"Aku ingin menciummu," kata Fendy lirih.
Dewi memejamkan matanya. Itu berarti dia
tak menolaknya. Maka Fendy menggeser bibirnya
mendekati bibir perempuan itu. Napas lelaki itu
terasa hangat meniup pipi Dewi. Menyebabkan
bulu-romanya meremang. Dan darahnya mengalir
menyentak-nyentak di jantung.
Dan kebahagiaan bibir lelaki itu menempel di
bibirnya. Kemudian melumat dengan lembut. Pijar-pijar dalam dirinya bagai disulut. Keter-
ombang-ambingan menjalani nasib menyebabkan dirinya
berusaha mencari pegangan.
Dan ibarat terbawa
arus air yang deras, dia berhasil menggapai sebuah
tonggak. Tonggak itu kemudian dipegangnya agar
tetap bisa bertahan memerangi arus kehidupan.
Tonggak itu adalah Fendy. Lelaki itu diharapkan bisa
menjadi pelindung dirinya. Yang semula Dewi ragu-ragu, tapi kemudian
membalas ciuman lelaki itu. Memeluknya erat-erat.
Selama ini dia cuma membayangkan bercumbu
kasih dengan idaman hatinya itu, kini menjadi
kenyataan. Bahkan seolah-olah dia merasakan
jalinan cinta kasih mereka sudah terbina lama.
Begitu pula seperti apa yang dirasakan Fendy.
Padahal mereka berjumpa baru tiga kali.
Tak tahu bagaimana jalan ceritanya film yang
mereka tonton. Akan tetapi kalau ditanya
bagaimana perasaan mereka, jawabnya pasti
bahagia.
Belaian dan paduan kasih sayang telah
mereka resapi. Beberapa kali mereka berciuman
sudah lupa untuk dihitung.
Udara pantai makin terasa lain. Dingin sekali.
Waktu sudah berganti dini hari. Pertunjukan di
teather mobil sudah selesai. Fendy dan Dewi
meninggalkan Ancol.
Mereka menjemput Tika dan
Resti di samping hotel Gajah Mada. Tak lama
mereka menunggu, Tika dan Resti muncul.
Lantas
Fendy memanggil kedua perempuan itu. Tika dan
Resti segera menghampiri dan naik ke dalam mobil.
Setelah mengantar Tika dan Resti sampai di
depan tempat kost, lalu Fendy mengajak Dewi
untuk bermalam di Puncak. Dan ternyata
perempuan itu tidak menolak ajakannya.
Di sebuah kamar hotel yang cukup mewah
mereka menginap. Di satu tempat tidur mereka
berbaring berdua. Kalau sudah demikian setan
menggelitik gairah napsu mereka. Hawa Puncak
yang dingin menyebabkan pijar-pijar dalam darah
mereka mendidih. Menyentak-nyentak.
Apalagi
Fendy tak mau melepaskan dekapannya pada tubuh
Dewi. Tubuh yang padat itu menyimpan sesuatu
kenikmatan. Ditambah dengan ciuman Fendy yang
bertubi-tubi.
Beban derita yang selama ini
dipendam dalam jiwa perempuan itu bagai lenyap.
Saat-saat yang dilalui detik itu berubah indah.
Mengesankan.
"Dewi, aku tak ingin berpisah lagi
denganmu," ujar Fendy.
"Aku mencintaimu."
"Tapi hidupmu tidak sendiri, Mas. Bagaimana
dengan istrimu?"
"Dia dia" ucapan Fendy terhenti. Lelaki itu
menarik napas berat. Memandang langit-langit
kamar dengan pancaran mata murung.
"Istrimu kenapa?"
"Dia menderita penyakit kanker rahim."
Dewi terperangah. Lalu diperhatikan
sepasang mata Fendy yang murung. Dia ingin
melihat kejujuran dari sorot mata lelaki itu.
"Mas
Fendy tidak berbohong?"
"Demi Tuhan, apa yang kukatakan adalah
benar."
"Kasihan," gumam Dewi.
"Lantas dengan
penyakit yang diderita istrimu, apakah mengurangi
kebahagiaan rumah tangga?"
"Aku tidak mau memburukkan keadaan
istriku di hadapanmu. Karena pada kebiasaannya
apabila seorang laki-laki ada maunya dengan
perempuan lain, dia akan menjelek-jelekkan
istrinya. Semuanya itu hanya bertujuan agar
perempuan itu mau membalas cinta dan kasih
sayangnya. Tapi aku tidak mempunyai tujuan
begitu. Pada kenyataannya, istriku tak bisa lagi
melayani pelampiasan nafkah batinku."
"Sudah berapa lama istrimu menderita
penyakit itu?"
"Dua tahun berselang."
"Sudah diperiksakan ke dokter secara rutin?"
"Sebulan dua kali periksa ke dokter spesialis.
Sebelum dia menjalani operasi, dokter tidak
mengizinkan untuk melakukan persetubuhan.
Sedangkan kanker itu lambat laun akan menjalar ke
kandungan."
"Kenapa tidak operasi saja?"
"Istriku takut menjalani operasi. Dia takut
mati," keluh Fendy dalam kesedihannya.
"Kematian manusia adalah milik Tuhan. Kalau
memang Tuhan masih memberi umur panjang,
sekalipun beratnya menjalani operasi akan tetap
selamat."
"Tapi sifat istriku memang agak lain. Sejak
dulu dia paling takut disuntik dokter kalau sedang
sakit. Apalagi harus menjalani operasi rahim dan
kandungan. Aku sudah seringkali membujuknya
supaya mau menjalani operasi, namun dia selalu
menolaknya."
"Jadi selama ini mas Fendy bisa menahan diri?"
Fendy menarik napas panjang. Masih tetap
memandang langit-langit kamar. Masih nampak
murung dalam kesedihannya.
"Aku lelaki normal, Dewi. Salahkah aku bila
kadang-kadang melampiaskan diri kepada gadis-gadis panggilan? Dua tahun aku menjalani hidup
yang begitu."
Dewi menarik tangannya di d**a lelaki yang
berbaring di sisinya. Dia kemudian tidur terlentang
memandang langit-langit kamar. Sedangkan Fendy
memutar tubuhnya dan memeluk d**a perempuan
itu.
"Kau jijik setelah mendengar penjelasanku?"
tanya Fendy lunak. Diusapnya pipi perempuan itu
dengan lembut.
"Aku cuma merasa seperti gadis-gadis yang
pernah kau ajak tidur. Gadis panggilan," gumam
Dewi yang diliputi perasaan kecewa.
"Kau jangan salah mengerti. Dewi. Sejak aku
tinggal di Surabaya, lalu kita pergi bersama, sejak
saat itulah aku punya keinginan untuk hidup
bersamamu. Entah apa penyebabnya sampai timbul
keinginanku yang begitu. Tapi yang jelas,
kemungkinannya kau bisa menerimaku."
"Apa alasanmu?"
"Karena bagiku terlampau sulit untuk
mendapatkan seorang gadis. Aku lebih optimis bisa
mendapatkan seorang janda. Menurutku dia lebih
matang cara berpikirnya."
"Jangan terlalu cepat menjatuhkan pilihan
Mas. Kau belum tahu jelas siapa aku sebenarnya."
"Maka ceritakanlah."
"Belum saatnya untuk kuceritakan."
"Kenapa? Bukankah aku sudah secara terus
terang menceritakan kehidupanku? Rumah tangga
ku?"
Dewi menoleh. Dipandangnya wajah Fendy
yang menghadap ke arahnya. Lalu mereka saling
berpandangan.Di bibir Dewi tersungging senyum
manis. Dan senyum itu seperti minta pengertian
agar Fendy tidak mendesaknya. Mendesak untuk
mengatakan kehidupannya. Kemudian bibir
perempuan itu kian mendekat ke bibir Fendy.
Hingga akhirnya bibir mereka saling melumat.
Kabut yang bercampur dengan embun
bertebaran di luar.Embun membasahi seisi alam
yang terbuka. Sedang kabut terbang berarak
di bawa angin. Dingin sekali udara di pagi buta itu.
Namun di kamar hotel yang ditempati Fendy dan Dewi tidaklah sedingin di luar.
Kehangatan yang pertama diperoleh Dewi.
Ya, kehangatan itu datang lagi setelah dua tahun
menghilang. Rasa dahaga yang selama itu pula
menggerogoti usianya telah diteguknya air madu
yang teramat manis sekarang.
Sekalipun dalam
status janda tak segampang apa yang diduga orang
lain. Mudah diajak berkencan dan pada akhirnya
bermuara di ranjang.Kesepian seorang janda akan
di lampias kan dalam pelukan lelaki. Inilah
sementara anggapan masyarakat yang menilai
seorang janda bila ketemu jejaka cuma lantaran
kesepian. Ketemu dengan orang yang sudah beristri
mau dijadikan istri simpanan. Atau istri kedua.
Terlalu getir, memang.
Namun selama ini Dewi bukanlah tipe janda
semacam itu. Malam ini dia melayani Fendy karena
rasa cinta. Rasa iba terhadap lelaki itu.
Apa salahnya
bila aku dapat membahagiakan hidup lelaki ini?
Bukankah dia juga mencintaiku dan aku
mencintainya? Barangkali dengan mengukir
kenangan di malam ini akan punya arti lain.
Dua hati
yang sama-sama kesepian ternyata bisa
mendapatkan sepercik kebahagiaan.
Entah berapa kali jiwa Dewi terbang
melayang-layang di awan. Entah berapa dia terlena
dalam sentakan-sentakan kenikmatan. Yang
sebentar dirasakan, yang sebentar hilang dan
seterusnya. Seterusnya. Seterusnya sampai
menjelang senja mereka baru meninggalkan hotel.
Yang tersisa hanya keletihan. Namun selama
diperjalanan pulang, seringkali mereka bertukar
senyum. Bahagia sekali.
Setibanya di tempat kost Dewi, cuma
sebentar Fendy singgah di situ. Kemudian dia
pulang ke rumah dengan keadaan tubuh yang
teramat letih. Kendati sejuta rasa bahagia
bergemuruh dalam dadanya.
Seandainya dia lebih lama ngobrol dengan
Dewi, itu seandainya, pasti dia akan bertemu
dengan istrinya. Karena tak lama Fendy pulang dari
tempat kost Dewi sudah keburu istrinya datang.
Untung saja tidak sampai bentrok. Lantaran tidak
bentrok itulah, Fendy bisa membohongi istrinya.
Maka yang tersisa di perasaan lelaki itu hanya lah
rasa berdosa.