"Kau belum tidur, Pa?" suara itu terdengar
lunak.
Fendy tersentak dari lamunannya. Dipandang
istrinya yang sudah berdiri di depannya sembari
tersenyum. Senyum perempuan itu terasa damai
dan sejuk di hati Fendy.
"Belum ngantuk, Ma."
"Papa barusan melamun ya?" tanya Yeti
seraya menghampiri suaminya.
"Ah, tidak." Fendy tersenyum agar tidak
kelihatan sehabis melamun.
"Tidurlah, Pa. Nanti kau jatuh sakit," kata
Yeti.
Kemudian direngkuhnya lengan Fendy perlahan. Sikapnya yang senantiasa lemah lembut
seperti menghadapi seorang anak yang paling
dicintai. Lalu dibimbingnya Fendy masuk ke
kamar.
Yeti mengambilkan pakaian tidur untuk
suaminya. Dengan penuh kesetiaan kancing-
kancing kemeja Fendy dibukanya satu-satu.
Kemudian dikenakan pakaian tidur itu ke tubuh
suaminya. Tubuh yang kelihatan sudah letih sekali
itu.
Kesetiaan mana lagi yang bisa menandingi
perempuan itu. Tapi kenapa Tuhan menjadikan
perempuan itu menderita penyakit kanker rahim?
Kenapa? Sejuta perempuan barangkali cuma satu perempuan
yang memiliki kesabaran dan kesetiaan seperti
perempuan itu.
Maka Fendy mendekap istrinya. Ingin
menjerit rasanya. Kesetiaan itu, kesabaran itu, dan
sifat perempuan itu seperti kasih sayang seorang
ibu yang tulus kepada anaknya.
"Maafkanlah papa, Ma. Tadi papa terlaku
kasar dan menyakiti mama," kata Fendy dengan
suara parau.
Sementara hatinya bagai ditusuk-tusuk
duri. Pedih. Dia telah mendustai
perempuan itu. Perempuan yang sebagai istrinya
itu tak pernah sekalipun menyakiti perasaannya.
"Mama telah melupakannya, Pa. Tidurlah."
Fendy mengecup kening istrinya sesaat. Lalu
dia merebahkan diri di atas tempat tidur.
Yeti
berada dalam dekapannya yang erat. Tak ingin
rasanya dia melepaskan dekapan itu sampai dirinya
tertidur lelap.
***
Sore itu, Tika dan Resti masuk ke kamar yang
di huni Dewi. Nampaknya kedua perempuan itu
punya maksud lain. Mungkin bisa juga merasa iri
hati atau memang hanya mau mencemooh.
"Dewi, kau yakin yang datang semalam itu
adik nya Fendy?" tanya Tika sambil bersandar di
tembok kamar, merokok. Sedangkan Resti senyum-senyum mengejek.
"Aku juga belum yakin." sahut Dewi.
Dia
pindah duduk di depan toilet. Menyisir rambutnya
yang kusut.
"Mungkin juga bisa istrinya atau pacarnya. Di
Jakarta ini jangan main-main sembarangan
pacaran sama orang. Apalagi sama Fendy yang jadi
bintang film top. Untung saja kemarin kau tidak
ngomong terus terang. Bisa bisa kau di maki-maki.
atau mungkin saja bisa di silet muka mu."
Bulu roma Dewi jadi merinding. Ngeri juga
kalau memang terjadi begitu. Apalagi Dewi tahu
kalau Fendy sudah punya istri. Dia bisa dituduh mau
menghancurkan rumah tangga orang.
"Sebaiknya kau jauhi saja lelaki itu. Di Jakarta
ini masih banyak lelaki yang bujangan. Yang tampan
pun segudang. Dan tujuan kita ke Jakarta ini cuma
cari uang. Bukan cari cinta, Dewi."
Tika mencoba
mempengaruhi Dewi.
"Ah, sudahlah. Aku jadi bingung." keluh Dewi.
"Jangan bingung. Kau harus punya prinsip
seperti aku. Semua lelaki itu kalau sedang ada
maunya, wah, wah, rayuan dan janjinya selangit.
Apalagi dia tahu kita ini hostes paling-paling hanya
buat sekedar iseng. Kalau sudah puas ditinggal kan.
Dasar semua lelaki itu gombal!" kata Tika sambil
berlalu.
Gombal? Benarkah mas Fendy lelaki gombal?
Ah, tidak. Lelaki itu punya hati dan perasaan yang
polos. Dia jujur. Dan lelaki itu kukenal bukannya di
night club. Kukenal dia sejak aku belum terjun
menjadi hostes. Dewi menarik napas panjang.
Melirik Resti yang masih duduk di pinggir tempat
tidur.
"Bagaimana menurut pendapatmu mengenai
mas Fendy?" tanya Dewi pada Resti.
"Mana aku tahu?"
"Yaah, paling tidak menurut penilaianmu."
"Dia orangnya tampan. Kalem dan sopan. Itu
menurut penilaianku secara lahiriah."
"Mas Fendy memang nampaknya polos dan jujur."
"Kau mencintainya?"
"Aku tak tahu bagaimana musti menjawabnya."
"Apakah dia benar sudah mempunyai istri?"
Dewi mengangguk.
"Sudah punya anak?"
"Dua anaknya."
"Dewi, kita pergi ke Jakarta karena senasib.
Aku tahu persis bagaimana kehidupanmu. Aku
bukan melarangmu menjalin hubungan dengan
Fendy. Aku cuma mengingatkan betapa getirnya
hidup yang kau alami. Apakah kau akan menambah
kegetiran itu?"
Dewi diam termenung.
"Problemmu belum dapat kau selesaikan,
tapi akan kau tambah lagi dengan problem yang
lain. Jalinan hubunganmu dengan Fendy akan
menimbulkan problem baru buatmu. Percayalah."
lanjut Resti.
"Aku tahu." desah Dewi.
"Kalau kau tahu itu,
kenapa ingin kau teruskan?"
Dewi menarik napas dalam-dalam. Lalu
di hembuskan keras. Seolah-olah dia tak bisa
mengambil keputusan. Fendy telah begitu lekat di
hatinya. Sedangkan dia tahu, apa yang akan terjadi
di hari kemudian.
Dua orang lelaki masih ada di
dalam hidupnya. Siapa? Siapa yang nantinya akan
jatuh pada pilihannya? Dewi tak tahu. Dia cuma bisa
menghela napas berat.
Lalu dia memutuskan. Lebih baik menjauhi
Fendy. Tapi dengan cara bagaimana? Mampukah
aku melupakan lelaki itu?
Barangkali jika
dibandingkan dengan kedua lelaki yang masih ada
di dalam hidupnya, terasa mudah melupakannya.
Tapi dengan Fendy, oooh terlalu sulit. Lelaki itu
memiliki segala apa yang diidamkan.
Ketampanannya, sifatnya yang kalem dan sopan,
kejujurannya dan masih banyak yang lainnya lagi.
Pokoknya yang ada pada diri lelaki itu menjadi
dambaannya.
Tapi bagaimanapun sukarnya, aku harus bisa
menjauhi lelaki itu. Harus. Daripada kelak aku
menyakitinya, meninggalkannya, lebih baik
sekarang saja diputuskan.
Maka Dewi mengambil buku dan menulis
sepucuk surat yang ditujukan kepada Fendy.
Dengan cara itulah dia bisa menjauhkan diri.
Kendati dia menulis surat itu tak kuasa menahan
tetesan air mata. Hatinya bagaikan diiris-iris
sembilu.
"Kau menulis surat untuk siapa?" tanya Resti.
"Mas Fendy. Tolong nanti berikan surat ini
kepada mas Fendy. Malam ini dia berjanji mau
datang," kata Dewi dengan suara parau.
"Terus kau mau pergi?"
"Tidak. Aku sengaja tidak mau menemui dia.
Katakan saja aku tidak ada di rumah." Dewi
menyobek selembar kertas yang ditulisnya itu. Lalu
dimasukkan ke dalam amplop.
Resti ke luar dari kamar itu setelah menerima
surat Dewi. Dewi mengunci kamarnya rapat- rapat
dari dalam.
Lantas perempuan itu menjatuhkan diri
di atas tempat tidur. Wajah cantiknya dibenamkan ke
permukaan bantal. Pecahlah tangisnya.
Oh, Tuhan. Kenapa baru sekejap memperoleh
kebahagiaan bersama mas Fendy akan hancur?
Kenapa setelah kutemukan seorang lelaki yang
menjadi idamanku, ternyata dia sudah beristri?
Kenapa? Kenapa? Di manakah memperoleh
kebahagiaan yang tanpa perintang? Sepanjang
perjalanan hidupku senantiasa kutemui duri- duri.
Apakah ini karma? Karma yang diturunkan dari
ayahku lantaran doyan kawin? Istrinya empat
namun hidup rumah tangganya tak pernah
tenteram.
Tuhan, jangan jatuhkan karma itu pada
diriku lagi. Untuk kali ini jangan ditakdirkan aku gagal
lagi membina rumah tangga. Ratap Dewi di dalam
hati.