Chapter 3

1248 Words
Ed berjalan lesu kedalam ruang keluarga mansion-nya. Ia kemudian mendudukkan diri dengan kasar di atas sofa muda di sana. Ed memijat pelipisnya yang terasa pening. Sekretaris perempuannya resign karena sudah hamil besar. Jadilah, Ed dan Cadee yang meng-handle seluruh pekerjaan dikantor yang menumpuk. Bahkan, ia harus lembur dan pulang pukul sepuluh malam di saat semua karyawan, bahkan Cadee sudah pulang sejak pukul lima sore. Tiba-tiba ia mendengar suara–seperti orang yang sedang menuangkan air ke dalam gelas–membuat Ed mengernyit bingung. Siapa yang malam-malam ke dapur? Seingatnya, kamar orang tuanya dan Cadee punya mini pantry yang digunakan untuk menaruh minuman dan beberapa camilan ringan. Jika pembantu, ruang dapurnya pun harusnya berada di belakang bukan di dapur utama. Ed memberanikan diri berjalan ke arah dapur yang gelap. Ia berjalan mengendap-endap dengan pelan dan hati-hati. Takut-takut, jika itu adalah maling. Bahkan, tangannya sudah mengambil sebuah vas bunga yang berada di pinggir sebuah lemari. Semakin dekat, terbantu remang-remang cahaya bulan yang terpantul dari jendela dapur, ia bisa melihat siluet seseorang sedang meminum air. Itu bukan mommy-nya atau pembantu utama yang bisa keluar masuk dengan mudah disini. Ed cukup hafal dengan postur semua orang di mansion-nya. Dengan penuh tekad, Ed langsung berjalan cepat dan berteriak, "Pencuri!" *** GELAS yang dipegang oleh sosok itu pun meluncur bebas di lantai dan menghasilkan bunyi nyaring. "Mana pencurinya?" teriak Sofia sambil ikut menengok ke kanan dan kiri berjaga-jaga jika malingnya berada di sekitarnya. Ed sontak mengubah ekspresi kagetnya menjadi datar. Ia kemudian berdecak sebal. Bagaimana gadis pencuri koper itu bisa ada di sini? Apa ia juga ingin mencuri koper-koper lainnya yang ada di mansion ini? Sungguh benar-benar merepotkan! "Kau!" Ed menunjuk Sofia yang baru saja memecahkan gelas. Sharon, Warner, dan Cadee sudah turun dari arah tangga dengan tergesa. "Mana pencurinya? Mana? Biar Daddy sembelih!" "Dia!" Ed menunjuk Sofia. Ia sebal, tapi tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Semua mata sontak menatap Sofia yang malah menatap bingung Ed. "Oh, Sofia. Dia keluarga baru kita, Ed," ucap Sharon dengan mata berbinar. "Keluarga baru? Sejak kapan, Mom? Tidak cukupkah Cadee saja yang diangkat? Kenapa harus dia?" pekik Ed terkejut. "Kau sudah kenal Sofia? Wah, kalau begitu kebetulan juga. Jadi, Mommy tidak perlu repot-repot memperkenalkan kalian lagi," ucap Sharon riang. "Dia gadis yang mencuri koperku! Mommy masih ingat, kan, kemarin aku mengeluh koperku hilang?" tanya Edbert geram ketika sang mommy malah membela Sofia. "Koper pantatmu?" tebak Warner dengan tangan yang berada di dalam saku celananya. "Iya, Dad. Daddy tahu, dia itu pencurinya!" "Tidakkah kau sadar, jika kau yang sebenarnya mencuri koper dan ransel Sofia? Berani-beraninya kau mengusir seorang wanita dari mobilmu tanpa belas kasihan! Untung, kau tidak kukutuk menjadi kecoa!" Warner mendengus sebal. "Mom—" "Sudah, sudah. Sofia ke sini, Sayang!" ucap Sharon lembut dan menghampiri Sofia yang masih berdiri di antara pecahan gelas. "Ya, ampun, Sofia. Kenapa masih berdiri di situ? Ayo, sini! Nanti, kaki kamu luka kena pecahan gelas!" teriak Sharon khawatir, ketika melihat banyak pecahan gelas yang berserakan di sekitar kaki Sofia. Warner yang mendengar kata ‘terluka’, sontak berlari ke arah Sofia dan menggapai tangannya. "Hati-hati, Nak. Jangan sampai kakimu terluka!" Selanjutnya, ganti Cadee yang menuju ke arah Sofia sambil memutarmutar tubuh Sofia, mengecek adakah yang terluka atau tidak. Ed hanya memelotot, melihat semua keluarganya malah menghampiri Sofia. Di sini yang anak kandung, kan, dia, bukan Sofia. "Bersih, tidak ada luka!" ucap Cadee lega. Warner dan Sharon pun mendesah lega. Kemudian, ketiganya menatap Ed dengan tatapan tajam dan nyalang. "Dia, anak perempuan Mommy." Sharon berucap tanpa ragu. "Awas, kau berani macam-macam!" "Ed, kau benar benar tega! Ke-ter-la-lu-an!" Cadee, ikut-ikutan orang tuanya, memberi Ed peringatan. Shit! Sejak kapan Ed menjadi anak angkat di sini? *** "Bangun!" Sofia menendang pelan kaki Ed dengan kaki kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Ed masih nyaman menggulung dirinya dalam selimut tebal. Jadilah Sofia yang disuruh untuk membangunkan. Ditambah, kemarin ia mendapat tugas untuk menjadi sekretaris pribadi seorang Edbert Kingsley Cruz. Dikarenakan sekretarisnya yang lama hamil besar dan memutuskan resign. Sebenarnya, Sofia senang-senang saja karena dengan begitu, ia bisa mendapat tempat tinggal gratis. Termasuk makangratis, mandi gratis, minum gratis, tidur gratis, bahkan untuk membuang air kecil atau besar pun gratis. Tidak seperti di Indonesia yang mau buang air kecil saja harus bayar dua ribu rupiah, sedangkan mau BAB harus bayar empat ribu rupiah. Lucu, bukan? Untung, Sofia kabur ke Amerika, bukan ke kota tetangga. "Ck! Molor wae!" ucap Sofia geram ketika Ed tak kunjung bangun. Ah! Gue buka aja gordennya! Sofia pun berjalan menuju jendela, kemudian menyingkap gorden abu-abu kamar Ed. Benar saja, mentari pagi langsung menerobos masuk. Sofia tersenyum melihatnya, kamar ini menjadi lebih hidup dengan sentuhan cahaya mentari. Ia pun berjalan mengitari kamar Ed sambil melihat-lihat. Di dalam kamar Ed, banyak sekali miniatur-miniatur Wonder Woman yang ditaruh dalamlemari kaca. Beberapa ada yang ditaruh di atas meja dan di beberapa nakas, seolah-olah menjadi benda yang mempercantik suatu tempat—tapi tidak ada karakter lain. Aneh. Sebenarnya, kamar Ed saat ini benar benar mewah dengan desain yang elegan. Warna hitam dan abu-abu lebih condong di sini, menunjukkan kesan pemimpin yang gelap. Benar-benar kontras dengan sikap absurd Ed. Entah kebetulan atau tidak, kamarnya berada di sebelah Ed juga. Kamarnya memang tidak seluas milik Ed, tapi tetap saja kamar di sini lebih mewah berkali-kali lipat daripada kamarnya di Indonesia. Kasur berukuran king size dengan TV LED besar menghiasi kemewahan kamar ini. Ditambah, terdapat walk in closet yang juga bernuansa abu-abu dan hitam, benar benar mewah dan elegan. Kemudian, di bathroom-nya juga terdapat jacuzzi dengan interior lampu-lampu neon di pinggirnya dengan pemandangan langsung menuju ke alam bebas. Bahkan, langit-langit kamar mandinya pun terbuat dari kaca antipanas, membuat Sofia dapat melihat awan-awan yang sedang bergerumbul di langit sana. "Oh, ada yang ingin mandi bersama rupanya!" Suara serak dan berat itu, membuat Sofia langsung membalikkan badan. Mata Sofia membelalak ketika melihat Ed bersandar pada pinggir pintu dengan kaki kanan yang ditekuk ke belakang dan tangan bersedekap. Gayanya congkak dan angkuh. Rambutnya yang acak-acakan khas orang bangun tidur, ditambah badan kekar tanpa kaus. Otot-otot yang terlihat keras dengan abs yang sempurna serta tubuh yang terlihat macho itu benar-benar membuat Sofia meneguk ludahnya sudah payah. Celana boxer selututnya membuat pria itu benar benar keren walaupun tanpa sentuhan pakaian mahal sekali pun. V line yang terlihat sangat membentuk sempurna dari batas pinggang, hingga batas boxer yang dipakai oleh Ed. "Aku tau, aku tau, sudah banyak orang terpesona karena menatapku. Tapi, masalahnya baru kali ini ada wanita terpesona di saat aku baru bangun tidur. Ah, apa aku sebegitu tampannya?" ujar Ed percaya diri sambil mengelus dagunya, menatap Sofia dengan wajah sok tampan. Sofia berdecak-decak. "Jangan terlalu percaya diri, Tuan Edbert Yang Terhormat!" ucap Sofia sambil menatap nyalang ke arah Ed sambil bersedekap, seolah-olah menantang. Ed mengangkat satu alisnya. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani menantangnya. Sebelumnya, para wanita selalu memujinya dan mengagungdirinya. Namun, baru kali ini seorang gadis kecil itu malah menantangnya dengan berani. Benar-benar jatuh harga diri Ed. "Apa kau ditugaskan untuk memandikanku?" tanya Ed sambil menyugar rambutnya yang lumayan panjang itu ke belakang. Terlihat benar-benar bak dewa Yunani yang turun langsung dari Nirwana saat ini. "Memandikanmu? Lebih baik aku memandikan bebekku!" "Bebekmu yang gimbal?" Sofia memelotot sebal ketika bebeknya dikata apa tadi? Gimbal? Berani-beraninya! "Mommy! Daddy! Cadee! Bebek Sofia dikata gimbal!" teriak Sofia, bahkan mungkin saat ini seisi mansion sudah mendengarnya. "Edbert, apa yang kau lakukan kepada anak perempuan Daddy?" teriak Warner menggelegar seisi kamar Ed pagi ini, membuatnya menggeram sebal. Kenapa semenjak ada gadis pencuri koper itu Edbert menjadi anak angkat di sini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD