Raka menatap wajah Febi yang sudah terlelap. Dengan sangat hati-hati, tangannya mengusap mata Febi yang bengkak. Entah sudah berapa lama ia menangis. Hati Raka perih membayangkan itu. Raka mengalihkan tatap dari Febi ketika mendengar panggilan pelan Dera dari pintu kamarnya. Dera mengedik ke luar. Ah, benar juga. Lyra dan yang lain ada di rumahnya. Raka mengusap lembut kepala Febi, berharap wanita itu tak bermimpi buruk. Ketika Raka bergabung ke ruang tamu, Erlan yang tadi masih di kantor papa Febi sudah ada di sana juga. “Masalah perusahaan udah beres,” Erlan berkata. “Selanjutnya, kamu urus sendiri.” Raka mengangguk. “Makasih.” “Lyra juga udah mastiin Teddy nggak akan bisa macam-macam lagi ke kamu sama istrimu,” lanjut Erlan. Meski begitu, ketika melirik Lyra, Erlan masih tam

