Chapter 4

1098 Words
"Kau jangan menempel-nempel pada tubuhku bisa,Boss?" tanya Sofia ketus. Sofia sudah mengubah panggilannya untuk Ed dengan sebutan 'Bos'. Ia masih sadar diri dengan status dan kehidupannya yang 'menumpang'dalam keluarga Ed, hingga pria itu diperlakukan seperti anak tiri di keluarganya sendiri. Setidaknya, merendah karena sudah berkuasa tak apa-apa, kan? Saat ini mereka bertiga sedang berdiri di dalam lift guna menuju ke lantai ruangan Ed, Sofia, dan Cadee berada. Di dalam lift mini ini mereka bertiga juga sedang saling berhimpitan satu sama lain. Mengingat lift ini merupakan lift khusus untuk Ed, jajaran penting, serta tamu rapatnya. Dan, sayangnya juga, lift yang sedang mereka pijak saat ini tidak sebesar ukuran umum yang besarnya 2 kali lipat dari lift pribadi Ed. Mengingat yang selalu menggunakan privat lift ini hanyalah Ed dan Cadee saja. Namun, rupanya saat ini Ed menyesali hal itu. Buktinya sekarang ada gadis pencuri koper cerewet yang telah menuduh Ed menempel padanya. Padahal, Cadee yang menempel-nempel ke arah tubuhnya. Hal itu karena di samping Cadee ada perkakas mentahan untuk kubikel kecil yang nantinya akan menjadi mini room Sofia bekerja. "Situ matanya buta? Nggak liat yang nempel-nempel siapa?" Ed menjeda ucapannya sejenak. "Perkakas untuk tempatmu kerja yang memenuhi lift!" "Suruh siapa buat lift kecil?" balas Sofia nyolot. "What? Kenapa kau menyalahkan liftku?" sentak Ed sebal, ketika liftnya yang malah disalahkan. Sofia bergumam menggunakan bahasa Indonesia daerahnya. "Boss bule, kok,kere, cetil misan." "Apa yang kau katakan?" "Ngom—" Tiba-tiba saja terdengar suara kentut, seketika menghentikan ocehan Sofia untuk Ed. Ia memandang Ed horor, tapi yang dipandang juga menatapnya demikian. "Kau buang gas?" "Kon ngobos?"Sontak bahasa khas surabaya dengan suara medok milik Sofia keluar. Sofia memelotot ketika ia difitnah kentut. "Ngentut your ass! s**t! Baunya!" umpat Sofia sambil menutup hidung ketika aroma sawi busuk memenuhi rongga hidungnya didalam lift kecil ini. "Kau tidak bisa, ya, sopan sedikit? Aku adalah bosmu! Mencuri koper, membuatku dianggap jadi anak tiri di rumah, suka buat naik darah. Sekarang, malah suka kentut sembarangan. Oh, God! You're really damn Girl!" umpat Ed sebal sambil menutup hidung dan mual-mual ketika lift kecil ini beraroma busuk bak bangkai tikus. Lift pun terbuka dan membuat Cadee langsung meloncat keluar lift, melompati perkakas-perkakas itu. "Silakan dilanjut bertengkarnya. Saya izin ke kamar mandi!" teriak Cadee sambil berlari memegangi perutnya yang mulas dengan suara kentut yang kali ini keluar lebih panjang dan keras. "s**t!" "Gendeng!" Sontak Sofia dan Ed saling berpandangan, kemudian tertawa bersama melihat tingkah Cadee yang lari terbirit-b***t, juga tertawa ketika mengingat sudah menuduh satu sama lain.Setidaknya, hari ini ada sedikit hal yang membuat Ed mengurangi rasa sebalnya terhadap gadis kecil pencuri koper itu.   *   "Sofia! Ini sudah jam makan siang, belikan aku makanan di kantin kantor." Tidak ada jawaban dari Sofia, Ed berteriak, "Sofia!" Hasilnya tetap sama. "Dasar! Gadis tidak tau diri! Ingin rasanya aku me—" Oke, kali ini Ed terdiam, tak melanjutkan ucapannya yang terasa hanya membuang tenaga. Di depan sana—lebih tepatnya di dalam kubikel transparan yang ditempati Sofia untuk bekerja—Sofia tidur nyenyak dengan kepala yang disembunyikan dalam lipatan tangan. Benar benar sekretaris tak tahu diri dan tak tahu malu! Lihat saja, akan aku laporkan hal ini pada Daddy dan Mommy agar dia turun jabatan menjadi pembatu atau mungkin OB! batin Ed licik. Ed kemudian bangkit dan memfoto posisi Sofia yang tertidur sejelas mungkin. Ia juga tidak lupa memvideokan Sofia, sebagai bukti untuk laporan pada Daddy dan Mommy-nya.Setelah selesai, senyum Ed langsung tercetak jelas di wajah tampannya dan segera memasukan ponselnta ke dalam jas. "The first mission is ready to do!" ucapnya semangat, lalu berjalan keluar ruangan.   *   "Aku lapar!" rengek Sofia di dalam mobil. Ia tadi ternyata tertidur hingga jam kantor hampir selesai, membuatnya kelaparan. Apalagi Ed tidak mau mampir ke kantin kantor, katanya sudah tutup. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion. Sungguh, rasanya Sofia sudah tidak memiliki tenaga hanya untuk sekedar berjalan. Ditambah,Ed yang senyam senyum sendiri. Benar-benar menyebalkan. Tahu begini, ia lebih baik tidak ketiduran di dalam ruangannya agar bisa makan siang dengan tenang. "Kau gila? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Sofia bingung, melihat senyum semringah Ed sedari tadi. "Kau mau makan?" tanya Ed tiba tiba. Sofia mengangguk. Wajahnya memelas sambil mengusap perut, berharap Ed tersentuh dan mau menuruti ucapannya untuk berhenti di restoran cepat saji. "Makan angin, sana! Supaya kenyang." Sontak Sofia menghentikan usapan pada perut datarnya. Wajahnya yang semula sok memelas langsung berubah datar. Sofia mengangkat pandangan, menatap Ed datar yang duduk disisinya. "Makan hatimu saja, ya? Dasar bule kampret!"   *   "Dad! Mom!" teriak Ed ketika ia baru saja membuka pintu mansion. Ed ingin segera melaporkan apa yang Sofia lakukan seharian ini dikantor. Dibelakangnya,Sofiaberjalan mengikuti sambil tertunduk lesu danCadee mengekorinya. Tiba-tiba Sharon berjalan dari arah dapur dan merentangkan kedua tangan sambil tersenyum cerah. Ed yang menatap itu sontak tersenyum lebih lebar dan ikut merentangkan kedua tangannya kearah sang mommy. "Sofia, bagaimana kegiatan dikantor hari ini?" Sharon melewati Ed begitu saja, ia malah memeluk Sofia dan mengelus rambut hitam legam milik gadis itu. Ed langsung merubah ekspresinya sedatar mungkin. Matanya memelotot tajam ketika melihat Cadee yang sedang berusaha menahan tawa. Sialan! Tak lama Warner juga datang sambil merentangkan kedua tangannya. Kali ini arahnya menuju Ed. Sontak dengan percaya diri Ed berjalan,ingin membalas pelukan Warner. Shit! Warner malah sengaja membelokkan tubuhnya dan berlalu. Ia malah berjalan ke arah Cadee dan memeluknya erat. "Ayo, makan,Boy!"ucap Warner dan menepuk keras punggung Cadee. Oke. Ed ingin membakar mansion ini hingga lenyap tak bersisa. "Aku lapar, Mommy," adu Sofia sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sharon. "Oh, ya? Apa kau tidak makan tadi siang?" "Tid—" "Bagaimana dia mau makan siang, Mom, jika pekerjaannya sedari pagi hingga sore hanya tertidur diatas meja?" potong Ed antusias. "Aku punya buktinya!" Kemudian, ia mengeluarkan ponselnya yang berada di saku celana dan membuka galeri yang berisi foto Sofia sedang tertidur. "Ini!" Tunjuk Ed sambil memperlihatkan foto Sofia kepada Sharon dan Warner. Keduanya kemudian menatap foto Sofia yang terlihat kelelahan. "Dasar pria tak punya hati! Kau sebenarnya anak siapa, Ed?"Warner mencemooh. "Edbert, apa kau tidak kasihan melihat Sofia tertidur kelelahan diatas meja seperti itu? Pasti tubuhnya sakit semua. Harusnya, kau meminjamkan kamarmu yang berada di lantai atas kantor, Nak," ucap Sharon sebal pada Ed. Ini aku benar jadi anak tiri ceritanya? "Sofia belum makan dari tadi siang, Dad." Provokasi dari Cadee membuat Warner dan Sharon langsung kompak menjewer telinga Ed bersamaan. "Dasar anak kurang ajar ya! Sejak kapan daddy mengajarimu untuk menelantarkan seorang perempuan?!!" "Dasar anak nakal!!! Mommy kutuk jadi kecoa mau?! Iya?!" Dan kemudian di depan sana Sofia malah menjulurkan lidah nya sambil berucap tanpa suara"2-0". **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD