Kemesraan Terlarang

1147 Words
"Aku ingin menciummu," kata Fendy lirih. Dewi memejamkan matanya. Itu berarti dia tak menolaknya. Maka Fendy menggeser bibirnya mendekati bibir perempuan itu. Napas lelaki itu terasa hangat meniup pipi Dewi. Menyebabkan bulu-romanya meremang. Dan darahnya mengalir menyentak-nyentak di jantung. Dan kebahagiaan bibir lelaki itu menempel di bibirnya. Kemudian melumat dengan lembut. Pijar-pijar dalam dirinya bagai disulut. Keter- ombang-ambingan menjalani nasib menyebabkan dirinya berusaha mencari pegangan. Dan ibarat terbawa arus air yang deras, dia berhasil menggapai sebuah tonggak. Tonggak itu kemudian dipegangnya agar tetap bisa bertahan memerangi arus kehidupan. Tonggak itu adalah Fendy. Lelaki itu diharapkan bisa menjadi pelindung dirinya. Yang semula Dewi ragu-ragu, tapi kemudian membalas ciuman lelaki itu. Memeluknya erat-erat. Selama ini dia cuma membayangkan bercumbu kasih dengan idaman hatinya itu, kini menjadi kenyataan. Bahkan seolah-olah dia merasakan jalinan cinta kasih mereka sudah terbina lama. Begitu pula seperti apa yang dirasakan Fendy. Padahal mereka berjumpa baru tiga kali. Tak tahu bagaimana jalan ceritanya film yang mereka tonton. Akan tetapi kalau ditanya bagaimana perasaan mereka, jawabnya pasti bahagia. Belaian dan paduan kasih sayang telah mereka resapi. Beberapa kali mereka berciuman sudah lupa untuk dihitung. Udara pantai makin terasa lain. Dingin sekali. Waktu sudah berganti dini hari. Pertunjukan di teather mobil sudah selesai. Fendy dan Dewi meninggalkan Ancol. Mereka menjemput Tika dan Resti di samping hotel Gajah Mada. Tak lama mereka menunggu, Tika dan Resti muncul. Lantas Fendy memanggil kedua perempuan itu. Tika dan Resti segera menghampiri dan naik ke dalam mobil. Setelah mengantar Tika dan Resti sampai di depan tempat kost, lalu Fendy mengajak Dewi untuk bermalam di Puncak. Dan ternyata perempuan itu tidak menolak ajakannya. Di sebuah kamar hotel yang cukup mewah mereka menginap. Di satu tempat tidur mereka berbaring berdua. Kalau sudah demikian setan menggelitik gairah napsu mereka. Hawa Puncak yang dingin menyebabkan pijar-pijar dalam darah mereka mendidih. Menyentak-nyentak. Apalagi Fendy tak mau melepaskan dekapannya pada tubuh Dewi. Tubuh yang padat itu menyimpan sesuatu kenikmatan. Ditambah dengan ciuman Fendy yang bertubi-tubi. Beban derita yang selama ini dipendam dalam jiwa perempuan itu bagai lenyap. Saat-saat yang dilalui detik itu berubah indah. Mengesankan. "Dewi, aku tak ingin berpisah lagi denganmu," ujar Fendy. "Aku mencintaimu." "Tapi hidupmu tidak sendiri, Mas. Bagaimana dengan istrimu?" "Dia dia" ucapan Fendy terhenti. Lelaki itu menarik napas berat. Memandang langit-langit kamar dengan pancaran mata murung. "Istrimu kenapa?" "Dia menderita penyakit kanker rahim." Dewi terperangah. Lalu diperhatikan sepasang mata Fendy yang murung. Dia ingin melihat kejujuran dari sorot mata lelaki itu. "Mas Fendy tidak berbohong?" "Demi Tuhan, apa yang kukatakan adalah benar." "Kasihan," gumam Dewi. "Lantas dengan penyakit yang diderita istrimu, apakah mengurangi kebahagiaan rumah tangga?" "Aku tidak mau memburukkan keadaan istriku di hadapanmu. Karena pada kebiasaannya apabila seorang laki-laki ada maunya dengan perempuan lain, dia akan menjelek-jelekkan istrinya. Semuanya itu hanya bertujuan agar perempuan itu mau membalas cinta dan kasih sayangnya. Tapi aku tidak mempunyai tujuan begitu. Pada kenyataannya, istriku tak bisa lagi melayani pelampiasan nafkah batinku." "Sudah berapa lama istrimu menderita penyakit itu?" "Dua tahun berselang." "Sudah diperiksakan ke dokter secara rutin?" "Sebulan dua kali periksa ke dokter spesialis. Sebelum dia menjalani operasi, dokter tidak mengizinkan untuk melakukan persetubuhan. Sedangkan kanker itu lambat laun akan menjalar ke kandungan." "Kenapa tidak operasi saja?" "Istriku takut menjalani operasi. Dia takut mati," keluh Fendy dalam kesedihannya. "Kematian manusia adalah milik Tuhan. Kalau memang Tuhan masih memberi umur panjang, sekalipun beratnya menjalani operasi akan tetap selamat." "Tapi sifat istriku memang agak lain. Sejak dulu dia paling takut disuntik dokter kalau sedang