Nggak apa-apa.” Damian langsung membawa Aletta pergi, meninggalkan Hema sendirian. Lagi. Hema tersenyum sinis. “Lo bakal nyesel, Aletta!” teriak Hema begitu Aletta dan Damian sudah masuk ke dalam mobil. “Dasar cowok sinting,” umpat Damian sembari menyalakan mobil porsche hitam miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD