Bab 6

1368 Words
Andreas menurunkan tubuh lemah Felicya penuh kehati-hatian. Berbeda dengan Felicya yang nampak baru tersadar bahwa dirinya telah duduk di atas kasur miliknya. Gadis itu mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Benar dirinya telah berada di kamarnya. Hampir saja Felicya tadi ketiduran dalam gendongan Andreas yang nyaman. "Tunggu sebentar." ucap Andreas lalu keluar kamar. Tiga menit kemudian Andreas kembali dengan kotak P3K di tangan kanannya. Pria itu berjongkok di hadapan Felicya. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Felicya kebingungan. Andreas memegang pergelangan kaki Felicya, melihat seberapa parah luka pada telapak kaki gadis itu. Cukup parah. Felicya menarik kembali kakinya merasa tak nyaman. "Aku akan mengurus kaki ku sendiri. Kau tidak perlu melakukannya. Kamu datang menyelamatkan ku, itu sudah lebih dari cukup." Andreas mendongak menatap wajah Felicya yang sayu. Kemudian lekaki itu berdiri. Memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. Andreas berbalik badan berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan. Mendudukan tubuhnya disana. Felicya memperhatikan setiap gerak gerik Andreas. Sampai akhirnya pria itu kembali menatap dirinya. Keduanya bertatapan cukup lama dan dalam. "Apa kau membencinya?" "Siapa? Darin?" tak butuh waktu lama berpikir Felicya mengangguk mantap menjawab. "Tentu saja. Aku sangat sangat sangat membencinya. Begitu membencinya. Dia jahat dan kejam! Kau tau!" Felicya mendengkus tak suka begitu membayangkan apa yang telah Darin lakukan padanya. "Emm.. Apa jika aku berkata bahwa yang mengirimku untuk menjemputmu itu adalah Darin kau akan berubah menyukainya?" "Entahlah. Tapi apa menurutmu aku akan percaya jika pria iblis itu yang menyuruhmu? Tidak! Aku sama sekali tidak percaya! Jangan membuat seolah-olah boss mu adalah orang yang baik hati" Felicya menunduk memperhatikan luka pada kakinya. Itu menjadi suatu bukti bahwa Darin tidak akan melakukan tindakan baik terhadapnya. "Baiklah itu semua terserah padamu. Aku akan pergi. Masih banyak tugas yang menungguku di luar sana." "Lihatlah! Dia saja begitu tega padamu! Memberimu banyak tugas, sedangkan boss mu itu bermalas-malasan di ruang pribadinya!" Andreas yang hendak pergi menunda niatnya itu. "Kau belum lama mengenal Darin. Pria itu sungguh gila kerja jika sudah memegang pena dan dokumen. Di saat liburpun, waktunya dia habiskan di perpustakaan membaca buku. Sungguh. Darin tidak pernah memiliki obsesi terhadap seorang wanita. Aku sendiri bosan melihatnya yang selalu berkencan dengan dokumen-dokumen sialan itu. Jadi jangan pernah beranggapan bahwa Darin memberiku banyak tugas, karena pada nyatanya dia lebih di repotkan dengan tugasnya yang menggunung. Paham adik kecil?" Felicya cemberut. Di antara rentetan kalimat Andreas, Felicya hanya menangkap dua kata terakhir 'adik kecil' Tok Tok. "Apa aku mengganggu?" tanya bibi Daisy menginstrupsi. "Tidak ibu. Masuklah." Andreas mempersilahkan ibu kandungnya untuk masuk. Bibi Daisy tersenyum pada putranya itu. Lalu setelah itu menghampiri Felicya dengan secangkir teh hangat di tangannya. "Ini minumlah nak. Buat dirimu hangat." bibi Daisy mengusap rambut kepala Felicya memberikan kenyamanan tersendiri untuk gadis itu. Kehangatan seorang ibu. Felicya menerima cangkir itu, dan meminumnya perlahan. "Terimakasih, Bi." Felicya tersenyum tulus. Bibi Daisy balas mengangguk. "Baiklah. Aku akan pergi dulu kalau begitu." pamit Andreas. Felicya terus meminum tehnya hingga habis. Kemudian meletakkan cangkir kosong itu di atas nakas. "Aku baru tau kalau bibi Daisy ternyata memiliki putra yang sangat tampan." ujar Felicya mengakui ketampanan Andreas. Bibi Daisy hanya bisa tersenyum bangga. "Bukankah Darin juga sangat tampan?" goda bibi Daisy menaik turunkan sebelah alisnya. Felicya membersitkan hidungnya. Membuang mukanya ke samping. "Yaa.. Dia memang tampan." katanya seolah enggan mengakui. Bibi Daisy terkekeh geli. "Kau ingin aku membantumu mengobati lukamu sekarang?" "Apa? Ohh.. Tidak usah. Aku akan mengobatinya sendiri nanti." tolak Felicya. Gadis itu sungkan jika harus merepotkan banyak orang hanya untuk mengobati luka yang bahkan bisa ia lakukan sendiri. "Ekhmm." deheman seseorang dari arah pintu mengambil alih atensi di ruangan itu. Felicya hampir terlonjak saat melihat Darin yang berdiri begitu angkuh di depan pintu. Wajah pria itu datar. Tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. "Lekas sembuh nak." bibi Daisy mengusap kepala Felicya dan berlalu pergi meninggalkan Darin dan Felicya di dalam ruangan itu. Berdua. Bersama Darin. Dalam satu ruangan. Felicya tegang. Apalagi saat Darin tak menunjukkan pergerakannya sama sekali setelah kepergian bibi Daisy. Felicya semakin di rundung gelisah. Darin mengecap terlebih dahulu, setelah itu barulah dirinya melangkah masuk. Felicya memejankam matanya rapat-rapat sambil menajamkan pendengarannya merasakan pergerakan Darin yang semakin mendekati dirinya. Merapalkan segala do'a agar Darin tak lagi berbuat kasar padanya. Begitu merasakan tubuh Darin yang tepat berdiri dekat di hadapannya, membuat Felicya meremas erat sprai. Menahan ketakutannya. Tak kunjung mendapatkan perlakuan, Felicya memberanikan diri membuka mata. Alangkah terkejutnya ia saat melihat kepala Darin berada di bawahnya. Pria itu tengah berlutut, persis sama dengan yang dilakukan Andreas beberapa menit yang lalu. Darin menyentuh luka di kaki Felicya. Membuat gadis itu meringis karena nyeri yang menjalar di seluruh tubuhnya. Darin memperhatikan Felicya begitu mendengar desisan kesakitan gadis itu. "Aku akan membersihkan lukamu." Sempat bengong terheran-heran mendengar perkataan Darin. Ia sempat tak percaya ucapan pria itu. Tapi keraguannya gugur saat melihat Darin yang membawa se baskom air dan juga kain serta sebotol larutan antiseptik. Darin kembali ke posisi semula. Pria itu mulai mengobati luka di kaki Felicya. Membersihkan kaki Felicya dengan air bersih menggunakan tangannya secara langsung. Darin sendiri bingung kenapa dirinya harus rela turun tangan seperti ini hanya untuk membersihkan luka pada kaki gadis itu. Ini pertama kali dalam hidupnya berlutut di hadapan seorang wanita. Setelah memastikan kaki Felicya bersih dan tak mengeluarkan darah lagi, Darin berlanjut mengelap kaki Felicya dengan kain yang sudah ia basahi dengan larutan antiseptik. "Kau ingin mandi sekarang?" "Hah?" Felicya tersadar dari keterdiamannya. "Mandi?" otak Felicya seolah mencerna maksud dari kata 'mandi' seolah dirinya baru pertama kali mendengar kata itu dan tidak faham dengan kata tersebut. Wajah linglung Felicya membuat Darin menahan tawanya. Lucu. Darin semakin di buat tertarik dengan ekspresi Felicya. Pria itu berdiri mencondongkan tubuhnya. Kedua tangannya bertengger di sisi kanan dan kiri gadis itu. Memagarinya. Felicya membola saat wajah Darin hanya berjarak beberapa senti di depannya. Jantungnya berdetak tak karuan. Felicya rasa jantungnya pada detik ini sedang tidak normal karena berdetak begitu kencang seakan mau meledak. "Kau.. Mau ku mandikan sekarang?" Darin berkata parau tepat di telinga Felicya. Felicya serasa mau pingsan mendengar suara seksi Darin yang membuat bulu kuduknya meremang. Tak kunjung mendapat jawaban, Darin membuat pilihan sendiri dengan membopong tubuh Felicya. "Akkk!" Felicya terperanjat saat tubuhnya terangkat. Refleks ia mengalungkan lengannya lada leher Darin. "Apa yang kau lakukan!" bantak Felicya tanpa sadar. Begitu melihat wajah sangar Darin, Felicya menciut. Wajah galaknya yang sempat Felicya tunjukkan hilang entah kemana. "Memandikanmu. Apa kau tidak ingin mandi? Kau ingin langsung istirahat dengan tubuh kotormu ini?" Felicya menunduk malu. Wajahnya merona. Di mandikan oleh Darin? Yang benar saja. "Aku akan mandi. Tapi tidak dimandikan olehmu! Aku akan mandi sendiri. Bisa turunkan aku sekarang?" Tak membantah, Darin menurunkan Felicya ke tempat semula seperti permintaan gadis itu. "Aku akan memanggil bibi Daisy untuk membantumu." Darin keluar dari kamar. "Haaaaaaaahhhhhhh!!!" Felicya memegang dadanya. Pasokan udaranya seakan habis. Dan ia susah bernafas. Berada di jarak terdekat bersama Darin seorang sangatlah membahayakan kerja jantungnya. Sikap lembut Darin benar-benar membuat Felicya kalang kabut. Pria itu justru semakin... Menawan? Akhh!! Sial! Maki Felicya dalam hati. Mengontrol detak jantungnya agar normal kembali. **** Langit semakin gelap tanpa sedikitpun bintang yang hadir membantu bulan untuk menyinari bumi. Seperti itulah penggambaran Darin saat ini. Pria itu begitu terang dan bersinar bagi kebanyakan orang di luar sana. Tapi tanpa di ketahui, pria itu selalu sendiri. Darin membuka pintu kamar gadis yang sudah di sewanya itu. Di lihatnya Felicya yang terlentang dan tertidur pulas larut dalam mimpinya. Menghampirinya, Darin menarik selimut Felicya mencapai d**a gadis itu. Tak pernah sedikitpun terbesit di pikirannya untuk berkencan apalagi menikah. Tapi takdir seakan memaksanya melalui penghantar sang tante. Meskipun berkata melalui ancaman. Darin membelai wajah damai Felicya. Matanya menatap lekat pada Felicya. Lalu entah dorongan dari mana, Darin semakin menundukan wajahnya, semakin dekat. Cup. Pria itu memberikan kecupan selamat malam melalui bibir Felicya. Ia memang tidak bisa memberikan cinta untuk gadis itu. Tapi rasanya, untuk berbuat baik sebagai bentuk rasa terimakasih karena Felicya sudah mau menampung benihnya, Darin merasa itu bukanlah dirinya. Kejam dan tak berperasaan itulah jati dirinya yang sesungguhnya. Darin mengusap rambut Felicya untuk terakhir kalinya malam ini, dan kemudian pergi dari kamar itu. Tanpa di sadari pria itu, kedua mata yang sedari tadi terpejam kini terbuka memperlihatkan cahayanya. Felicya memegang sebelah dadanya. Debaran itu lagi. Darin kembali membuat jantungnya berdebar. Rasa cintakah? Tbc....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD