Suara dering ponsel membangunkan Nada yang masih terbuai dalam mimpi. Antara sadar dan tidak sadar, Nada yang tidur di sofa itu meraba-raba sofa untuk mencari asal suara dering ponsel tersebut. Setelah ketemu, Nada yang masih memejamkan kedua matanya yang terasa berat, mengangkat panggilan dari ponsel.
"Halo ...," sapa Nada dengan suara malas.
"Ternyata memang benar ponselku ketinggalan di rumahmu." Suara Ardian terdengar dari dalam ponsel.
Membuat Nada langsung terhenyak kaget. Nada segera membuka kedua mata bingung. "Pak Ardian? Kenapa pagi-pagi sudah menelponku?" tanya Nada masih dengan suara lemas. Nada menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.
"Apa kamu masih bermimpi? Aku menelpon ponselku sendiri!" jawab Ardian.
Nada pun menautkan kedua alisnya heran. Ia yang masih setengah bingung itu mencoba mengumpulkan kesadaran untuk memahami kalimat Ardian. Sekian detik kemudian, Nada barulah paham.
Nada segera menjauhkan ponsel dari telinga dan melihatnya. Ternyata memang benar ponsel yang dipegangnya adalah bukan ponsel miliknya, melainkan ponsel Ardian. Nada pun terhenyak dan segera bangun lalu duduk. Ia lalu kembali menempelkan ponsel ke telinga.
"Kenapa ponselmu bisa ada di sini?" tanya Nada.
"Mungkin terjatuh saat kamu menarikku di sofamu tadi malam. Dari tadi malam aku terus mencarinya. Untung saja ketemu. Aku sangat membutuhkannya pagi ini. Antarkan ponselku ke kantorku sekarang!"
"A ... apa?! Kenapa aku harus mengantarnya?! Ambil saja sendiri!"
"Kamu lupa, ya? Pagi ini kamu sudah mulai bekerja jadi sekretarisku! Aku menunggumu datang jam delapan dan jangan sampai telat! Aku tidak suka karyawan yang telat!"
Setelah itu panggilan langsung terputus begitu saja. Membuat Nada mengernyitkan wajah keheranan. Ia kembali menjauhkan ponsel dan melihat layar ponsel sudah padam.
"Dasar seenaknya sendiri?! Memangnya, dia pikir dia siapa? Berani sekali menyuruhku seenak jidatnya?" gumam Nada berbicara pelan.
"Tidak mau!" Nada kembali membuang ponsel Ardian di sofa sampingnya. "Lebih baik aku tidur lagi! Huh! Mengganggu pagiku saja!" lanjutnya yang kembali berbaring dan menarik selimut di sofa.
Tidak lama kemudian, dari arah kamar Nada ibunya sudah bangun dan keluar kamar. Melihat Nada yang masih tidur itu, membuat ibunya menautkan kedua alis heran.
Ibunya melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ibu Nada menggelengkan kepala pelan beberapa kali sembari menghela nafas panjang. Beliau pun berjalan mendekat ke arah Nada.
"Nada! Ayo, bangun! Kamu pikir sekarang sudah jam berapa?!" ujar ibunya sambil menggoncangkan lengan Nada beberapa kali. "Cepatlah bangun dan mandi!" tambahnya lagi.
Nada yang masih malas hanya mengerang tidak mau bangun. Ibunya tidak menyerah dan terus saja membangunkan putri kesayangannya itu. Ibunya menarik paksa lengan Nada sehingga Nada jadi bangun dan duduk.
"Ini, kan masih pagi, Ma. Kenapa membangunkanku pagi sekali?" jawab Nada yang kembali tidur.
"Bukankah kamu harus bekerja pagi ini?!" tanya ibunya.
Nada pun langsung membuka kedua mata terhenyak. Ia lupa kalau ia juga berbohong pada ibunya, ia sudah bekerja sebagai sekretaris Ardian. Kalau ia tidak pergi, maka ibunya akan tahu kalau dia sedang berbohong. Sedangkan ayahnya pasti akan marah dan kecewa kalau tahu Ardian bukan atasannya. Nada pun segera kembali bangun dan duduk.
"Ooh ... iya, Ma. Kalau begitu sekarang aku akan mandi dan bersiap," kata Nada yang langsung melompat dari sofa dan segera masuk ke kamar mandi. Ibu Nada hanya menggelengkan kepala pelan beberapa kali.
***
Nada sudah sampai di depan gedung Super Food Group. Ia membawa paper bag berisi gaun yang seharusnya dikembalikan pada Ardian tadi malam. Sekaligus, ia juga membawa ponsel milik Ardian.
"Huh! Dasar merepotkan!" gerutu Nada kesal.
Nada lalu melangkah memasuki ruang utama gedung perusahaan milik Ardian. Ia langsung menuju ke arah lift dan berjalan menuju ruang kerja Ardian. Ketika sudah keluar lift, Nada langsung ke ruangan Ardian.
Tidak butuh waktu lama, Nada sampai di depan ruangan Ardian. Dari ambang pintu ia melihat Ardian tengah fokus bekerja. Nada pun mengetuk pintu Ardian beberapa kali. Ardian mengangkat kepala dan melihat Nada.
"Masuklah!" pinta Ardian.
Nada melangkah memasuki kantor Ardian. Saat itu Ardian melihat penampilan Nada yang mengenakan celana jeans dan kaos seadanya. Sama sekali tidak normal dan terkesan santai. Membuat Ardian menautkan kedua alis heran. Ia pun berdiri dan berjalan mendekati Nada.
"Ini, ponsel dan gaun darimu!" kata Nada yang meletakkannya di atas meja.
"Kamu bekerja dengan penampilan seperti itu?" tanya Ardian.
"Siapa yang mau bekerja?! Aku tidak mau bekerja denganmu!" tolak Nada.
Setelah itu Nada langsung berbalik dan berjalan keluar kantor Ardian kembali. Ardian pun jadi heran dengan sikap Nada itu. Ia lalu ikut berjalan keluar. Nada menoleh ke arah belakang dan bingung melihat Ardian yang sudah ada di belakangnya.
"Kenapa kamu mengikutiku?!" tanya Nada sambil terus berjalan.
"Tidak! Aku ingin turun ke bawah untuk menjemput dewan direksi yang akan rapat di ruanganku," jawab Ardian. Nada pun hanya menautkan kedua alis heran melihatnya. Namun, ia memilih untuk mengabaikan Ardian.
"Apa kamu yakin tidak ingin bekerja jadi sekretarisku? Aku sudah memintamu secara pribadi."
"Tidak! Aku tidak mau berhubungan dengan orang sepertimu! Sombong dan seenaknya sendiri!"
"Pikirkan baik-baik. Hanya dengan ini, kamu bisa membalas mantan pacarmu itu. Ini adalah kesempatan terakhirmu menerima tawaranku," kata Agam yang terus berjalan mengikuti Nada dari belakang. Namun, Nada terus melangkah dan mengabaikan Ardian.
Ketika sudah sampai di depan lift, tiba-tiba pintu lift terbuka sebelum Nada memencetnya. Tepat saat itu, dari dalam lift terlihat Haikal. Tentu saja Nada dan Haikal sama-sama saling terkejut saat melihat satu sama lain.
"Ah! Pak Haikal, Anda sudah datang?" sambut Ardian. Nada pun semakin tercekat dan langsung menoleh ke arah Ardian cepat.
"Kenapa dia bisa ada di sini?!" tanya Nada pada Ardian.
"Pak Basman, pemilik PT. Mitra Snack, sekaligus calon mertua pak Haikal ..." Ardian melirik ke arah Haikal dengan tatapan sinis. Lalu ia kembali melihat ke arah Nada. "Beliau menginginkan calon menantunya ke sini untuk membicarakan bisnis denganku," jelas Ardian. Nada masih terdiam dan tidak segera menjawabnya karena bingung.
"Nada?! Kenapa kamu bisa ada di sini?!" tanya Haikal. Membuat Nada kembali menoleh ke arah Haikal.
"Bukan urusanmu!" jawab Nada ketus. Nada pun akhirnya melanjutkan langkahnya dan memasuki lift. Ardian juga mengikutinya. "Keluarlah! Aku mau turun!" pinta Nada pada Haikal.
"Tunggulah di ruanganku sebentar. Aku akan menjemput salah satu dewan direksi dulu," tambah Ardian yang kini berdiri di samping Nada.
Haikal pun tidak punya pilihan lain? Ia akhirnya berjalan keluar lift dengan kecewa. Setelah Haikal keluar, Nada yang masih kesal itu segera memencet tombol lift dengan kasar. Pintu lift pun akan segera tertutup.
"Sayang sekali. Padahal kamu bisa menggunakan kesempatan itu untuk membalas mantanmu," bisik Ardian pada Nada di dalam lift.
Namun, tiba-tiba pintu lift yang akan tertutup terhenti karena Haikal sedang menahannya. Pintu lift kembali terbuka lebar. Membuat Nada dan Ardian terhenyak dan melihat ke arah Haikal yang masih menahan pintunya.
"Nada?! Hentikan semua ini! Kamu jangan terus-terusan datang ke sini untuk mengemis minta pekerjaan pada pak Ardian!" kata Haikal. membuat Nada dan Ardian saling menautkan kedua alis heran dan langsung kesal.
"Aku tahu kamu butuh pekerjaan, tapi jangan dengan cara seperti ini! Melamarlah di perusahaan tempat aku bekerja, aku akan menerimamu," tambah Haikal lagi.
Mendengar Haikal, tentu saja Nada merasa sangat marah. Jujur saja Ardian juga ikut kesal dengan mulut Haikal yang tidak bisa diatur itu. Ardian akan segera membela Nada.
"Sebenarnya Nada ke sini karena—"
"Aku sudah keterima bekerja di sini!" potong Nada sehingga Ardian terhenti berbicara. Membuat Haikal terkejut mendengarnya. "Dan aku ingin memberitahumu kalau pak Ardian lebih dari atasanku. Dia adalah calon suamiku dan kita akan segera menikah!" tambah Nada lagi.
Karena kelewat kesal, Nada jadi tidak sadar dengan apa yang dikatakannya. Haikal pun semakin tercekat dan hampir tidak percaya. Bukan hanya Haikal, bahkan Ardian sendiri tidak menyangka kalau Nada akan berbicara seberani itu. Nada kemudian menoleh ke arah Ardian.
"Sayang!" panggil Nada sambil tiba-tiba menarik dasi Ardian sehingga tubuh Ardian pun ikut tertarik ke arahnya.
Setelah dekat, Nada langsung mencium bibir Ardian begitu saja. Membuat Ardian terkejut dan melebarkan kedua matanya. Sedangkan Haikal yang melihatnya langsung shock dan mengejang kaku.