-7-

862 Words
Farah terlihat berjalan menuju arah kelasku ketika aku mencapai pintu kelas, begitu kami sudah cukup dekat, aku langsung mengajaknya ke kantin. "Marahku masih belum selesai loh," gerutu Farah saat kami jalan bersisian menuju kantin. "Sama siapa? Aku?" "Menurutmu?!?" tanyanya kesal, membuatku terkekeh mendengarnya. "Iya iya ... maaf." Farah mengerucutkan bibirnya. Si garang ini justru terlihat lucu saat melakukannya. "Aku tuh suka takut kalau kamu tiba-tiba jadi aktif ngomong." "Hah?" "Iya ... kayak tadi, tiba-tiba masuk ruang OSIS. Tiba-tiba banyak omong ... dan masalahnya, omonganmu nggak ada yang bisa dibantah." "Masak iya?" "Iya!!" serunya cepat. "Kamu tuh diem, jarang marah, jarang ikut campur urusan orang lain. Tapi kalau sudah mulai ngomong, aku nggak pernah bisa ngelawan." Aku tersenyum mendengar ocehan Farah. Setiba di kantin, suasananya lumayan ramai. Riuh tawa dan obrolan para siswa saling bersahutan. Tak jelas apa yang mereka bicarakan atau tertawakan. Beberapa siswi yang sempat terlihat melirik ke arahku dan berbisik-bisik satu sama lain, membuatku langsung mengerti kalau mereka pasti menjadikanku topik gosip. Tapi entah apa lagi kali ini, karena aku merasa tak melakukan apapun sejak kejadian setahun lalu. "Kamu mau makan?" tanya Farah menarik perhatianku kembali. Aku menggelengkan kepala, selera makanku rasanya mendadak lenyap. "Kenapa?" "Cuma pengen jajan." "Kalau gitu aku pesan makan dulu ya?" pamit Farah, aku menganggukkan kepala lalu kami berjalan terpisah untuk membeli apa yang ingin kami makan siang ini. Terdengar suara merdu Norah Jones menyanyikan What Am I To You dari pengeras suara. Setelah antri selama 5 menit, aku mendapatkan jajanan yang aku inginkan, dan mengedarkan pandangan mencari sahabatku. Farah mendapat tempat duduk agak di luar, aku menghampiri lalu duduk di depannya. Minuman kemasan dan jajanan siomay kuletakkan di tengah meja untuk kumakan bersama Farah, sembari menunggu pesanan Farah datang. "Hari ini, menurutmu aku ceriwis ya, Fa?" tanyaku ketika kami sudah duduk berhadapan. Farah mencermatiku sesaat sebelum menjawab. "Lebih banyak omong ... sedikit." "Beneran?" Farah mengangguk. "Malahan tadinya pas kita di ruang OSIS aku mau nanya, kamu sarapan apa pagi tadi." Aku tersenyum mendengarnya. "Memang ada apa? Kenapa?" sambung Farah penasaran. "Nggak ada apa-apa kok." "Nggak mungkin." "Beneran!" sanggahku coba meyakinkannya. "Nggak percaya." "Ya udah," kataku sambil memasukkan potongan siomay ke mulut. "Pasti ada sesuatu," selidik Farah belum mau menyerah. "Nggak adaaa," ulangku meyakinkannya dan tersenyum. Tatapan mata Farah masih tertuju padaku, aku pura-pura mengabaikannya dengan melihat ke sekeliling. Kali ini suasana kantin semakin ramai, nyaris tak ada bangku kosong. Setelah menunggu selama hampir 5 menit, pesanan soto Farah datang. Dia menawariku untuk makan bersamanya, tapi aku menolak. Lagu dari pengeras suara sudah berganti dengan lagu lama, Bicara Pada Bintang milik Rossa, penyanyi bertubuh mungil yang cukup banyak penggemar fanatiknya di sekolah kami. "Sania lagi galau apa gimana sih hari ini?" komentar Farah sembari mengunyah, "orang lagi istirahat, butuh semangat, harusnya kan diputerin lagu-lagu yang cheer-up gitu, bukan yang mellow­ begini. Nggak tahu apa, kalau habis ini anak IPA-1 pelajaran MaFiA sampai jam pulang sekolah!" Spontan aku terkekeh mendengar gerutuan Farah yang berapi-api. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponsel dari saku rok seragamnya, sepertinya akan menelepon seseorang. Begitu nomor yang dituju menerima teleponnya, dia menekan tombol speaker agar aku juga mendengar percakapan mereka. "Woy San ... nggak sekalian diputerin lagu mengheningkan cipta?" Aku refleks tertawa mendengar protesan Farah, begitu juga Sania, sosok yang ditelepon Farah. "Apaan sih, Fa?" tanya Sania setelah tawanya reda. "Bisa nggak, list lagumu ganti yang semangat?! Bentar lagi perang sama MaFiA nih!" "Mau denger apaan?" "Halo-halo Bandung San!" sahutku, kali ini Farah dan Sania tertawa karena ucapanku. "Serius, apaan? Bentar lagi lagunya habis." "Last Friday Night-nya Katty Pery dong!?" pinta Farah cepat. "Oke ... Kahiyang?" "Aku juga?" tanyaku terkejut. "Buruan!" "Mmm ... Stereo Hearts!" seruku lalu tertawa, Farah mendengkus geli melihatku. "Pake salam?" "Nggak ... pake serai aja!" sahutku menyebutkan bahan masakan, lagi-lagi Farah dan Sania tertawa bersamaan. "Ini anak lagi kesambet kayaknya!" kata Farah seraya melihatku dan menggelengkan kepala pelan. "Sip, tungguin ya!" Setelah itu sambungan telepon terputus, aku dan Farah sama-sama tersenyum. "Aku nggak bisa bayangin kalau dia beneran muterin Halo-halo Bandung!" ucap Farah sambil meletakkan ponsel di atas meja, membuatku terkekeh pelan mendengarnya. Tepat setelah itu, lagu Rossa selesai diputar dan terdengar suara renyah Sania. "Lagu berikutnya request dari Kakak senior tergalak dan temannya. Katanya, si Kakak yang galak ini habis istirahat mau perang sama MaFiA sampai pulang sekolah nanti." Aku dan Farah memasang telinga kami baik-baik. Farah terlihat santai saja mendengar bagaimana Sania menyebut dirinya. "Si Kakak galak minta diputerin lagu dari Katty Pery, temannya request lagu dari Maroon 5 feat. Travie McCoy. Kita dengar sama-sama ya temans!" "Oh ya ... jangan lupa menyapa si Kakak kalau papasan ya! Dan kita do'akan semoga si Kakak isi kepalanya nggak keburu meleleh pas pulang nanti! Kakak galak ... SEMANGAT!!" Kali ini aku tertawa mendengar seruan Sania. "Ini anak cari perkara!" gerutu Farah akhirnya. Lalu terdengar lagu dari Katty Pery yang diminta Farah tadi. "Kayaknya lagi seneng?" Tiba-tiba sosok Raka menyela dan sudah berdiri di samping kami. Farah yang sedang mengunyah makanannya sampai tersedak, dengan cepat tapi juga gugup, aku menyodorkan gelas berisi es teh miliknya dan dia langsung meminumnya sembari melotot ke arah Raka. Jujur saja, jantungku seperti mau melompat keluar melihat sosok Raka berdiri di depanku dengan senyum manisnya sekarang ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD