Bab 5

1308 Words
Tak ada yang berani menolong seonggok tubuh yang sedari tadi gemetar hebat akibat tangis yang tak mampu berhenti. Felicya, tampang gadis itu begitu nelangsa. Darin benar-benar membawa Felicya ke hotel, tempat dimana Felicya akan di serahkan pada rekan kerja pria itu. Pada saat di lobi, Felicya menolak dan membrontak namun gagal. Darin begitu kuat menyeret dirinya memasuki lift. Para pegawai dan pengunjung yang melihat adegan penyiksaan itu menatap kasihan pada Felicya. Mau menolongpun mereka takkan bisa. Karena Darinlah pemilik hotel tersebut. "Tolong jangan lakukan ini.." Felicya menangkupkan kedua tangannya di d**a. Tatapan gadis itu penuh dengan ketakutan. Mata Darin yang menggelap menghiraukan tangis serta suara serak Felicya yang terus memohon padanya. Mereka sudah mencapai lantai 17, dan lift terhenti pada lantai 18. Darin kembali menarik kasar tangan Felicya. Kali ini lebih kuat dan keras tarikannya karena Felicya yang lagi-lagi mencoba menolak. Darin menggeram. "Diam! Ini akibat dari ulah kurang ajarmu itu! Aku tidak akan menjadikanmu umpan seandainya kamu tidak melepaskannya!" Felicya gemetar mendapat geraman tajam Darin. "Dia tidak salah." Felicya menggelang di sertai air mata yang sudah membasahi wajahnya. "Begitu juga aku! Aku mohonn... Hiks.." Nafas Felicya mulai tersengal-sengal. "Aku mohon Darin... Aku bukan pelacur.." Felicya menunduk, menguatkan hatinya untuk kata berikutnya. "Aku hanya akan menjadi pelacurmu.." kali ini tak ada air mata yang mengalir. Tangisannya berhenti. Tergantikan dengan rongga dadanya yang tercekik akibat derita yang di alaminya. Permainan nasib yang membawanya masuk ke kehidupan pria itu. Felicya menyaksikan kakinya yang tak beralas. Darin tak memberikan kesempatan padanya untuk memakai alas kaki setelah dirinya selesai memakai mini dress. Sekarang kakinya di penuhi memar berwana kemerahan. Akibat Darin yang menyeretnya tanpa perasaan. Tampilan Felicya bisa di bilang sangat kacau. Darin yang melihatnya menarik nafas dalam-dalam, lalu mengusap rambut kepalanya. Ia begitu kesal dan marah saat seseorang telah melawan dirinya. Dan semuanya terlambat untuk gadis itu memohon ampun. "Masuk." kata Darin tajam dan penuh ancaman. Felicya memejamkan matanya sejenak. Menguatkan hatinya sebelum akhirnya memasuki pintu yang telah di bukakan Darin untuknya. Jika tidak dalam kondisi seperti ini, mungkin Felicya akan tersanjung karena tindakan pria itu. Felicya menyempatkan diri menatap mata Darin dan berkata dengan tatapan matanya yang sendu. "Aku tau kamu bukanlah pria yang baik. Tapi sekarang aku semakin tau, kalau kamu iblis berhati dingin. Aku-membencimu-Darin." Darin membisu mendengar ucapan terdalam Felicya untuknya. Entah kenapa itu begitu menganggu pikirannya. Darin menghela nafas beratnya saat melihat kepergian Felicya. Tak ingin rasa kasihan itu mendominasi dirinya, cepat-cepat Darin berbalik badan. Melangkah memasuki lift.  **** Felicya meringkuk di sudut kamar dengan tubuh gemetarnya. Air matanya telah mengering, tergantikan dengan ketakutan hebat yang melanda dirinya. Bagaimana tidak? Di depannya kini berdiri pria tua bangka yang menatapnya penuh nafsu. Membuat Felicya semakin menyudutkan tubuhnya ke dinding. "Rupanyaa, Darin memang begitu pintar dalam hal memilih pelacur." pria tua itu manggut-manggut saat mengamati tubuh Felicya dari atas sampe bawah. Pandangan mata Darmito sangat di penuhi kilatan nafsu yang membara. "Kemarilah. Cepat lakukan tugasmu. Kau pasti sangat pintar memuaskan seorang pria." senyuman di wajah Darmito membuat Felicya jijik dan ingin muntah. Gadis itu tak bisa membayangkan berada di bawah kukungan pria tua dengan perut buncit itu. Pastinya akan sangat menjijikkan. Melihat Felicya yang tak kunjung mendekat membuat Darmito kesal. Pak tua itu berinisiatif menghampiri Felicya. Menyentuh dagu Felicya namun berhasil di tepis kasar oleh gadis itu. Darmito yang merasa terhina mendesis tak terima. "Sialan!" rahanganya mengeras dan mata merahnya menunjukkan ketidak sukaan atas penolakan yang di lakukan Felicya. "AAARRRGGHHHHHH!" Felicya merintih dengan kepala mendongak ke atas saat Darmito menjambak rambutnya. Begitu kuat sampe kulit kepalanya seakan terkelupas. Mau tak mau, Felicya mengikuti saat tubuhnya kembali di seret meskipun oleh orang yang berbeda kali ini. Tapi kedua orang itu sama-sama memberikan luka yang membekas di hatinya. Darmito membanting tubuh Felicya ke atas kasur. Meskipun jatuh di permukaan yang empuk tetap saja membuat Felicya meringis. Entah merasakan sakit pada punggungnya? Kepalanya? Atau pada batinnya? Felicya merangsak mundur saat Darmito naik ke atas kasur dan mulai mendekati dirinya sembari melepaskan kancing kemejanya. "Tolong jangan dekati saya! Jauhi sayaa!! Hikss.." Felicya berteriak frustasi. Punggungnya sudah mentok menyentuh kepala ranjang. Kedua kakinya menendang-nendang memperlancar aksi penolakannya. Darmito yang semakin di buat tertantang untuk segera meniduri Felicya berniat memegang wajah Felicya. Namun keburu gadis itu melompat dari atas kasur. "Sialan! Kau berani melawanku?! Jalang sialan!" desis Darmito menggertakkan giginya. Dia mengejar Felicya mencoba untuk menangkap gadis itu. Tapi Felicya terlalu gesit dan juga anarkis. Gadis itu melempari benda apapun yang ada di dekatnya. Mulai dari gelas kaca, botol minuman, fas bunga, dan hiasan-hiasan lainnya. "Jangan pernah menyentuhku! Hhaaaa!!" Triak Felicya dengan tubuh bergetar hebat. Ketakutan gadis itu terlihat nyata dari sikap perlawanannya yang sudah mulai tak terkendali. Ruangan itu sudah kacau balau. Serpihan-serpihan kaca dari benda yang di pecahkan Felicya berserakan di mana-mana. Sampai tangan Felicya tak lagi menemukan benda untuk di lemparkannya lagi. Darmito menggunakan kesempatan itu untuk menarik tangan Felicya lalu menyeret gadis itu kembali ke kasur. "Akhh!" Felicya terpekik saat kaki telanjangnya menginjak pecahan beling. Buk! Felicya kembali terlentang di atas ranjang. Gadis itu memejamkan mata masih dengan tangis yang mengiringi. Dia... Pasrah. Tenaganya telah habis. Mungkin takdir memang berkata seperti ini. Darmito tersenyum melihat Felicya yang pasrah tak lagi melakukan perlawanan. Dia kemudian merangsak naik menindih Felicya. BRAAAAAK! Darmito berhenti bergerak. Giginya bergemelutuk tak terima karena seseorang telah mengganggunya. Ia menoleh, menatap nyalang pada siapapun itu. "Hai? Apa kau sudah akan memulainya?" "Kau?" Darmito mengeryit melihat pria yang berdiri tegap di ambang pintu. Tak merasakan sentuhan di tubuhnya. Felicya memberanikan diri membuka mata. Di atasnya terlihat Darmito yang tengah memalingkan wajah. Ia mengambil kesempatan itu untuk mendorong tubuh Darmito. Membuat pria tua bangka itu tergelinding ke lantai. Secepat kilat Felicya berlari ke arah pintu. Dan begitu melihat pintu kamar terbuka serta seseorang yang berdiri di depannya itu, Felicya menghela nafas lega. Ia menarik kaos pria di hadapannya, meremasnya kuat-kuat. Menatap penuh kelegaan serta tatapan tersirat meminta pertolongan. "Syukurlah kau datang. Aku tidak ingin disini. Aku mohon.." kata Felicya serak. Nada itu terdengar memilukan bagi siapapun yang mendengarnya. "Andreas, cepat berikan jalang itu padaku. Dia harus segera memuaskanku." pinta Darmito yang sudah kembali berdiri memegangi pinggangnya yang encok. Felicya mendongak, menggeleng menolak agar Andreas tak melakukan itu. Andreas dengan wajah santainya kembali menatap lurus ke arah Darmito setelah sebelumnya melihat tatapan memelas Felicya. "Kau menginginkannya?" terdiam sejenak karena bingung dengan maksud pertanyaan Andrean yang terdengar seperti ancaman di telinga Darmito, pria tua itu menyahut. "Tentu saja. Darin yang memberikan jalang itu padaku." jawab Darmito yakin. Andreas tersenyum miring. "Sayangnyaaa, aku tak akan membiarkan tangan kotormu itu menyentuh milik Darin!" "Apa maksudmu?!" Darmito mendengus tak percaya. "Dia bukan jalang." Andreas menarik pergelangan tangan Felicya membuat tubuh gadis itu merapat padanya. Andreas mengedikkan dagu, memberikan isyarat pada wanita yang entah sejak kapan berdiri di belakang pria itu. Wanita berpenampilan seksi nan menggoda itu mengangguk menangkap printah dari Andreas. Kemudian wanita itu berjalan meliukkan tubuhnya mendekati Darmito. "Dia akan lebih hebat memuskanmu, dasar tua-tua keladi." Andreas terkekeh. Mengintip sedikit Darmito yang sudah merem melek akibat ulah seorang p*****r yang sudah di sewanya malam ini. "Ayo kita pulang." Andreas berujar lembut nan menenangkan. Memasangkan jaket kulit yang sudah sedari awal di tentengnya pada tubuh Felicya yang sedikit terekspos. Felicya mengangguk lemah. Berjalan terpogoh-pogoh akibat sakit di kakinya yang terasa ngilu. Andreas yang berjalan disisinya tersadar. Kemudian dia melihat ke arah kaki Felicya. Matanya membulat saat melihat kaki pucat Felicya yang mengeluarkan darah. "Ya Tuhan, kau terluka?!" jeritnya khawatir. Felicya yang sudah lelah tak mampu mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan Andreas. "Aku akan menggendongmu." Andreas peka terhadap situasi. Ia lekas menggendong Felicya. Felicya mengalungkan kedua tangannya pada leher Andreas. Menyandarkan kapalanya pada d**a bidang Andreas. Terasa nyaman. Apalagi saat mencium aroma parfum pria itu. Gadis itu bersyukur. Ia dapat merasakan kenyamanan saat ini. Ini semua berkat Andreas. Felicya kembali menangis di dekapan Andreas. Sesekali Andreas menepuk punggung Felicya saat gadis itu terisak. Dan mengeratkan gendongannya.  TBC......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD