Selepas senja sebuah mobil sedan Honda
Accord berhenti di pinggir jalan. Di depan pagar
halaman tempat kost Dewi. Dan ternyata Fendy
yang bergegas turun dari dalam mobil itu.
Tetangga
yang ada di sekitar rumah itu memperhatikan aktor
populer yang berjalan menuju ke pintu rumah. Lalu
Resti buru-buru menyambut kedatangan Fendy.
"Selamat malam, Resti. Dewi ada di rumah?"
tanya Fendy sesampainya di ambang pintu.
"Dewi sejak tadi siang pergi belum pulang.
Tapi dia meninggalkan surat untuk mas Fendy,"
sahut Resti sambil menyerahkan surat itu kepada
Fendy.
Fendy menerimanya dan termangu seperti
patung. Lalu buru-buru amplop itu dibukanya dan
isi surat itu dibacanya sambil berdiri.
Yang tercinta : Mas Fendy.
Mas Fendy, aku mohon kepadamu untuk
menjauhiku. Aku akan pergi ke mana saja yang
kusukai. Mas Fendy tak perlu mencari. Ternyata
baru sekejap aku merasakan kebahagiaan di
sampingmu, terpaksa harus pergi dari sisi mas
Fendy.
Mas Fendy, bila Tuhan memang akan
mempertemukan kita, suatu ketika kita akan bisa
bersama lagi.
Dari kekasihmu : Dewi Rosinta
Seperti ada sembilu yang mengiris hatinya.
Seperti menelan empedu yang paling amis. Itu
dirasakan oleh Fendy ketika selesai membaca surat
itu. Kedua tangannya yang memegangi surat itu
jadi gemetar.
Tanpa bicara.sepatah katapun dia
memutar tubuhnya.Terus mengayun kan langkahnya yang gontai meninggalkan Resti yang berdiri
seperti patung.
Perempuan itu menjadi iba
memandang kepergian Fendy yang menghampiri
mobilnya.
Bergegas Resti masuk ke kamar Dewi.
Ditemuinya Dewi nampak gelisah dan salah tingkah.
"Sudah kau berikan suratku tadi?" tanya Dewi.
"Sudah."
"Apa katanya?"
"Ah, aku tak sampai hati melihatnya. Setelah
membaca suratmu, dia nampak sedih dan kecewa
sekali. Lalu dia melangkah pergi tanpa bicara
sepatah katapun."
Dewi tambah kacau dan bingung. Rasa
menyesal timbul dalam hatinya. Kenapa aku
menulis surat begitu? Kenapa? Padahal aku sangat
membutuhkannya. Aku mencintainya.
"Mas Fendy sudah pulang?" Resti melongok
ke luar. Tika ikut-ikutan melongok ke luar.
"Belum. Mobilnya masih berhenti di luar."
"Akan kutemui dia. Akan kutemui dia," kata
Dewi tak sabar. Ingin rasanya dia berhambur ke luar
kamar, tapi Resti menahannya.
"Kau ini bagaimana sih? Tadi suruh bilang
tidak ada di rumah, tapi sekarang mau
menemuinya. Kau mau bikin aku malu ya?" sergah
Resti.
"Aku.... aku menyesal membuat surat
untuknya," keluh Dewi hampir menangis.
"Itu sudah terlanjur. Bagaimanapun juga
malam ini jangan kau temui dia," kata Resti tegas.
"Jangan bikin aku malu, Dewi."
"Iya, kau ini bagaimana sih? Sudah menyuruh
Resti bilang tidak ada di rumah, tapi sekarang mau
menemuinya." Tika mencemooh dengan sengit.
"Tolong Resti, tolong temui mas Fendy.
Katakan besok dia suruh datang ke mari lagi. Cepat
Resti. Cepat. Nanti keburu mas Fendy pergi," pinta
Dewi dengan perasaan tak sabar.
Resti langsung saja berlari ke luar. Fendy
sudah menghidupkan mesin mobilnya tinggal
tancap gas saja.
"Mas Fendy, tunggu!" teriak Resti.
Fendy mengoper persneling kembali prai. Tak
jadi tancap gas kabur dari tempat itu. Resti
mengetuk kaca jendela mobil minta supaya Fendy
membukakan pintunya. Fendy buru-buru membuka
pintu mobil. Resti duduk di jok sebelahnya.
"Cobalah besok siang mas Fendy datang kemari. Mungkin Dewi sudah kembali," kata Resti.
"Kau tahu pergi ke mana?"
"Dia bilang mau menginap di rumah tantenya
yang ada di Krawang. Tapi besok dia pasti pulang."
"Ah, untuk apa aku datang ke mari kalau Dewi
tidak mau menemuiku?"
Dia pasti mau menemui mas Fendy.Percayalah." kata Resti meyakinkan.
"Kau yakin?"
Resti mengangguk. Dia berusaha menahan
tawanya. Bagaimana tidak kepingin tertawa, sebab
dia cuma bersandiwara.
"Tolong katakan kepadanya, bahwa aku
bersungguh-sungguh. Tidak ingin mempermainkannya," kata Fendy setulus hatinya.
Resti mengangguk lagi.
"Besok siang mas Fendy benar-benar mau
datang kan?"
"Mudah-mudahan tidak ada halangan."
Resti kemudian turun dari mobil sambil
menghempaskan pintunya. Fendy baru
meluncurkan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Segumpal rasa hampa mengganjal di lekuk hatinya.
Lalu di tempat yang sepi dia menghentikan
mobilnya Dia baca kembali isi surat dari Dewi.
Rasa
kehilangan makin meroyak perasaannya. Remuk
redam harapannya. Dengan perasaan kesal di robek-robeknya surat itu. Kemudian robekan surat
itu dibuangnya ke jalan.
Kembali dia meluncurkan mobilnya. Sungguh
tak disangka akan terjadi begitu. Dewi memutuskan
tali cintanya. Dan Fendy mencari- cari penyebabnya.
Barangkali karena kedatangan Yeti
kemarin?. Sebab itukah Dewi memutuskan
hubungannya? Mungkin. Mungkin lantaran itu.
Maka setibanya di rumah, Fendy jadi murung.
Malas untuk bertegur sapa dengan istrinya. Terus
saja nyelonong masuk ke dalam kamar.
Tentu saja
perubahan sikapnya menimbulkan tanda tanya bagi
Yeti. Apalagi Fendy langsung masuk ke kamar. Tidak
seperti biasanya bersenda gurau dengan kedua
anaknya.
Yeti membuntuti suaminya masuk ke kamar.
Fendy menghentakkan p****t di kursi. Meremas-
remas rambutnya. Kelihatan nampak pusing
menghadapi persoalan yang begitu rumit.
"Papa kenapa?" tegur Yeti mendekati
suaminya. Kemudian bahu lelaki itu dipijit-pijitnya.
"Penyakit papa kumat lagi ya?"
"Tidak."
"Ada persoalan yang sedang papa hadapi?"
"Tidak."
"Tapi nampaknya papa begitu murung dan
kecewa. Terus teranglah pada mama. Ada apa sebenarnya, Pa?" tanya Yeti penuh perhatian.
Membelai rambut suaminya yang kusut.
"Mama tidak berbohong pada papa?"
"Berbohong? Berbohong apa, Pa?"
"Mama tidak marah-marah sama Dewi?"
"Demi Tuhan tidak, Pa. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Papa habis menemui Dewi?"
Fendy menggeleng.
"Papa kok tidak percaya sama mama?"
Fendy menarik napas dalam-dalam.
Dipandang wajah istrinya. Wajah itu mencerminkan
ketulusan. Seperti wajah seorang bayi yang belum
mengenal dosa. Wajah yang bukan munafik. Lalu
Fendy merengkuh bahuperempuan itu. Didekapnya
erat.
"Papa sangat percaya padamu, sayang.
Namun di hari-hari belakangan ini perasaan papa
sedang kacau. Gampang sekali murung dan maunya
marah terus," keluh Fendy.
"Mama tahu perasaan papa. Papa terlalu
memikirkan Dewi."
Fendy tidak menyahut. Dia membelai rambut
istrinya dengan rasa haru.
"Dewi bilang besok dia mau pulang ke
Surabaya, temuin dia dan hantarkan ke stasiun
kereta api. Kalau masih bisa dicegah, mama ingin
bertemu dengannya. Mama ingin berbicara
dengannya dari hati ke hati," kata Yeti lunak.
"Apa yang mama ingin?"
"Yang mama ingin agar dia mencintai papa.
Menyayangi papa. Mama sudah merasa tak mampu
lagi membahagiakan hidup papa," suara Yeti
terdengar serak dan parau.