Terlalu indah untuk dilukiskan dengan kata-kata. Terlalu manis untuk dirasakan.Itulah kesan
yang diperoleh Fendy sejak berjumpa dengan Dewi.
Padahal selama dia shooting film di Surabaya cuma
dua kali bertemu dengan perempuan itu.
Pertama
kenalan biasa. Keduanya Fendy memberanikan diri
untuk mengajak pergi. Dan perempuan itu tidak
menolaknya.Cuma terbatas. Ya, terbatas karena
pada sore harinya Fendy harus shooting film.
Namun pada kesempatan yang terbatas itu dimanfaatkan oleh Fendy untuk bermesraan
dengan Dewi. Yah, sekalipun cuma berpegangan
tangan, saling meremas jemari tangan, sudah
terlalu berkesan buatnya.
Tapi di hari berikutnya perempuan itu pergi
tanpa pesan. Kepergian Dewi menyebabkan Fendy
jadi gampang murung. Sering melamun. Dan dia jadi
bingung sendiri. Apakah ini yang namanya jatuh
cinta? Cinta? Cinta? Ah, mulai kapan perasaan
macam ini tumbuh?Alangkah lucu.Menggelikan.
Bukan apa-apa, terasa aneh agaknya. Selama dia
bergaul intim dengan perempuan manapun tak
pernah merasakan begitu. Tapi dengan Dewi tumbuh intuisi. Tumbuh perasaan senantiasa
ingin selalu berdampingan. Takut kehilangan
perempuan itu.
Padahal perempuan itu sudah janda. Punya
anak perempuan satu.
Sewaktu Fendy shooting di
rumahnya sering bercanda dengan anak kecil itu.
Usianya akan menginjak tujuh tahun, dua bulan lagi.
Namanya Rita. Wajahnya mirip sekali dengan Dewi.
Cantik dan ramah sekali. Tapi kasihan karena sering
ditinggal pergi ibunya. Dia diasuh oleh kakek dan
neneknya.
Rupanya dari hasil pendekatan Fendy pada
anak itu, dia bisa mengetahui ke mana perginya
Dewi.
"Kemarin mama kirim surat sama kakek,"
kata Rita.
"Mama Rita kirim surat? Sekarang mana
surat itu."
"Disimpan sama kakek."
"Rita tahu di mana kakek menyimpan surat
itu?"
"Ya di kamar kakek."
"Rita mau mengambilkan?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepala. Takut.
"Kata kakek, mama Rita ada di Jakarta
Bekerja di sana cari duit.Kalau pulang Rita mau
dibelikan boneka yang bagus bagus."
Di Jakarta? Fendy termenung. Bekerja
mencari uang di Jakarta? Wah, bisa terjerumus
kalau salah jalan. Pikir Fendy jadi gelisah.
"Tante Tuty tidak kelihatan ke mana?"
"Pergi sama Nenek. Nah, itu tante Tuty sudah kembali," kata Rita sambil menunjuk ke arah
colt minicab yang dikemudikan oleh Tuty. Mobil itu
berhenti di halaman rumah.
Fendy tersenyum ramah dan sopan menyambut Tuty yang turun bersama ibunya dari
mobil.
"Selamat siang. Bu. Selamat siang Tuty."
"Ah. mas Fendy. Sudah lama?"
"Setengah jam
yang lalu."
"Ayo masuk. Mas. Masak ngobrol sama
Rita di teras." ajak Tuty.
Fendy malangkah masuk ke ruang tamu.
Duduk di kursi bersebelahan dengan Rita. Gadis
kecil itu nampak sudah sehati dengan Fendy.Akrab
sekali dan manja. Fendy menyadari karena Rita
selama ini hampa kasih sayang dari seorang ayah.
Kendati Fendy belum mengetahui secara pasti
apakah Dewi sudah bercerai dengan suaminya.
Karena perempuan itu tak pernah mencerita kan
apa-apa padanya. Selalu tertutup. Atau lantaran
perkenalan mereka belum mendalam? Bisa juga
begitu. Baru dua kali bertemu mana mungkin
seorang perempuan menceritakan persoalan
rumah tangganya. Itu terlalu bodoh.
"Mas Fendy tidak shooting hari ini?" tanya
Tuty yang duduk berhadapan dengan Fendy.
"Lagi break."
"Di mana lokasi syutingnya sekarang?"
"Setelah dari sini pindah ke Tretes. Tinggal
beberapa hari lagi syutingnya selesai. O ya,apa
benar Dewi tinggal di Jakarta?"
"Ya. Darimana mas Fendy tahu?"
"Rita yang memberi tahu. Tuty tahu alamatnya Dewi tinggal di Jakarta."
"Di Utan Kayu nomor empat puluh delapan."
Fendy manggut-manggut. Alamat itu terus
di ingatnya jangan sampai lupa. Sejak itu,Fendy
rasanya ingin cepat selesai shootingnya. Agar dia
bisa cepat kembali ke Jakarta dan mencari Dewi.
Selama itu dia cuma bisa membayangkan
pertemuan dengan Dewi.Membayangkan segala
kemesraan yang teramat indah dan berkesan.
Bahkan seolah-olah apa yang dibayangkan selama
beberapa hari ini benar-benar dialami. Walau
semuanya itu berupa lamunan.
Kerinduan itu bagai beliung menusuk-nusuk hati nya. Padahal cuma tinggal sehari
syutingnya selesai. Tapi rasanya dia sudah
kepingin cepat- cepat kabur ke Jakarta. Begitu
selesai, langsung saja Fendy naik pesawat kembali
ke Jakarta.Tak perduli dengan yang lainnya.
Setibanya di rumah, dia melepaskan
kerinduan dengan istri dan kedua anaknya. Tapi
kerinduan pada Dewi terasa memonopoli
perasaannya. Maka tak lama kemudian dia pergi ke
kantor film untuk menyelesaikan urusannya.
Di
sana dia bertemu dengan Nita adik iparnya yang satu kantor film. Lalu bersama Nita
mencari alamat rumah Dewi. Dengan rasa kecewa
Fendy tidak bertemu dengan Dewi karena
perempuan yang dicarinya sedang ke luar rumah.
Sore harinya Fendy datang seorang diri ke
rumah kost Dewi. Dan sore itu adalah puncak dari
segala letupan kerinduannya. Dewi menyambut
kedatangan Fendy dengan pelukan erat. Rasa bahagia menggebu dalam d**a lelaki itu.
"Kau baik-baik saja, Dewi?" tanya Fendy.
"Seperti apa yang mas Fendy lihat. Dewi baik- baik."
Keduanya duduk berhadapan. Dewi menarik
kursinya lebih dekat dengan Fendy. Supaya bisa
memegangi jemari tangan lelaki itu.
Fendy yang
biasanya romantis kalau sedang beraksi di depan
kamera, apalagi jika adegannya bertemu dengan
kekasih hatinya, namun kali ini dia malah seperti
patung. Termangu menatap Dewi yang duduk di
depannya. Tingkahnya jadi kaku.
Kendati hasrat di
hatinya ingin menumpahkan kemesraan. Ingin
melampiaskan kerinduannya dengan mengecup
pipi perempuan itu. Atau meremas remas jemari
tangan Dewi sembari mengucapkan : Aku rindu
sekali padamu.
"Darimana mas tahu Dewi tinggal di sini?"
"Tuty yang memberi tahu."
"Mas tinggal di Jakarta bersama
siapa?"
"De... dengan keluarga." suara Fendy
berat.
"Dengan keluarga?"
Fendy mengangguk.
"Dengan istri dan anak?"
Lelaki itu mengangguk lagi. Dewi yang semula
begitu bahagia jadi nampak kecewa. Tubuhnya
bergerak mundur dan menyandar di kursi.
Mas
Fendy sudah mempunyai istri dan anak? Ah, kenapa
jalan hidupku senantiasa tak pernah mulus?
Padahal, padahal selama ini aku merindu kan
pertemuan dengan lelaki ini. Senantiasa berkhayal
bisa menjalin cinta dan kasih sayang dengannya.
Bahkan apa yang ku bayangkan selama ini terlalu
indah bersamanya. Mustikah segala khayal dan
impianku hancur karena kenyataan? Dosakah aku
mencintai mas Fendy yang sudah mempunyai istri
dan anak?
Dosakah?
"Dewi kecewa karena mas sudah berkeluarga?"
"Ah, tidak," sahutnya dalam desah.
Dua perempuan ke luar dari kamar berhadapan dengan kamar Dewi.
"Tika, Resti, kenalkan dulu sama teman
Dewi," kata Dewi.
Kedua perempuan yang sudah berpakaian
rapi dan bermake up tebal itu melangkah ke ruang
tamu.
"Enggak kenalan juga sudah tahu
namanya," sahut Tika tersenyum-senyum.
"Siapa
sih yang tidak kenal dengan aktor yang sedang top
namanya."
Fendy tersenyum.
"Tapi lebih resminya jabatan tangan dulu
dong." Dewi menarik lengan Tika dan Resti.
Tika dan Resti bergantian berjabatan tangan
dengan Fendy. Setelah itu kedua perempuan itu
kembali masuk ke kamarnya. Di ruang tamu hanya
tinggal mereka berdua. Fendy dan Dewi.
"Kamu kerja di mana?" tanya Fendy
memecah kebisuan.
"Night club."
"Oh Tuhan," keluh Fendy sembari tertunduk.
"Memangnya kenapa?"