sakit. Apalagi harus menjalani operasi rahim dan kandungan. Aku sudah seringkali membujuknya supaya mau menjalani operasi, namun dia selalu menolaknya." "Jadi selama ini mas Fendy bisa menahan diri?" Fendy menarik napas panjang. Masih tetap memandang langit-langit kamar. Masih nampak murung dalam kesedihannya. "Aku lelaki normal, Dewi. Salahkah aku bila kadang-kadang melampiaskan diri kepada gadis-gadis panggilan? Dua tahun aku menjalani hidup yang begitu." Dewi menarik tangannya di d**a lelaki yang berbaring di sisinya. Dia kemudian tidur terlentang memandang langit-langit kamar. Sedangkan Fendy memutar tubuhnya dan memeluk d**a perempuan itu. "Kau jijik setelah mendengar penjelasanku?" tanya Fendy lunak. Diusapnya pipi perempuan itu dengan lembut. "Aku cuma merasa seperti gadis-gadis yang pernah kau ajak tidur. Gadis panggilan," gumam Dewi yang diliputi perasaan kecewa. "Kau jangan salah mengerti. Dewi. Sejak aku tinggal di Surabaya, lalu kita pergi bersama, sejak saat itulah aku punya keinginan untuk hidup bersamamu. Entah apa penyebabnya sampai timbul keinginanku yang begitu. Tapi yang jelas, kemungkinannya kau bisa menerimaku." "Apa alasanmu?" "Karena bagiku terlampau sulit untuk mendapatkan seorang gadis. Aku lebih optimis bisa mendapatkan seorang janda. Menurutku dia lebih matang cara berpikirnya." "Jangan terlalu cepat menjatuhkan pilihan Mas. Kau belum tahu jelas siapa aku sebenarnya." "Maka ceritakanlah." "Belum saatnya untuk kuceritakan." "Kenapa? Bukankah aku sudah secara terus terang menceritakan kehidupanku? Rumah tangga ku?" Dewi menoleh. Dipandangnya wajah Fendy yang menghadap ke arahnya. Lalu mereka saling berpandangan.Di bibir Dewi tersungging senyum manis. Dan senyum itu seperti minta pengertian agar Fendy tidak mendesaknya. Mendesak untuk mengatakan kehidupannya. Kemudian bibir perempuan itu kian mendekat ke bibir Fendy. Hingga akhirnya bibir mereka saling melumat. Kabut yang bercampur dengan embun bertebaran di luar.Embun membasahi seisi alam yang terbuka. Sedang kabut terbang berarak di bawa angin. Dingin sekali udara di pagi buta itu. Namun di kamar hotel yang ditempati Fendy dan Dewi tidaklah sedingin di luar. Kehangatan yang pertama diperoleh Dewi. Ya, kehangatan itu datang lagi setelah dua tahun menghilang. Rasa dahaga yang selama itu pula menggerogoti usianya telah diteguknya air madu yang teramat manis sekarang. Sekalipun dalam status janda tak segampang apa yang diduga orang lain. Mudah diajak berkencan dan pada akhirnya bermuara di ranjang.Kesepian seorang janda akan di lampias kan dalam pelukan lelaki. Inilah sementara anggapan masyarakat yang menilai seorang janda bila ketemu jejaka cuma lantaran kesepian. Ketemu dengan orang yang sudah beristri mau dijadikan istri simpanan. Atau istri kedua. Terlalu getir, memang. Namun selama ini Dewi bukanlah tipe janda semacam itu. Malam ini dia melayani Fendy karena rasa cinta. Rasa iba terhadap lelaki itu. Apa salahnya bila aku dapat membahagiakan hidup lelaki ini? Bukankah dia juga mencintaiku dan aku mencintainya? Barangkali dengan mengukir kenangan di malam ini akan punya arti lain. Dua hati yang sama-sama kesepian ternyata bisa mendapatkan sepercik kebahagiaan. Entah berapa kali jiwa Dewi terbang melayang-layang di awan. Entah berapa dia terlena dalam sentakan-sentakan kenikmatan. Yang sebentar dirasakan, yang sebentar hilang dan seterusnya. Seterusnya. Seterusnya sampai menjelang senja mereka baru meninggalkan hotel. Yang tersisa hanya keletihan. Namun selama diperjalanan pulang, seringkali mereka bertukar senyum. Bahagia sekali. Setibanya di tempat kost Dewi, cuma sebentar Fendy singgah di situ. Kemudian dia pulang ke rumah dengan keadaan tubuh yang teramat letih. Kendati sejuta rasa bahagia bergemuruh dalam dadanya. Seandainya dia lebih lama ngobrol dengan Dewi, itu seandainya, pasti dia akan bertemu dengan istrinya. Karena tak lama Fendy pulang dari tempat kost Dewi sudah keburu istrinya datang. Untung saja tidak sampai bentrok. Lantaran tidak bentrok itulah, Fendy bisa membohongi istrinya. Maka yang tersisa di perasaan lelaki itu hanya lah rasa berdosa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD