Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 16:07 WIB, aku melangkahkan kaki memasuki cafe tempat aku dan Raka janji akan bertemu. Suasana dalam cafe tak begitu ramai, dengan mudah aku bisa menemukan keberadaan Raka. Dia melambaikan tangan dan tersenyum ketika melihatku. Senyum itu ... Senyum yang bisa membuatku ikut tersenyum meskipun hanya kulihat dari jauh selama ini. Aku menghampiri dan mengucapkan maaf karena membuatnya menunggu, Raka menggeleng lagi-lagi dengan tersenyum. Dia menawari untuk memesan minuman, tapi aku menolak, aku pikir tak butuh waktu lama untuk bicara dengannya. Toh, tak ada topik yang bisa kami bahas hingga berjam-jam karena kami tak perah berinteraksi selama ini. Kami duduk di dekat jendela, tempat yang berseberangan dengan tempat duduk yang pernah aku tempati

