Chapter Nine - Lovely Little Girl ✓

1223 Words
Hening. Sunyi. Tanpa mengeluarkan suara, hanya hembusan napas yang sayup-sayup terdengar, meskipun terdapat dua anak manusia di dalam mobil pajero sport milik Saka, keduanya tetap diam. Saka menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia tidak tahan bila harus memendam semua perasaan pada kekasih kecilnya selama beberapa tahun ini. Cukup Saka memikul perasaan bersalah atas tindakannya beberapa tahun lalu. "Ina... Aku ingin kita kembali seperti dulu. Saat kita berdua memimpikan masa depan kita dengan begitu indah. Kita bisa mewujudkannya sekarang." Saka membuka pembicaraan setelah lama keadaan hening. Saka menggenggam tangan Ella, mencoba meyakinkan perasaannya pada gadis itu. Sedangkan Ella, ia hanya diam memandang ke arah depan. Seakan-akan dirinya melalang jauh entah kemana.Ella membuka suara setelah beberapa waktu terdiam, "Maaf Pak Saka, saya turun disini saja." Ella membuka pintu mobil Saka, namun segera saja Saka menahan lengannya dan menutup kembali pintu mobilnya dari dalam. "Apa maksudmu? Aku harus membuktikan, kalung itu adalah kisah kita di masa lalu. Kamu adalah kekasihku dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berubah. Akan tetap sama!" tegas Saka mencegah kepergian Ella. Ella diam, melepaskan kalung yang Ella kenakan dan memberikan pada Saka, "Jika kalung ini yang membuat Pak Saka yakin, maka saya kembalikan kalung ini. Ini tidak ada artinya untuk saya." Saka menatap Ella tak percaya, mengamati kalung yang Ella tinggalkan di jok mobilnya. Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan bagi Saka, Ella pergi. Menjauh dari mobil dan mencari taksi, tak memungkinkan untuk menaiki angkutan umun karena sudah malam, Ella ingin segera sampai di apartemennya. Saka diam. Perasaannya campur aduk menjadi satu, kecewa, marah dan emosi membuat amarahnya meletup-letup. Rahangnya mengeras dengan tatapan matanya menajam. Jari-jarinya mencengkram keras kemudi, menyalurkan amarah yang ada di hati. "Aaarrrggghhhhhh!" Cinta yang Saka tunggu bertahun-tahun lamanya justru meninggalkan dirinya. Melupakan dan pergi tanpa penjelasan yang memuaskan. Saka tak bisa membayangkan bagaimana raut kecewa Lio nanti saat Ella menolak lamarannya. Saka tak boleh menyerah, ini adalah masalah waktu. Saka akan berusaha lebih keras lagi. "Biarkan aku berjuang untuk mu kali ini. Biarkan aku menebus kesalahanku padamu dulu. Ku mohon maafkan aku dan terima aku kembali." *** Dalam taksi yang kini Ella tumpangi, ia menangis dengan tersedu-sedu. Kenangan lama yang menyesakkan terkenang kembali, Ella tak bisa, sungguh tak bisa. Ella sudah tak sanggup menanggung semuanya. Ella merasa lelah. "Ma..hiks Maafkan aku, maaf. Hikss.. Aku yang bersalah. Bukan dirimu tapi aku! Aku yang salah..." dengan isak tangis yang belum reda, Ella terus menangis seakan stock air matanya tak kan habis. Membiarkan sang sopir taksi melihatnya dengan pandangan penuh tanya. Ella acuh, ia tak peduli. Rasa sesak ini terus merongrong hatinya hingga ia tak kuat lagi. Ella turun dari taksi yang ia tumpangi, memberi uang pada sopir dan pergi dengan tergesa menuju apartemennya. Memasuki kamar dan Ella menangis kembali, meluapkan amarah yang lama ia pendam sendirian. Membuka lemari pakaiannya dan melihat foto usang dua gadis kecil yang saling berpelukan terbingkai frame cantik. Ia mengelusnya pelan dan kembali meneteskan air matanya. "Aku minta maaf...., seharusnya aku yang berada di posisimu. Kamu yang seharusnya berbahagia dengannya sekarang." ujarnya dengan mengelus salah satu gambar foto itu. "Sekarang dia sudah dewasa dan tampan, dan juga seorang duda. Dia sudah menikah,--" Ella tergelak pelan "--Bahkan dia juga memiliki anak lelaki yang lucu, dan menggemaskan." "Bukankah aku harus kuat saat ini? Tak seharusnya aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen. Aku selalu menyayangimu." "Bukankah tugas ku telah selesai saat ini? Ina.." Ella kembali menyimpan frame tersebut di dalam lemari miliknya. Memasuki kamar mandi dan bersiap untuk mengistirahatkan seluruh tubuhnya atas kejadian seharian ini. *** Pagi ini, suasana hati Saka sungguh buruk. Kantung mata terlihat menghitam bertanda bahwa semalam ia tidak dapat tidur. Bagaimana bisa tidur jika gadisnya memintanya tuk pergi. Apakah ia tak merasakan besarnya cinta Saka untuk dirinya? Saka tak boleh menyerah. Ia harus bangkit biarkan kini Saka yang akan berjuang untuk cintanya. Menuruni tangga Saka melihat anaknya sudah duduk manis menunggu dirinya di meja makan. Si kecil Lio terlihat tampan dengan balutan seragam sekolah dan rambut yang diberi jambul. Astaga anaknya kini malah lebih tampan dari Papanya! "Selamat pagi boy, belum makan?" tanya Saka dengan mencium pelipis Lio. "Lio nungguin Papa!" jawab Lio melihat kedatangan Saka. "Yaudah, kita sarapan sekarang. Setelah itu Papa antar Lio ke sekolah." "Hm." cuek Lio. "Hmmm Pa! Kak Ella kapan kesini lagi? Lio kangen pengen main sama Kak Ella." ujar Lio dengan masih memakan sarapannya. "Iya, nanti Papa bilang ke Kak Ella dulu ya," Saka menatap anaknya dengan tatapan gundah. Menerawang kejadian tadi malam yang menyesakkan hati. Namun, tidak! Saka akan berjuang hingga kekasihnya kembali ke pelukannya. Cukup sudah, semua derita Saka atas kerinduan ini. Saka juga ingin bahagia seperti dulu. "Pa, cepetan makannya. Lio nanti telat!" teriak Lio berlari menuju pintu depan. "Eh, Lio!" Saka tersadar dari lamunannya dan melihat kursi depannya kosong "Lio, tungguin Papa!" "Dasar anak itu, selalu seenaknya!" gerutu Saka mengejar Lio. Saka melihat anaknya telah memasuki mobil, "Ayo Pa, jalankan mobilnya!" teriaknya saat melihat Saka di depan pintu. "Dasar tukang perintah," Saka membuka pintu mobil bagian kemudi lalu mulai menjalankan mobil Pajero Sport miliknya. "Pa, pulang sekolah nanti Om Dika kan yang jemput?" tanya Lio. "Iya, memangnya kenapa?" Saka melihat putranya penuh selidik."Tidak ada kok Pa, hanya saja aku ingin bermain dengan Om Dika," jawab Lio dengan memamerkan deretan giginya yang rapi. Saka melihat Lio, "Jangan buat yang aneh-aneh sama Om Dika" Lio hanya berdehem menanggapi ucapan Papanya. "Sudah sampai. Belajar yang rajin dan jangan nakal," pesan Saka pada Lio. Lio mengulurkan tangan untuk berpamitan pada Papanya. Setelah kepergian Papa, Lio berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya. Saat pertengahan jalan ia melihat temannya. Teman, ah bukan sahabatnya yang seharusnya berada di rumah sakit itu kini ada di depannya. Tersenyum melambaikan tangan pada Lio. "Hai... Lio," ucap gadis kecil itu seraya melambaikan tangan. "Kau sudah sembuh?--" Lio kaget dan bergegas menghampiri gadis kecil itu "--Kirana" "Aku sembuh untuk saat ini," ujarnya pelan. "Untung saja kau sudah sembuh, jadi aku tak perlu kabur- kaburan lagi dengan Om Dika," Lio tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi. Gadis kecil itu, Kirana Larasati. Teman sepermainan Lio di sekolah. Entah bagaimana mereka bisa berteman baik, padahal dulunya adalah musuh. Kirana si gadis manis dan baik, selalu di jahili oleh Lio.Namum semenjak Lio tak sengaja melihat hidung Kirana yang mengeluarkan darah. Lio menjadi takut. Takut bahwa Lio lah yang melukai Kirana, namun Kirana hanya menjawab bahwa Kirana baik-baik saja. Sejak hari itu Kirana mulai absen, selalu saja ada alasan bagi gadis kecil itu untuk tak masuk sekolah. Lalu ketika Lio bertanya pada Ibu Guru, Ibu Guru hanya menjawab bahwa Kirana sakit dan harus istirahat yang banyak supaya cepat sembuh. Lio tak percaya begitu saja, ia dengan segala kenakalannya mulai mencari dimana Kirana dirawat. Hingga berakhir dengan kucing-kucingan bersama Om Dika. "Oh iya, aku bawa bekal untuk Lio, Tante yang buat. Semoga Lio suka." ujar Kirana memberikan kotak bekal berwarna biru muda dengan gambar Thomas. Lio menerima dengan senang hati, ia memekik kegirangan. Maklum saja setiap hari yang memasak makanan di rumah adalah bibi. Dan makanannya itu-itu saja. Jadi tak salah bukan jika Lio senang dengan pemberian Kirana? "Terima kasih Kirana!" ujar Lio dengan senyum cerah. Kirana yang melihatnya menganggukkan kepalanya semangat. Untuk Lio, Kirana adalah teman kesayangannya meskipun dulu mereka berdua selalu bertengkar karena kejahilan dan keusilan Lio pada Kirana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD