Kitab Dewa Perang

1058 Words
Ruangan dimana Long Kirin berada berubah seketika ketika ia melangkah beberapa meter dari tempat duduknya. Ini membuat Long Kirin merasa terkejut, bagaimana bisa dengan hanya beberapa langkah ia telah berada di tempat lain. Saat ini Kai Rong membawa ke sebuah perpustakaan yang sangat luas, dimana rak-rak buku itu membentuk lingkaran berlapis dan sebuah meja bundar dan dua kursi berada di tengah ruangan. Roh pedang itu duduk dengan kedua kaki saling menyilang. "Silahkan pilih kitab yang kau inginkan. Pilihlah dengan hatimu, jangan sekali-sekali kau memilih dengan hawa nafsu." Lelaki itu mengarahkan tangan kanannya ke kumpulan kitab-kitab yang tertata rapih. Warna kitab-kitab itu sangat beragam, mungkin semua warna ada di sana. Sebagian kitab ada yang memiliki pola yang bermacam-macam bentuk dan ada juga polos dengan berbagai macam warna. Beberapa kitab juga memancarkan berbagai bentuk aura, dari gelap sampai terang, dari tenang sampai memberontak. Seperti halnya manusia, bila diberikan pilihan yang sangat banyak yang seluruhnya ada hal bagus, dia akan menjadi kebingungan. Tak mampu menilai mana yang bagus, layaknya memilih satu barang dalam tumpukan berbagai macam permata dan perhiasan. Long Kirin berjalan pelan melihat-lihat dengan tangan kanan menyusuri setiap kitab. Banyak macam rasa ketika ia bersentuhan dengan buku itu, dari sejuk, dingin, hangat serta panas. Sampai pada akhirnya setelah berkali-kali mengitari setiap rak, Long Kirin masih belum menemukan kitab yang cocok dengannya. 'Jangan sekali-sekali kau memilih dengan hawa nafsu.' Kata-kata Kai Rong terngiang-ngiang ketika Long Kirin dalam kebingungan. Long Kirin mulai berpikir keras sampai ia menggigit kuku ibu jarinya. "Hawa nafsu terlihat dengan mata. Mata mengarahkan padanya." Kai Rong yang berada jauh darinya mulai tersenyum saat Long Kirin menyadari sesuatu. "Seperti itu rupanya," ucap Long Kirin yang telah menyadari apa yang dimaksud oleh Kai Rong. Pemuda itu mulai memejamkan kedua matanya, menenangkan diri dan berkonsentrasi agar hatinya lah yang memilih kitab apa yang pantas untuk dia. Benar saja apa yang ia putuskan, sebuah benang cahaya berwarna biru keluar dari tengah dadanya dan bergerak menuju sebuah kitab yang ternyata berada di meja bundar, tepat dimana Kai Rong berada. Roh pedang itu kembali tersenyum, ia tak menyangka bahwa ilmu yang cocok dengan Long Kirin adalah kitab yang dimana ia juga menguasai seluruh jurusnya. "Paman, aku memilih kitab ini,* ucap Long Kirin yang telah berada di depan hadapan Kai Rong. "Tidak disangka, kau berjodoh dengan kitab ini." Roh pedang itu kembali tersenyum, lalu ia memberikan kitab tersebut kepada Long Kirin. Pemuda tersebut menerima dengan tangan sedikit bergetar, ia tak menyangka akhirnya bisa memilih ilmu bela diri yang menurutnya sangat kuat. Senyuman bahagia terukir di wajahnya. Ia dengan antusias mencoba membuka dan membaca isi kitab, namun senyuman itu berubah tatkala ia tak bisa membuka kitab itu. Berulang kali pemuda itu mencoba membuka kitab tersebut, bahkan menggunakan tenaga fisik dan tenaga dalamnya sampai terkuras habis. Tetap saja kitab itu tidak menunjukkan bahwa ia akan terbuka. Entah apa yang terjadi, padahal dia telah memilih dengan hati sanubarinya. Kai Rong kembali tersenyum. "Mengapa kau ingin mempelajari jurus-jurus dalam kitab itu?" tanyanya. "Untuk mengemban takdir yang telah ditetapkan sang Dewa." "Hanya itu? Setelahnya apa yang akan kau lakukan?" "Tidak ada, Paman." "Apakah kau yakin? Aku bisa melihat niat jahat dalam lubuk hatimu yang terdalam. Kau akan balas dendam kepada mereka-mereka yang pernah melukaimu sejak kau menginjak usia lima tahun." Long Kirin tertunduk malu, ia tak menyangka memiliki niat sejahat itu ketika telah menguasai jurus dalam kitab. "Itu adalah kitab dari seorang Dewa Perang. Dia tak akan menerima seseorang yang memiliki niat jahat, walaupun se-kecil butiran pasir," ucap Kai Rong. "Paman, bagaimana aku bisa menghilangkan niat jahat itu?" "Meditasi, bermeditasi lah di bawah air terjun Sembilan Pelangi." Kai Rong mengibaskan tangannya yang membuat tempat itu berganti lagi ke sebuah air terjun. Seperti namanya, tempat tersebut memiliki sembilan pelangi yang menghiasi air terjun. Lingkaran luar kolam terhias berbagai macam bentuk tumbuhan yang indah. Ada sebuah tempat duduk dari batu giok berwarna biru langit di bawah deras air, yang dimana di sanalah Long Kirin akan bermeditasi sampai ia menghilangkan niat jahat yang bersarang dalam lubuk hatinya. "Silahkan, taklukkan niat jahat dalam lubuk hatimu, Kirin'er." "Baik, Paman Rong." Sebelum roh pedang itu berjalan menuju ke sebuah pohon persik untuk menunggu, ia menyampaikan kepada Long Kirin bahwa dia tidak akan bisa berhenti atau mundur dari sekarang dan keluar dari tempat ini, sebelum ia mengalahkan niat jahat. Long Kirin mulai melepaskan pakaiannya menyisakan celana pendek yang menutupi hal pribadi miliknya. Melipat dan menyusun barang miliknya di dekat batu bulat yang dimana ada sebuah bunga mawar menemani. Sejuk, itulah yang dia rasakan ketika tubuhnya masuk ke dalam kolam itu. Perlahan-lahan suhu air mulai turun dan sangat dingin bagi Long Kirin saat ia telah berada di dekat batu giok. Apalagi ditambah derasnya air yang sebentar lagi akan menghantam tubuhnya. Long Kirin menarik nafas panjang meyakinkan diri sepenuh hati, lalu naik ke batu giok dan duduk bersila. Pemuda itu mulai memejamkan matanya lalu berkonsentrasi untuk bermeditasi masuk ke dalam ruang hatinya. Satu jam, dua jam dan tiga jam telah berlalu, namun ia belum juga masuk ke dalam ruang hati miliknya. Karena air terjun terus menggempur dan memecahkan konsentrasinya. 'Pelindung? Ya aku butuh pelindung dari air terjun ini untuk bisa konsentrasi.' pikir Long Kirin. Dia segera melepas tenaga dalamnya untuk menciptakan pelindung dari elemen tanah. Namun perbuatannya sia-sia, karena tenaga dalam dalam tubuhnya tidak bisa digerakkan. Long Kirin tidak menyadari bahwa tenaga dalam miliknya terhenti saat ia memasuki kolam air terjun. Akhirnya Long Kirin pasrah dan menerima air terjun mengganggu dirinya. Dia mulai kembali menajamkan konsentrasinya sampai-sampai memberhentikan seluruh panca indra. Sebuah cahaya putih terlihat jauh di depannya. Cahaya itu terus membesar dan membentuk sebuah pintu berwarna merah gelap. Pintu ruang hati, itulah nama yang dilekatkan kepadanya. Pintu tersebut akan merubah warnanya sesuai dengan yang ada di dalam ruang hati. Bila orang itu adalah manusia baik dan bersih, maka warna pintu tersebut adalah putih bersih dengan hiasan berbeda-beda. Jika manusia tersebut dari golongan orang jahat yang menggunakan segala cara demi hasrat dunia, maka warna pintu akan merah gelap. Terdengar suara tangisan ketika Long Kirin mulai membuka pintu itu. Wajahnya terkejut bukan kepalang saat melihat sosok yang terduduk di bawah pohon persik sambil menangis. Terlihat beberapa bagian tubuhnya lebam dan luka dari benda tajam. "K-kau?! Me-mengapa?!" tanya Long Kirin dengan terbata-bata karena tidak mempercayai apa yang dia lihat saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD