Pesona Dewi

1044 Words
Terlalu indah untuk dilukiskan dengan kata-kata. Terlalu manis untuk dirasakan.Itulah kesan yang diperoleh Fendy sejak berjumpa dengan Dewi. Padahal selama dia shooting film di Surabaya cuma dua kali bertemu dengan perempuan itu. Pertama kenalan biasa. Keduanya Fendy memberanikan diri untuk mengajak pergi. Dan perempuan itu tidak menolaknya.Cuma terbatas. Ya, terbatas karena pada sore harinya Fendy harus shooting film. Namun pada kesempatan yang terbatas itu dimanfaatkan oleh Fendy untuk bermesraan dengan Dewi. Yah, sekalipun cuma berpegangan tangan, saling meremas jemari tangan, sudah terlalu berkesan buatnya. Tapi di hari berikutnya perempuan itu pergi tanpa pesan. Kepergian Dewi menyebabkan Fendy jadi gampang murung. Sering melamun. Dan dia jadi bingung sendiri. Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Cinta? Cinta? Ah, mulai kapan perasaan macam ini tumbuh?Alangkah lucu.Menggelikan. Bukan apa-apa, terasa aneh agaknya. Selama dia bergaul intim dengan perempuan manapun tak pernah merasakan begitu. Tapi dengan Dewi tumbuh intuisi. Tumbuh perasaan senantiasa ingin selalu berdampingan. Takut kehilangan perempuan itu. Padahal perempuan itu sudah janda. Punya anak perempuan satu. Sewaktu Fendy shooting di rumahnya sering bercanda dengan anak kecil itu. Usianya akan menginjak tujuh tahun, dua bulan lagi. Namanya Rita. Wajahnya mirip sekali dengan Dewi. Cantik dan ramah sekali. Tapi kasihan karena sering ditinggal pergi ibunya. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya. Rupanya dari hasil pendekatan Fendy pada anak itu, dia bisa mengetahui ke mana perginya Dewi. "Kemarin mama kirim surat sama kakek," kata Rita. "Mama Rita kirim surat? Sekarang mana surat itu." "Disimpan sama kakek." "Rita tahu di mana kakek menyimpan surat itu?" "Ya di kamar kakek." "Rita mau mengambilkan?" Gadis kecil itu menggelengkan kepala. Takut. "Kata kakek, mama Rita ada di Jakarta Bekerja di sana cari duit.Kalau pulang Rita mau dibelikan boneka yang bagus bagus." Di Jakarta? Fendy termenung. Bekerja mencari uang di Jakarta? Wah, bisa terjerumus kalau salah jalan. Pikir Fendy jadi gelisah. "Tante Tuty tidak kelihatan ke mana?" "Pergi sama Nenek. Nah, itu tante Tuty sudah kembali," kata Rita sambil menunjuk ke arah colt minicab yang dikemudikan oleh Tuty. Mobil itu berhenti di halaman rumah. Fendy tersenyum ramah dan sopan menyambut Tuty yang turun bersama ibunya dari mobil. "Selamat siang. Bu. Selamat siang Tuty." "Ah. mas Fendy. Sudah lama?" "Setengah jam yang lalu." "Ayo masuk. Mas. Masak ngobrol sama Rita di teras." ajak Tuty. Fendy malangkah masuk ke ruang tamu. Duduk di kursi bersebelahan dengan Rita. Gadis kecil itu nampak sudah sehati dengan Fendy.Akrab sekali dan manja. Fendy menyadari karena Rita selama ini hampa kasih sayang dari seorang ayah. Kendati Fendy belum mengetahui secara pasti apakah Dewi sudah bercerai dengan suaminya. Karena perempuan itu tak pernah mencerita kan apa-apa padanya. Selalu tertutup. Atau lantaran perkenalan mereka belum mendalam? Bisa juga begitu. Baru dua kali bertemu mana mungkin seorang perempuan menceritakan persoalan rumah tangganya. Itu terlalu bodoh. "Mas Fendy tidak shooting hari ini?" tanya Tuty yang duduk berhadapan dengan Fendy. "Lagi break." "Di mana lokasi syutingnya sekarang?" "Setelah dari sini pindah ke Tretes. Tinggal beberapa hari lagi syutingnya selesai. O ya,apa benar Dewi tinggal di Jakarta?" "Ya. Darimana mas Fendy tahu?" "Rita yang memberi tahu. Tuty tahu alamatnya Dewi tinggal di Jakarta." "Di Utan Kayu nomor empat puluh delapan." Fendy manggut-manggut. Alamat itu terus di ingatnya jangan sampai lupa. Sejak itu,Fendy rasanya ingin cepat selesai shootingnya. Agar dia bisa cepat kembali ke Jakarta dan mencari Dewi. Selama itu dia cuma bisa membayangkan pertemuan dengan Dewi.Membayangkan segala kemesraan yang teramat indah dan berkesan. Bahkan seolah-olah apa yang dibayangkan selama beberapa hari ini benar-benar dialami. Walau semuanya itu berupa lamunan. Kerinduan itu bagai beliung menusuk-nusuk hati nya. Padahal cuma tinggal sehari syutingnya selesai. Tapi rasanya dia sudah kepingin cepat- cepat kabur ke Jakarta. Begitu selesai, langsung saja Fendy naik pesawat kembali ke Jakarta.Tak perduli dengan yang lainnya. Setibanya di rumah, dia melepaskan kerinduan dengan istri dan kedua anaknya. Tapi kerinduan pada Dewi terasa memonopoli perasaannya. Maka tak lama kemudian dia pergi ke kantor film untuk menyelesaikan urusannya. Di sana dia bertemu dengan Nita adik iparnya yang satu kantor film. Lalu bersama Nita mencari alamat rumah Dewi. Dengan rasa kecewa Fendy tidak bertemu dengan Dewi karena perempuan yang dicarinya sedang ke luar rumah. Sore harinya Fendy datang seorang diri ke rumah kost Dewi. Dan sore itu adalah puncak dari segala letupan kerinduannya. Dewi menyambut kedatangan Fendy dengan pelukan erat. Rasa bahagia menggebu dalam d**a lelaki itu. "Kau baik-baik saja, Dewi?" tanya Fendy. "Seperti apa yang mas Fendy lihat. Dewi baik- baik." Keduanya duduk berhadapan. Dewi menarik kursinya lebih dekat dengan Fendy. Supaya bisa memegangi jemari tangan lelaki itu. Fendy yang biasanya romantis kalau sedang beraksi di depan kamera, apalagi jika adegannya bertemu dengan kekasih hatinya, namun kali ini dia malah seperti patung. Termangu menatap Dewi yang duduk di depannya. Tingkahnya jadi kaku. Kendati hasrat di hatinya ingin menumpahkan kemesraan. Ingin melampiaskan kerinduannya dengan mengecup pipi perempuan itu. Atau meremas remas jemari tangan Dewi sembari mengucapkan : Aku rindu sekali padamu. "Darimana mas tahu Dewi tinggal di sini?" "Tuty yang memberi tahu." "Mas tinggal di Jakarta bersama siapa?" "De... dengan keluarga." suara Fendy berat. "Dengan keluarga?" Fendy mengangguk. "Dengan istri dan anak?" Lelaki itu mengangguk lagi. Dewi yang semula begitu bahagia jadi nampak kecewa. Tubuhnya bergerak mundur dan menyandar di kursi. Mas Fendy sudah mempunyai istri dan anak? Ah, kenapa jalan hidupku senantiasa tak pernah mulus? Padahal, padahal selama ini aku merindu kan pertemuan dengan lelaki ini. Senantiasa berkhayal bisa menjalin cinta dan kasih sayang dengannya. Bahkan apa yang ku bayangkan selama ini terlalu indah bersamanya. Mustikah segala khayal dan impianku hancur karena kenyataan? Dosakah aku mencintai mas Fendy yang sudah mempunyai istri dan anak? Dosakah? "Dewi kecewa karena mas sudah berkeluarga?" "Ah, tidak," sahutnya dalam desah. Dua perempuan ke luar dari kamar berhadapan dengan kamar Dewi. "Tika, Resti, kenalkan dulu sama teman Dewi," kata Dewi. Kedua perempuan yang sudah berpakaian rapi dan bermake up tebal itu melangkah ke ruang tamu. "Enggak kenalan juga sudah tahu namanya," sahut Tika tersenyum-senyum. "Siapa sih yang tidak kenal dengan aktor yang sedang top namanya." Fendy tersenyum. "Tapi lebih resminya jabatan tangan dulu dong." Dewi menarik lengan Tika dan Resti. Tika dan Resti bergantian berjabatan tangan dengan Fendy. Setelah itu kedua perempuan itu kembali masuk ke kamarnya. Di ruang tamu hanya tinggal mereka berdua. Fendy dan Dewi. "Kamu kerja di mana?" tanya Fendy memecah kebisuan. "Night club." "Oh Tuhan," keluh Fendy sembari tertunduk. "Memangnya kenapa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD