"Mommy"
Ed memeluk tubuh Sharon dari belakang saat ini. Sharon sedang memasak waffle untuk sarapan pagi ini dan dibantu oleh 2 maidnya yang langsung undur diri ketika mendapat pelototan tajam dari Ed.
"Mom masih memasak Ed." Ujar Sharon sambil membalik waffle yang berada diatas teflon khusus memasak waffle.
"Biarin! Sejak ada gadis pencuri koper itu disini aku jadi anak tiri!" Ucap Ed dengan nada merajuk dan semakin mengeratkan pelukannya pada Sharon.
Jangan heran, jika Ed semanja ini dengan Sharon. Meskipun usianya sudah kepala 3 tapi sikapnya masih persis seperti anak 3 tahun. Manja. Sikap ini memang menurun dari sang daddy, Warner Cruz.
Sharon cekikikan mendengar gerutuan dari sang anak. Memang baru kali ini ia dan sang suami meng-anak tirikan Ed dengan begitu kentaranya.
"Kau tau kan Ed, mom dan dad ingin sekali punya anak perempuan. Apalagi mom sudah tidak bisa mengandung lagi."
"Apa belum cukup hanya Cadee yang diangkat jadi anak?"
Sharon membalikan badan nya dan menatap lembut anak laki-kakinya yang tak terasa sekarang sudah berkepala 3.
"Kau kan tau juga, mom sangat ingin punya anak perempuan. Dan ketika pertama kali mommy melihat Sofia, mom merasa Sofia anak yang baik dan mom merasa senang sekaligus cocok, Ed sayang," ucap Sharon berusaha memberi bayi besarnya pengertian.
"Taaappii mommmm..." rengek Ed manja.
"Ck! Dasar tidak ingat umur! Cari istri sana! Jangan pegang pegang istri daddy!" Warner datang dan langsung merebut sang istri kemudian memeluk pinggang Sharon posesif.
Sedanglkan Ed hanya bisa mencibir omongan Warner.
"Aahhh! Apa Ed kita jodoh kan saja My candy? Agar dia tidak bermain jalang di sembarang tempat?" Usul Warner membuat Ed berdecak sebal.
"Wanita pilihan daddy itu selalu jauh diatas kriteria ku! Kenapa harus menikah jika bermain jalang lebih sedap?"
"Kau saja belum tau enaknya punya istri! Setiap hari kau bisa meminta jatah ranjang tanpa mengeluarkan uang. Di sayang sayang setiap malam!. Tidak seperti jalang yang terus meggerogoti dompet mu!"
"Apa kita nikahkan saja Sofia dengan Ed ?" Usul Sharon tiba tiba memecah keributan mereka.
"Setuju!!"
"Tidak!!"
*
"Ed, kau tidak makan?" Tanya Cadee menghampiri Ed yang sedang sibuk berjemur tubuhnya dibawah terik siang ini di kursi ala pantai pinggir kolam.
Ed mendongak kan pandangannya dan menatap Cadee yang datang membawa sepiring daging sapi dengan saus barbeque. Hari ini memang hari minggu, dan biasanya disaat hari libur, mansion Cruz mengadakan acara barbeque kecil kecilan untuk mempererat kekeluargaan mereka. Hari dimana mereka akan bersenang senang satu keluarga bersama dan bercanda tawa bersama.
"Nanti saja!"
"Kau belum makan sedari kemarin malam Ed!" tegur Cadee, ia tahu jika Ed saat ini sedang merajuk kepada kedua orang tuanya. "kau bisa sakit!" lanjutnya.
"Aku tidak butuh petuah seorang perjaka tua!" cibir Ed.
Sontak Cadee langsung menutupi k*********a dengan satu tangan dan memiringkan tubuhnya seolah melindungi aset berharganya.
"Da-rri mman-aa kkaa-uu taattatta-u? Tanya Cadee terbata bata mendengar celetukan Ed.
Ed sontak melepas kaca mata hitam yang dipakaia pakai dan berjingkat bangun. Ia menatap Cadee horor.
"Jadi benar kau masih perjaka ting-ting? Belum tersentuh bahkan terjilat?" Shock Ed.
"Kau tidak salah haluan kan Cadee?" Selidik Ed yang membuat Cadee membanting piringnya diatas meja sebelahnya dengan geram. Memang ia masih perjaka. Tapi apa katanya? Salah haluan? Miliknya masih tegak ya, ketika Ed membawa jalang jalangnya ke kantor, atau ketika ia tak sengaja melihat Ed sedang menggerayangi para wanita seksi itu atau bahkan sedang Make Out di depan matanya sendiri.
"Kau mau bukti?" Tantang Cadee.
"Tidak! mataku tidak mau tercemar melihat burung kecilmu itu!" Tohok Ed dan kembali membaringkan tubuhnya.
Sabar Cadee, sabar.
Cadee pu mengambil piringnya dan berjalan meninggalkan Ed yang malah bersantai-santai ria. "Ku sumpahkan kau jatuh cinta dengan Sofia!" Gerutu Cadee sebal.
"Cadee! I hear you!!!!"
Tapi Cadee tak membalas, ia masuk dengan perasaan dongkol ke dalam mansion. Dan Ed cekikikan sendiri setelah membuat Cadee sebal hari ini. Tak masalah bukan? Membalas perbuatannya yang seenaknya buang angin didalam lift saat itu.
Tapi baru 10 menit Ed tenang dengan kegiatannya, seseorang tiba tiba melempar piring dengan keras keatas perutnya, hingga sausnya tercecer di sekitar celana Ed dan juga perut kotaknya.
"Ashh!"Ed membelalakkan mata ketika tubuhnya penuh oleh saus bewarna cokelat dengan aroma sedap itu. Sebuah piring dengan potongan daging panggang dan saus barbeque di atasnya tersaji di atas perut Ed.
"s**t!! What are you doing Sofia!!!"Geram Ed.
Tentu saja Ed tau pelakunya adalah Sofia. Secara, siapa yang berani berlaku seenaknya terhadap dirinya selain gadis pencuri koper itu.
"Makan! Aku tidak mau kau merepotkan ku karena kau terkena penyakit! Hidupku sudah susah! Jangan sampai kau mempersusah hidupku!" Ucap Sofia cuek dan menyedekapkan tangan di dadanya.
Ed melepas kaca mata hitamnya dan memicingkan mata menatap Sofia yang bergaya angkuh. "Tanggung jawab!"
"Tanggung jawab apa?"
"Bersihkan saus saus ini dari tubuhku gadis nakal!" Geram Ed ketika Sofia tak merasa bersalah sedikit pun.
"Okey, aku akan ambilkan tisu." Ucap Sofia dan berbalik. Namun belum sempat ia berjalan, tangannya sudah dicekal oleh Ed.
"Bersihkan dengan lidah mu gadis kecil yang benar-benar nakal." Ucap Ed dan menekankan kata pada kalimat 'gadis kecil yang benar benar nakal'.
Sofia langsung memutar kepalanya menatap Ed tajam. Apa katanya? Dengan lidah? Gendeng.
"Aku masih waras untuk tidak menjilati tubuh mu seperti gadis-gadis murahan diluar sana tuan Edbert terhormat!" Dengus Sofia dengan tajam.
"Oh ya? Bukan karena kau takut untuk tergoda?"
"Tergoda katamu?" Sofia kemudian mendecih sinis, kepalanya mendongak angkuh dengan tangan bersedekap di d**a.
"Sorry, level ku jauh berada diatas mu!" Dan kali ini Sofia benar-benar membalikan badannya. Dagunya ia angkat tinggi seolah ia adalah penguasa disini.
Ed benar-benar merasa gemas dan tertantang dengan gadis kecil dihadapannya. Tingginya saja hanya se d**a Ed. Tapi gayanya selangit. Dan ide jahil pun terlintas di otaknya. Mungkin ide ini merupakan sebuah ide tergila yang pernah ia buat. Tapi untuk menjatuhkan kan harga diri seorang Sofia, tak masalah bukan?.
"So... kalau tubuhku sudah tidak di sentuh oleh para w************n itu, kau mau menjilati tubuh ku untuk menghilangkan saus saus ini gadis nakal?" Tanya Ed berusaha memprovokasi Sofia.
Sofia memberhentikan langkahnya, ia kembali berbalik menatap Sofia. Alis Sofia menukik tajam, "Aku bukan orang yang menjilat ludah ku sendiri tuan Edbert terhormat."
"Okey, ku pastikan sejak detik ini. Tidak akan ada wanita yang akan menyentuh tubuhku lagi-selain dirimu gadis nakal ku!" Ucap Ed dengan nada menggoda dan menatap kemenangan pada Sofia.
Kena kau! Batin Ed senang.
Shit! Aku dijebak! Kali ini batin Sofia yang mengumpat.
Sofia masih diam dan bingung harus berucap apa. Rupanya salah ia bermain-main dengan seorang Edbert saat ini.
"Kenapa diam? Kau bilang dirimu tak menjilat omongan sendiri. Ayo bersihkan saus ini dari tubuhku. Dan akan ku pastikan aku tidak akan disentuh wanita lain. Ah! Tenang saja, kemarin malam aku belum disentuh oleh siapasiapa. Jadi badanku sudah suci untuk kau jilat bukan, gadis ku?" Ucap Ed dengan nada menggoda.
Sial sial sial!
"Ck! Kau pasti memanfaatkan situasi!" Sofia berusaha mengelak.
"Memanfaatkan seperti apa?"
"Ya pokoknya memanfaatkan!!!"
Ed mendecih dan kemudian menaik turunkan kedua alisnya. "Atau jangan jangan kau yang takut tergoda oleh ku dan malah menyerahkan tubuhmu untuk ku?"
Sofia membelalak an mata mendengar ucapan frontal Ed. "Never and impossible Mr. Cruz!"
"So?Let's do it! And prove your words!"
Sofia meneguk ludahnya susah payah. Rasanya seperti ada batu besar mengganjal di tengah tengah lehernya saat.
Ini gila!
Ini tidak benar!
Ia tidak pernah melakukan ini!
"Kenapa masih berdiri disitu? Kau takut dirimu terjebak oleh pesona ku dan kemudian berakhir di ranjang bersama ku? Tenang saja level ku juga bukan seperti dirimu gadis nakal!" sarkas Ed, mengejek Sofia, seolah membalikan fakta bahwa Ed bukan termasuk dalam kriteria Sofia.
Sofia mengepalkan kedua tangannya penuh emosi.
Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan!
Seorang Sofia tidak pernah rela harga dirinya diinjak-injak!
"Aku tidak akan pernah terpesona oleh mu! Dan ku pastikan kau yang akan menggeram kenikmatan karena ku pria k*****t!" Ucap Sofia menggebu gebu.
"So, prove it!"
Sofia meneguk ludahnya susah payah dan memejamkan mata berusaha menenangkan dirinya. Kemudian ia berjalan pelan menuju Ed yang sudah bersandar setengah tidur pada kursi ala pantainya sambil menatap Sofia penuh kemenangan.
Ayo Sofia buktikan kalau kau lebih hebat dari k*****t tidak tau diri itu!
Hingga kemudian Sofia sudah berdiri tepat dihadapan Ed. Wajah yang semulanya gugup dan takut kini berubah menjadi wajah wanita yang angkuh dan berkuasa.
Sofia menaikkan satu kakinya keatas kursi kayu itu dan menaikkan lagi satu kakinya yang masih berpijak pada lantai dengan gaya sensual. Dan sekarang ia berdiri tegak dengan dua kaki terlipat kebelakang diantara kedua kaki Ed.
Ed masih diam belum bereaksi apa-apa. Dan ia menatap tertarik pada Sofia yang ternyata lebih berani dari yang ia kira selama ini.
Sofia kemudian menundukkan setengah badannya menjadikan kepalanya tepat berada dua jengkal diatas kemaluan Ed.
"And then, Let's we start our game!"Ucap Sofia seksi sambil membasahi kedua bibirnya dengan lidah. Membuat bulu kuduk Ed sudah m