Ed berjalan lesu kedalam ruang keluarga mansion-nya. Ia kemudian
mendudukkan diri dengan kasar di atas sofa muda di sana. Ed memijat
pelipisnya yang terasa pening. Sekretaris perempuannya resign karena sudah
hamil besar. Jadilah, Ed dan Cadee yang meng-handle seluruh pekerjaan
dikantor yang menumpuk. Bahkan, ia harus lembur dan pulang pukul
sepuluh malam di saat semua karyawan, bahkan Cadee sudah pulang sejak
pukul lima sore.
Tiba-tiba ia mendengar suara–seperti orang yang sedang menuangkan air
ke dalam gelas–membuat Ed mengernyit bingung. Siapa yang malam-malam ke
dapur?
Seingatnya, kamar orang tuanya dan Cadee punya mini pantry yang
digunakan untuk menaruh minuman dan beberapa camilan ringan. Jika
pembantu, ruang dapurnya pun harusnya berada di belakang bukan di dapur
utama.
Ed memberanikan diri berjalan ke arah dapur yang gelap. Ia berjalan
mengendap-endap dengan pelan dan hati-hati. Takut-takut, jika itu adalah
maling. Bahkan, tangannya sudah mengambil sebuah vas bunga yang berada
di pinggir sebuah lemari.
Semakin dekat, terbantu remang-remang cahaya bulan yang terpantul
dari jendela dapur, ia bisa melihat siluet seseorang sedang meminum air. Itu
bukan mommy-nya atau pembantu utama yang bisa keluar masuk dengan
mudah disini. Ed cukup hafal dengan postur semua orang di mansion-nya.
Dengan penuh tekad, Ed langsung berjalan cepat dan berteriak,
"Pencuri!"
***
GELAS yang dipegang oleh sosok itu pun meluncur bebas di lantai dan
menghasilkan bunyi nyaring.
"Mana pencurinya?" teriak Sofia sambil ikut menengok ke kanan dan kiri
berjaga-jaga jika malingnya berada di sekitarnya.
Ed sontak mengubah ekspresi kagetnya menjadi datar. Ia kemudian
berdecak sebal. Bagaimana gadis pencuri koper itu bisa ada di sini? Apa ia
juga ingin mencuri koper-koper lainnya yang ada di mansion ini? Sungguh
benar-benar merepotkan!
"Kau!" Ed menunjuk Sofia yang baru saja memecahkan gelas.
Sharon, Warner, dan Cadee sudah turun dari arah tangga dengan tergesa.
"Mana pencurinya? Mana? Biar Daddy sembelih!"
"Dia!" Ed menunjuk Sofia. Ia sebal, tapi tetap mempertahankan ekspresi
datarnya.
Semua mata sontak menatap Sofia yang malah menatap bingung Ed.
"Oh, Sofia. Dia keluarga baru kita, Ed," ucap Sharon dengan mata berbinar.
"Keluarga baru? Sejak kapan, Mom? Tidak cukupkah Cadee saja yang
diangkat? Kenapa harus dia?" pekik Ed terkejut.
"Kau sudah kenal Sofia? Wah, kalau begitu kebetulan juga. Jadi, Mommy
tidak perlu repot-repot memperkenalkan kalian lagi," ucap Sharon riang.
"Dia gadis yang mencuri koperku! Mommy masih ingat, kan, kemarin
aku mengeluh koperku hilang?" tanya Edbert geram ketika sang mommy
malah membela Sofia.
"Koper pantatmu?" tebak Warner dengan tangan yang berada di dalam
saku celananya.
"Iya, Dad. Daddy tahu, dia itu pencurinya!"
"Tidakkah kau sadar, jika kau yang sebenarnya mencuri koper dan ransel
Sofia? Berani-beraninya kau mengusir seorang wanita dari mobilmu tanpa
belas kasihan! Untung, kau tidak kukutuk menjadi kecoa!" Warner
mendengus sebal.
"Mom—"
"Sudah, sudah. Sofia ke sini, Sayang!" ucap Sharon lembut dan
menghampiri Sofia yang masih berdiri di antara pecahan gelas.
"Ya, ampun, Sofia. Kenapa masih berdiri di situ? Ayo, sini! Nanti, kaki
kamu luka kena pecahan gelas!" teriak Sharon khawatir, ketika melihat
banyak pecahan gelas yang berserakan di sekitar kaki Sofia.
Warner yang mendengar kata ‘terluka’, sontak berlari ke arah Sofia dan
menggapai tangannya. "Hati-hati, Nak. Jangan sampai kakimu terluka!"
Selanjutnya, ganti Cadee yang menuju ke arah Sofia sambil memutarmutar
tubuh Sofia, mengecek adakah yang terluka atau tidak.
Ed hanya memelotot, melihat semua keluarganya malah menghampiri
Sofia. Di sini yang anak kandung, kan, dia, bukan Sofia.
"Bersih, tidak ada luka!" ucap Cadee lega.
Warner dan Sharon pun mendesah lega. Kemudian, ketiganya menatap
Ed dengan tatapan tajam dan nyalang.
"Dia, anak perempuan Mommy." Sharon berucap tanpa ragu.
"Awas, kau berani macam-macam!"
"Ed, kau benar benar tega! Ke-ter-la-lu-an!" Cadee, ikut-ikutan orang
tuanya, memberi Ed peringatan.
Shit! Sejak kapan Ed menjadi anak angkat di sini?
***
"Bangun!" Sofia menendang pelan kaki Ed dengan kaki kirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Ed masih nyaman
menggulung dirinya dalam selimut tebal. Jadilah Sofia yang disuruh untuk
membangunkan.
Ditambah, kemarin ia mendapat tugas untuk menjadi sekretaris pribadi
seorang Edbert Kingsley Cruz. Dikarenakan sekretarisnya yang lama hamil
besar dan memutuskan resign. Sebenarnya, Sofia senang-senang saja karena
dengan begitu, ia bisa mendapat tempat tinggal gratis.
Termasuk makangratis, mandi gratis, minum gratis, tidur gratis, bahkan untuk membuang air
kecil atau besar pun gratis. Tidak seperti di Indonesia yang mau buang air
kecil saja harus bayar dua ribu rupiah, sedangkan mau BAB harus bayar
empat ribu rupiah. Lucu, bukan? Untung, Sofia kabur ke Amerika, bukan ke
kota tetangga.
"Ck! Molor wae!" ucap Sofia geram ketika Ed tak kunjung bangun.
Ah! Gue buka aja gordennya! Sofia pun berjalan menuju jendela, kemudian
menyingkap gorden abu-abu kamar Ed. Benar saja, mentari pagi langsung
menerobos masuk. Sofia tersenyum melihatnya, kamar ini menjadi lebih
hidup dengan sentuhan cahaya mentari.
Ia pun berjalan mengitari kamar Ed sambil melihat-lihat. Di dalam kamar
Ed, banyak sekali miniatur-miniatur Wonder Woman yang ditaruh dalamlemari kaca. Beberapa ada yang ditaruh di atas meja dan di beberapa nakas, seolah-olah menjadi benda yang mempercantik suatu tempat—tapi tidak ada karakter lain.
Aneh.
Sebenarnya, kamar Ed saat ini benar benar mewah dengan desain yang
elegan. Warna hitam dan abu-abu lebih condong di sini, menunjukkan kesan
pemimpin yang gelap. Benar-benar kontras dengan sikap absurd Ed. Entah
kebetulan atau tidak, kamarnya berada di sebelah Ed juga.
Kamarnya memang tidak seluas milik Ed, tapi tetap saja kamar di sini lebih mewah
berkali-kali lipat daripada kamarnya di Indonesia.
Kasur berukuran king size dengan TV LED besar menghiasi kemewahan
kamar ini. Ditambah, terdapat walk in closet yang juga bernuansa abu-abu dan
hitam, benar benar mewah dan elegan. Kemudian, di bathroom-nya juga
terdapat jacuzzi dengan interior lampu-lampu neon di pinggirnya dengan
pemandangan langsung menuju ke alam bebas. Bahkan, langit-langit kamar
mandinya pun terbuat dari kaca antipanas, membuat Sofia dapat melihat
awan-awan yang sedang bergerumbul di langit sana.
"Oh, ada yang ingin mandi bersama rupanya!"
Suara serak dan berat itu, membuat Sofia langsung membalikkan badan.
Mata Sofia membelalak ketika melihat Ed bersandar pada pinggir pintu
dengan kaki kanan yang ditekuk ke belakang dan tangan bersedekap.
Gayanya congkak dan angkuh.
Rambutnya yang acak-acakan khas orang bangun tidur, ditambah badan
kekar tanpa kaus. Otot-otot yang terlihat keras dengan abs yang sempurna
serta tubuh yang terlihat macho itu benar-benar membuat Sofia meneguk
ludahnya sudah payah. Celana boxer selututnya membuat pria itu benar
benar keren walaupun tanpa sentuhan pakaian mahal sekali pun. V line yang
terlihat sangat membentuk sempurna dari batas pinggang, hingga batas boxer
yang dipakai oleh Ed.
"Aku tau, aku tau, sudah banyak orang terpesona karena menatapku.
Tapi, masalahnya baru kali ini ada wanita terpesona di saat aku baru bangun
tidur. Ah, apa aku sebegitu tampannya?" ujar Ed percaya diri sambil
mengelus dagunya, menatap Sofia dengan wajah sok tampan.
Sofia berdecak-decak. "Jangan terlalu percaya diri, Tuan Edbert Yang
Terhormat!" ucap Sofia sambil menatap nyalang ke arah Ed sambil
bersedekap, seolah-olah menantang.
Ed mengangkat satu alisnya. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani
menantangnya. Sebelumnya, para wanita selalu memujinya dan
mengagungdirinya. Namun, baru kali ini seorang gadis kecil itu malah
menantangnya dengan berani. Benar-benar jatuh harga diri Ed.
"Apa kau ditugaskan untuk memandikanku?" tanya Ed sambil menyugar
rambutnya yang lumayan panjang itu ke belakang. Terlihat benar-benar bak
dewa Yunani yang turun langsung dari Nirwana saat ini.
"Memandikanmu? Lebih baik aku memandikan bebekku!"
"Bebekmu yang gimbal?"
Sofia memelotot sebal ketika bebeknya dikata apa tadi?
Gimbal? Berani-beraninya!
"Mommy! Daddy! Cadee! Bebek Sofia dikata gimbal!" teriak Sofia,
bahkan mungkin saat ini seisi mansion sudah mendengarnya.
"Edbert, apa yang kau lakukan kepada anak perempuan Daddy?" teriak Warner menggelegar seisi kamar Ed pagi ini, membuatnya menggeram sebal.
Kenapa semenjak ada gadis pencuri koper itu Edbert menjadi anak
angkat di sini?