Part 8

1304 Words
Pagi hari kembali tiba, Zanna bangkit dari tempat tidurnya dan langsung membuka jendela kamarnya agar cahaya bisa menerangi ruangan kamarnya. Zanna bergegas menuju kamar mandi. Ia akan bersiap-siap untuk menemui Steve di kantornya. Setelah selesai, Zanna keluar dari kamarnya menuju meja makan. Ia menyantap makanan yang sudah disediakan oleh Hanna. “Ma aku pergi dulu ya” pamit Zanna sambil meminum segelas air putih setelahnya “Iya hati-hati, semangat sayang!” balas Hanna Zanna tersenyum sambil mengangguk kemudian pergi untuk menemui Steve. ***** Setelah tiba di kantornya, Steve langsung duduk dan fokus pada pekerjaannya. Tok! Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu ruangan Steve. “Masuk” ucap Steve Sekretaris Steve masuk ke dalam ruangan itu. “Pak, ada yang menemui bapak” ucap sekretaris itu “Siapa?” tanya Steve “Saya gak ada janji sama orang hari ini” sambung Steve “Katanya calon istri bapak” jawab sekretaris itu Steve membulatkan matanya. ‘Zanna?’ batin Steve bertanya-tanya “Suruh masuk” ujar Steve “Baik pak” balas sekretaris itu lalu kemudian pergi keluar ruangan Beberapa detik kemudian, seorang perempuan masuk ke dalam ruangan Steve. Entah kenapa jantung Steve berdegup kencang saat mendengar langkah kaki perempuan tersebut. “Sudah lama ya” ucap perempuan itu Steve melihat ke arah sumber suara, jantungnya makin tidak karuan saat melihat Zanna dihadapannya. Steve berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlalu jelas di mata Zanna. “Kenapa?” tanya Steve dingin “Aku mau ketemu sama kamu” jawab Zanna “Lain kali buat janji dulu” ucap Steve dingin “Aku kan calon istri kamu, berhak dong” balas Zanna “Calon istri apanya?” tanya Steve kesal “Aku tahu kok kamu terpaksa terima persyaratan itu kan?” tanya Zanna “Udah tahu malah nanya” balas Steve “Steve, aku-“ “Gue sibuk, kerjaan gue banyak hari ini. Lain kali aja ya bicaranya” ucap Steve memotong ucapan Zanna Zanna menatap Steve yang sedang fokus pada laptopnya. “Kalau gitu aku minta nomor kamu” pinta Zanna “Gak” tolak Steve “Kalau gak di kasih, gimana mau bicara nanti?” tanya Zanna “Ya gak perlu bicara” jawab Steve Zanna menghembus nafas berat. Laki-laki yang di depannya ini memang sangat keras kepala. Zanna melihat ponsel Steve yang terletak di meja. Zanna melangkah mendekat dan mengambil ponsel Steve. “Lo mau ngapain?” tanya Steve ‘Nice, gak pakai kunci layar’ batin Zanna senang Zanna segera menghubungi nomor ponselnya dengan ponsel Steve. Dengan demikian, nomor ponsel Steve sudah masuk ke ponselnya. Steve menggeleng-gelengkan kepalanya. “Thank you” ucap Zanna berterimakasih “Aku bakalan hubungi kamu untuk saling bicara, oke?” tanya Zanna Steve diam. Sengaja tidak menanggapi ucapan Zanna. Zanna tersenyum kemudian pamit untuk pergi. Steve melirik ke arah pintu tepat saat Zanna sudah pergi keluar. Steve lagi dan lagi mengutuk dirinya sendiri karena meletakkan ponselnya di atas meja. ****** Zanna sudah tiba di rumahnya dengan semangat. “Kok cepat banget?” tanya Hanna “Dia lagi sibuk, ma” jawab Zanna “Gimana respon Steve waktu kamu datang?” tanya Hanna “Biasa aja sih dia, ma” jawab Zanna “Mungkin Steve masih perlu waktu kali ya?” tanya Hanna “Mungkin, ma” jawab Zanna “Oh iya ma, aku boleh minta nomornya mama Steve gak?” tanya Zanna “Boleh, untuk apa?” tanya Hanna “Ya aku kan harus dekat juga sama calon mertua aku” jawab Zanna Hanna tersenyum hangat kemudian mengangguk. Hanna mengirimkan nomor Cassey pada Zanna. “Makasih mama cantik” ucap Zanna Hanna mengangguk. “Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya ma?” tanya Zanna “Iya sayang” jawab Hanna Zanna segera menuju kamarnya sambil berlari kecil. Tiba sampai di kamarnya, Zanna menghempaskan tubuhnya ke atas kasur miliknya. Ia segera menghubungi Cassey. “Halo” sapa Cassey “Halo tante” sapa Zanna senang “Ini siapa ya?” tanya Cassey “Zanna tante” jawab Zanna “Oh Zanna, ya ampun dapat nomor tante dari siapa?” tanya Cassey “Dari mama tante” jawab Zanna “Oh gitu” balas Cassey “Ada apa sayang?” tanya Cassey “Zanna mau main ke rumah boleh gak tante?” tanya Zanna “Boleh banget” jawab Cassey senang “Serius tante?” tanya Zanna “Iya, masa tante bohong?” tanya Cassey Zanna terkekeh pelan. “Kamu bebas main ke sini, pintu rumah tante terbuka lebar untuk kamu” ucap Cassey “Wah, makasih tante” balas Zanna “Kamu tadi ketemu sama Steve ya?” tanya Cassey “Iya tante” jawab Zanna “Gimana reaksi Steve?” tanya Cassey “Steve reaksinya biasa aja tante” jawab Zanna “Ya ampun, Steve. Biar tante marahin nanti” ucap Cassey “Jangan tante, mungkin Steve masih ingat kejadian beberapa tahun lalu” ujar Zanna “Iya tuh kayaknya, by the way kamu mau main ke sini itu kapan?” tanya Cassey “Besok boleh gak tante?” tanya Zanna “Boleh” jawab Cassey “Kamu suka apa?” tanya Cassey “Suka apa tante?” tanya Zanna “Makanan gitu, kamu suka apa? Biar tante masakin” tanya Cassey “Gak perlu tante, nanti tante malah repot lagi” jawab Zanna “Ya ampun gak apa-apa, sebut aja makanan kesukaan kamu apa?” ulang Cassey ‘Mie goreng aja kali ya? Biar gak terlalu repot buatnya?’ batin Zanna “Mie goreng tante” jawab Zanna “Itu aja?” tanya Cassey “I-iya tante” jawab Zanna “Oke, tante tunggu ya besok sayang” ucap Cassey “Iya tante, makasih tante cantik” balas Zanna “Iya sayang” ucap Cassey Cassey kemudian memutuskan panggilan itu. ‘Yes, semoga respon Steve bagus deh’ batin Zanna penuh harap ****** Malam tiba, Steve pulang ke rumahnya dan segera menuju kamarnya. Di kamarnya, Steve sangat terkejut saat melihat Dean dan Sam sudah menunggu dirinya di dalam. “Akhirnya pulang juga” ucap Sam “Kalian emang gak ada kerjaan ya?” tanya Steve serius “Udah malam gini kerjaan apa?” tanya Sam “Udah berapa lama kalian di sini?” tanya Steve “Setengah jam mungkin” jawab Dean Steve menghembus nafas berat. “Ada apa?” tanya Steve “Gak apa-apa, mau main aja, hehe” jawab Dean Steve mengelus dadanya. ‘Sabar’ batin Steve menenangkan dirinya “Eh Steve ini foto lo sama Zanna waktu SMA kan?” tanya Dean sambil menunjukkan sebuah bingkai foto Mata Steve membulat. “Lo dapat dari mana?” tanya Steve “Di bawah-bawah berkas lo yang ada di meja” ajwab Dean polos Steve menyerngitkan dahinya saat sadar ia lupa membuang bingkai foto itu. “Wah masih lo simpan? Bukannya udah lo buang waktu itu semuanya?” tanya Sam “Sengaja mungkin simpan satu untuk kenangan” jawab Dean “Kenangan mata lo! Ini lupa gue buang” jawab Steve sinis “Santai aja kali” ucap Dean “Lain kali jangan pegang barang orang sembarang” ujar Steve “Iya-iya, marah-marah mulu lo” balas Sam “Iya benar, kan dedek jadi takut” ucap Dean dengan suara yang di imut-imutkan padahal sebenarnya menjijikkan “Ih geli gue dengar suara lo kayak gitu!” seru Sam sambil menatap Dean dengan pandangan geli “Gue imut gini” ucap Dean tidak terima “Sok imut lo!” seru Sam “Apa lo bilang? Heh! Gue imut ya, kalau gue pakai pakaian bayi juga masih cocok, soalnya gue imut” ucap Dean dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi “Yang ada koyak tuh baju bayi dipakai sama lo” balas Sam “Lo ada dendam apa gimana sih sama gue?” tanya Dean kesal “Perasaan lo aja kali” jawab Sam ‘Aduh, ribut lagi’ batin Steve yang merasa lelah
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD