Aska memejamkan mata, satu keputusan sudah ia ambil. Ia melangkah, mendekat ke arah ranjang. Ia harus mengambil keputusan sebelum semuanya terlambat, dan akan menjadi penyesalan untuk sepanjang sisa hidupnya kelak. Urusan yang lain, akan ia pikirkan nanti saja. Yang penting, adalah memenuhi keinginan kakek Asifa. "Aku bersedia menikahi Asifa." Semua mata mengarah pada Aska, Asifa langsung bangun dari duduknya. "Jangan bercanda, Bang!" "Aku tidak sedang bercanda, Sifa. Bisa kita bicara berdua sebentar?" Asifa menatap kakeknya, kakek menganggukan kepala. Aska melangkah ke luar lebih dulu dari dalam kamar, diikuti oleh langkah Asifa. Tatapan kakek, bik sulis, dan kedua sepupu kakek mengikuti langkah mereka berdua. Mereka berdiri berhadapan di luar ruangan. "Abang.... " "Ini hanya unt

