“Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Mas Arvino?” tanyaku, lebih pada diri sendiri. Diva sedang serius membaca buku berjudul “Guru Idola”. Kedatangan Arvino ke rumah pagi ini menyisakan tanda tanya besar bagiku. Setelah melakukan kekonyolan dengan menyatakan perasaannya padaku, dia datang menemui Ayah. Apa tujuan dibalik rencananya. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak, melantur ke sana kemari dan membuatku hilang fokus. Coba kalau tidak ada jadwal ke kampus, aku pasti sudah menguping pembicaraan Arvino dan Ayah. Setidaknya aku bisa mendengarkan dari ruang tengah. Rasa penasaran ini sangat menyiksaku. Kakiku gatal untuk melangkah kembali ke rumah. Apa aku harus melakukan itu demi mengobati keingintahuanku. Astagfirullah. Ini benar-benar kacau. Aku tidak bisa berpikir jernih dal

