-9-

831 Words
"Syuja?" tanya Farah dengan mata memicing. "Enggak ... maksudnya sudah ... biasanya kan kalau sudah makan—" "Nggak usah ngeles deh! Kamu pikir aku budeg?!" potong Farah galak, Luthfi mengusap tengkuknya, terlihat salah tingkah. "Syuja kenapa?" tanyaku. "Eh ... nggg ... " "Kamu nggak ngira aku budeg juga kan?" tanyaku lagi. Luthfi menunjukkan cengiran andalannya. "Apaan?" tanya Farah terlihat kian tertarik, dia menyuapkan suapan terakhir nasi sotonya, lalu menepikan mangkuk yang sudah kosong. Tangan kanannya sudah memegang lengan Luthfi, khawatir dia tiba-tiba kabur. "Mmm, bisa nggak ... kali ini aja, kalian pura-pura nggak dengar?" "Tiap ketemu bilangnya kali ini, kali ini ... kali ini terus!!" protes Farah, Luthfi memajukan bibir bagian bawah, membuatnya terlihat lucu. "Kalau nggak mau cerita, aku ikutin terus nih!" ancam Farah. "Ntar dibilang naksir aku loh!?!" "Bodo amat!" "s****n!" sungut Luthfi masam. "Buruan cerita!" desak Farah makin tak sabaran. Luthfi menghela nafas pasrah, seperti menyesali karena salah bicara tadi. "Tapi ... janji jangan bilang kalau aku yang cerita ya?!" Farah mengiyakan dengan cepat. "Biasanya Syuja akan pergi kalau sudah mastiin nggak ada yang perlu dikhawatirin lagi sama si Yayang." Farah dan aku saling memandang, lalu kami sama-sama menatap Luthfi. "Yaa ... contohnya pas tadi Yayang tiba-tiba keluar kelas setelah dikasih tahu Sania. Diam-diam Syuja turun dan ngikutin ke ruang OSIS." "Hah??" seruku kami berdua nyaris bersamaan. Baik aku ataupun Farah sama-sama terkejut. "Gimana kamu tahu kalau dia nyusulin ke ruang OSIS?" tanya Farah tak langsung percaya. "Aku kan ngikutin dia," jawab Luthfi yakin. Dia bahkan tanpa ragu menatap Farah lalu beralih padaku. "Dia berdiri di samping pintu, mastiin kalau nggak akan ada keributan. Begitu tahu kalau Yayang bisa handle situasi dan nyuruh Bita keluar, Syuja langsung cepat-cepat pergi." "Serius?" tanya Farah masih tak percaya. "Sumpah!" "Tunggu, sebenarnya waktu itu dia mau mastiin Kahi yang baik-baik aja atau si Bita?" "Ya Yayang lah! Ngapain si Bita?" "Kok ngapain?" Kali ini aku bertanya dengan rasa penasaran yang aku yakin sama besarnya dengan Farah. "Lah, dari awal dia keluar buat ngikutin kamu kok, Yang." "Ya kali kan, begitu tahu ternyata di dalam ruangan ada si Bita, terus akhirnya dia lebih khawatir si Bita kenapa-kenapa?" sahut Farah coba mencari celah. "Cewek kayak Bita sih nggak perlu dikhawatirin." "Kok gitu?" "Ya, dia kan bibit penerusmu, Fa!" Mendengar jawaban Luthfi, Farah sekali lagi refleks memukul lengan cowok . "Sakit tahu, Fa! Lupa kalau situ atlet voli?!" protes Luthfi sambil mengelus lengannya, Farah menjulurkan lidahnya meledek Luthfi. Bel tanda masuk tiba-tiba berbunyi nyaring, mendengar itu Luthfi langsung berdiri dan mewanti-wanti kami sebelum pergi. "Ingat ya ... jangan bilang kalau aku cerita ke kalian! Karena yang tahu cuma aku sama Syuja. Bintang aja nggak tahu." Tanpa menunggu respon kami, Luthfi langsung berlari meninggalkan aku dan Farah yang saling memandang bingung. "Kayaknya kapan-kapan kita perlu nyulik Luthfi deh, setuju nggak?" tanya Farah ketika kami sudah beranjak meninggalkan area kantin. "Buat apaan?" "Kamu nggak penasaran?" tanya Farah serius. "Penasaran apa?" "Syuja lah, apalagi?!?" sahutnya dengan nada antusias. "Aku sih belum sepenuhnya percaya apa kata Luthfi, tapi ... " Farah menggantung kalimatnya. "Tapi apa?" "Tapi dia sudah pake bilang sumpah segala. Meski anaknya banyakan nggak beres, tapi aku lihat dia tadi serius pas ngomong sumpah." Kali ini aku mengangguk setuju dengan ucapannya. Aku berjalan sambil menggandeng lengan Farah. Saat akan berbelok menuju tangga, dari arah luar gedung yang langsung menyambung dengan lapangan bola, aku lihat Bita dan Syuja jalan berdampingan. Jarak kami masih cukup jauh, dan kondisi juga cukup ramai oleh murid-murid yang berjalan kembali ke kelas masing-masing. Tapi aku bisa melihat mereka dengan jelas. Bita berbicara dengan menatap Syuja lekat, sedangkan tatapan Syuja bertemu denganku. Aku mengajak Farah mempercepat langkah sebelum dia menyadari apa yang kulihat. Sesampainya di depan kelas Farah, aku melepas gandengan di lengannya, pamitan lalu berjalan menuju kelasku. "Kahiyang!" Panggilan seseorang membuatku menghentikan langkah tepat di depan pintu kelas. Saat aku menoleh, Raka berlari menghampiri, memberi efek detak jantungku ritmenya semakin cepat. Apalagi sekarang???? Dia berhenti tepat di depanku, beberapa murid termasuk teman-teman sekelasku yang kebetulan masih berada di luar langsung memperhatikan kami. "Kamu bawa ponsel?" tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk tapi dengan ekspresi bingung. Apa maksudnya tiba-tiba datang menanyakan ponsel? "Boleh pinjam sebentar?" "Un-untuk apa?" tanyaku heran. Dia mengulurkan tangan kanan, tanda meminta. Mau tak mau aku mengeluarkan ponsel dari rok seragam, dan dengan ragu menyerahkannya. Raka nampak memencet beberapa nomor, lalu setelah menunggu beberapa saat dia mengembalikan ponselku. Syuja melintas begitu saja, melewati belakang Raka tanpa melihatku. "Ada yang mau aku omongin, jadi ... aku simpan nomormu tadi. Boleh aku telepon lain waktu?" Jelas saja pertanyaan Raka membuatku terkejut. "Boleh?" ulang Raka menatapku dengan sorot berharap, sialnya aku malah mengangguk pelan. Dia tersenyum lebar sebelum kemudian permisi kembali ke kelas. Kenapa tiba-tiba Raka bersikap seperti ini???? Pertanyaan itu terus melintas meski sosok Raka sudah tak lagi berdiri di depanku. Aku memasuki kelas masih dengan pikiran bertanya-tanya. Saat berjalan menuju tempatku duduk, Bintang, Luthfi, Iman dan Galih menatapku bersamaan. Sedangkan Syuja nampak tiduran di bangkunya. Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tatapan mereka??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD