10. Calon Suami?

1110 Words
10. Calon Suami? “Hai.” Laura langsung melebarkan kedua bola matanya begitu menolehkan kepala, dan melihat siapa orang yang baru saja menyapanya. “Lho? Bukankah seharusnya kau ....” “Sudah pulang ke Jakarta?” tebak Adam dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Laura hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Kepulanganku ke sana sudah resmi dibatalkan.” “Kenapa?” tanya Laura. “Karena aku masih ingin liburan.” Adam tampak menyeringai kecil di akhir jawabannya barusan. Laura kontan mendengkus samar begitu mendengarnya. “Alasan,” cibirnya secara terang-terangan, yang membuat Adam jadi terkekeh pelan. “Come on, Ra. Aku tahu kau sedang butuh teman. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu di sini sendirian?” Selama tiga hari ini, Adam dan Laura menjadi sangat dekat. Dari sanalah, Adam bisa merasakan kalau sesungguhnya wanita itu sedang merasa kesepian. Bahkan, Laura juga tidak pernah terlihat merasa keberatan setiap kali ia ataupun salah satu dari sepupunya datang menghampiri wanita itu saat dia sedang duduk sendirian. Entah apa yang membawa Laura datang sekaligus liburan ke tempat ini seorang diri, tapi Adam bisa merasakan kalau ada hal yang tidak beres sedang terjadi. Meskipun begitu, Adam sama sekali tidak berani untuk bertanya langsung kepada Laura. Namun, ia cukup peka, sehingga ia pun memutuskan untuk tidak meninggalkan wanita itu begitu saja. Laura lantas menghela napas pelan. “Seharusnya kau tidak perlu repot-repot untuk melakukan hal ini, Dam.” “Aku sama sekali tidak merasa direpotkan.” Adam menyahut dengan cepat. “Pekerjaanmu di Jakarta pasti sedang menumpuk sekarang,” sambung Laura sambil memelankan nada suaranya. “Tidak masalah,” ucap Adam sembari menggelengkan kepalanya. “Orang kepercayaanku masih bisa meng-handle-nya.” Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara. Tetapi, Adam berinisiatif untuk segera mencairkan suasana. “Sooo, hari ini kau ingin pergi jalan-jalan ke mana? Aku bisa menemanimu seharian, itu pun kalau kau tidak merasa keberatan.” *** Nyaris seharian ini Laura dan Adam benar-benar pergi jalan-jalan berdua, mereka berkeliling ke berbagai tempat wisata sambil menikmati berbagai macam kuliner yang ada. Hingga akhirnya, keduanya pun berakhir dengan bersepeda sembari menunggu matahari terbenam yang sebentar lagi akan segera tiba. Mereka berdua sempat berfoto bersama menggunakan handphone milik Adam, juga kamera yang selalu dibawa ke mana-mana oleh Laura. Setelah menikmati matahari terbenam di dekat bibir pantai, mereka juga kembali mengisi perut sebentar sebelum kembali ke kamar masing-masing sekitar pukul tujuh malam. Adam bahkan menyempatkan dirinya untuk mengantarkan Laura sampai di depan pintu kamar, lalu mereka berdua pun berbincang sebentar, dan Laura menggunakan kesempatan itu untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Adam yang seharian ini sudah rela menemaninya untuk pergi berjalan-jalan. Adam tampak tersenyum senang sambil membalas, “My pleasure.” “Kalau begitu, aku pamit dulu.” Adam lantas memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Hal itu sengaja ia lakukan agar tangannya tidak refleks bergerak, dan mengusap pucuk kepalanya Laura saat itu juga. “Sampai bertemu besok, Ra.” Laura langsung menganggukkan kepalanya di depan pintu kamar. “Ya, sampai bertemu besok, Dam.” Tak lama kemudian, Laura sudah masuk ke dalam kamar resort-nya dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Adam sangat baik terhadap dirinya, tapi ... kenapa ia malah begitu tega untuk menjadikan pria itu sebagai objek pelarian dari rasa cintanya yang masih terus bertumbuh di dalam d**a*? Laura lantas menggelengkan kepalanya, dan segera mendaratkan bokongnya di bagian ujung ranjang. Ia telah mencoba untuk melupakan Marvin sekaligus terfokus pada pria lain. Namun, hatinya masih saja menginginkan pria itu sebagai satu-satunya kekasih hati. Bahkan saat ini, ia pun sedang merindukan sosok Marvin. *** Selama liburan di Lombok, Laura hanya pernah satu kali membuka akun social media miliknya. Itu pun ia malah disuguhkan dengan postingan yang kurang menyenangkan, yaitu postingannya Marvin yang memperlihatkan fotonya Friska. Lalu, kali ini, di hari terakhir ia berada di resort sebelum melakukan check out, ia kembali membuka akun media sosial miliknya, dan ia bisa melihat ada begitu banyak postingan baru yang telah dilewatkan olehnya. Laura lantas menyukai beberapa postingan foto yang diunggah oleh beberapa teman sekolahnya. Hingga beberapa menit berselang, jarinya pun mulai berhenti menggulir layar. Ia tersenyum tanpa sadar begitu melihat postingan dari akunnya Kia yang diunggah oleh adiknya itu dua hari yang lalu. Di unggahan milik Kia itu terdapat dua buah foto. Di slide pertama, Kia tampak tersenyum cerah sambil mendekatkan semangkuk kecil gelato di pipinya. Sementara di slide kedua, memperlihatkan Kia yang sedang berfoto bersama Marvin, dan mereka hanya berduaan saja. Itu artinya, Kia dan Marvin sempat pergi jalan-jalan berdua. Sosok Marvin terlihat sangat menawan di foto itu, dan pria itulah yang tadi membuat Laura tanpa sadar langsung tersenyum. Kadang-kadang, Laura pernah berpikir untuk bertukar tempat saja dengan Kia. Karena adiknya itu sangat beruntung, dia bisa berdekatan dengan Marvin kapan saja, dan di mana saja. Apa lagi pria itu terlihat sangat menyayangi Kia seperti seorang adik yang paling dia sayangi di antara semua saudara yang ada. Selanjutnya, Laura kembali menggerakkan jarinya di atas layar ponselnya untuk menyukai unggahan foto dari akun media sosial milik adiknya, dan segera memasukkan ponsel pintarnya itu ke dalam saku celana. Karena ia ingin sarapan terlebih dahulu sebelum check out dari resort ini sekitar pukul setengah sepuluh. *** Viona sangat senang begitu mengetahui kalau Laura pulang bersama Adam, dan ikut menaiki mobil jemputan milik pria itu dari bandara menuju ke rumah mereka. Saking senangnya, Viona bahkan menyuruh Adam untuk mampir sebentar ke dalam rumahnya. Lalu memperkenalkan pria itu dengan Damar, Kia, serta Sasa. Karena hari ini adalah weekend pertama. Jadi, semua orang memang sedang berada di rumah, dan tidak pergi ke mana-mana. “Jadi, itu ya calon suaminya Kakak?” tanya Kia yang sengaja berbisik pelan tepat di samping telinganya Laura. Laura langsung menolehkan kepalanya ke arah Kia, dan melebarkan kedua bola matanya saat itu juga. “Sembarangan. Siapa yang bilang?” Kia tampak mengerjap pelan. “Mama?” katanya dengan nada ragu yang sangat kentara. Hal itu kontan saja membuat Laura jadi menyipitkan kedua bola matanya. “Kau pasti sedang mengada-ngada, ‘kan?” “Mana mungkin aku mengada-ngada, Kak. Aku serius, kalau tidak salah aku pernah mendengar hal itu dari Mama. Katanya, calon suaminya Kakak adalah seorang pria bernama Adam.” Laura langsung terhenyak di tempat. Kemudian, ia pun menoleh sekaligus menatap ke arah Viona yang terlihat sedang berbicara dengan Adam di atas sofa ruang tamu mereka. Keduanya tampak begitu akrab, selayaknya ibu dan anak. Laura jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh ibunya itu di belakang dirinya? Bukankah makan malamnya bersama Adam waktu itu hanya sebatas perkenalan biasa? Lalu, kenapa ibunya itu malah menyebut Adam sebagai calon suaminya? Bahkan tanpa persetujuan dari dirinya. ***** Sorry kalo hari ini agak telat. BTW, follow juga akun IG aku ya! @_ruangbicara_ Makasih :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD