Esoknya.
Jam 06:15 WIB.
Aku baru saja sampai di lantai 3, lantai di mana ruang belajar kelas XII berada.
Suasana masih belum cukup ramai. Hanya ada beberapa siswa-siswi yang kebetulan meniti tangga bersamaku tadi.
Aku berbelok ke lorong untuk menuju kelasku yang letaknya tak terlalu jauh dari tangga. Lagi-lagi aku melihat Raka berdiri di depan kelasnya bersama dua orang temannya.
Dia melihatku, dan sama seperti kemarin, di luar dugaan Raka mengulas senyum padaku.
Aku yakin itu untukku, karena tak ada orang lain di belakang atau sampingku.
Refleks aku menundukkan kepala sambil mempercepat langkah agar segera melewati sosok Raka.
Dibuat terkejut kedua kali pagi ini, Raka tahu-tahu menghentikan langkahku dengan berdiri tepat di depanku, membuatku refleks mundur selangkah.
"Kahiyang?"
Aku tak menyahut, hanya membalas tatapannya sekilas sebelum kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Bukan pertanyaannya yang membuat jantungku berdetak makin kencang, tapi sikapnya ... yang mendadak seperti menyadari eksistensiku di sekolah ini.
Padahal masih jelas dalam ingatan, bagaimana dia meninggalkanku di ruang loker setahun lalu.
"Mm-maaf, aku ada piket kelas," jawabku tanpa melihatnya lalu bergeser ke kiri dan bergegas melewatinya.
Aku tak tahu seperti apa wajahku sekarang, yang jelas rasanya panas, mungkin ronanya bahkan berubah jadi merah.
Saat memasuki ruang kelas, kulihat Luthfi dan Galih duduk di bangku mereka. Iman yang dapat jadwal piket denganku hari ini sepertinya sudah datang, meski sosoknya tak ada di kelas, tapi aku lihat ranselnya ada di atas meja.
"Pagi, Yang!" sapa Luthfi ketika melihatku berjalan masuk, aku membalas dengan tersenyum tipis.
"Weh, pagi Ja!" sapa Luthfi lagi, saat kutoleh ke belakang, rupanya ada Syuja yang jalan hanya sekitar empat langkah di belakangku.
Entah sejak kapan dia ada di sana.
Aku bergegas ke bangku dan menaruh ransel.
"Yang!" Iman memanggilku dengan membawa perlengkapan piket.
"Aku ke ruang guru," lanjutnya setelah menyerahkan sapu, penebah dan taplak meja padaku.
Dengan cepat, Iman berjalan keluar kelas sementara aku mulai melakukan tugasku.
"Ngapain Fi? mau nyari muka ya?" tanya Galih waktu aku menghapus white board.
Kepalaku refleks nengok dan mencari sosok Luthfi.
Dia rupanya sedang memeriksa laci-laci meja, biasanya ini dilakukan untuk mengeluarkan sampah-sampah kertas yang tertinggal di sana.
"Nyari muka ndasmu! Ini tuh lagi nyari sampah!" sahut Luthfi sembari terus memeriksa laci meja yang lain.
"Kan udah dibersihin sama yang piket sore!" bantah Galih yang dicuekin Luthfi.
Waktu kami bertemu pandang, Luthfi malah tersenyum lucu.
"Jangan ngelarang orang yang lagi nabung pahala ya, Yang!" ujarnya seolah tahu apa yang ingin kukatakan pada Luthfi.
Tersenyum canggung, aku akhirnya membiarkan Luthfi melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Setelah membersihkan white board, meja guru dan memasang taplak meja, aku mulai menyapu kelas.
Setiap hari tugas piket kelas kami dibagi menjadi 3 shift. Piket pagi dikerjakan 2 orang, piket siang dikerjakan 2 orang saat jam istirahat akan selesai, dan piket sore setelah jam pelajaran berakhir juga dikerjakan 2 orang.
Iman kembali dengan membawa buku-buku milik Bu Widya yang akan mengajar di jam pertama. Di belakangnya, Sania sedikit berlari kecil. Langkahnya terhenti ketika melihatku.
"Kahi ... ke ruang OSIS gih!" seru Sania dengan ekspresi serius.
"Kenapa?" Aku menghentikan kegiatan menyapu yang belum ada separuh kelas.
"Farah ...,"
Begitu Sania menyebut nama Farah, entah kenapa aku langsung teringat dengan perkataannya kemarin sore.
Aku menoleh mencari Iman yang sedang menata buku di meja guru. "Iman!" panggilku, dia menoleh dengan sorot bingung. "Bisa gantikan aku sebentar?" tanyaku.
"Kenapa, Yang??" tanya Luthfi yang sudah duduk di bangkunya, Galih dan Syuja ikut memperhatikan, aku menggeleng lalu kembali melihat Iman.
"Ada apa?" tanya Iman yang juga sama penasarannya.
"Bentar aja, ya?" pintaku tanpa memberi jawaban, sembari menyodorkan sapu yang kupegang.
Iman mengulurkan tangan dengan ekspresi bingung.
Begitu sapu sudah berpindah ke Iman, aku langsung bergegas keluar kelas, sedikit berlari karena ruang OSIS ada di lantai dasar.
Sesampainya di depan ruang OSIS, pintu ruangan tertutup tapi aku bisa mendengar suara Farah. Dia sedang memarahi seseorang. Aku membuka pintu pelan, dan seperti dugaan, dia sedang memarahi Arbita. Di sampingnya ada Meta siswi kelas IPS-2 dan Hana siswi kelas XI, mereka anggota OSIS juga, satu divisi dengan Farah.
Ketiganya menoleh ke arahku secara bersamaan. Aku menatap Farah, lalu melihat Bita yang juga tengah menatapku dengan ekspresi biasa saja. "Ada apa?" tanyaku pada Farah yang berdiri di depan Bita, Meta dan Hana sedikit menepi ketika melihatku mendekat.
"Pagi, Kay."
"Pagi, Kak," sapa Hana bersamaan dengan sapaan Meta teman seangkatanku, aku tersenyum membalas sapaan mereka.
"Nggak ada apa-apa, cuma ngajarin anak ini," kata Farah menunjuk Bita dengan matanya yang menyorot garang.
"Dengan marah-marah?" tanyaku lagi
"Dia dibilangin baik-baik nggak mau dengar."
"Tapi nggak selesai dengan bentak-bentak juga kan?"
Farah mendengkus kesal tanpa mengatakan apapun. Dia jelas tahu kalau aku tak suka dengan caranya.
"Maaf Fa, kalau ini masa MOS, aku nggak akan ikut campur. Tapi MOS kan sudah lewat."
Farah melipat kedua tangannya, jelas sekali kalau dia menahan diri.
"Kamu ... Arbita?" tanyaku pada sosok yang berdiri angkuh di depan Farah.
Bita mengangguk dan menatapku lekat.
"Kamu tahu kenapa dibawa ke sini?"
"Karena nggak kasih salam," jawabnya singkat dan terlihat enggan.
Jelas saja Farah sebal setengah mati ngadepin dia.
"Kamu tahu itu tradisi di sekolah kita?"
"Tahu."
"Terus, kenapa nggak kamu lakukan?"
"Karena aku nggak kenal."
"Ini anak!" Farah terlihat geram bukan main, tanganku sontak menahannya untuk tak mendekati Bita.
Melihat respon angkuh dari Bita, tanpa sadar aku menghela nafas panjang. Ternyata dia tak seramah kesan pertamaku dulu.
"Tapi kamu tahu dia seniormu kan?" Bita menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaanku yang kesekian. "Kenal atau tidak, kalau kamu tahu dia senior, kamu tetap harus menyapa. Itu yang diajarkan saat MOS."
"Aku nggak ikut MOS."
Responnya sontak saja membuatku istighfar dalam hati, heran sekaligus gregetan.
Aku memejamkan mata selama beberapa detik dan menghela nafas lagi. Mencoba mengendalikan emosi agar tak tersulut.
"Ikut atau tidak ikut MOS, kalau kamu sudah terdaftar jadi siswa sekolah ini, artinya kamu juga harus paham, tidak hanya peraturan sekolah tapi juga tradisi antar siswa."
Bita hanya diam sambil menatapku.
"Kamu tahu maksudku barusan?" Aku coba memastikan apakah dia paham dengan perkataanku.
Kepalanya cuma mengangguk singkat.
Karena tak tahu harus bicara apa lagi, akhirnya aku menyuruh Bita untuk keluar.
Meta dan Hana menyusul berpamitan setelah Bita keluar, sementara Farah menatapku kesal.
"Ayo." Aku mengajaknya keluar juga dari ruang OSIS.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, Farah terus menggerutu karena kekesalannya masih belum tersalurkan sepenuhnya.
Jujur saja, aku juga sedikit merasa kesal saat menghadapi Bita tadi, tapi aku tak bisa seperti Farah, yang bisa menunjukkan emosinya ketika marah.
"PMS?"
Pertanyaan seseorang waktu kami meniti tangga, membuatku dan Farah sama-sama menoleh dan menemukan Bintang selisih tiga anak tangga di bawah kami.
"Mulutnya ya!" semprot Farah galak, sepertinya dia menemukan tempat yang tepat untuk melampiaskan amarahnya pada Bita yang tak tersalurkan.
"Mulutmu itu, pagi-pagi sudah cemberut."
"Iiiissshh!!"
Bintang justru mendengkus geli disemprot Farah, lalu mempercepat langkahnya melewati kami.
"Dasar biang kerok!!"
Tanpa menoleh ke belakang, Bintang malah melambaikan tangan ke kami usai mendengar olokan Farah.
Setibanya di lantai 3, bel masuk sekolah berbunyi. Aku dan Farah berpisah di depan kelasnya.
Iman terlihat berjalan dari ruang perlengkapan yang ada di dekat lorong kamar mandi, sepertinya baru selesai mengembalikan peralatan piket, aku bergegas menghampirinya.
"Maaf ya, Man?" ucapku dengan nada menyesal ketika sudah berada di depannya.
"Nggak apa-apa Yang, santai aja," sahut Iman sambil tersenyum ramah.
"Minggu depan aku gantiin semuanya," janjiku karena merasa tak enak.
"Nggak usah Yang, santai ... kan minggu lalu aku juga telat datang, jadinya kamu yang ambil peralatan piket," hiburnya tapi membuatku makin tak enak hati.
Murid-murid sudah berbaris di depan kelas masing-masing. Aku dan Iman langsung masuk ke barisan di depan kelas kami.
Di kelas ini, rasio cowok dan cewek sangat tidak berimbang. Rasionya 1 : 5, hanya ada 5 cewek dari total 30 murid.
Saat berbaris, terlihat sekali ketimpangan barisan di kelas kami. Jika di kelas lain ada hingga 4 barisan dengan panjang barisan yang hampir sama panjangnya, maka di kelasku hanya ada 3 barisan. 1 barisan cewek, dan 2 barisan cowok. Posisi barisan cewek ada di bagian tengah.
Yudha yang memimpin barisan nampak bercanda dengan Bram yang berdiri di depannya.
"Tadi ada apa, Yang?" tanya Galih yang ada di sampingku.
"Memang ada apaan?" sahut Bintang yang berdiri di belakang Galih.
"Seru bro! Makanya jangan kebiasaan datang siang!" sahut Luthfi dari barisan lain.
Aku menoleh ke arah Luthfi, tapi secara tak sengaja mataku tertuju ke Syuja yang berdiri paling belakang.
Dia bersandar di tiang penyangga sembari melipat kedua tangannya di d**a, kedua matanya menatapku tajam, refleks aku langsung berbalik dan menghadap ke depan dengan jantung berdetak lebih kencang.
"Ada apa sih?" ulang Galih.
"Nggak ada apa-apa kok," jawabku sambil coba tersenyum.
"Terus kenapa tadi pakai lari-lari ke ruang OSIS?" tanya Galih lagi.
"Ngapain? Ada apa di ruang OSIS?" Kali ini Salman yang penasaran, aku menggelengkan kepala dan masih tersenyum.
Cowok-cowok ini, kalau sedang penasaran tak ada bedanya dengan kaum cewek.
Begitu Bu Widya terlihat dari kejauhan, teman-temanku yang tadinya bercanda seketika merapikan barisan. Dan saat beliau sudah berdiri di depan, Yudha langsung memberi aba-aba ke barisan pertama untuk masuk kelas.
Satu per satu dari kami maju, mencium punggung tangan Bu Widya dan masuk kelas. Ini adalah kebiasaan di sekolah kami sebelum jam pelajaran mulai.
Kalau kata Pak Damar, ini salah satu cara menanamkan rasa hormat siswa ke guru.
Setelah semua masuk ke kelas, biasanya dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin Pak Salim, guru pelajaran Agama kami melalui pengeras suara. Begitu selesai, baru pelajaran dimulai.
Selama pelajaran, aku bisa merasakan Syuja terus melihatku, bahkan kupergoki beberapa kali dia melakukannya dan sama sekali tak merasa canggung saat ketahuan, justru aku yang merasa kikuk karena sikapnya.
Saat aku memberanikan diri untuk bertanya ada apa, dia tetap menatapku dalam diamnya, tak menjawab sepatah katapun. Karena kesal, aku memutuskan memunggunginya seperti biasa.
Begitu jam pergantian pelajaran, aku kembali memberanikan diri berbalik dan menghadap ke Syuja.
"Ada apa?" tanyaku, Syuja yang sedang mengganti buku pelajarannya melihatku dengan ekspresi terkejut. Bintang dan Luthfi sempat menengok ke belakang sebentar.
"Apa?" tanyanya balik. Raut wajahnya sudah kembali datar.
"Tadi ... kenapa lihatin aku?"
Dia diam beberapa detik sambil menatapku, lalu kembali sibuk dengan ranselnya.
Karena gemas dengan respon Syuja, aku menarik lengan bajunya, bermaksud minta penjelasan. Bukannya menjawab, dia memilih tetap asik dengan aktivitasnya, tapi aku bisa melihat senyum di sudut bibirnya.
"Ada apa?" ulangku kian penasaran, tangan kananku masih menarik lengan bajunya pelan.
Aku tahu sikapku sedikit berubah, terutama setelah Syuja mengantarkanku pulang sore itu. Ada sedikit keberanian yang muncul dalam diriku untuk bicara dengannya.
Dia menaruh buku pelajaran Sejarah di meja lalu menoleh padaku. "Nggak ada apa-apa."
Aku menatapnya dengan mata agak memicing, merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan.
"Kalian benar-benar bikin aku patah hati!" perkataan Galih menyadarkanku bahwa saat ini aku dan Syuja sedang beradu pandang.
Aku segera melepaskan tangan dari lengan kemeja Syuja dan mengambil ranselku.
"Hari ini sebenarnya ada apaan sih? Kayaknya aku ketinggalan banyak!?" tanya Bintang, dia menoleh padaku dan Syuja, lalu berganti ke Luthfi dan Galih.
"Ceritanya panjang," sahut Luthfi, aku pura-pura sibuk mengubek isi ransel dan mencari buku catatan Sejarah.
"Apaan?" Bintang merapat ke Luthfi.
"Issh!! Jangan dekat-dekat ... haram!"
"Kamu kira aku babi?!!" Bintang menoyor kepala Luthfi karena tak terima dengan respon teman sebangkunya itu.
"Bukan babi, tapi anjing!" sahut Wisnu.
"Najis!" seru Bintang.
"Wudhu bro!" timpal Wisnu lagi.
"Setan!" balas Bintang.
"Oke jin!" sahut Wisnu tak mau kalah.
"Berisik kalian makhluk astral!" protes Salman.
"Iblis nggak usah sok protes deh! Ku Yasiin-in kalian semua baru tahu rasa!" seru Luthfi dengan ekspresi galak yang dibuat-buat.
"Sok mau ngaji, huruf Hijaiyah aja tahunya cuma Alif," ledek Galih yang langsung mendapat lemparan penghapus karet dari Luthfi.
Aku lega mereka tak merespon pertanyaan Bintang tadi.
Kulirik cowok di sebelahku, dia sudah dalam posisi setengah berbaring. Kepalanya miring, menghadap padaku, dan lagi-lagi dia sedang menatapku.
"APA?" tanyaku tanpa suara, khawatir menarik perhatian yang lain lagi.
Syuja mengambil sticky notes milikku yang biasa aku letakkan di meja. Dia menuliskan sesuatu, lalu menyodorkannya padaku.
"Tumben hari ini cerewet??"
Aku memelototkan mata membaca tulisannya, menoleh padanya tapi dia sudah memejamkan mata. Membuatku menggigit bibir karena kesal.
Dan sepanjang jam pelajaran Sejarah, aku sengaja mengabaikan Syuja.
Begitu juga ketika Bu Lily memanggilnya karena ketiduran saat pelajaran Kimia berlangsung, aku sengaja sama sekali tak membangunkannya. Sampai dia mendapat teguran dari beliau.
Begitu bel istirahat berbunyi, aku cepat-cepat merapikan meja lalu jalan keluar kelas.
Tujuanku satu, menghindari Syuja yang masih saja menatapku dalam diamnya.