Part 20

1268 Words
“Gak malu?” tanya Steve “Kenapa? Menurut lo gue lebay marah karena hal itu aja?” tanya Zanna balik “Iya” jawab Steve santai Zanna mengepalkan tangannya dengan erat. Emosinya mulai memuncak. “Lo sadar gak sih apa yang buat kita putus dulu?” tanya Zanna Steve mengerutkan keningnya kesal saat Zanna mulai membahas hubungan mereka dulu. “Karena lo, tahu gak?” ucap Zanna “Karena lo yang cepat banget menyimpulkan sesuatu tanpa mau mendengar penjelasan apapun” sambung Zanna Mata Zanna mulai terasa panas. “Gue gak nyangka lo masih Steve yang kayak gitu” ucap Zanna Setelah mengucapkan kalimat itu, Zanna melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Steve. Zanna menutup pintu ruangan itu dan berdiri sejenak. ‘Ah sial’ batin Zanna kesal saat air matanya mulai keluar Zanna melihat sekretaris Steve yang pura-pura sibuk seakan tidak melihat dirinya, agar Zanna tidak merasa malu. Zanna menghapus air matanya dan tersenyum pada sekretaris itu. ******* Zanna mencampakkan tasnya kesembarang arah setibanya di kamar. Hari ini ia beruntung karena orangtuanya tidak melihat mata sembabmya karena habis menangis. ‘Bukannya membaik malah makin buruk kayak gini’ batin Zanna saat teringat hubungannya dengan Steve “Lagian dia kenapa sih? Mancing emosi aja, ngeselin banget!” ucap Zanna Ting! Sebuah pesan masuk terdengar dari ponsel Zanna. Zanna segera mengambil tasnya dan mengecek ponselnya. ‘Alvis?’ batin Zanna Zanna membuka pesan itu. Alvis Dean: Lo di rumah? Zanna Brielle Amarise: Iya Alvis Dean: Keluar, gue udah di depan Zanna Brielle Amarise: Oke Zanna segera berlari keluar rumah, saat membuka pintu rumahnya dan menemukan Alvis. Zanna menatap Alvis tidak menyangka. “Ya ampun, gue boleh peluk lo gak?” tanya Zanna Alvis tersenyum kemudian mengangguk. Zanna memeluk Alvis. Ia merindukan sahabatnya yang satu ini. “Baru sekarang kangennya?” tanya Alvis Zanna melepas pelukan mereka. “Udah lama, hehe” jawab Zanna “Terus lo kemana aja? Gue ke rumah lo, lo selalu gak ada” tanya Alvis “Gue tungguin di rumah, ternyata lo gak datang-datang” sambung Alvis “Maaf ya, bukannya gue gak mau tapi ada es yang harus gue cairin dulu” ungkap Zanna “Masuk, bang. Jangan segan” ucap Zanna mempersilahkan Alvis masuk Alvis masuk dan mereka duduk di sofa ruang tamu. “Kok lo gak bilang langsung sama gue kalau mau dijodohin sama mantan lo?” tanya Alvis to the point “Gue niatnya mau kasih tahu pas kita ketemu, kan lebih enak ngomongnya” jawab Zanna “Maaf ya, gue salah” sambung Zanna merasa tidak enak “Iya gak apa-apa” balas Alvis “Mata lo kok sembab gitu?” tanya Alvis “Gue habis nonton drama sad ending, sedih banget” jawab Zanna berbohong Alvis mengangguk paham. “Bukan karena Steve kan?” tanya Alvis “Ya enggaklah” jawab Zanna “Lo kok mau-mau aja sih terima dia lagi?” tanya Alvis “Ya gak ada salahnya kasih kesempatan kedua” jawab Zanna “Dia aja masih marah kan sama lo?” tanya Alvis Zanna mengangguk jujur. “Kenapa lo mau perjuangin orang yang bahkan gak mau perjuangin lo?” tanya Alvis “Alvis, bukan gue kok yang pertama berjuang” jawab Zanna “Jujur nih, gue dulu pernah nolak perasaan dia sekitar empat kali, sebelum akhirnya gue sama Steve beneran pacaran” sambung Zanna “Kenapa lo nolak dia?” tanya Alvis “Gue gak yakin aja, cowok kayak dia bisa suka sama cewek kayak gue. Karena ragu gue tolak deh, tapi lihat perjuangan dia yang berusaha buat gue suka dan yakin sama dia buat gue kagum dan akhirnya nerima perasaan dia” jelas Zanna Alvis tertegun melihat tatapan Zanna yang sedang mengingat masa-masa itu sambil tersenyum. Alvis tersenyum pahit. “Ternyata lo masih suka sama dia ya?” tanya Alvis Zanna mengangguk. “Udah deh, jangan bahas masa lalu” ucap Zanna Alvis mengangguk. “Lo udah makan pagi?” tanya Zanna “Udah tadi sama Aleeza” jawab Alvis “Sama Aleeza? Kalian janjian?” tanya Zanna “Gak sengaja ketemu di cafe orangtua gue” jawab Alvis “Oh yang dekat rumah lo?” tanya Zanna Alvis mengangguk. “Dia belum tahu cafe itu punya keluarga gue” ujar Alvis “Ya maksud lo semua orang harus tahu gitu itu punya lo?” tanya Zanna “Dia kerja disana Zan” jawab Alvis “Lah bukannya waktu itu dia bilang di gang sebelah rumah gue ya?” tanya Zanna “Dia masih suka kerja paruh waktu gitu ya?” tanya Alvis Zanna mengangguk. Alvis mengangguk paham. Alvis mengeluarkan ponselnya karena ada pesan masuk. “Gue pulang ya, ada urusan nih” pamit Alvis “Urusan apa?” tanya Zanna “Ada deh, kepo lo” jawab Alvis Zanna terkekeh kemudian Zanna mengantar Alvis ke depan rumah. ******* Malam sudah tiba, Steve yang masih berada di ruangannya fokus menatap komputer besar yang ada di depannya. Steve kembali mengingat kejadian tadi pagi saat ia dan Zanna bertengkar. Ucapan Zanna membuat Steve berpikir seribu kali mengulang masa lalu mereka. ‘Apa gue tadi berlebihan ya negurnya?’ batin Steve ‘Seharusnya gue senang sih, karena kayaknya dia gak bakalan datang lagi’ batin Steve lagi Steve memijat keningnya yang mulai terasa sakit. ‘Bodo amatlah!’ batin Steve mencoba untuk tidak peduli Steve mulai membereskan barangnya untuk kembali ke rumah. Setelah itu, ia keluar dari ruangannya. “Bapak sudah mau pulang?” tanya sekretaris itu Steve mengangguk. Steve melangkahkan kakinya beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti. “Ada apa pak?” tanya sekretaris itu melihat Steve berhenti “Setelah Zanna keluar dari ruangan saya, apa yang kamu lihat?” tanya Steve dengan ragu “Saya gak lihat apa-apa pak” jawab sekretaris itu takut “Jangan takut, jujur aja” ucap Steve “Maksud saya, Zanna nangis atau gimana?” tanya Steve yang teringat saat menatap mata Zanna yang memerah “I-iya pak, bu Zanna nangis” jawab sekretaris itu Steve terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk paham dan pamit pergi. Sekretaris Steve menatap kepergian Steve. Sekretaris itu tersenyum. ‘Ternyata pak Steve khawatir dengan bu Zanna’ batin sekretaris itu ******* Zanna menatap layar ponselnya dengan tatapan serius. Zanna melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah hampir dua jam dia bingung ingin mengirim pesan pada Steve atau tidak. Zanna mulai mengetik sesuatu pada aplikasi pesan di ponselnya. “Apa gue kelihatan gampang banget ya maafin dia?” tanya Zanna pada dirinya sendiri “Enggak Zanna, lo gak boleh marah sama dia. Anggap aja ini masalah sepele dan gak usah besarin masalah ini” sambung Zanna ‘Hmmm…. Ngomong apa ya?’ batin Zanna Zanna mengetik beberapa kalimat kemudian ia menghapusnya karena merasa tidak cocok. Begitu terus sampai tiba sebuah panggilan masuk pada ponselnya dari Amanda. Ia mengangkat dengan cepat panggilan itu. “Kenapa?” tanya Zanna “Sorry” jawab Amanda “Ha?” tanya Zanna bingung “Gue salah tekan” jawab Amanda “Bye bye” sambung Amanda kemudian memutuskan panggilan itu ‘Apasih gak jelas banget’ batin Zanna Zanna membelalakkan matanya kaget saat melihat sebuah pesan sudah terkirim pada Steve. “Lah kok terkirim sih?” tanya Zanna panik ‘BISA DI TARIK GAK SIH PESANNYA?’ batin Zanna histeris Zanna mencoba berbagai cara agar pesan itu dibatalkan, namun tidak ada yang berhasil. “Mampus! Malu banget! Malah tadi gue marah-marah masa kirim pesan kayak gitu isinya?” tanya Zanna Zanna memukul pelan kepalanya karena merasa bodoh. ‘Steve udah baca gak ya?’ batin Zanna ‘HUUAAA GARA AMANDA NIH, GUE JADI GAK SENGAJA TEKAN KIRIM! STEVE KAYAKNYA UDAH BACA DEH’ batin Zanna lagi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD