Bagaikan Teriris-iris

999 Words
"Kau belum tidur, Pa?" suara itu terdengar lunak. Fendy tersentak dari lamunannya. Dipandang istrinya yang sudah berdiri di depannya sembari tersenyum. Senyum perempuan itu terasa damai dan sejuk di hati Fendy. "Belum ngantuk, Ma." "Papa barusan melamun ya?" tanya Yeti seraya menghampiri suaminya. "Ah, tidak." Fendy tersenyum agar tidak kelihatan sehabis melamun. "Tidurlah, Pa. Nanti kau jatuh sakit," kata Yeti. Kemudian direngkuhnya lengan Fendy perlahan. Sikapnya yang senantiasa lemah lembut seperti menghadapi seorang anak yang paling dicintai. Lalu dibimbingnya Fendy masuk ke kamar. Yeti mengambilkan pakaian tidur untuk suaminya. Dengan penuh kesetiaan kancing- kancing kemeja Fendy dibukanya satu-satu. Kemudian dikenakan pakaian tidur itu ke tubuh suaminya. Tubuh yang kelihatan sudah letih sekali itu. Kesetiaan mana lagi yang bisa menandingi perempuan itu. Tapi kenapa Tuhan menjadikan perempuan itu menderita penyakit kanker rahim? Kenapa? Sejuta perempuan barangkali cuma satu perempuan yang memiliki kesabaran dan kesetiaan seperti perempuan itu. Maka Fendy mendekap istrinya. Ingin menjerit rasanya. Kesetiaan itu, kesabaran itu, dan sifat perempuan itu seperti kasih sayang seorang ibu yang tulus kepada anaknya. "Maafkanlah papa, Ma. Tadi papa terlaku kasar dan menyakiti mama," kata Fendy dengan suara parau. Sementara hatinya bagai ditusuk-tusuk duri. Pedih. Dia telah mendustai perempuan itu. Perempuan yang sebagai istrinya itu tak pernah sekalipun menyakiti perasaannya. "Mama telah melupakannya, Pa. Tidurlah." Fendy mengecup kening istrinya sesaat. Lalu dia merebahkan diri di atas tempat tidur. Yeti berada dalam dekapannya yang erat. Tak ingin rasanya dia melepaskan dekapan itu sampai dirinya tertidur lelap. *** Sore itu, Tika dan Resti masuk ke kamar yang di huni Dewi. Nampaknya kedua perempuan itu punya maksud lain. Mungkin bisa juga merasa iri hati atau memang hanya mau mencemooh. "Dewi, kau yakin yang datang semalam itu adik nya Fendy?" tanya Tika sambil bersandar di tembok kamar, merokok. Sedangkan Resti senyum-senyum mengejek. "Aku juga belum yakin." sahut Dewi. Dia pindah duduk di depan toilet. Menyisir rambutnya yang kusut. "Mungkin juga bisa istrinya atau pacarnya. Di Jakarta ini jangan main-main sembarangan pacaran sama orang. Apalagi sama Fendy yang jadi bintang film top. Untung saja kemarin kau tidak ngomong terus terang. Bisa bisa kau di maki-maki. atau mungkin saja bisa di silet muka mu." Bulu roma Dewi jadi merinding. Ngeri juga kalau memang terjadi begitu. Apalagi Dewi tahu kalau Fendy sudah punya istri. Dia bisa dituduh mau menghancurkan rumah tangga orang. "Sebaiknya kau jauhi saja lelaki itu. Di Jakarta ini masih banyak lelaki yang bujangan. Yang tampan pun segudang. Dan tujuan kita ke Jakarta ini cuma cari uang. Bukan cari cinta, Dewi." Tika mencoba mempengaruhi Dewi. "Ah, sudahlah. Aku jadi bingung." keluh Dewi. "Jangan bingung. Kau harus punya prinsip seperti aku. Semua lelaki itu kalau sedang ada maunya, wah, wah, rayuan dan janjinya selangit. Apalagi dia tahu kita ini hostes paling-paling hanya buat sekedar iseng. Kalau sudah puas ditinggal kan. Dasar semua lelaki itu gombal!" kata Tika sambil berlalu. Gombal? Benarkah mas Fendy lelaki gombal? Ah, tidak. Lelaki itu punya hati dan perasaan yang polos. Dia jujur. Dan lelaki itu kukenal bukannya di night club. Kukenal dia sejak aku belum terjun menjadi hostes. Dewi menarik napas panjang. Melirik Resti yang masih duduk di pinggir tempat tidur. "Bagaimana menurut pendapatmu mengenai mas Fendy?" tanya Dewi pada Resti. "Mana aku tahu?" "Yaah, paling tidak menurut penilaianmu." "Dia orangnya tampan. Kalem dan sopan. Itu menurut penilaianku secara lahiriah." "Mas Fendy memang nampaknya polos dan jujur." "Kau mencintainya?" "Aku tak tahu bagaimana musti menjawabnya." "Apakah dia benar sudah mempunyai istri?" Dewi mengangguk. "Sudah punya anak?" "Dua anaknya." "Dewi, kita pergi ke Jakarta karena senasib. Aku tahu persis bagaimana kehidupanmu. Aku bukan melarangmu menjalin hubungan dengan Fendy. Aku cuma mengingatkan betapa getirnya hidup yang kau alami. Apakah kau akan menambah kegetiran itu?" Dewi diam termenung. "Problemmu belum dapat kau selesaikan, tapi akan kau tambah lagi dengan problem yang lain. Jalinan hubunganmu dengan Fendy akan menimbulkan problem baru buatmu. Percayalah." lanjut Resti. "Aku tahu." desah Dewi. "Kalau kau tahu itu, kenapa ingin kau teruskan?" Dewi menarik napas dalam-dalam. Lalu di hembuskan keras. Seolah-olah dia tak bisa mengambil keputusan. Fendy telah begitu lekat di hatinya. Sedangkan dia tahu, apa yang akan terjadi di hari kemudian. Dua orang lelaki masih ada di dalam hidupnya. Siapa? Siapa yang nantinya akan jatuh pada pilihannya? Dewi tak tahu. Dia cuma bisa menghela napas berat. Lalu dia memutuskan. Lebih baik menjauhi Fendy. Tapi dengan cara bagaimana? Mampukah aku melupakan lelaki itu? Barangkali jika dibandingkan dengan kedua lelaki yang masih ada di dalam hidupnya, terasa mudah melupakannya. Tapi dengan Fendy, oooh terlalu sulit. Lelaki itu memiliki segala apa yang diidamkan. Ketampanannya, sifatnya yang kalem dan sopan, kejujurannya dan masih banyak yang lainnya lagi. Pokoknya yang ada pada diri lelaki itu menjadi dambaannya. Tapi bagaimanapun sukarnya, aku harus bisa menjauhi lelaki itu. Harus. Daripada kelak aku menyakitinya, meninggalkannya, lebih baik sekarang saja diputuskan. Maka Dewi mengambil buku dan menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada Fendy. Dengan cara itulah dia bisa menjauhkan diri. Kendati dia menulis surat itu tak kuasa menahan tetesan air mata. Hatinya bagaikan diiris-iris sembilu. "Kau menulis surat untuk siapa?" tanya Resti. "Mas Fendy. Tolong nanti berikan surat ini kepada mas Fendy. Malam ini dia berjanji mau datang," kata Dewi dengan suara parau. "Terus kau mau pergi?" "Tidak. Aku sengaja tidak mau menemui dia. Katakan saja aku tidak ada di rumah." Dewi menyobek selembar kertas yang ditulisnya itu. Lalu dimasukkan ke dalam amplop. Resti ke luar dari kamar itu setelah menerima surat Dewi. Dewi mengunci kamarnya rapat- rapat dari dalam. Lantas perempuan itu menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Wajah cantiknya dibenamkan ke permukaan bantal. Pecahlah tangisnya. Oh, Tuhan. Kenapa baru sekejap memperoleh kebahagiaan bersama mas Fendy akan hancur? Kenapa setelah kutemukan seorang lelaki yang menjadi idamanku, ternyata dia sudah beristri? Kenapa? Kenapa? Di manakah memperoleh kebahagiaan yang tanpa perintang? Sepanjang perjalanan hidupku senantiasa kutemui duri- duri. Apakah ini karma? Karma yang diturunkan dari ayahku lantaran doyan kawin? Istrinya empat namun hidup rumah tangganya tak pernah tenteram. Tuhan, jangan jatuhkan karma itu pada diriku lagi. Untuk kali ini jangan ditakdirkan aku gagal lagi membina rumah tangga. Ratap Dewi di dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD