Bersedih berlarut-larut tak akan ada habisnya. Fadli tahu itu dengan sangat baik. Ia memahami bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup, dan tak ada yang bisa dilakukan selain menerima kenyataan. Itulah mengapa ia agak jarang ke Depok akhir-akhir ini. Bukan karena ia tak merindukan kampung halamannya atau keluarganya di sana, tapi karena ia takut akan merasakan apa yang dirasakan oleh kedua abangnya, Fadlan dan Feri. Ia tahu betul bagaimana mereka selalu berkaca-kaca tiap kali melewati rumah lama, bagaimana kenangan tentang Papi dan Mami selalu muncul di setiap sudut kota yang mereka tinggali sejak kecil. Fadli tak ingin terjebak dalam kesedihan seperti itu. Ia memilih jalan yang berbeda—mencari ketenteraman dengan lebih banyak menghabiskan waktu bersama istrinya, Caca. Setidaknya, bersa

