Albara terduduk,dengan perasaan yang sulit di deskripsikan,ia masih menatap kepergian perempuan yang tak ia kenal itu. Albara tak pernah melihat perempuan itu sebelumnya,bahkan selama hidupnya ia tidak pernah memenuhi perempuan hebat seperti gadis itu.Albara sudah memperluas tongkrongannya,tapi ia sama sekali mendengar desas-desus mengenai gadis itu.Dilihat bagaimana dia melawan teman-temannya dan juga lawannya,jelas gadis itu pasti menguasai teknik bela diri. "Bar,bantuin gue dong." Albara tersadar,ia melirik ke arah temannya yang masih terkapar diatas aspal.Kulanya cukup parah sehingga dia tidak bisa berlari seperti teman-temannya yang lain. Albara sendiri babak belur,bukan hanya sekedar lebam tapi sudut bibirnya berdarah karena pukulan dari gadis itu.Ia tak berbohong,gadis itu menye

