Chapter Seven - His Girlfriend Childhood ✓

1406 Words
"Papa, kenapa tadi lama sekali?! Lio sudah kelaparan menunggu Papa!" kesal Lio pada Saka. Saka hanya diam, pikirannya berkelana entah kemana. Lio yang di acuhkan oleh Saka akhirnya memilih membawa piringnya menuju ruang keluarga dan memakannya sembari melihat animasi kesayangannya Thomas and Friends dengan tenang. Mengenai Ella, ia sudah pamit pulang karena sudah terlalu lama berada di rumah Lio. Ella bahkan memberi banyak alasan ketika Lio mengajaknya makan malam bersama Papanya. Setelah kejadian di kamar Lio, Saka pun sama. Ia masih menghargai kalung patahan hati milik gadis tadi. Kalung itu ada sepasang yang jika disatukan membentuk satu hati yang utuh. Dulu sekali, Saka membeli kalung itu karena tertarik, meskipun sepasang. Satu kalung itu ia pakai, dan satu kalung lainnya ia berikan pada Ina, dulu sekali ketika ia baru mengenal gadis kecil itu. 'Apakah ini memang takdir untukku?' pikirnya. Jantungnya bahkan masih berdebar dengan begitu kencang hingga membuat dadanya sakit. Terasa sesak dan tak bisa bernapas. Rasa yang dulu ada pada gadis kecilnya kini kembali. Saka tak salah mengartikan perasaannya bukan? Jika memang gadis itu adalah gadis kecilnya maka Saka tak akan pernah mengulang kesalahan yang sama seperti dulu Lagi.Saka mengambil ponsel yang ada di sakunya lalu memanggil Dika, pengawal pribadi Lio. "Berikan aku staf data ceroboh yang diundang meeting kemarin. Secepatnya!" Melihat di sekelilingnya membuat Saka tersadar 'kemana perginya Lio? Apa aku terlalu lama melamun? ' Segera Saka bangkit dari meja makan dan mencari anak nakalnya itu. Saka sambil tersenyum melihat Lio asyik tersenyum sambil menonton tv. "Ternyata Lio ada disini?" Saka menghampiri Lio yang duduk di sofa. Lio menoleh pada Papanya, "Papa sih cuekin Lio." ujarnya masih dengan menonton tv. "Iya, maafin Papa ya? Papa salah cuekin Lio. Lio mau maafin Papa kan?" "Emm, gimana ya?" Lio mengentukkan jari telunjuknya di dagu. "Lio maafin Papa!" Lio bersorak riang, mendengar perkataan Saka. "Dasar anak Papa!" Saka menggelitiki Lio gemas, melepas tawa yang membahana seantero rumah. "Pa.. Hhh... Sudah cukuphh.. Lio sudah capek tertawa!" Saka berhenti mendengar permintaan Lio. "Baiklah." Masih terdengar sisa-sisa tawa diantara keduanya. Lalu hening menyapa. Hanya suara tv yang mendominasi. "Pa!" Lio memecah keheningan dengan memanggil Papanya. "Hm." "Papa!" "Ada apa Lio?" Saka kini sepenuhnya menoleh pada Lio. "Menurut Papa, Kak Ella gimana? Kak Ella baik kan Pa?" Saka hanya diam, memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut mungil anaknya. "Lio ingin punya Mama kaya Kak Ella--" ujarnya pelan, "--Lio pengen kaya temen-temen di sekolah yang dijemput sama Mama sama Papa. Hiks... Lio... Hikss.. Lio kangen Mama. Boleh tidak Pa, Kak Ella jadi Mama Lio? Tapi Lio janji, Mama Siska selalu di hati Lio meskipun ada Kak Ella." Lio menghambur ke pelukan Papanya. Saka mengusap punggung Lio dan membisikkan kata-kata penenang untuk Lio. Bahkan matanya berkaca-kaca mendengar permohonan anaknya. Saka tak tega sungguh, ternyata selama ini, Lio menyimpan semua perasaannya sendiri. Baru sekarang Saka tau perasaan Lio yang sesungguhnya. *** "Gimana itu bisa terjadi sih!! Jadi selama ini Lio anaknya Pak Saka?!" gerutu Ella kesal. "Duhhh... Bisa dibilang ntar aku caper sama bos lagi. Padahal kan aku gak tau." "Tenang Ella. Besok pasti akan baik-baik saja." Teringat dengan kalungnya. Ella langsung memeriksa lehernya. Benar! Kalung ini masih ada menghias leher jenjangnya. Dilihatnya kalung itu dengan seksama. Setelah kedua orang tuanya meninggal, dia juga meninggal karena penyakitnya. Ella merasa sendiri.a menghargai kalung ini adalah kalung yang sangat berhargaMaka dari itu ia harus menemukan sebagian pasangannya. "Tapi siapa pemilik sebagian besar kalung ini?" *** Tok Tok Tok Suara ketukan pintu ruangannya menggema mengusik konsentrasi Saka. "Masuk!" Dika, sang bodyguard terlihat gagah dengan setelah kemeja dan jas hitam membalut tubuh tegapnya berjalan menuju Saka. Membawa berkas map yang berisi perintah atasannya kemarin. "Pak Saka, saya sudah membawa berkas berisi data staf yang Bapak minta kemarin," ujar Dika seraya menyerahkan seberkas map kepada atasannya. "Kalau begitu saya pamit undur diri Pak." "Tunggu!" langkah kaki Dika terhenti bersamaan dengan ucapan Saka. "Bagaimana dengan putraku di sekolahnya? Apakah Lio berulah lagi?" ucap Saka pada bawahannya. "Tuan Muda Lio hari ini cukup tenang untuk menjahili temannya Pak!" Dika menjawab dengan tegas pada Saka. "Hm. Kembalilah!" singkat Saka. Dika pun melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan sang owner Ran's company. Kembali pada pekerjaan aslinya yaitu menjaga sang Tuan Muda. *** Ella menerima perintah untuk menemui sang owner, hatinya pun gelisah tak menentu. 'Apakah aku membuat kesalahan? Owner? Bukannya Pak Saka? Papa Lio, untuk apa memanggil ku?' pikirnya. Mencoba menenangkan pikiran dan hatinya perlahan Ella mengetuk pintu jati berwarna coklat didepannya hingga terdengar suara 'masuk' dari dalam ruangan. Ketika Ella melangkah memasuki ruangan sang owner yang di d******i warna monokrom namun terkesan elegan dan mewah. Di tengah ruangan terdapat meja kerja sang owner dan sisi kanan terdapat sofa berwarna hitam dan meja kaca dengan ukiran indah. Di sebelah kiri terdapat rak berisi buku-buku seperti perpustakaan dan disampingnya terdapat pintu. Ia yakini sebagai kamar pribadi, mungkin! Ella berdiri di tengah ruangan, tak jauh dari meja kerja Saka. Sedangkan Saka masih berkutat pada berkas-berkas di hadapannya. Sebenarnya Saka sudah tau jika itu adalah Ella namun ia hanya diam. Menunggu Ella bersuara. "Maaf sebelumnya Pak, apakah saya membuat kesalahan?" tanya Ella ragu-ragu, apalagi melihat Saka yang langsung mengamatinya dengan intens. "Ya. Kesalahan yang sangat besar dalam hidupmu," ucap Saka yang masih menatap Ella. Mendengar perkataan sang atasan membuat Ella panik akan dirinya yang kemungkinan akan dipecat bahkan Ella bekerja disini belum ada satu bulan. "Ma.. Maaf.. Maafkan saya Pak. Saya berjanji, saya tidak akan mengulangi kesalahan saya." "Berikan saya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan saya Pak. Saya mohon pengertian Bapak kepada saya, saya-" ucapan Ella terhenti ketika melihat Saka mengangkat tangannya untuk berhenti berbicara. Dengan pelan Saka mendekati Ella yang berdiri gemetar di hadapannya. Menatap dengan tatapan entahlah, Ella tak bisa mendeskripsikan hingga membuat empunya berkeringat dingin hingga jantungnya berdetak hebat. "Aku akan memberikanmu kesempatan kedua. Tentu saja, tak akan ku biarkan kau pergi lagi, seperti dulu." ujar Saka yang masih menatap Ella. "Terima kasih Pak, atas kemurahan hati Bapak." syukur Ella meskipun dilanda kebingungan. "Apa kau masih mengingatku?" dengan tegas Saka menanyakannya pada gadis didepannya. "Huh?!" "Apa kau masih mengingatku?" ulang Saka. "Bapak adalah pemilik perusahaan ini dan orang tua Lio?" jawab Ella dengan nada tak yakin. Hei untuk apa ia menanyakan pertanyaan itu padanya. Tak nyambung sama sekali. "Kau memang benar-benar melupakanku rupanya, apakah perpisahan kita selama bertahun-tahun membuat mu lupa padaku?" tanya Saka dengan senyum mirisnya. "Kau adalah Ina-ku, kekasih kecilku. Apakah kau masih tak mengingatku?" Mendengar pertanyaan Saka, Ella mengernyit bingung. Dimana ia pernah bertemu Saka? "Maaf, mungkin Bapak salah mengenali orang. Saya permisi dulu Pak." pamit Ella pada atasannya. Dengan segera Saka mencekal tangan kanan Ella dengan sekali sentak hingga menubruk tubuh tegapnya. Saka mendekap tubuh mungil Ella dengan erat. Ella yang tersadar atas pelukan Saka memberontak keras. Apa-apaan ini! "Kau adalah milikku, aku percaya takdir tak sekejam dulu saat memisahkan kita. Aku dan Lio ingin kau menjadi milik kami." Deg Mendengar suara tegas atasannya membuat tubuhnya menjadi kaku. Kepalanya pusing teringat akan amanah yang ia emban. Apakah ini adalah waktunya? Memory akan dia yang menceritakan kekasihnya menyeruak keluar. Hingga kelamaan tubuhnya tak mampu menopang berat badannya hingga ia ambruk dalam dekapan erat sang atasannya sendiri. Saka dengan sigap menggendong Ella menuju kamar pribadinya di samping rak buku. Saka masih mengingat jelas, isi berkas dari map tersebut. Berkas yang berisi data lengkap mengenai gadis di dekapannya itu. Flashback Di dalam ruangannya, Saka membuka map berisi data salah satu karyawannya. Ella nama itu yang hingga kini tertanam di pikirannya. Apakah Ella adalah Inanya? Terkejut. Satu kata mewakili perasaan Saka yang berbaur menjadi satu. Sedih, kecewa, sakit, bahagia, semua bercampur menjadi satu letupan di dadanya. Ella adalah Inanya. Gadis kecilnya yang suka makan permen hingga gigi depannya ompong satu. Inanya dulu sangat menggemaskan ketika menangis dan tersenyum. Membuat gigi ompongnya terlihat begitu jelas. Sekarang gadis kecilnya tumbuh dengan sangat menawan. Membuat jantung Saka kembali berdegub kencang hingga sulit bernapas. Kini, saatnya tiba. Takdir mempertemukannya kembali dengan cintanya yang hilang. Namun Saka lupa membaca keterangan paling bawah kertas karena rasa bahagia yang membutakan segalanya. Dengan tergesa Saka menghubungi Romi "Panggil staf keuangan yang bernama Xamella Libertina ke ruangan ku sekarang!" "Baik Pak! Segera saya hubungi." Romi yang kini di luar ruangan sangat terkejut mendengar perintah tuannya. Tak biasanya sang atasan meminta staf menemuinya secara langsung. Segera, Romi menghubungi bagian keuangan dan menyuruh nama staf yang disebutkan oleh tuannya untuk menghadap sang owner. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD