Chapter Five - Love of Rain ✓

1275 Words
Pagi ini, mentari tak malu tuk menampakkan diri. Membuat pagi yang sebelumnya di selimuti embun mulai menguap. Sama dengan Ella yang menampakkan senyum untuk semua orang. Setelah kemarin wawancara berjalan lancar, kini Ella mulai bekerja di Ran`s Company. Sebagai staf baru di bidang administrasi, namun Ella mensyukurinya. Meski Ella hanya tamatan SMK, nilai sekolahnya patut di acungi jempol. Pagi ini Ella sudah tiba di kantor yang tampak sepi, karena jam kerja karyawan pukul 08.00 pagi. Ella melangkahkan kaki menuju bilik kerja miliknya. "Pagi Ella, semangat banget hari ini," ucap Rumi Rahayu, salah satu staf senior administrasi. "Pagi Mbak Rum. Masih pagi Mbak, gak tau kalo ntar siang. Palingan juga lemes dikit," jawab Ella pada Rumi. "Eh, La kamu udah tau kan kalo hari ini ada meeting sama Pak Saka?" tanya Rumi pada Ella. "Loh, aku kok gak tau ya mbak?" Jawab Ella apa adanya. "Padahal kemaren udah ada di grub kantor. Yaudah, sekarang kamu kerjain tugas yang udah Mbak susun di meja kamu ya. Kalo bisa harus selesai siang ini," jelas Rumi. Rumi Rahayu, gadis berumur 25 tahun itu bekerja menjadi staf administrasi di perusahaan ini selama dua tahun. Dan bulan depan Rumi akan mengadakan pertunangan dengan kekasihnya. Karena memang sudah direncakan oleh dua keluarga dari jauh-jauh hari. Beruntung menjadi Rumi, terkadang Ella menjadi sedikit iri. Namun Ella masih tetap mensyukuri kehidupan miliknya. "Oke mbak, aku langsung kerjain dulu ya." "Yaudah, gih sana kerja. Sekalian sama pekerjaannya Mbak ya La!" "Yeee, itu enak di Mbak Rumi, gak enak di aku dong!" "Hahaha, tolong teman bisa dapet pahala loh La," kata Rumi "Emang kita temenan mbak?" tanya Ella dengan polosnya. "Kamu tuh, kecil-kecil kok ngeselin sih La!" kesal Rumi. Ella berjalan menuju mejanya dan mendengar ucapan Rumi hanya tertawa geli. Membuka tas dan membuka file-file yang akan Ella kerjakan hari ini untuk di presentasikan pada saat meeting siang ini. "Semangat Ella!" seru Ella menyemangati dirinya. *** Tok Tok Tok Suara ketukan pintu terdengar mengisi ruangan sang owner. Pria tersebut, yang tak lain adalah Ajisaka Mahendra Ranjaya. Saka, yang tengah fokus pada laptopnya mengalihkan pandangan pada suara ketukan pintu ruangannya. "Masuk!" "Permisi Pak Saka. Lima belas menit lagi meeting di mulai. Saya sudah menyiapkan semua file-filenya," ucap Romi. Asisten pribadi sekaligus sekretaris Saka. "Lima menit lagi!" singkat Saka. "Baik Pak, saya permisi!" Romi menundukkan kepala tanda tanda permisi. Saka hanya berdehem menjawab Romi. Setelah pintu tertutup, Saka berjalan menuju kamar pribadinya di belakang rak buku besar. Sengaja, ia membuat kamar pribadi di ruangannya karena mungkin ada pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Saka menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang lelah. Entah apa yang ia pikirkan dan kerjakan. Hatinya terasa mengganjal akhir-akhir ini. Terlihat jelas kantung mata yang menghitam di bawah mata. Selesai mencuci wajah, Saka siap untuk meeting dengan karyawan dari semua divisi di kantor ini. Romi yang melihat atasannya keluar dari ruangan dengan sigap mengekor di belakang Saka. "Sudah cek kembali semua filenya?" tanya Saka. "Sudah Pak!" tegas Romi. "Bagus. Saya tidak mau ada sedikit pun masalah dalam meeting kali ini!" ucap Saka. Tak lama ruang meeting yang tadinya krasak krusuk oleh beberapa karyawan yang berbincang terhenti saat melihat sang owner berjalan penuh kharisma. Tubuhnya yang proporsional dengan tinggi 185 cm, kaki jenjang dengan langkah lebar, dadanya yang bidang dengan lengan berototnya yang keras. Uhhh sungguh pria idaman perempuan. Saka berjalan dengan pelan namun tegas ke arah ujung meja, tempat yang merupakan kursi khusus CEO. Dengan santai Saka duduk di kursinya dan menganggukkan kepala untuk segera memulai. Sebelum meeting dimulai, terdengar suara pintu dibuka secara kasar dan berdebum keras. Braaakkk Semua yang berada di ruang meeting menoleh ke arah pintu. Gadis itu terlihat sedang terengah-engah dengan napas memburu. "Hosh .. Hosh .. Selamat siang, maaf saya terlambat." ucap gadis itu tanpa melihat sang CEO di dalam ruangan. Hening. Tak ada yang berani bicara sepatah kata pun. Mereka hanya memandang satu sama lain. Ketika melihat ruangan senyap gadis itu tampak gugup, tiba kembali dan menjadi pusat perhatian. Sungguh memalukan sekali. "Biarkan dia masuk!" ucap Saka pada dua stafnya yang berada didepan pintu sembari menatap gadis yang tak lain adalah Ella. "Hei! Cepat masuk, saya tidak punya banyak waktu untuk hal yang tak penting!" tegas Saka. "Eh ... Iya Pak!" Ella kaget dan langsung menuju kursinya tanpa memperhatikan jalan. Bruukk Hening Lagi-lagi suasana hening mengundang tanpa kata yang diucapkan. Semua staf dari berbagai divisi hanya bisa menunduk dan diam. Benar-benar bodoh rutuk semua staf. Bagaimana tidak, jika setelah mendobrak pintu dan menjadi pusat perhatian lalu menabrak kursi dengan tidak tau malunya. "Cepat duduk atau meeting saya bubarkan!" tegas Saka. "Maaf Pak!" ucap Ella namun tak mendapati respon sang owner. Dan meeting pun berjalan dengan normal setelah kejadian memalukan Ella. Membahas perkembangan perusahaan dengan banyak ide ide yang tercetus dari beberapa staf Ran's Company. Saka hanya mendengarkan dan sesekali memberikan pendapat yang diperlukan. *** "Kau luar biasa Ella!" cerocos Rumi. Memang, setelah meeting dengan sang owner Rumi tak henti-hentinya berceloteh ria. Jika Rumi menjadi Ella maka ia akan sangat-sangat malu, rasanya ingin tenggelam di laut saja. "Luar biasa gimana Mbak? Yang ada, aku tuh malu banget sampek ke tulang-tulang!" kesalnya. Mendengar jawaban Ella, Rumi tertawa terbahak-bahak. Lucu saja mengingat Ella saat terlambat meeting siang tadi. Kesal dengan tawa Rumi, Ella membereskan ruangannya dan pulang. Menghiraukan teriakan Rumi yang memanggil namanya. "Ella, tungguin Mbak dong! Ella!" teriak Rumi. "Bodo amat Mbak, Ella sebel sama Mbak Rumi!" kesal Ella. Sampai di lobi, Ella melihat langit mendung. Ella harus segera pulang sebelum hujan turun. Soal Rumi, dia sudah pulang dijemput tunangannya. Sweet, andai aja Ella punya kehidupan seperti itu mungkin setiap hari Ella akan selalu bahagia. Namun, lama Ella menunggu bus di halte. Awan justru menangis, menumpahkan kesedihannya di bumi. Ella hanya bisa berpasrah diri, semoga masih ada angkutan umum yang lewat. Hujan semakin deras mengguyur, sudah satu jam Ella menunggu angkutan umun yang belum kunjung datang. Jika hujan terus menerus, terpaksa Ella akan segera berlari menerobos hujan. Sebelum Ella bersiap menerobos jutaan air tajam, mobil sedan berwarna merah berhenti di depan halte. Terlihat sesosok wanita paruh baya yang sangat Ella kenal menurunkan kaca jendela. "Bu Risma?!" Ella terkejut dengan kedatangan Oma Risma. Oma Risma keluar dari dalam mobil dan menghampiri Ella dengan payungnya. "Ya ampun Ella, kamu pasti sedang menunggu bus ya? Lebih baik dengan saya saja, badanmu sudah kedinginan." "Tidak perlu Bu Risma, Ella bisa pulang sendiri," tolak Ella halus. Mendengar tolakan Ella, Oma Risma menggeret tangan Ella menuju mobil. "Tidak ada penolakan Ella! Lagipula Lio sudah menunggu di dalam mobil!" ujar Oma Risma pada Ella. Mendengar nama Lio disebut akhirnya Ella menurut, ikut serta memasuki mobil mewah itu. "Kak Ella !! Lio rindu !!" teriak Lio saat melihat Ella memasuki mobil dan duduk di depan, samping kemudi. Ella membalas kerinduan Lio dengan pelukan hangat yang sekarang sudah dipindahkan untuk duduk di pangkuan Ella. "Kalo kayak gini Lio jadi suka sama hujan," kata Lio pada Ella. Ella mengernyitkan dahinya bingung mendengar perkataan Lio. "Memang kenapa Lio jadi suka hujan?" Lio melirik Oma Risma dan mengucap terima kasih. "Sama-sama Lio," balasnya. Ella semakin tidak mengerti. "Oma berkata, saat Lio berdoa ketika hujan, pasti dikabulkan sama Tuhan. Dan Lio berdoa semoga Lio bertemu dengan Kak Ella." kata Lio tak lupa dengan senyum lebarnya pada Ella. Ella yang mendengar hanya tersenyum haru. Tidak pernah mendapat begitu banyak perhatian sejak orang tuanya meninggal. Apalagi, ia mendapat perhatian dari makhluk kecil nan tampan bernama Lio. Oma Risma yang mendengar perkataan Lio pun tersenyum penuh arti. Lalu ia kembali fokus, menghiraukan Lio yang sedang bercerita ria tentang sekolahnya hingga Lio tertidur di pangkuan Ella. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD