“Kamu mampir ke rumah saja, ya, Va.” “Kenapa aku harus mampir? Ini sudah hampir zuhur, lho,” kata Diva sambil menunjuk-nunjuk jam di pergelangan tangannya. Aku mengerucutkan bibir. “Temani aku dulu sebentar. Gimana kalau tadi Mas Arvino mengatakan yang tidak-tidak sama Ayah. Kamu, kan, bisa jadi saksiku,” ujarku merayu. “Sudahlah. Hadapi saja. Cepat atau lambat kamu juga bakal menghadapinya sendiri. Oke?” “Setidaknya kamu temani aku dulu. Ya, ya, ya?” Diva menggeleng. Dia tersenyum lebar, lalu mendekatkan mulut ke telingaku. “Kamu, kan, bilang kalau dia itu keren. Jadi, enggak masalah kalau dia ngomong macam-macam sama ayahmu,” bisiknya. Senyum Diva masih mengembang saat menjauh dariku. Aku menatapnya dengan sedikit kesal. Dia tidak setia kawan sekali, sih. Biasanya dia selalu menawa

