"Memangnya kenapa?"
Fendy mengangkat kepalanya perlahan.
Lantas ditatapnya wajah Dewi dalam-dalam.
Tatapan nya bentrok dengan pandangan mata perempuan itu. Saling berpandangan. Oh, mata ituterlalu sayu dan indah. Ingin rasanya Fendy
mengecup mata itu. Tapi keinginan itu bisadi kendalikannya.
"Pekerjaan itu tidak baik untukmu, Dewi."
"Semua itu tergantung orang yang menjalaninya, Mas. Dewi bisa membatasi diri."
"Tapi lama-lama kau bisa terpengaruhdengan kehidupan lingkunganmu. Aku sanggupmencari kan pekerjaan yang lebih baik untukmu."
"Mau mengajakku jadi bintang film?"
"Kalau kau mau. Dan kau tidak kalahcantiknya bila dibandingkan dengan Meriam Bellina."
Dewi tertawa renyah.
"Mas Fendy malam ini tidak punya acara kah?"
Fendy menggeleng sambil tersenyum.
"Pergi yuk sama Dewi. Mau?"
"Tentu."
"Tunggu sebentar ya, Dewi tukar pakaian."
Dewi beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Rasanya Fendy ingin berjingkrak-jingkrak
saking girangnya. Pucuk dicinta ulam tiba.
Bagaimana tidak? Sejak dari rumah memang tujuanFendy ingin mengajak Dewi pergi. Sampai tidak menghiraukan kalau penyakit darah tinggi nya sedang kumat. Dia paksakan pergi menemui
Dewi dengan kondisi tubuh lesu. Berpamitan
dengan istrinya mau membeli obat, tapi yang dituju bukannya apotik atau toko obat,melainkan tempat kost Dewi.
Dan ternyata dia mendapatkan obat yang lain dari yang lain. Lebih mujarab. Rasa rindunya lenyap, ditambah lagi dengan ajakan perempuan itu pergi. Wah, perasaan Fendy senang banget. Penyakit darah tingginya langsung menurun seketika.
Sekalian mengantar Tika dan Resti ke hotel
Gajah Mada, mereka berempat pergi. Ternyata Tika dan Resti juga bekerja di night club dengan
Dewi. Tapi malam itu Dewi sengaja tidak masuk
bekerja karena ingin pergi bersama Fendy.
Setelah mengantar Tika dan Resti di depan
hotel, Fendy membawa Dewi ke Ancol. Di sanalahtempat satu-satunya buat Fendy untuk memadu kasih.
Dulu semasa di Surabaya belum tuntas
kemesraan yang dirasakan olehnya. Terhalang oleh kesibukan shooting film. Dan sekaranglah waktunya untuk melampiaskan segala kerinduan dan kasih sayangnya.
Mobil Fendy berhenti di pinggir pantai. Di bawah pepohonan nyiur yang bergoyang-goyang di tiup angin malam. Kemudian Fendy mengajak Dewi turun dari mobil.
Udara dingin menerpa kulit mereka. Fendy merangkul bahu perempuan itu dan mengajak nya duduk di bawah payung restoran. Mereka duduk berdampingan sambil memandang
permukaan laut yang kelam. Suara debur ombak tak pernah berhenti.
"Kau mau pesan makanan dan minuman
apa?" tanya Fendy.
Ditatapnya wajah Dewi yang cantik kena cahaya lampu dari restauran. Rambutnya yang sebatas leher terurai disapu angin.
"Mas Fendy suka nasi goreng?"
"Apa yang kau suka, mas Fendy juga suka. Asalkan jangan daging kambing."
Pelayan restauran menghampiri. Dewi
menyerahkan nota pesanannya. Lalu pelayan itu
pergi dan menyerahkan nota itu kebagian dapur.
Fendy memegang jemari tangan Dewi yang ada di atas meja. Lembut sekali dielus-elusnya.
"Apa yang menyebabkan keinginanmu pergi
ke Jakarta dan bekerja di night club?"
"Setiap manusia mempunyai problem hidup
masing-masing. Dan punya cara hidup masing-
masing pula. Dan tentunya aku punya alasan
kenapa pergi ke Jakarta, kemudian bekerja di night club."
"Boleh aku tahu problem apa yang kau alami?"
Dewi menarik napas berat sambil memandang lampu-lampu kapal yang di kejauhan berkedip- kedip. Seperti bintang di langit.
"Aku rasa tak ada gunanya mas Fendy tahu,"
desah Dewi.
"O, sangat berguna sekali bagiku. Siapa tahu di dalam air yang keruh bisa kita dapatkan sebutir
mutiara. Itu misalnya. Jadi tidak ada jeleknya kalau problem yang kau hadapi bisa kita pecahkan bersama."
Dewi menggeleng.
"Sulit."
"Apanya yang sulit?"
"Ah, lebih baik mas Fendy tidak usah mengerti. Biarlah problem hidupku akan kuatasi sendiri."
Fendy cuma mengangkat kedua bahunya. Apa boleh buat kalau memang dia berat untuk
mengatakannya. Dan mungkin belum saatnya dia mau mengatakannya. Itu bisa jadi. Memang
kebanyakan perempuan paling bisa menyimpan
rahasia dalam hidupnya.Paling lebih berhati-hati untuk mau menceritakan kehidupannya kepada
orang lain.
Pelayan datang mengantarkan hidangan dan dua botol teh Sosro. Lalu mereka berdua menyantap nasi goreng yang masih hangat itu.
Sebentar-sebentar mereka saling bertukar
pandang. Bertukar senyum. Mesra sekali.
"Syutingnya di Surabaya sudah selesai. Mas?"
Fendy mengangguk.
"Kapan syuting film barunya?"
"Mungkin bulan depan. Kau mau ya ikut main?"
"Mau dijadikan apa aku ini? Pelayan sexy?"
"Jelas tidak dong. Paling tidak bisa kuajukan
sebagai peran pembantu. Pembantu yang di maksud bukannya pembantu rumah tangga, melainkan sebagai lain mainnya tokoh dalam cerita. Kalau main mu bagus langsung bisa ngetop."
Dewi tertawa renyah.
"Tapi Dewi sejak kecil tidak punya keinginan jadi bintang film. Kepinginnya jadi ibu rumah tangga
yang baik."
"0, itu bagus sekali cita-citamu."
"Cuma sayangnya sampai kini belum terlaksana."
"Dengan mas Fendy pasti bisa terlaksana."
"Ah!" desah Dewi.
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa."
Selera makan Dewi jadi hilang. Perutnya
mendadak jadi kenyang. Lantas dia menyudahi
makannya. Beralih menyedot teh botol dengan
pipet. Fendy jadi ikut-ikutan.
"Sudah pernah ke Teather Mobil?"
Dewi menggeleng.
"Mau nonton di sana?"
Dewi mengangguk sambil berkata, "Sepulangnya nonton sekalian jemput Tika dan Resti ya?"
Lelaki itu yang kini giliran mengangguk.
Arena teather mobil memang sangat luas. Sebuah layar bioskop yang berukuran besar berdiri
tegak. Barangkali ukuran layar itu dua kali atau tiga kali bila dibandingkan dengan layar di gedung bioskop. Fendy cuma mengira-ngira lantaran tak tahu pasti. Sedang bagi Dewi merupakan pemandangan yang baru. Sebab baru pertama kalinya menginjak dan tahu keadaan di teather mobil itu.
Rembulan bergelayut di langit. Cahayanya yang
perak menerangi arena teather itu. Maka dia bisa
melihat berpuluh-puluh mobil berjejer menghadap ke arah layar bioskop. Pertunjukan sudah dimulai.
Dia duduk di sebelah Fendy yang memeluk
bahunya.
"Selama kita berpisah, pernahkah ada kerinduan di hatimu?" tanya Fendy.
Jemari tangannya membelai rambut Dewi.
"Kalau di hati mas Fendy bagaimana?" Dewi balik bertanya.
"Aku rindu sama kamu."
"Dewi juga demikian. Tapi Dewi tidak pernah
terpikirkan kalau kita akan jumpa lagi di Jakarta."
Pelukan Fendy makin erat pada tubuh perempuan itu. Perhatiannya tidak lagi tertuju ke
layar bioskop. Namun ke wajah Dewi yang ada
dalam pelukannya.
Getaran jiwanya berkeinginan mencium bibir perempuan itu. Lalu dia menempelkan pipinya ke pipi yang berkulit halus itu. Menggesek-gesek kan perlahan.
Dan perempuan itu nampak diam. Pasrah apabila bibir lelaki itu akan mendarat di bibirnya.