Setelah memastikan papa Febi masuk ke ruang operasi, Raka baru akan pergi untuk menemui Febi. Namun, di lobi rumah sakit, ia justru bertemu dengan Febi. Entah bagaimana wanita itu bisa ada di sana. “Kamu ... kenapa kamu bisa ada di sini?” Raka menghampiri Febi. “Papa ... itu nggak benar, kan?” Mata Febi berkaca-kaca. “Febi, maaf ...” Raka memejamkan mata ketika tangis Febi pecah. “Papa ... aku mau ketemu Papa,” sedu Febi. Raka menahan Febi ketika wanita itu hendak pergi. “Papamu masih di ruang operasi.” “Aku harus lihat Papa!” Febi berkeras. “Nanti begitu operasinya selesai ...” Kalimat Raka terhenti ketika Febi menyentakkan pegangan Raka di lengannya dengan kasar. Febi melemparkan tatapan penuh kebencian pada Raka. Siapa sangka, tatapan seperti itu bisa terasa begini meny

