Kiss

1014 Words
"Ehem," deheman Patra membuyarkan Cella. "Eh Patra, udah lama di situ? Sejak kapan kok aku nggak tahu," ucap Cella santai. Masih dengan kedua tangan memegang ponsel, Cella menelan salvinanya saat melihat Patra menatapnya tajam. Seperti elang yang akan melahap mangsanya hidup-hidup. Patra berjalan mendekat ke arah Cella dan duduk di sebelahnya. Semakin lama tatapan Patra semakin tajam, semakin membuat nyali Cella menciut. "Cell," lirih Patra. "Hm?," gumam Cella. "Kenapa membohongiku?," tanya Patra. "Membohongi apa?," jawab Cella. "Kenapa pura-pura tidur?," tanya Patra lagi. "Em, ak-aku," jawab Cella terbata. Tawa Cella yang tadi terlihat perlahan memudar berganti wajah lesu dan murung yang sulit ditebak. "Aku kenapa?," tukas Patra. "Em aku hanya tidak tahu apa yang kulakukan ketika berdua denganmu dan jarak sedekat tadi," ucap Cella cepat dan langsung memalingkan wajahnya. "Aku juga," gumam Patra. "Cup" Patra mencium bibir Cella lembut lalu melumatnya. Cella menerima ciuman Patra dengan senang hati karena sebenarnya wanita itu juga menginginkannya. Dengan berani, Patra ikut merebahkan tubuhnya. Bukan di atas ranjang, tapi di atas tubuh Cella yang terlihat jelas lekukannya dan seksi. Refleks Cella menarik tengkuk Patra agar semakin memperdalam ciumannya. Ingin melakukan hal yang lebih, tapi pendengaran mereka mendapati suara derap langkah sontak Patra bangun dan menjauhkan diri dari Cella. Keduanya lalu tertawa lepas ternyata apa yang dipikirkan mereka sama. Di tempat lain tepatnya di depan pintu mama Cella mendengar anaknya tertawa. Wanita separuh baya itu mengerutkan dahi tidak biasanya ada suara laki-laki di dalam rumah. "Krek," mama membuka pintu bermaksud mencari Cella di kamarnya. Langkahnya terhenti ketika sudut matanya menangkap laki-laki dengan pakaian formal sedang tertawa bersama Cella. Cella tidak menyadari kehadiran mamanya, tapi Patra yang mendengar langkah orang berjalan segera memutar tubuhnya. Mama terkejut melihat Patra, begitu juga dengan laki-laki itu. Refleks dia segera mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Mama juga mengulurkan tangan untuk membalas jabatan Patra. Keduanya saling mengucapkan nama masing-masing. "Pagi tante, saya Patra temennya Cella maaf sudah lancang masuk rumah ini tanpa seizin tante," ucap Patra halus. "Tidak apa-apa nak, perkenalkan saya mamanya Cella! Kalau boleh tahu kenapa nak Patra berada di depan pintu kamar Cella? Dan kenapa Cella berbaring apa dia sakit?," tanya mama. "Tadinya Cella bermaksud mengirim pesan kepada Rangga pemilik bar, tapi justru salah pencet dan terkirim ke nomor saya! Langsung saja saya kesini memastikan keadaan Cella dan ternyata benar Cella sepertinya sedang sakit," jawab Patra menjelaskan. "O begitu, yasudah terima kasih nak! Kalau begitu tante ke dapur dulu," pamit mama. Kepergian mama digunakan Patra untuk mendekati Cella. Laki-laki itu merasa tidak bisa melakukan sesuatu lagi setelah ada mama. Setelah sampai di dekat ranjang Patra menatap Cella dengan mata berbinar. Entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu, hanya dirinya sendiri yang tahu. Sudah mengerti kebiasaan buruk hatinya sejak kehadiran Patra pagi tadi. Cella merasa dadanya berdebar dan wajahnya memanas. Patra tersenyum melihat kegugupan Cella. Melihat wajah manis yang mendadak seperti udang rebus. Tanpa permisi lagi Patra segera mengecup pipi Cella. Membiarkan wanita itu merasakan panas di wajahnya semakin lama. Tidak peduli jika wanita itu membuat wajahnya menjadi merah padam. "Patra apa-apaan sih kamu! Pergi sana!," ucap Cella pura-pura kesal. Tentu saja Cella hanya pura-pura, karena sejujurnya wanita itu menginginkan kecupan mesra dari Patra. Hanya saja harga dirinya saat ini mengatakan jika semua belum waktunya. Patra memincingkan mata serta mengerutkan dahi. Itu sudah usiran kesekian kali dari wanita yang disayanginya. "Hei kamu sudah mengusirku berapa kali? Apa kamu tidak mengharapkan kehadiranku?," gerutu Patra. "Tidak! Hush pergi sana dan terima kasih untuk semuanya," ucap Cella agar terlihat galak. Wanita itu tidak mau mama salah paham karena ada Patra di kamarnya. Cella juga yakin jika laki-laki itu tidak akan marah hanya karena usirannya. Ketika Patra hendak keluar kamar, tiba-tiba mama datang membawa wedang jahe dengan aroma panas yang masih setia dengan kepulan asap. "Mama bawa apa? Aromanya enak hm, apa ini buat Cella?," ucap Cella dengan manja. "Tentu sayang, ini wedang jahe untuk kamu karena Patra bilang kamu sedikit nggak enak badan," ujar mama sembari menurunkan gelas dari atas nampan dan meletakkan di atas meja. "Wow, hebat banget sekarang kamu merayu mama setelah kamu merayuku? Lalu setelah ini siapa lagi yang akan menjadi korban rayuanmu? ah dasar Patra menyebalkan! Aku juga bisa ngomong sendiri sama mama kali," gerutu Cella dalam hati. "Kamu sakit apa sayang? Sudah periksa ke dokter? Atau mau mama pijitin? Ini diminum pakai sendok dulu dikit-dikit setidaknya biar badan kamu sedikit relaks," tambah mama. "Terima kasih mama sayang," lirih Cella. Patra hanya menjadi penonton dalam adegan drama nasional yang tersiar di pagi hari menjelang siang. Melihat kedekatan anak dan mama yang terjalin begitu tulus. Tentu saja tulus toh memang harusnya hubungan ibu dan anak seperti itu. "Hei, kenapa memeluk mama seperti ini? Tidak malu sama pacar kamu?," bisik mama ketika Cella memeluknya. Cella segera melepaskan pelukan mama dan mengerucutkan bibir. Wanita itu tidak suka jika ada laki-laki yang dianggap pacar oleh mama. Karena memang sampai detik ini Cella tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan laki-laki. "Mama, itu Patra bukan pacar Cella! Cella masih jomblo ma, nih liat masih cantik dan masih perawan gini jadi mana mungkin Cella pacaran apalagi bawa pacar Cella ke rumah," dengus Cella kesal. "Wajar mama tanya seperti itu, lihat sekarang berapa usiamu dan sampai kapan kamu menutup hati untuk laki-laki? Kamu sudah pantas untuk membina rumah tangga sayang," goda mama membuat Cell semakin mengerucutkan bibir. "Mama apaan sih! Tuh dilihat Patra jadi nggak enak kan? Cella jadi malu ma," sungut Cella. "Aduh maaf nak, mama lupa kalau ada laki-laki di sini habisnya Cella keterlaluan banget kalau sama mama! Dia selalu bilang belum waktunya Cella nikah padahal kan umurnya udah matang," ucap mama. "Mama, Cella tuh masih muda! 25 tahun juga belum ada," gerutu Cella. Patra hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan mama. Cella segera bangun dari tidurnya dan menghampiri Patra. Menyeret tangan laki-laki itu agar mengikutinya. Mama hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Cella. "Sepertinya Cella dan Patra ada sesuatu," gumam mama. Ya, Cella membawa Patra ke ruang tamu. Wanita itu duduk di sofa dengan kesal. Masih dengan menggandeng tangan Patra, Cella menatap Patra kesal. "Kenapa kamu diem lihat aku dipijokin mama?," tukas Cella. "Terus aku harus gimana? Harus aku yang mojokin kamu ya?," goda Patra. "Ih dasar m***m!," ucap Cella dengan menghempaskan tangan Patra, tapi laki-laki itu segera menarik Cella ke dalam pelukannya. "Udah ya benci sama akunya, nanti kamu bisa jatuh cinta sama aku kan aku takut kalau kita sama-sama suka terus cuma berdua gini," lirih Patra seraya mengelus rambut Cella.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD