Part 7

1361 Words
Steve tiba di rumahnya pada pukul sembilan malam. Setelah berganti baju, ia menuju meja makan. Steve bernafas lega saat melihat makanan yang masih tersedia. Steve melihat adiknya yang tidak jauh dari meja makan tersebut. Alex sedang memainkan ponselnya. Steve mengambil makanan pada sebuah piring, kemudian matanya teralih pada Alex lagi. Kalau di pikir-pikir, sudah berapa lama ia dan Alex tidak saling bicara satu sama lain? Steve berdehem untuk mulai mencairkan suasana. Namun, Alex seperti tidak peduli. Menoleh pun tidak. “Alex” panggil Steve dengan suara pelan Yang dipanggil tidak mendengar. Steve berdehem sekali lagi. “Udah makan?” tanya Steve Alex menoleh pada sumber suara. Steve dapat melihat bahwa Alex terkejut saat melihat dirinya yang bertanya. “Udah” jawab Alex santai ‘Basi gak sih nanya gitu?’ batin Steve Steve duduk dan mulai memakan makanan miliknya. Steve menggeleng pelan. ‘Bego, gak seharusnya nanya gitu’ batin Steve mengutuk dirinya sendiri Mereka sudah lama tidak berbicara, tapi sekali bicara hanya untuk menanyakan sudah makan atau tidak? Pilihan pertanyaan yang buruk padahal ada banyak topik pembicaraan. “Zanna ada temuin kamu tadi?” tanya Manuel yang tiba-tiba ada di belakang Steve “Gak pa” jawab Steve Manuel mengangguk paham. “Alex” panggil Manuel “Iya pa?” tanya Alex “Papa dengar dari mama kamu mau nikah sama Karina?” tanya Manuel ‘Bego, gue seharusnya nanya soal itu aja tadi’ batin Steve merasa bodoh “Iya pa” jawab Alex “Kamu yakin?” tanya Manuel “Yakin pa” jawab Alex “Udah berapa lama kamu pacaran sama Karina?” tanya Manuel “Bukannya papa udah pernah nanya itu ya sebelumnya?” tanya Alex balik “Papa lupa” jawab Manuel “Udah jalan mau empat tahun pa” ujar Alex “Empat tahun? Bukannya kamu baru bawa Karina tahun kemarin?” tanya Manuel “Ya, tapi aku sama Karina udah pacaran tiga tahun waktu itu, aku udah mau kenalin dari awal cuman dia nolak karena malu awalnya” jawab Alex Manuel mengangguk paham. Steve mengalihkan wajahnya dari pembicaraan Alex dan Manuel. Ia kembali teringat pada Zanna dulu. Flashback On “Aku pengen kenalin kamu sama orangtua aku, gimana?” tanya Steve “Kapan?” tanya Zanna “Sekarang kalau perlu” jawab Steve semangat “Jangan dulu deh” tolak Zanna “Loh kenapa?” tanya Steve “Aku malu” jawab Zanna Steve mengulum senyumnya. “Kenapa malu?” tanya Steve “Ya kita kan masih SMA, jangan dulu deh, nanti aja kalau udah lebih dewasa umurnya” jawab Zanna “Kenapa harus gitu?” tanya Steve “Supaya kalau nanti ditanya sama mama kamu, aku bisa jawab dengan jawaban yang bagus, kalau sekarang aku takut terlalu gugup, nanti kalau asal ceplas-ceplos gimana?” tanya Zanna sambil mengerucutkan bibirnya Steve tersenyum gemas. “Enggak kok, aku yakin orangtua aku bakalan suka sama kamu” ujar Steve “Kalau aku tetap nolak, gak apa-apa kan?” tanya Zanna sambil bertingkah imut “Aku belum siap kalau sekarang, lagian kita masih pacaran setahun” sambung Zanna Steve luluh dengan perkataan Zanna. “Ya udah deh, kapan-kapan aja aku kenalin kamu ke orangtua aku” ucap Steve Zanna tersenyum senang. Sebelum akhirnya, beberapa bulan kemudian mereka putus tanpa memperkenalkan ke orangtua mereka masing-masing. Flashback Off Steve menggelengkan kepalanya kuat untuk melupakan senyum Zanna yang kembali memenuhi pikirannya. “Papa setujukan sama hubungan aku dan Karina?” tanya Alex “Kalau gak setuju, udah lama papa suruh kamu putus sama dia” jawab Manuel Alex bernafas lega. “Tapi, tetap pada peraturan pertama. Harus kakak kamu yang duluan menikah” jelas Manuel Alex mengangguk. Ia sudah pasrah dengan hal itu. Alex melirik Steve sekilas yang sedang menggeleng-gelengkan kepala tidak jelas. ‘Lagi ngapain sih?’ batin Alex saat melihat Steve “Ya udah, kalau gitu papa ke kamar dulu” pamit Manuel “Iya pa” balas Alex ******* “Wah, asli! Serius?” tanya Amanda Gianina bernafas lega saat mendengar Amanda yang tidak teriak-teriak seperti waktu itu. Amanda melirik Gianina yang bernafas lega. “Kenapa lo?” tanya Amanda “Syukurlah, lo gak teriak” jawab Gianina “Suara gue lagi habis” ujar Amanda “Pantas suara lo serak gitu” ucap Aleeza yang baru saja datang Amanda mengangguk menanggapi ucapan Aleeza. Zanna, Aleeza, Amanda dan Gianina kembali bertemu di cafe tempat mereka biasa bertemu. “Lo telat mulu deh” keluh Amanda “Gue udah bilangkan, gue orangnya sibuk” ucap Aleeza “Masih untung gue bisa datang” sambung Aleeza Amanda hanya diam. Tidak menanggapi Aleeza lebih lanjut. “Lagi bahas apa nih?” tanya Aleeza “Steve udah setuju sama perjodohannya” jawab Amanda Aleeza tersedak saat meminum minuman yang sudah dipesan oleh Zanna terlebih dahulu untuknya. “Minumnya hati-hati dong, Al” ucap Zanna “Itu serius?” tanya Aleeza sambil terbatuk batuk Zanna mengangguk. “Kemasukan apa dia? Tiba-tiba setuju gitu?” tanya Aleeza Amanda dan Gianina mengedikkan bahu mereka tanda tidak tahu. “Kayaknya dia terpaksa sih, mungkin diancam gak bakalan jadi pewaris utama?” ungkap Zanna “Wahh, kayak sinetron aja” puji Gianina Zanna terkekeh pelan, menertawai hidupnya sendiri. “Tapi dikasih syarat juga sih” ucap Zanna “Syarat apa?” tanya Aleeza “Pendekatan kita cuman minimal tiga bulan dan paling lama satu tahun. Terus yang boleh batalin perjodohan ini cuman gue” jawab Zanna menjelaskan “Terus setelah satu tahun?” tanya Aleeza “Ya gue juga gak tahu, mungkin di situ gue bakalan mutusin mau tetap nikah atau enggak” jawab Zanna “Jawaban lo apa?” tanya Aleeza “Ha?” tanya Zanna balik “Kalau seandainya setahun dia belum luluh juga, lo bakalan ngapain? Lo tetap mau nikah sama dia?” tanya Aleeza lagi “Pertanyaan seru nih” bisik Amanda pada Gianina Gianina menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Amanda. “Y-ya gue juga g-gak tahu!” jawab Zanna berseru Aleeza menatap malas Zanna setelah mendengar jawaban Zanna. “L-lagian lo kenapa bicara gitu sih? Lo seharusnya dukung dong, semoga Steve bisa luluh, jadinya gue dan Steve serta orangtua kita tuh sama-sama senang” ucap Zanna “Gak tahu kenapa semenjak lo nangis-nangis karena ditinggal Steve, gue benci banget sama dia” ujar Aleeza Aleeza mengubah posisinya menjadi duduk serius. “Lo gak takut?” tanya Aleeza “Apanya? Takut apaa?” tanya Zanna “Lo gak takut kejadian waktu itu terulang lagi?” tanya Aleeza lagi Deg. Zanna terdiam. “Gue aja sesak lihat lo nangis, lo emang gak capek?” tanya Aleeza “Kalau gue jadi lo, gak lagi-lagi deh gue mau sama dia” sambung Aleeza Zanna menundukkan kepalanya. “Tapi mereka so sweet tahu kenangannya” ucap Amanda “Untuk apa manis kalau dia gak percaya lo sama sekali?” tanya Aleeza “Duh, kok suasananya jadi gini?” tanya Gianina “Ganti topik deh” sambung Gianina Zanna kembali teringat dengan pesan Alvis. “Alvis bakalan balik lagi ke sini” ucap Zanna membuka topik baru “Alvis yang tahun lalu liburan ke sini? Yang waktu itu lo kenalin ke kita?” tanya Amanda Zanna mengangguk. “Kapan?” tanya Aleeza “Tiga hari lagi katanya” jawab Zanna “Gue kira lo gak berhubungan lagi sama dia sejak pindah tiga tahun lalu” ujar Aleeza “Masih kok, emang lo gak ada saling bertukar kabar sama dia?” tanya Zanna Aleeza menggeleng. Zanna melihat dengan pandangan tidak percaya. “Ya lo tahu lah, gue dekat sama dia juga karena lo kan?” tanya Aleeza “I-iya sih” jawab Zanna “Lo tahun lalu gak sempat ketemu dia kan ya?” tanya Gianina “Iya, gue kebetulan pergi ke pemakaman kakak pertama ibu gue” jawab Aleeza Gianina mengangguk paham. “Dia udah tahu lo bakalan dijodohin?” tanya Aleeza “Belum” jawab Zanna “Kenapa gak lo kasih tahu?” tanya Amanda “Ya gue kira perjodohannya bakalan gak jadi” jawab Zanna “Nanti aja deh pas dia udah di sini baru gue kasih tahu” sambung Zanna Amanda dan Gianina mengangguk paham. ‘Pasti Alvis bakalan gak suka sama berita itu’ batin Aleeza sambil tersenyum miris
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD