-8-

916 Words
"Boleh duduk?" tanya Raka, aku melihat dia dan Farah gantian dengan sorot bingung. Tanpa menunggu jawaban dari kami, Raka tiba-tiba sudah duduk di samping Farah. "Yang dibicarakan Sania tadi kalian bukan?" Raka kembali bertanya tanpa basa-basi. Sikapnya seolah kami adalah kawan dekat yang sering menghabiskan waktu dengannya. Padahal ... seisi sekolah juga tahu, ada insiden apa antara dia dan aku setahun lalu. "Iya, apa urusannya sama kamu?" tanya Farah balik. Nada suaranya cuek, terkesan galak bahkan. Kali ini ganti aku meraih minumanku, melihat ke arah lain lalu menyeruput isinya perlahan. "Lagian, kesambet apa kamu?" Pertanyaan Farah membuatku refleks melirik mereka. "Hah?" Raka menoleh ke Farah dengan tatapan bingung. "Oooh," Raka sempat melihat Farah dan aku bergantian, sepertinya paham dengan maksud Farah, "apa aku ganggu?" "Iya," jawab Farah cepat tanpa pikir dua kali, Raka menatapnya tak percaya, lalu tatapannya beralih padaku seolah menunggu jawaban dariku. Aku memilih untuk tak menjawab dan kembali mengarahkan pandangan ke tempat lain. Tanpa aku sangka, Syuja terlihat duduk tak jauh dari tempatku. Ada Luthfi di sampingnya yang asik makan. Sorot tajam Syuja menatap lurus ke arahku, bahkan pandangannya tak beralih meskipun aku memergokinya. "Mmm ... oke, maaf kalau aku ganggu," kata Raka dengan nada sesal, membuatku spontan menoleh padanya. "Aku cuma pengen ngobrol aja," tambahnya sembari tersenyum padaku. Aku diam tak merespon, hanya memandangnya dengan rasa heran atas perubahan sikap Raka. Farah mengabaikan Raka dan memilih meneruskan makannya. "Mungkin lain kali kita bisa ngobrol," ucap Raka kali ini seraya berdiri, "aku pergi ya," pamitnya, lalu beranjak dari hadapan kami. Begitu Raka tak terlihat, Farah langsung bersuara dengan ekspresi sebalnya, "itu anak kesurupan kali ya?" tanya Farah sinis, aku mengedikkan bahu, pandanganku kembali ke arah Syuja berada. Dia masih menatapku tajam. "Maksud dia apa sih? Tiba-tiba nyamperin, tiba-tiba ngajak ngobrol? Dia lupa apa kalau udah jahat sama kamu?" tanya Farah sekali lagi dengan ekspresi kesal, "Kahi!" panggilnya ketika aku hanya diam. Mengerjap kaget, aku langsung menatap Farah dan tersenyum kikuk. "Kamu lihat apaan sih?" tanya Farah kesekian kalinya sambil mengikuti arah pandanganku tadi, "itu Syuja bukan?" sepasang matanya terlihat memicing. "Berarti aku nggak salah lihat," gumamku pelan. "Tumbenan itu anak nongkrong di kantin?" tanya Farah yang sudah menatapku dengan sorot heran. Aku diam sambil mengarahkan perhatian pada sisa siomay, mengaduk-aduknya tak jelas. Memang bukan hal yang biasa melihat Syuja ada di kantin, karena selama ini dia selalu menghabiskan jam istirahat di lapangan basket. Kalau Luthfi? Jangan ditanya, dia bisa ada di mana saja, tergantung mood. Kadang hari ini bisa bertemu di kantin, besok di perpus, besok lagi di lapangan basket, bahkan kadang dia menghabiskan jam istirahat di ruang UKS. Bukan karena ada keluhan sakit, tapi di ruang UKS tak ada yang mengganggunya saat main game atau membaca manga. "Ini hari pada kenapa sih? Nggak kamu, nggak Sania, nggak Raka ... sekarang tiba-tiba Syuja nongkrong di kantin?!?" "Udah buruan habisin!" pintaku sambil melihat mangkuk soto yang isinya tinggal sedikit. Farah beda sama aku, dia kalau makan bisa lahap dan cepat habis. Dari pengeras suara, lagu Katty Pery sudah berganti dengan Stereo Hearts milik Maroon 5. Aku segera melahap sisa siomay, bermaksud menghabiskannya dengan cepat lalu segera pergi dari kantin. "Yooo, selera musikmu keren, Kay!" sapa Anton, siswa kelas lain ketika hendak melewati kami, dia dan temannya mengacungkan dua jempol, aku tersenyum canggung. Aku rasa tanpa disebutkan nama, banyak murid di sekolah otomatis paham dengan siapa-siapa yang Sania maksud tadi. Reputasi Farah sudah semacam melegenda, sedangkan aku ... mereka semua tahu bahwa satu-satunya teman dekat Farah di sekolah cuma aku, begitu juga sebaliknya. Aku menusuk siomay terakhir dan melahapnya. "Menurutmu, kalau kita ketemu lagi sama si Arbita itu, dia bakalan berubah nggak?" tanya Farah, aku menatapnya lalu mengedikkan bahu. "Aku lagi merancang sesuatu nih kalau dia sampai nggak berubah." "Apaan lagi?" tanyaku heran. "Pokoknya yang bikin dia jadi lebih sopan sama senior." "Mungkin dia sopan sama senior yang lain. Kamu lihat sendiri, kemarin sore juga dia ada di tengah senior-seniornya." "Tapi itu senior cowok! Kadang kalau sesama cewek kelakuannya jadi beda." Aku tersenyum mendengarnya, dalam hati membenarkan ucapan Farah. Tanpa sengaja, netraku menangkap sosok Syuja berdiri lalu berjalan pergi meninggalkan Luthfi yang masih asik makan. "Kalau sampai kita ketemu dia lagi, kamu harus dipihakku!" perintah Farah, sepertinya dia masih kesal dengan kejadian di ruang OSIS. Aku menganggukkan kepala, lebih baik begitu daripada dia kembali mengomel panjang lebar. Farah menyuapkan sesendok nasi dan soto ke mulutnya, masih tersisa sedikit lagi. Sementara Luthfi kulihat sudah menyelesaikan makannya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh kantin, dan ketika tatapan kami bertemu, dia tersenyum lebar lalu bergegas berdiri menghampiriku dan Farah. "Aku pikir sudah pergi juga, Yang," sapa Luthfi ketika sudah berdiri di depanku, dia menoleh sekilas ke arah Farah lalu tanpa permisi langsung duduk di sampingnya. "Ini apa-apaan coba? Nggak permisi nggak apa, langsung main duduk aja!" "Permisi juga percuma ... tetep aja bangkunya kosong dan kamu nggak bolehin, kan?" "Ck!" decak Farah lalu lanjut makan. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat keduanya. "Lagu request-anmu keren, Yang." Luthfi memujiku seperti yang dilakukan Anton tadi. "Makasih," sahutku singkat dan tersenyum. "Aku pikir tadi sudah pergi, ternyata masih di sini," kata Luthfi lagi, mengulang kata-katanya sambil melirik ke arah Farah. "Emang mata kamu udah nggak bisa lihat?" tanya Farah galak, Luthfi menjambak pelan rambut Farah yang terurai, dan refleks Farah memukul lengan Luthfi, membuatnya menyeringai kesakitan sambil mengusap-usap bekas pukulan Farah. "Biasanya sih kalau Syuja ... eh, enggak-enggak," ralat Luthfi tiba-tiba seperti menyadari sesuatu. Sikapnya yang tiba-tiba membungkam mulutnya sendiri, membuat aku dan Farah menatapnya curiga. Dia jelas mau mengatakan sesuatu barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD