-5-

1840 Words
Aku menghabiskan jam istirahat di rooftop siang ini. Farah sedang ada latihan voli, dia dan timnya nampak latihan di lapangan sisi timur. Di sebelah selatan dari lapangan voli, lapangan basket juga terlihat ramai, Syuja dan teman-temannya sedang seru bermain disoraki oleh siswi-siswi yang sebagian besar adalah fans Syuja dan Bintang. Sedangkan di sebelah selatan gedung, tepatnya di lapangan sepak bola juga terlihat sama ramainya dengan lapangan basket. Aku menumpukan dagu di kedua lengan yang kulipat di atas tembok pembatas setinggi d**a. Pandanganku terarah ke lapangan sepak bola di sisi kanan. Sosok Raka terlihat lincah menggiring bola diiringi sorak sorai dari siswi-siswi yang berdiri di pinggir lapangan. Ada sosok Tania di antara mereka. Ketika Raka berhasil mencetak gol, teriakan dari siswi-siswi itu semakin histeris. Aku bisa melihat Raka tersenyum dengan jelas meski dari atas, lalu tanpa kuduga Raka mengangkat kepala dan pandangannya langsung tertuju padaku. Selama 3 detik, tanpa sengaja kami saling menatap. Saat tersadar, aku langsung bergerak, mengalihkan pandangan ke lapangan basket yang ada tepat di depanku. Luthfi yang tak ikut main terlihat berteriak heboh ketika Bintang mengoper bola ke Wisnu. Di pinggir lapangan, aku lihat Syuja duduk mengamati permainan, ada Bita yang juga duduk tepat di sampingnya. Bita terlihat berbicara sambil menatap Syuja, sedangkan tatapan Syuja sendiri tak lepas dari teman-temannya yang ada di dalam lapangan. Terdengar lagu lama milik Bryan Adams berjudul Here I Am. Entah kenapa aku menghela nafas panjang dengan kepala masih bertumpu pada kedua lengan. Aku mengalihkan pandangan ke lapangan voli, Farah terlihat bersemangat latihan hari ini. Senyumku tersungging ketika smash yang dia lakukan menghasilkan poin. Melompat puas, Farah melakukan high five dengan teman-teman setimnya. Selama beberapa menit aku menghabiskan waktu dengan memperhatikan aktivitas Farah. Saat aku melihat ke lapangan basket, nampak Bita yang duduk begitu dekat dengan Syuja sedang menyodorkan botol minuman. Syuja menerima dan meminumnya, Bita terlihat tersenyum. Mataku dan Syuja sempat bertemu ketika dia sedikit menengadah untuk minum. Aku kembali menghela nafas lalu dengan cepat membalik badan. Ternyata menghabiskan waktu istirahat di rooftop hari ini bukan ide yang bagus. Ada perasaan asing bergelung dalam hatiku. Andai saja Farah bersamaku sekarang, bukan aku ingin mengeluh tentang suasana hati yang buruk, aku hanya ingin dia di sampingku. Mendengarkan Farah yang bercerita tentang banyak hal seperti biasanya, aku rasa akan jauh lebih baik dibandingkan berdiri sendiri seperti ini. Aku memutuskan segera kembali ke kelas meski jam istirahat masih tersisa 10 menit. Suasana tak begitu ramai ketika aku tiba di kelas. Hanya ada beberapa teman sekelas yang memilih menghabiskan jam istirahat di dalam. Setelah duduk di bangku, aku meraih buku paket yang ada di laci meja dan membuka-buka halamannya. Hari ini suasana hatiku entah kenapa terasa begitu buruk. Aku masih bersemangat ketika Ibu mengantarku pagi tadi. Sampai ketika aku berjalan masuk kompleks sekolah, sepasang mataku menangkap sosok Arbita yang terlihat berjalan sambil bergelayut manja di samping Syuja. Aku sengaja mempercepat langkah dan melewati keduanya. Entah kenapa, aneh rasanya menyaksikan sosok teman sebangku yang terkenal dingin itu sedang digandeng oleh lawan jenis dengan begitu manja. Saat berjalan menuju ruang kelas, kulihat Raka berdiri di depan kelasnya, asik bicara dan bercanda dengan teman-temannya. Kami bertemu pandang, tapi yang di luar dugaan, waktu aku hanya berjarak 4 langkah, dengan jelas dia masih bertahan melihatku walau tak mengatakan apa-apa. Aku refleks menundukkan kepala dan melewatinya. Aku rasa, ini pertama kalinya Raka menatapku terang-terangan setelah kejadian setahun lalu. Dan selama pergantian jam pelajaran pagi tadi, Luthfi beberapa kali menanyakan apakah aku sehat, aku hanya menganggukkan kepala tanpa berkata sepatah katapun. Moodku mendadak memburuk, dan aku enggan bicara banyak hari ini. Untuk kesekian kalinya, aku menghela nafas panjang, lalu menutup buku paket yang ada di depanku. Kepalaku rebahan di lengan kanan yang terlipat di atas meja, sementara tangan kiriku memainkan ujung buku. Suara Galih dan Iman terdengar dari luar kelas, disahuti suara tawa dari teman-temannya yang lumayan keras. Aku memejamkan mata dan lagi-lagi menghela nafas. Terdengar beberapa langkah kaki yang berjalan menuju arahku tak lama setelahnya. "Yang?" Mendengar seseorang memanggil, spontan aku membuka mata, dan terlihat Galih dan Iman yang sudah duduk di bangku tengah menatapku. "Kamu kenapa, Yang?" tanya Luthfi yang juga sudah berdiri di samping mejaku. Aku tersenyum dan menggelengkan kepala pelan. Kurasakan seseorang duduk di sampingku tanpa berkata apapun. "Kamu sakit, Yang?" tanya Bintang yang mengambil ancang-ancang duduk di bangkunya. Aku mengangkat kepala dan membenahi posisiku hingga kembali duduk tegak. "Nggak," jawabku singkat dan tersenyum. "Tadi sempat makan? Mau aku beliin sesuatu di kantin?" tanya Luthfi, dia sudah duduk di bangkunya. Badannya dimiringkan sehingga bisa melihatku dengan jelas. Aku menolak dengan menggelengkan kepala. Bersamaan dengan itu, bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring. Sania yang melakukan siaran radio menutup siarannya dengan kalimat andalannya. "Jangan lupa bahagia!" Aku mengeluarkan alat tulis, diiringi tatapan cowok-cowok ini yang masih tertuju padaku. Sama seperti tadi, sepanjang jam pergantian pelajaran Luthfi berkali-kali menanyakan kondisiku, dia juga coba mengajakku bercanda. Aku hanya merespon sekenanya. Sementara Syuja sama sekali tak bersuara. Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, setelah merapikan barang-barang, memastikan tak ada yang tertinggal di laci meja, aku langsung berdiri dan bergegas pergi. Sampai di depan kelas, Arbita sudah menerobos masuk ke kelas kami. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum, bisa kupastikan senyumannya ditujukan untuk Syuja. "Cepet bener sudah sampe sini? Kamu naik buroq ya Bit?" tanya Salman, terdengar Bita tertawa renyah. Aku mempercepat langkah keluar kelas. Farah sudah menunggu seperti biasa di luar. "Tadi istirahat di mana? Kok nggak kelihatan di bangku taman dekat lapangan?" tanyanya dengan wajah penasaran. "Aku di rooftop." "Pantesan!" Kami berjalan beriringan. Saat menuruni anak tangga, seseorang menyenggolku karena hendak mendahului. "Sorry!" katanya cepat. Saat kutengok, Raka tersenyum padaku. "Duluan ya!" pamitnya lalu melewatiku. Aku masih terbengong dan berhenti di tengah anak tangga. Sepasang mataku terpaku melihat sosoknya yang menuruni tangga dengan cepat lalu menghilang. "Nggak salah itu tadi?" tanya Farah, "habis kena bola kali kepalanya ya?" Aku menggeleng bingung lalu melanjutkan langkah menuruni tangga, diikuti Farah yang masih bergumam dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sama dengan keherananku. "Apa sebelumnya dia pernah nyapa kamu?" Aku menggelengkan kepala. "Terus, kenapa tiba-tiba dia pakai acara pamit begitu?" "Entahlah," jawabku yang juga masih keheranan dengan sikap Raka. Kami memasuki ruang loker yang masih lumayan ramai. Letak lokerku dan milik Farah berjauhan, jadi begitu masuk ruang loker, kami berpisah karena posisi loker kami berlawanan arah. Aku menatap kosong lokerku selama beberapa detik, lalu mulai mengeluarkan buku-buku dalam ransel. "Kamu kenapa?" tanya seseorang tiba-tiba dari arah samping. Terus terang aku sangat terkejut ketika suara yang kukenal terdengar begitu dekat. Syuja, tanpa aku sadari sudah berdiri di sampingku, hanya berjarak 1 langkah. Aku mengerjap dengan bibir terkatup rapat. Sejak kapan dia berdiri di dekatku, jelas jadi pertanyaan besar di benakku. Karena aku sama sekali tak melihat keberadaannya tadi. Dan setahuku juga barusan aku melamun tak selama itu. "Kenapa?" ulangnya sembari menatapku tajam, aku meresponnya dengan menggelengkan kepala. Setelah menyimpan buku-buku dalam loker, dan hanya membawa beberapa buku yang memiliki tugas rumah, aku menutup loker dan menguncinya. Syuja diam mengamatiku. Masih tanpa bicara sepatah kata, aku pergi meninggalkannya yang masih bertahan berdiri di tempat yang sama. Tepat ketika aku mencapai pintu ruang loker, Farah muncul sembari membetulkan resleting ranselnya. Aku langsung mengajaknya untuk segera keluar dari ruang loker. Di dekat gerbang sekolah, kulihat teman-teman Syuja bergerombol. Beberapa duduk di atas motor masing-masing. Luthfi terlihat duduk di motor yang aku tahu itu milik Syuja, ada Bita berdiri di sampingnya. Sementara di luar gerbang, beberapa siswi dari sekolah lain terlihat berulang kali melemparkan pandangannya ke area dalam sekolah. Sepertinya mencari Syuja, karena mata mereka tertuju ke kumpulan teman-teman Syuja. "Yang!" panggil Luthfi ketika melihatku, tangan kanannya melambai-lambai dengan ekspresi wajah ceria. "Ngapain manggil-manggil?" semprot Farah galak. "Dih, aku manggil Yayang kenapa kamu yang nyolot?" Farah mencibir, sementara Bita melihatku dan Farah bergantian. "Anak kelas X kan kamu?" tanya Farah tiba-tiba pada Bita, satu-satunya cewek yang ada di tengah teman-teman cowok sekelasku mengangguk enggan. "Kamu tahu kan kami kakak kelasmu?" Farah menunjuk dirinya dan aku menggunakan sorot mata, Bintang dan yang lain melihat Farah, seakan paham apa yang Farah maksud melalui pertanyaannya. "Matiiii," gumam Salman yang terdengar cukup jelas di telingaku. "Iya," jawab Bita dengan nada dan ekspresi tak peduli. Wah, dia pasti belum tahu siapa Farah. Bahkan senior kami dulu pun takut dengan Farah. "Kalau tahu kenapa diam saja?" tanya Farah dengan nada agak naik, aku memegang lengan Farah, bermaksud untuk menahannya agar tak emosi. Aku tahu, Farah paling tak suka kalau ada adik kelas yang tak menyapa kakak kelas. Menurutnya, menyapa senior bukan hanya sebagai tanda hormat, takut atau segan. Tapi itu juga menunjukkan kalau antara senior dan junior memiliki ikatan meskipun tak saling kenal dekat. Karena itu, dia dikenal sebagai senior paling galak di sekolah saat ini. "Santai Fa, kali aja tadi dia mau nyapa tapi keburu kamu tanyai," kata Bintang mencoba menenangkan, Farah menatap Bintang dengan raut garang. "Nggak usah ngamuk, aku cuma nebak, bukan bela dia," sambung Bintang menahan senyum. Bintang memang jarang bicara, tapi dia tak sependiam Syuja. Setidaknya itu menurut pengamatanku. "Udah yuk!" ajakku sambil menyeret Farah, tapi dia bertahan. "Ada apa?" tanya Syuja yang tiba-tiba sudah berada di belakangku. "Mas dari mana aja?" tanya Bita sembari jalan melewatiku dan Farah, dan lagi-lagi kulihat dia dengan santainya meraih lengan Syuja. "Kami duluan," pamitku singkat lalu menarik Farah dan mengajaknya pergi. "Ajarin tuh bocah sopan santun!" gerutu Farah pada Syuja dan teman-temannya, lalu mengikuti ajakanku dengan terpaksa. "Siap Bu!" sahut Salman cepat, Farah mendengkus kesal mendengarnya. "Dasar junior kurang ajar. Udah tahu ada senior di depannya malah diam aja. Ya kan, Kahi?" Aku tersenyum melihat kekesalan Farah. "Mungkin dia nggak berani nyapa karena sudah tahu reputasimu lebih dulu," ucapku coba mengajaknya bercanda. "Mana mungkin! Kalau tahu aku galak kan harusnya malah cepat-cepat kasih salam! Bukannya matung apalagi dengan tampang sok begitu!" "Iya iya ... mungkin dia nggak tahu. Kan seniornya banyak," bujukku berusaha tetap terdengar tenang. Farah mencibir, membuatku tersenyum melihatnya. Kami duduk di bangku halte yang tak begitu ramai sore ini, menunggu bus yang biasa kami tumpangi. "Besok, kalau ketemu dan masih songong kayak tadi, kukasih pelajaran itu anak!" amarah Farah nampaknya masih belum reda karena sikap Bita. "Memang dulu waktu kegiatan MOS kamu nggak ketemu dia?" tanyaku akhirnya. "Dia nggak ikut MOS. Kalau ikut, pasti sudah kutandai itu anak ... dan sudah kukasih pelajaran." "Pantesan." Aku menggumam sambil mengingat kembali bagaimana sikap Arbita. "Besok ... lihat aja, pasti kucari dia." "Jangan bikin masalah," ingatku agak cemas. Sebab aku tahu, Farah paling kaku untuk urusan beginian. "Ini bukan bikin masalah, tapi aku mau ajarin dia kalau sama senior harus sopan!" sahut Farah berapi-api. Kalau dia sudah begini, aku tak bisa bicara banyak. Yang ada, emosinya akan makin menjadi, karena itu aku memilih diam. Bus yang kami tunggu datang dengan kondisi lumayan penuh, kami segera masuk dengan tiga orang siswa yang juga menunggu di halte bersama kami tadi. Menyisakan sekitar lima orang di luar, mungkin mereka naik bus jalur lain. Aku duduk di pinggir jendela seperti biasa. Saat bus masih menunggu penumpang, rombongan motor Syuja dan teman-temannya terlihat melintas melewati bus yang masih bertahan di halte. Tanpa sadar, aku menghela nafas berat begitu sosok Syuja tak terlihat lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD