"Apa yang Bapak bicarakan? Saya tidak mengerti."
Kalimat itu meluncur begitu saja, Ella tidak menyangka Bosnya sendiri mengatakan hal demikian. Menjadi milik si bos dan anaknya? Apakah Ella sama dengan barang?! Ella pun memiliki hati dan perasaan. Jelas kalimat memiliki tanpa cinta bagaikan kepunyaan hak milik. Layaknya barang.
"Selama ini, aku selalu mencari mu. Perpisahan kita terasa menyakitkan, tapi aku tak menyesal." Saka memamerkan senyum memukau, "--Kau berada di sini, bersama ku. Bahkan aku pun tak menyadarinya jika bukan karena kalung itu."
Secara otomatis, Ella menyentuh kalung yang melingkar indah di leher jenjangnya. Tatapan matanya terarah pada Saka dengan tangan yang masih menyentuh kalung. Tidak! Kalung ini bukan miliknya!
Saka melangkah mendekati Ella yang diam mematung. Tatapan matanya terarah padanya namun kosong, pikirannya masih melalang buana entah jauh dimana. Saka memanfaatkan keterkejutan Ella dengan menyentuh kalung berbandul perak. "Kau mengatakan, jika kau sangat menyukai kalung ini. Maka dari itu, sebagiannya aku berikan padamu."
Saka berujar pelan. Dengan senyum masih terpatri begitu manis di wajah tampannya. Ella diam dengan tubuh kaku. Tubuhnya terlalu dekat dengan sang atasan. Sekedar berujar sepatah kata pun, terasa berat. Pikirannya berkecamuk. Pria dewasa di hadapannya terlalu dekat dengan dirinya. Ella memejamkan mata, lalu mengumpulkan niat untuk menatap tepat di dalam manik hitam Saka.
"Saya tidak mengenal Bapak lebih dari sekedar atasan saya."
Saka menampilkan senyum simpul, tidak merasa marah sama sekali. "Saat itu kau masih kecil, mungkin kau lupa Ina."
"--Tapi tak apa, aku akan membuat mu kembali mengingat masa kecil kita dulu." sambung Saka.
Di saat itu pula, Ella sedikit mengerti, "Dimana, Bapak pertama kali mengenal saya?"
Saka tertawa renyah dengan mata memuja, "Sudah aku bilang jika kau masih kecil saat itu, pasti kau lupa."
Ella diam menunggu dengan mimik wajah datar, melihat gadis di depannya memberikan tatapan yang tak Saka sukai, menghela napas sabar.
"Baiklah, baiklah... Dulu kita bertemu saat kau terjatuh dari sepeda mu. Lalu aku yang menolong mu, saat aku mengantar mu pulang, kau mengatakan jika kau tinggal di panti asuhan. Jadi tak perlu di antar." papar Saka.
Selesai kalimat Saka, mengerti pula apa yang terjadi. Saka hanya salah mengira, mengira jika dirinya adalah Ina, kembaran Ella yang kini sudah tiada.
"Sepertinya Bapak salah orang! Saya permisi!"
Tanpa menunggu jawaban dari Saka, Ella berbalik lari menuju pintu keluar. Saka sempat mengejar, namun terhenti di depan pintu ruangannya sebab Romi datang dengan banyak berkas, mengingatkan jadwal rapat hari ini dengan para investor luar kota. Saka berdecak sebal, ia menatap pintu lift yang tertutup. Membawa Ella turun, menuju lantai bawah. Lantai dimana biliknya berada.
"Sial!"
***
Dengan terengah Ella menyandarkan tubuhnya di dalam kotak besi, ia memegang dadanya nyeri. Terisak pelan dalam lift yang sepi. Tubuhnya luruh ke lantai lift, tak kuasa menopang berat badannya sendiri. Sekuat tenaga berpura-pura tegar membuatnya lelah. Ella tak tau akan seperti ini jadinya, di genggamnya erat-erat kalung berbandul perak itu. Kalung amanah dari saudara kembarnya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan?! Apakah benar, jika Pak Saka adalah kekasih Ina yang harus ku temui?"
"Tapi... Apakah Pak Saka sendiri, percaya jika aku bukan Ina? Aku adalah kembarannya!"
Ella kembali terisak keras, hingga lift berdenting. Segera ia berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki. Berjalan keluar dengan segera mungkin. Tujuan utamanya saat ini adalah toilet, tak mungkin Ella kembali dengan riasan yang meluber kemana-mana karena air matanya yang mengalir deras.
Di rasa selesai, Ella membuka pintu kamar mandinya. Bertepatan Rumi yang berdiri di depan pintu, tersentak kaget. "Astaga!"
"Ella?!" si empu pemilik nama pun ikut terkejut, "Mbak Rumi ngapain di sini?" tanya Ella.
"Harusnya Mbak yang tanya, kamu ngapain di toilet? Mbak kira masih di ruangan Pak Saka."
"U-udah selesai kok Mbak."
Rumi menelisik, "Beneran? Emang kamu di apain sama Pak Saka?"
