Sebuah mobil mewah berhenti di depan apartemen tempat tinggal Nada. Tentu saja itu mobil milik Ardian. Ardian berhasil mengantar Nada pulang ke rumahnya. Di dalam mobil, Nada sedang memangku Kenzi yang berhasil membuat Ardian mengantarkannya pulang.
"Sudah sampai," ujar Ardian.
Nada tidak menjawab. Ia hanya terus terdiam. Bahkan, saat perjalanan tadi pun ia juga terus saja diam dan sama sekali tidak berbicara. Membuat Ardian dan Kenzi menoleh ke arahnya.
"Kak Nada kenapa diam saja?" tanya Kenzi. Membuat Nada menoleh ke arah Kenzi. Ia kembali menghela nafas beratnya.
"Kenzi, kenapa tadi kamu memanggilku Mama?" tanya Nada dengan lembut.
"Aku tidak mau melihat kak Nada marah. Dan lagi, aku memang ingin kalau Kakak menjadi Mamaku," jawab Kenzi yang terdengar sangat polos itu. Nada lagi-lagi menghela nafas.
"Kenzi, untuk menjadi seorang Mama, tidak semudah itu. Kalau kak Nada menjadi Mamamu, maka Kak Nada harus ... harus ...." Nada bingung bagaimana cara mengatakannya.
"Harus menikahi Papaku, kan?!" potong Kenzi. "Kalau begitu menikah saja dengan Papa! Papa, kan juga sudah mengajak Kak Nada menikah?"
Nada terkejut mendengar Kenzi kecil yang lugu itu. Ia menoleh ke arah Ardian dengan tatapan tajam. Sedang Ardian, hanya terdiam dengan ekspresi datar. Meskipun Nada memberinya kode, tetap saja Ardian tidak akan paham. Jadi, percuma jika Nada terus berusaha menjelaskannya pada Kenzi.
"Kenzi, kak Nada harus pulang. Kak Nada turun dulu, ya," kata Nada yang akhirnya membuka pintu dan keluar. Kenzi dan Ardian pun juga ikut keluar. Setelah berada di luar, Nada berjalan mendekat ke arah Ardian.
"Apa yang kamu ajarkan pada Kenzi?!" tanya Nada ketus.
"Aku tidak pernah mengajarkan apa-apa. Bahkan Kenzi datang ke tempat tinggalmu pun aku juga mencarinya, bukan? Bukti kalau aku tidak tahu!" jawab Ardian masih dengan nada dingin.
"Lalu kenapa kamu tidak membujuknya untuk tidak terus-menerus mencariku?!"
"Apa boleh buat? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau tidak boleh terlalu keras pada anak? Kamu lihat sendiri kalau tadi dia sampai menangis, bukan? Aku bisa apa?" jawab Ardian yang terdengar enteng sekali.
"Kenapa tidak mencari pengasuh saja?! Kenapa harus aku?!"
"Karena Kenzi hanya mau denganmu! Dengar, mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi aku tidak punya pilihan lain lagi. Kenzi akan jadi semakin liar jika terus begitu. Apa kamu tega melihat masa depan anak usia lima tahun yang nantinya akan hancur?!"
"Jadi apa solusinya?! Apa kamu benar-benar ingin menikah denganku?"
"Ya!" Ardian mengangguk kencang. Membuat Nada melebarkan kedua mata dan mulutnya tidak habis pikir. "Jangan salah sangka! Aku juga tidak suka padamu. Tapi masalahnya Kenzi menyukaimu. Setelah menikah, kamu juga akan bisa bekerja sebagai sekretarisku."
"Sampai kapan pun, aku tidak akan bekerja dengan cara seperti itu!"
"Lalu bagaimana dengan Kenzi? Sekarang kamu juga harus bertanggung jawab. Kenzi akan terus seperti itu kalau kamu tidak mau menjadi Mamanya."
"Jadi pada akhirnya ini semua salahku?!" ujar Nada tidak habis pikir.
"Kalau tidak mau disalahkan, menikahlah denganku. Mudah, bukan?"
"Sudahlah! Hentikan membuat lelucon tentang pernikahan! Jangan main-main! Itu sama sekali tidak lucu!"
"Aku tidak main-main. Aku benar-benar ingin menikah denganmu."
"Kamu sudah gila, ya?! Apa kamu mau aku siram air lagi?! Cepat pergi sana!" usir Nada lagi.
"Kak Nada, kenapa mengusir Papa?"
Tiba-tiba Kenzi yang tadi sedang menunggu, jadi ikut mendekat ke arah mereka. Membuat Nada terhenyak. Nada pun langsung menahan rasa marahnya karena tidak ingin Kenzi melihatnya. Ia kemudian berjongkok supaya sepadan dengan tinggi Kenzi.
"Kenzi, sekarang sudah waktunya kamu pulang, ya," kata Nada merendahkan intonasi bicaranya.
"Tidak mau ...!" Kenzi mulai mengeluarkan jurus rengekannya.
"Kenzi, hari sudah malam. Tidak baik kalau anak kecil berada di luar begini terus. Kenzi juga harus pulang. Bukankah tadi kita sudah cukup lama bersama?" tanya Nada lagi.
Kenzi tidak menjawabnya. Ia hanya menundukkan kepala dengan murung. Nada memperhatikannya dan ia juga tidak tega. Ia pun menghela nafas beratnya.
"Baiklah. Kalau mau, ikutlah naik ke atas bersama Kakak, bagaimana?" tawar Nada. Kenzi pun langsung mengganti ekspresi wajahnya menjadi sumringah. Ia menganggukkan kepala dua kali dengan kencang.
"Mau, Kak!" jawab Kenzi.
Nada pun tersenyum lalu kembali berdiri. Ia melihat ke arah Ardian yang juga heran. Begitu menatap Ardian, Nada langsung merubah ekspresi wajahnya jadi ketus lagi.
"Kamu juga ikut naiklah! Oh! Jangan salah paham! Aku hanya ingin mengembalikan gaun ini!"
***
Ardian dan Kenzi duduk k di sofa di dalam apartemen Nada. Mereka menunggu Nada yang masih ada di dalam kamarnya. Nada sedang mengganti gaun yang dipakainya karena akan dikembalikan pada Ardian.
Selagi menunggu, Ardian memperhatikan seluruh ruangan di dalam apartemen Nada. Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Tepat saat itu, ia melihat kardus yang sama. Kardus tempat Nada meletakkan semua barang kenangannya dengan Haikal. Membuat Ardian menautkan kedua alis melihatnya.
"Jadi sampai sekarang dia masih belum membuangnya?" gumam Ardian dalam hati. Kemudian, ia hanya menggelengkan kepala pelan beberapa kali.
"Papa?" panggil Kenzi tiba-tiba yang membuat Ardian menoleh ke arahnya.
"Hm?"
"Aku ingin ke kamar mandi," ujar Kenzi.
Ardian lalu melihat sekeliling ruangan apartemen Nada itu. Tidak membutuhkan waktu lama, ia berhasil menemukan kamar mandinya. Ardian pun mengantarkan Kenzi ke dalam kamar mandi. Setelah Kenzi masuk, Ardian berjalan kembali ke arah sofa.
Tepat saat itu, Nada keluar dari kamarnya. Membuat Ardian dan Kenzi menoleh ke arah Nada. Nada berjalan mendekat sembari membawa sebuah paper bag cukup besar tempat gaun dari Ardian.
"Mana Kenzi?" tanya Nada.
"Ada di dalam kamar mandi," jawab Ardian menunjuk ke arah kamar mandi Nada. Nada pun mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Ini, aku kembalikan gaunnya," kata Nada menyodorkan paper bag yang dibawanya pada Ardian.
Ardian tidak segera menerimanya. Hanya memandangi paper bag yang disodorkan oleh tangan Nada. Ia lalu melihat ke arah Nada.
"Aku tidak menyuruhmu mengembalikannya."
"Jangan mulai lagi! Aku tidak ingin menerima apa pun darimu! Setelah ini kamu harus segera pergi dari rumahku!" ujar Nada yang melangkah mendekat ke arah Ardian untuk tetap ingin memberikan paper bagnya.
Namun, karena tidak hati-hati Nada yang melangkah setengah terburu itu tiba-tiba tersandung. Membuatnya terhenyak sendiri dan karena posisinya tidak seimbang, ia jadi tidak bisa mengontrol tubuhnya.
Nada akan segera jatuh. Ardian yang melihatnya pun segera menarik tangan Nada sehingga Nada tidak jadi jatuh ke lantai. Nada yang masih berusaha mengimbangi tubuhnya, menarik lengan baju Ardian kuat-kuat sehingga Ardian justru ikut tertarik. Akhirnya mereka berdua jatuh di atas sofa dengan posisi Ardian berada di atas Nada.
"Nada! Papa dan Mama datang!"
Di waktu yang bersamaan, kedua orang tua Nada datang dan langsung membuka pintu. Mereka berdua melihat Nada dan seorang laki-laki tampan sedang berada di atas Nada. Tentu saja mereka berdua terkejut melihatnya.
"Astaga! A ... apa yang sedang kalian lakukan?!" tanya ibu Nada.