Rindu Rendam

952 Words
Selepas senja sebuah mobil sedan Honda Accord berhenti di pinggir jalan. Di depan pagar halaman tempat kost Dewi. Dan ternyata Fendy yang bergegas turun dari dalam mobil itu. Tetangga yang ada di sekitar rumah itu memperhatikan aktor populer yang berjalan menuju ke pintu rumah. Lalu Resti buru-buru menyambut kedatangan Fendy. "Selamat malam, Resti. Dewi ada di rumah?" tanya Fendy sesampainya di ambang pintu. "Dewi sejak tadi siang pergi belum pulang. Tapi dia meninggalkan surat untuk mas Fendy," sahut Resti sambil menyerahkan surat itu kepada Fendy. Fendy menerimanya dan termangu seperti patung. Lalu buru-buru amplop itu dibukanya dan isi surat itu dibacanya sambil berdiri. Yang tercinta : Mas Fendy. Mas Fendy, aku mohon kepadamu untuk menjauhiku. Aku akan pergi ke mana saja yang kusukai. Mas Fendy tak perlu mencari. Ternyata baru sekejap aku merasakan kebahagiaan di sampingmu, terpaksa harus pergi dari sisi mas Fendy. Mas Fendy, bila Tuhan memang akan mempertemukan kita, suatu ketika kita akan bisa bersama lagi. Dari kekasihmu : Dewi Rosinta Seperti ada sembilu yang mengiris hatinya. Seperti menelan empedu yang paling amis. Itu dirasakan oleh Fendy ketika selesai membaca surat itu. Kedua tangannya yang memegangi surat itu jadi gemetar. Tanpa bicara.sepatah katapun dia memutar tubuhnya.Terus mengayun kan langkahnya yang gontai meninggalkan Resti yang berdiri seperti patung. Perempuan itu menjadi iba memandang kepergian Fendy yang menghampiri mobilnya. Bergegas Resti masuk ke kamar Dewi. Ditemuinya Dewi nampak gelisah dan salah tingkah. "Sudah kau berikan suratku tadi?" tanya Dewi. "Sudah." "Apa katanya?" "Ah, aku tak sampai hati melihatnya. Setelah membaca suratmu, dia nampak sedih dan kecewa sekali. Lalu dia melangkah pergi tanpa bicara sepatah katapun." Dewi tambah kacau dan bingung. Rasa menyesal timbul dalam hatinya. Kenapa aku menulis surat begitu? Kenapa? Padahal aku sangat membutuhkannya. Aku mencintainya. "Mas Fendy sudah pulang?" Resti melongok ke luar. Tika ikut-ikutan melongok ke luar. "Belum. Mobilnya masih berhenti di luar." "Akan kutemui dia. Akan kutemui dia," kata Dewi tak sabar. Ingin rasanya dia berhambur ke luar kamar, tapi Resti menahannya. "Kau ini bagaimana sih? Tadi suruh bilang tidak ada di rumah, tapi sekarang mau menemuinya. Kau mau bikin aku malu ya?" sergah Resti. "Aku.... aku menyesal membuat surat untuknya," keluh Dewi hampir menangis. "Itu sudah terlanjur. Bagaimanapun juga malam ini jangan kau temui dia," kata Resti tegas. "Jangan bikin aku malu, Dewi." "Iya, kau ini bagaimana sih? Sudah menyuruh Resti bilang tidak ada di rumah, tapi sekarang mau menemuinya." Tika mencemooh dengan sengit. "Tolong Resti, tolong temui mas Fendy. Katakan besok dia suruh datang ke mari lagi. Cepat Resti. Cepat. Nanti keburu mas Fendy pergi," pinta Dewi dengan perasaan tak sabar. Resti langsung saja berlari ke luar. Fendy sudah menghidupkan mesin mobilnya tinggal tancap gas saja. "Mas Fendy, tunggu!" teriak Resti. Fendy mengoper persneling kembali prai. Tak jadi tancap gas kabur dari tempat itu. Resti mengetuk kaca jendela mobil minta supaya Fendy membukakan pintunya. Fendy buru-buru membuka pintu mobil. Resti duduk di jok sebelahnya. "Cobalah besok siang mas Fendy datang kemari. Mungkin Dewi sudah kembali," kata Resti. "Kau tahu pergi ke mana?" "Dia bilang mau menginap di rumah tantenya yang ada di Krawang. Tapi besok dia pasti pulang." "Ah, untuk apa aku datang ke mari kalau Dewi tidak mau menemuiku?" Dia pasti mau menemui mas Fendy.Percayalah." kata Resti meyakinkan. "Kau yakin?" Resti mengangguk. Dia berusaha menahan tawanya. Bagaimana tidak kepingin tertawa, sebab dia cuma bersandiwara. "Tolong katakan kepadanya, bahwa aku bersungguh-sungguh. Tidak ingin mempermainkannya," kata Fendy setulus hatinya. Resti mengangguk lagi. "Besok siang mas Fendy benar-benar mau datang kan?" "Mudah-mudahan tidak ada halangan." Resti kemudian turun dari mobil sambil menghempaskan pintunya. Fendy baru meluncurkan mobilnya meninggalkan tempat itu. Segumpal rasa hampa mengganjal di lekuk hatinya. Lalu di tempat yang sepi dia menghentikan mobilnya Dia baca kembali isi surat dari Dewi. Rasa kehilangan makin meroyak perasaannya. Remuk redam harapannya. Dengan perasaan kesal di robek-robeknya surat itu. Kemudian robekan surat itu dibuangnya ke jalan. Kembali dia meluncurkan mobilnya. Sungguh tak disangka akan terjadi begitu. Dewi memutuskan tali cintanya. Dan Fendy mencari- cari penyebabnya. Barangkali karena kedatangan Yeti kemarin?. Sebab itukah Dewi memutuskan hubungannya? Mungkin. Mungkin lantaran itu. Maka setibanya di rumah, Fendy jadi murung. Malas untuk bertegur sapa dengan istrinya. Terus saja nyelonong masuk ke dalam kamar. Tentu saja perubahan sikapnya menimbulkan tanda tanya bagi Yeti. Apalagi Fendy langsung masuk ke kamar. Tidak seperti biasanya bersenda gurau dengan kedua anaknya. Yeti membuntuti suaminya masuk ke kamar. Fendy menghentakkan p****t di kursi. Meremas- remas rambutnya. Kelihatan nampak pusing menghadapi persoalan yang begitu rumit. "Papa kenapa?" tegur Yeti mendekati suaminya. Kemudian bahu lelaki itu dipijit-pijitnya. "Penyakit papa kumat lagi ya?" "Tidak." "Ada persoalan yang sedang papa hadapi?" "Tidak." "Tapi nampaknya papa begitu murung dan kecewa. Terus teranglah pada mama. Ada apa sebenarnya, Pa?" tanya Yeti penuh perhatian. Membelai rambut suaminya yang kusut. "Mama tidak berbohong pada papa?" "Berbohong? Berbohong apa, Pa?" "Mama tidak marah-marah sama Dewi?" "Demi Tuhan tidak, Pa. Memangnya kenapa?" "Tidak apa-apa." "Papa habis menemui Dewi?" Fendy menggeleng. "Papa kok tidak percaya sama mama?" Fendy menarik napas dalam-dalam. Dipandang wajah istrinya. Wajah itu mencerminkan ketulusan. Seperti wajah seorang bayi yang belum mengenal dosa. Wajah yang bukan munafik. Lalu Fendy merengkuh bahuperempuan itu. Didekapnya erat. "Papa sangat percaya padamu, sayang. Namun di hari-hari belakangan ini perasaan papa sedang kacau. Gampang sekali murung dan maunya marah terus," keluh Fendy. "Mama tahu perasaan papa. Papa terlalu memikirkan Dewi." Fendy tidak menyahut. Dia membelai rambut istrinya dengan rasa haru. "Dewi bilang besok dia mau pulang ke Surabaya, temuin dia dan hantarkan ke stasiun kereta api. Kalau masih bisa dicegah, mama ingin bertemu dengannya. Mama ingin berbicara dengannya dari hati ke hati," kata Yeti lunak. "Apa yang mama ingin?" "Yang mama ingin agar dia mencintai papa. Menyayangi papa. Mama sudah merasa tak mampu lagi membahagiakan hidup papa," suara Yeti terdengar serak dan parau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD