Malam itu, Aldara menyusuri taman kota untuk mencari udara segar yang mampu meredakan rasa resah dalam hatinya. Setelah merasa cukup lama berkeliling, ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun, langkah kakinya terhenti di atas jembatan yang melintasi sungai berarus deras di bawahnya. Aldara menopang dagunya dengan kedua tangan, memandang langit malam yang terang berkat sinar bulan. Ingatannya kembali melayang pada peristiwa tadi siang, dan rasa bersalah yang mencekam tak kunjung sirna. "Gue cuma mau hidup normal!" serunya dengan lantang, mencoba melampiaskan frustasi dalam kesunyian malam. Seakan dikuasai obsesi untuk membebaskan diri dari belenggu sisi iblis yang terus menyiksa dirinya dan orang di sekitarnya, Aldara merasa perlu mencari jalan keluar. Tiba-tiba, ia merasa perlu menur