"Eng-enggak di apa-apain Mbak."
"Kamu habis nangis ya La?" Ella terbelalak kaget, secepat itukah Rumi mengetahuinya?
"Jawab yang jujur? Kamu di apain sama Pak Saka? Kamu di skor? Potong gaji? Atau kamu malah di keluarin dari perusahaan ini?!"
Rumi heboh sendiri dengan persepsinya. Ella menghela napas kasar, "Duhh! Mbak Rumi! Jangan ngomong yang aneh-aneh! Di denger banyak orang!" Ella mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa menatap aneh dan bingung pada keduanya. Ella meringis kecil.
Seketika Rumi diam, "Sorry La. Mbak lupa kalo kita masih di toilet. Yaudah, Mbak mau masuk dulu, kamu tungguin Mbak ya!"
Ella mengangguk, mengiyakan. Tak lama Rumi datang dengan wajah dan riasan yang kembali segar. Sepertinya Rumi baru saja menambahkan riasan agar tetap cantik meski hari menjelang siang.
"Sekarang ceritain, kenapa kamu nangis di kamar mandi! Ini ada hubungannya sama Pak Saka yang manggil kamu ke ruangannya?!" cecar Rumi.
"Enggak kok Mbak! Ini gak ada hubungannya sama Pak Saka. Ella cuma keinget sama keluarga Ella yang udah meninggal sepuluh tahun lalu." ucap Ella tak sepenuhnya berbohong.
Raut sedih terpancar di wajah Rumi, ia mendekap Ella, "Kamu gak sendiri! Masih ada Mbak yang akan jadi Kakak buat kamu. Meskipun Mbak, bukan Kakak kandung, tapi Mbak akan berperan sebagai Kakak kamu."
Ella mengulas senyum manisnya, dapat di hitung jari pertemuannya dengan Rumi. Tapi, kepeduliannya sangat besar kepada Ella. Tak dapat ia definisikan perasaannya sekarang. Intinya, Ella merasa tak sendirian lagi.
***
"Mau bareng sama Mbak?" tanya Rumi ketika dirinya berjalan bersamaan dengan Ella.
"Enggak usah Mbak! Ella mau naik bus aja, masih sempet kok!"
Rumi melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya, jarum pendek menunjuk tepat di angka lima dan jarum panjang berhenti di angka sembilan. "Kamu yakin? Udah sore banget ini!"
"Yakin Mbak. Mending, Mbak Rumi pulang gih! Udah di tungguin sama Mas Calon tuh!" Ella menunjuk sesosok pria dewasa yang duduk di kursi tunggu lobi kantor dengan dagunya. Pria itu terlihat asyik bermain game di ponselnya yang miring.
Rumi dan Ella, menghampiri si pria yang tengah asyik di dunianya sendiri. Rumi duduk di sampingnya, menunggu di pria tersadar. Dan benar saja, tanpa menunggu lama, pria itu menoleh lalu tersenyum. Melihat gadisnya duduk sembari tersenyum.
"Eh? Lama ya?" ujar si pria.
"Enggak. Baru aja duduk di sini." jawab Rumi.
"Pulang sekarang yuk! Udah sore banget!" ajak pria itu dengan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Rumi mengangguk, "La, Mbak pulang dulu ya. Kamu hati-hati di jalannya."
"Iya Mbak, siap!" Ella mengacungkan jempolnya pada Rumi. Seakan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Ella mengawasi keduanya, hingga menghilang dan tak nampak lagi. Suasana lobby kantor cukup sepi. Tersisa beberapa staf kantor yang berjalan keluar. Beberapa menyapa Ella, lalu mengucap salam perpisahan.
Saat Ella akan berjalan menuju luar lobby, seseorang mencekal tangannya erat. Ella menoleh, melihat lengan kekar berbalut jas hitam, Saka. "Aku menunggu mu!"
Ella berusaha melepaskan cekalan tangan Saka yang begitu erat. "Lepaskan Pak! Lepaskan tangan saya!"
"Tidak! Aku telah menunggu mu sejak dua jam lalu! Tapi kau baru pulang. Besok aku akan memarahi kepala divisi karena memberi mu kerja lembur!"
"Apa yang Bapak katakan?! Semua ini tidak ada hubungannya dengan kepala divisi, saya sendiri yang mengajukan diri untuk lembur!" Ella membela diri.
"Anggap saja aku percaya pada mu kali ini. Baiklah, ayo aku akan mengantar mu pulang." sedikit paksa Saka menarik pergelangan tangan Ella.
"Terima kasih Pak! Tapi saya lebih senang naik bus."
Saka tetap memaksa Ella untuk naik ke mobil yang berada di dekat pintu keluar, Ella meronta, meminta di lepaskan. Hingga, Ella di masukkan secara paksa ke dalam mobil putih itu. Belum sempat Ella bangkit dan membuka pintu terdengar suara 'klik' dari arah Saka. Ia mengunci pintu mobil dengan tepat waktu.
"Apa yang sebenarnya, Bapak inginkan dari saya?!"
"Dirimu."
***