Lara menghela napas pelan, matanya masih tertuju pada layar laptop, tapi pikirannya sudah melayang jauh. Ia tahu betul Aziel tidak akan menyerah begitu saja. Dari dulu cowok itu memang keras kepala, terutama dalam hal yang ia inginkan. Dan saat ini, yang ia inginkan adalah dirinya. "Atau setidaknya kita coba dulu," kata Aziel lagi, suaranya terdengar lebih lembut, lebih meyakinkan. Lara akhirnya menoleh, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana cara kerja hati seseorang. Bagaimana seseorang bisa begitu yakin ingin menghabiskan seumur hidupnya dengan orang lain? Bagaimana seseorang bisa mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah berubah, tidak akan pernah pergi? "Nikah bukan buat coba-coba, Aziel," katanya pelan, tapi tegas. Aziel tersenyum k

