Larin masih mondar-mandir di kamar hotel dengan wajah masam. Tangannya sibuk melipat pakaian, tapi gerakannya penuh emosi. Lara, yang duduk di tepi tempat tidur sambil melipat bajunya sendiri, hanya bisa terkekeh kecil melihat kelakuan kembarannya itu. "Gila kali. Masih muda gini udah diajak menikah?" gerutu Larin, melempar kaus ke dalam koper dengan agak kasar. Lara tersenyum tipis, menikmati momen langka ini. Biasanya, setelah sahur, Larin akan langsung tidur lagi, meringkuk di balik selimut dan baru bangun saat benar-benar harus bersiap untuk berangkat. Tapi kali ini berbeda. Bukannya kembali tidur, ia justru sibuk mengemasi barang-barangnya dengan penuh semangat—atau lebih tepatnya, dengan penuh kekesalan. "Reyhan serius banget, ya?" Lara berkomentar santai, mencoba menahan tawanya.

