2025 (12)

1231 Words

Keluarga itu tertawa lepas, mengisi ruang makan dengan kehangatan yang selalu ada setiap kali mereka berkumpul. Suasana berbuka puasa di rumah Fadli dan Caca selalu meriah, penuh canda dan tawa yang mengalir begitu saja. Meja makan dipenuhi berbagai hidangan lezat, mulai dari kolak pisang, es timun suri, hingga hidangan berat seperti ayam bakar dan rendang yang menggugah selera. Aroma masakan memenuhi udara, menambah kenyamanan dalam kebersamaan mereka. Di antara suara riuh rendah obrolan, ada satu topik yang menjadi pusat perhatian mereka kali ini—sesuatu yang sukses mengundang gelak tawa sejak tadi. "Jadi, Aziel beneran bilang gitu?" tanya Caca dengan mata berbinar, mencoba menahan tawa namun tetap gagal. "Iya, Buuuk!" Fasha, anak sulungnya, mengiyakan dengan ekspresi geli. "Dia bilan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD