Bab 12. Buang Jauh Haikal

1111 Words
"Apa yang Mama bicarakan?!" "Nada, kamu jadi perempuan harus realistis! Kamu ini sekarang sudah ada di usia siap menikah! Jadi memang sudah waktunya kamu menikah!" "Aku masih berusia dua puluh lima tahun, Ma!" "Di desa, usia dua puluh lima tahun itu adalah usia matang untuk menikah! Lihat! Apa kamu tidak malu dikatakan perawan tua? Semua teman-teman sebayamu saja sudah pada menggendong anak!" "Syukurlah aku tidak tinggal di desa," gerutu Nada dengan suara pelan sembari bergumam tidak jelas. Namun, ibunya masih bisa mendengarnya dengan jelas. "Nada, apa salahnya kalau kamu menikah, bukan?" "Ma! Aku pasti akan menikah dengan orang yang tepat! Dan itu bukan pak Ardian! Dia denganku berjarak sepuluh tahun, Ma! Mama mau aku menikah dengan om-om?!" "Benarkah?! Wah! Bukankah itu bagus?! Dia jauh lebih matang darimu. Emosinya pasti stabil! Dia juga pasti bisa mengayomimu dengan baik, Nada," ujar ibu Nada yang justru semakin senang saja. Membuat Nada tidak habis pikir dan hanya menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. "Aaah ... sudahlah, Ma! Aku lelah bicara dengan Mama! Aku ingin istirahat saja!" kata Nada yang berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamarnya. Ibu Nada pun akhirnya juga hanya menghela nafas beratnya. "Ya sudah ... ya sudah ...!" Ibu Nada pun ikut berdiri dan mengikuti Nada masuk ke dalam kamar. "Malam ini Mama dan Papa tidur di kamarku saja. Aku akan tidur di sofa," kata Nada sembari membereskan kamarnya. "Kalau Mama dan Papa bilang mau ke sini, aku pasti sudah membersihkan kamarku lebih dulu." "Tidak apa-apa. Sudah lama Mama tidak menjengukmu. Senang sekali Mama bisa mendengarmu keterima kerja! Jadi, jam berapa kamu berangkat kerja besok?" tanya ibu Nada lagi. Nada tercekat sesaat. Ia belum bisa menjawab ibunya karena memang belum pernah bekerja di perusahaan Ardian sebelumnya. Membuatnya kebingungan. Belum sempat Nada menjawab tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemen Nada. "Ah! Sebentar, ya Ma! Ada yang mengetuk pintu!" seru Nada yang langsung berjalan keluar. Mama Nada pun hanya menaikkan kedua bahu melihat putrinya keluar kamar itu. Sedangkan Nada yang sudah berada di luar kamar, nampak lega karena ia tidak harus menjawab pertanyaan ibunya. Nada lalu berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Begitu dibuka, Nada langsung terhenyak kaget. Ia melihat Haikal berdiri tepat di hadapannya. Yang baru saja mengetuk pintu adalah Haikal. "Nada?" panggil Haikal dengan wajah cemas memanggil Nada. "Kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini?!" tanya Nada bingung. "Siapa, Nada?!" teriak ibu Nada dari dalam kamar. Nada pun terhenyak mendengar suara ibunya berteriak itu. "Bukan siapa-siapa, Ma!" jawab Nada berseru menjawab ibunya. Setelah itu, Nada langsung mendorong Haikal menjauhi pintu dan ia juga ikut keluar rumah. Dari arah luar, Nada menutup pintunya. Membuat Haikal kebingungan. "Nada, apa Om dan Tante ada di dalam? Aku akan menyapa mereka. Kenapa kamu mendorongku keluar?" tanya Haikal. Nada pun menautkan kedua alis tidak habis pikir mendengar ungkapan Haikal tersebut. Sekian detik kemudian Nada mendesah kasar. "Jangan konyol! Apa kamu lupa kalau kita sudah putus?!" ungkap Nada. Haikal lalu menghela nafas beratnya. "Nada, sepertinya ada sesuatu yang masih ingin aku sampaikan padamu." "Tidak ada lagi yang yang harus dibicarakan di antara kita. Sekarang pulanglah dan pergi jauh-jauh dariku!" pinta Nada yang kemudian berbalik dan akan kembali masuk ke dalam. Namun, dengan sergap Haikal segera menarik tangan Nada. "Tunggu, Nada!" sergah Haikal membuat Nada berhenti. "Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi untuk bicara denganmu. Aku mohon ...," ujar Haikal dengan memohon. "Baiklah!" ucap Nada sambil menghentakkan tangannya sehingga pegangan dari Haikal terlepas. "Waktumu lima menit!" pintanya lagi. Haikal pun bersiap berbicara. "Maafkan aku soal proposalmu. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mencurinya darimu. Maafkan juga soal hubunganku dengan Felisa. Aku terpaksa menjalin hubungan dengannya. Sekarang aku juga sudah tidak punya pilihan lain. Tolong mengertilah aku, dan jangan terus-terusan marah padaku, Nada!" jelas Haikal. Nada masih terdiam mendengarnya. Sekian detik berlalu ia mendengkus pelan sembari tersenyum remeh. "Jadi lagi-lagi semuanya hanya tentangmu, bukan? Kamu terus memaksaku untuk bisa memahamimu. Tapi kamu sama sekali tidak bisa mengerti aku!" "Nada aku—" "Apa kamu tidak berpikir bagaimana aku menghadapi semua ini? Apa kamu pernah membayangkan seberapa berat aku harus menerimanya? Kamu tahu sendiri betapa sulitnya aku mengerjakan proposalku sendirian. Tapi kamu malah menggunakannya dan mempersembahkannya pada pacar barumu itu dan mengkhianatiku! Kamu benar-benar tidak pernah memikirkan itu semua, bukan? Yang kamu pikirkan hanyalah dirimu sendiri!" kata Nada sambil menaikkan intonasi bicaranya karena bercampur emosi kesal. "Aku tahu. Aku minta maaf. Aku akui aku salah padamu. Aku menyesali perbuatanku." "Benarkah?" tanya Nada sambil menyedekapkan kedua tangan. "Aku tidak yakin kamu benar-benar menyesal? Buktinya tadi kamu mengatakan pada wartawan dengan bangga kalau kamu berhasil membuat proposalku semalaman setelah berpikir seharian, bukan? Apa itu yang dikatakan dengan menyesal?" balas Nada. Haikal pun kembali menghela nafas beratnya. "Nada, kamu jangan terus memojokkanku! Apa kamu pikir kamu tidak salah? Begitu putus dariku kamu sendiri juga langsung mendekati pak Ardian, bukan?! Apa maksudmu?!" Nada kembali mendengkus kesal mendengar ocehan Haikal. "Sudahlah! Aku tidak mau membahasnya! Terlalu panjang dan hanya akan membuang waktuku! Aku lelah bicara denganmu!" "Tunggu, Nada! Apa sebenarnya hubunganmu dengan pak Ardian?!" "Kenapa? Apa itu penting bagimu? Kita sudah saling putus, bukan? Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu!" "Nada, aku tahu kamu sangat kehilanganku. Tapi kamu tidak perlu berbuat sesuatu yang rendah. Kamu tidak perlu menggoda pak Ardian untuk membalasku, Nada," ujar Haikal lagi. Nada terhenyak tidak habis pikir dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Haikal itu. Ia tidak menyangka kalau ternyata mulut Haikal sangat lemes. Membuat Nada semakin marah dan tidak terima. "Dengar, ya! Jangan kamu pikir dengan putus darimu, aku sudah benar-benar hancur! Justru aku bersyukur aku bisa lepas dari laki-laki tidak berguna dan tidak bisa diandalkan sepertimu! Satu lagi! Aku tidak sama denganmu! Aku tidak akan mengemis cinta hanya untuk sebuah pekerjaan! Pergilah sekarang juga! Kalau tidak aku akan memanggil polisi!" bentak Nada. Setelah itu Nada langsung masuk ke dalam dan menutup pintu dari dalam dengan membantingnya tepat di depan wajah Haikal. Ia sama sekali tidak peduli. Saat ini, Nada benar-benar merasa marah sekali. Jantungnya berdebar kencang karena emosinya memuncak. Seolah-olah ia bisa menggulingkan satu meja dalam sekali kedipan. "Siapa, Nada?" tanya ayah Nada yang baru saja keluar dari kamar mandi. Nada pun terhenyak dan langsung menoleh ke arah ayahnya. "Ah! Hanya tukang paket yang salah antar, Pa," jawab Nada yang bisa langsung mencari alasan dengan tepat. "Hmm ...." Ayahnya hanya menganggukkan kepala beberapa kali. Setelah itu ayah Nada berjalan ke arah kamar Nada. Setelah ayah Nada masuk, Nada barulah kembali menghela nafas berusaha mengontrol denyut nadi dan jantungnya. Nada lalu menoleh ke arah kardus tempat kenangannya dengan Haikal itu. "Dasar laki-laki b******k! Sampai sekarang aku masih menyimpannya karena ingin menunggumu meminta maaf. Tapi kali ini aku benar-benar akan membuangnya!" gumam Nada pelan dengan penekanan menahan rasa marahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD