Ardian masih ada di atas tubuh Nada. Ia menahan tubuhnya dengan kedua lengan dan sikunya supaya tidak menindih tubuh Nada. Sedangkan Ayah dan ibu Nada yang baru datang, masih tercengang melihat anaknya dengan posisi seperti itu.
"Papa?! Mama?!" panggil Nada ikut terkejut.
Nada pun segera mendorong Ardian ke arah kanan sehingga Ardian langsung terjatuh ke lantai begitu saja. Ardian pun terhenyak dan kesakitan karena Nada mendorongnya. Ayah dan ibu Nada pun ikut terkejut dan menganga melihatnya. Sedangkan Nada langsung berdiri dari sofa.
"Aauuuw ...!" rintih Ardian yang memegangi lengannya. Ia kemudian langsung berdiri.
"Nada! Kenapa mendorongku?!" seru Ardian sambil mengusap-usap sikunya.
"Diamlah! Dan jangan bicara macam-macam!" bisik Nada pada Ardian yang ada di sampingnya.
"Nada! Apa yang kamu lakukan?!" tanya mama Nada.
"Jangan salah paham, Ma, Pa! Tadi aku hampir terjatuh dan dia menarikku. Jadi, kita berdua terjatuh di atas sofa," jelas Nada dengan setengah panik meski ia berbicara jujur.
"Nada?! Siapa laki-laki ini?!" tanya Papa Nada menunjuk ke arah Ardian.
"Eee ... dia ... dia ...."
"Saya atasan Nada," potong Ardian yang mewakili jawaban Nada. Membuat Nada langsung menoleh ke arah Ardian.
"Atasan?!" tanya mama Nada.
"Iya. Beberapa hari yang lalu, Nada melamar kerja di tempat saya sebagai sekretaris," lanjut Ardian. Nada pun menatap Ardian dengan keheranan.
"Oooh ... yang pernah kamu ceritakan itu ya, Nada?!" tanya mama Nada yang langsung merubah wajah menjadi sumringah.
"Benar! Nada diterima sebagai sekretaris di perusahaan saya," jawab Ardian lagi.
"Lalu kenapa malam-malam bisa ada di sini?!" Ayah Nada gantian bertanya.
"Tadi aku harus menghadiri acara perusahaan, Pa! Dia hanya mengantarku pulang. Iya, kan Pak Ardian?" tanya Nada sambil memberi kode pada Ardian.
"I ... iya," jawab Ardian setengah terbata.
"Sekarang waktunya pak Ardian pulang," ujar Nada sekali lagi memberi kode. Namun, belum sempat Ardian membalasnya, tiba-tiba suara Kenzi muncul.
"Papa! Mama!"
Dari arah kamar mandi tadi, Kenzi keluar dan langsung memanggil Ardian dan Nada. Membuat semua orang menoleh ke arah Kenzi. Mendengar Kenzi, tentu saja ayah dan ibu Nada semakin terkejut dibuatnya. Apalagi Nada. Kenzi lalu berjalan mendekat ke arah Nada.
"Mama? Papa? Siapa mereka?" tanya Kenzi dengan polosnya.
Sedangkan ayah dan ibu Nada pun semakin tercengang heran melihatnya. Nada pun hanya menundukkan kepala sambil menghela nafas beratnya. Bingung tidak tahu lagi harus bagaimana meluruskan salah paham ini?
***
"Oooh ... jadi begitu ceritanya? Anak bernama Kenzi itu adalah anak bosmu itu. Dan dia menyukaimu?" tanya ibu Nada mengkonfirmasi setelah Nada menceritakan semuanya.
Kini, di apartemen Nada hanya tinggal Nada dan kedua orang tuanya. Ardian dan Kenzi tentu sudah ijin pamit pulang duluan karena Kenzi kecil juga sudah waktunya tidur.
"Iya, Ma. Makannya itu Kenzi kadang suka memanggilku Mama," jelas Nada lagi.
"Apa dia berbuat yang tidak-tidak padamu?!" tanya ayah Nada tegas.
"Tidak, Pa! Sama sekali tidak."
"Baguslah kalau begitu."
"Jadi sekarang kamu sudah benar-benar bekerja sebagai sekretaris di perusahaan pak Ardian itu?!" tanya ibunya yang ganti bertanya dengan wajah sumringah.
Nada tidak segera menjawab. Ia melihat kedua orang tuanya sedang memperhatikannya. Di saat seperti ini, tentu saja dia tidak ingin mengecewakan ayah dan ibunya.
"I ... iya, Ma. Aku sudah keterima kerja," jawab Nada yang tidak punya pilihan lain.
"Syukurlah, Nada! Mama sangat senang mendengarnya! Akhirnya Mama bisa menceritakan pada saudara-saudara kita kalau kamu bekerja di perusahaan besar!" seru mama Nada.
"I ... iya, Ma," jawab Nada canggung.
"Nada, meski begitu kamu tetap harus berhati-hati! Kamu ini perempuan! Jangan sembarangan membawa laki-laki masuk ke rumah!" pinta ayahnya.
"Iya, Pa," jawab Nada.
"Sudahlah, Pa! Lagi pula, tadi mereka juga terpaksa karena ingin menuruti Kenzi kecil, bukan?" ujar ibu Nada. Ayahnya pun menghela nafas kalah dengan ibunya.
"Kalau begitu, Papa mau ke kamar mandi dulu," kata ayah Nada sembari berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Setelah ayah Nada masuk ke kamar mandi, ibu Nada langsung mendekat sampai menempel ke arah Nada.
"Nada, Mama sempat lihat tadi di dalam paper bag itu ada gaun yang bagus dan juga mahal. Apa itu punyamu?" tanya ibu Nada.
Nada jadi menoleh ke paper bag yang ditunjuk ibunya. Membuat Nada baru ingat kalau ternyata paper bag berisi gaun dari Ardian tidak jadi dibawanya pulang.
"Astaga! Pak Ardian lupa membawa gaunnya?!" ujar Nada menepuk kening. Ibunya pun langsung berwajah cerah mendengarnya.
"Jadi, itu dari bosmu tadi, ya?"
"Tadi dia memberikannya padaku karena aku diundang di acara pesta makan malam, Ma. Padahal tadi dia ke sini juga untuk membawanya. Tapi malah lupa dan ketinggalan," gerutu Nada berbicara sendiri. Ibunya memperhatikan putrinya itu. Mendadak, ada sesuatu yang membuatnya ingin bertanya.
"Nada, pak Ardian itu benar-benar tampan, ya? Dia juga sangat perhatian memberikanmu gaun mahal. Dia masih muda tapi sudah tidak punya istri. Memangnya kenapa dia bisa bercerai dengan istrinya?"
"Mana aku tahu, Ma?! Aku sendiri juga baru mengenalnya!"
"Tapi sayang sekali kamu masih berhubungan dengan yang namanya Haikal itu?" ujar ibu Nada dengan kecewa.
Nada pun terhenyak mendengarnya. Ia sendiri baru ingat kalau dia belum mengatakan pada ibunya jika ia baru putus dengan Haikal.
"Aku ... baru putus dengan Haikal," kata Nada dengan ragu-ragu. Ibu Nada pun segera menoleh cepat ke arah Nada dengan melebarkan kedua mata senangnya.
"Benarkah?! Kenapa bisa putus?"
"Aku rasa kami memang tidak cocok."
"Benar, kan apa kata Mama! Dari awal Mama juga sudah tidak menyukai Haikal itu! Semua tugas-tugas pekerjaannya, kamu terus yang membantu mengerjakannya! Membuatmu repot terus!" kata ibu Nada lagi.
Nada terdiam dan jadi teringat setelah mamanya bilang begitu. Ya. Memang benar saat masih bersama Nada selalu membantu mengerjakan laporan pekerjaan Haikal. Karena itu, mamanya tidak menyukai Haikal.
Apa jadinya kalau mamanya sampai tahu proposal terbaik Nada diambil oleh Haikal. Sedangkan Haikal justru selingkuh dengan anak bosnya sendiri? Sudah pasti mamanya semakin marah besar.
"Nada!" panggil ibunya tiba-tiba membuat Nada terhenyak dan kembali menoleh ke arah ibunya.
"Ada apa, Ma?"
"Apa Pak Ardian itu sudah punya pacar?"
"Kenapa Mama tiba-tiba bertanya begitu?! Tentu saja aku tidak tahu!"
Padahal, jelas-jelas Nada tahu kalau Ardian tidak punya kekasih. Buktinya selama ini Ardian selalu mengajaknya menikah. Bukankah sudah membuktikan jika Ardian sedang sendiri?
"Tebakan Mama sih, dia tidak punya pacar. Malam-malam begini dia masih bersedia mengantarmu ke rumah. Dan lagi, anaknya yang lucu itu juga menyukaimu. Bukankah itu terdengar bagus?"
"Bagus apanya, Ma?!"
"Tentu saja terdengar bagus kalau melihatmu menikah dengan yang namanya Ardian itu?"
"Apa?!" seru Nada menautkan kedua alis keheranan.