"Lo lagi di mana, Ke?"
Kerin menoleh ke samping kemudian menjawab, "Pantai. Nemenin Alvo ngobrol."
Di seberang sana, si penelpon tertawa-tawa. "Udah baikan sama Alvo?"
Kerin menaikkan satu alisnya. "Kapan kita berantem sih?"
Alfa menjawab, "Berantem sih nggak. Cuma kurang akur aja kemaren."
"Terserah lo deh." Kerin menimpali setengah malas.
Sambungan telepon berakhir. Setelah keduanya selesai bicara di telepon, Alfa lebih dulu mengatakan akan memberi Kerin dan Alvo ruang untuk mengobrol. Alfa memang begitu. Dalam sehari bisa beberapa kali telepon. Bukan karena lelaki itu posesif. Tidak. Bahkan ia dan Alfa tidak pernah sungguhan berpacaran seperti klaim lelaki itu di kafe dulu. Alfa baik dan perhatian. Hanya saja..., Kerin merasa jika perhatian yang ditujunkkan Alfa padanya bukan dari lelaki ke perempuan pada umumnya. Apa ya, Kerin sendiri bingung harus menyebut apa.
Kerin membuka tas kemudian memasukkan ponsel setelah ngobrol ringan dengan Alfa. Pergerakkan Kerin, apa yang diucapkan perempuan itu pada seseorang di telepon tidak ada satu pun yang lolos dari telinga Alvo. Sepertinya Alfa dan Kerin semakin dekat. Bahkan lelaki itu menelpon hanya untuk menanyakan di mana keberadaan Kerin. Alvo mendengkus. Tangan kirinya menuruni pahanya lantas memainkan pasir yang ia duduki.
"Pasti Alfa ya, Ke?" tanya Alvo tanpa menunjukkan wajahnya kepada Kerin.
Kerin menutup tas bahunya. "Iya."
Alvo tersenyum masam. "Perhatian juga ya. Nggak kayak gue."
"Apa, Vo?" Kerin memegangi bawah rambutnya yang berterbangan terkena embusan angin di pantai. Ia lupa membawa ikat rambut sehingga ia harus kerepotan merapikannya sesekali.
"Gue bilang, Alfa perhatian banget sama lo." Alvo mengulangi kata-katanya. Tetapi tidak menambahkan bagian bahwa dirinya tidak seperhatian Alfa.
Apa maunya sih?
Alvo dilanda bingung beberapa hari ini. Lebih tepatnya setelah Lando datang dan memarahinya. Sebelumnya Alvo mengira kalau Lando terlalu ikut campur masalahnya. Akan tetapi, setelah Alvo renungkan lagi, Alvo merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Seperti tidak rela melihat Kerin semakin dekat dengan Alfa. Dari sekian banyak lelaki di dunia ini, kenapa harus yang seperti Alfa? Kenapa tidak mencari yang seperti Alvo saja?
Perasaan apa yang tengah ia rasakan sekarang? Kemarin ia mengharapkan Yasmin kembali menjadi pacarnya. Setelah itu, ia juga tidak rela Kerin berhenti menjadi tunangan pura-puranya.
"Gue boleh tahu nggak sih, alasan lo yang sebenernya kenapa pengin kerjasama kita berakhir." Alvo menengokkan kepalanya dan menatap Kerin untuk beberapa detik. "Selain karena lo merasa ini sia-sia. Apa lagi, Ke? Beneran karena pacaran sama Alfa?"
Lidah Kerin kelu. Bahkan untuk membuka mulutnya saja ia seperti tidak sanggup. Apa alasan terbesarnya ingin mengakhiri kerjasamanya dengan Alvo, ya? Kerin menatap Alvo kemudian mengerjap ringan. Pertanyaan Alvo sama seperti menambah beban di bahu Kerin yang nyaris berkurang. Kerin mematung. Ia tidak mungkin mengatakan dengan jujur bahwa ia kecewa kepada Alvo. Dan alasan terbesarnya adalah kedatangan Yasmin yang menarik perhatian Alvo.
Kasarnya, Kerin cemburu.
Sebelum ia diminta pergi Alvo, akan lebih baik ia mundur secara mandiri.
"Ke." Alvo memanggil Kerin. Intonasi suaranya berubah pelan dan lembut.
"Gue...," gumam Kerin bingung.
Alvo tiba-tiba tersenyum. Kepalanya ia gelengkan dengan ringan sebelum menambahkan, "Pertanyaan gue bikin lo bingung kayaknya. Padahal dari awal lo minta berakhir, lo udah kasih tahu alasannya apa. Kenapa gue tanya lagi, ya?" gumam Alvo sambil menggaruk belakang kepalanya.
Untuk beberapa detik Kerin terkejut. Lelaki yang ia kenal dingin, angkuh, dan bermulut pedas. Kini bertingkah sebaliknya. Seperti bukan Alvo. Lelaki itu mengarahkan pandangannya lurus ke pantai kemudian tersenyum lebar, seperti bukan kebiasaannya saja. Apa karena terlalu patah hati karena Yasmin, ya? Secinta itu Alvo kepada Yasmin sampai-sampai berubah aneh seperti sekarang.
Kerin memberanikan diri menepuk sebelah bahu Alvo. Ia ikut menatap lurus ke arah pantai. "Mungkin, suatu hari lo bisa dapat yang lebih dari Yasmin, Vo."
Alvo terdiam. Senyum di bibirnya memudar sedikit demi sedikit. Kenapa jadi Yasmin? Alvo menggerakkan kepalanya ke tempat Kerin duduk. Alvo sendiri bingung siapa di antara Yasmin atau justru Kerin yang membuatnya Alvo begitu patah hati. Setelah ia berbicara di restoran tadi, Alvo merasa perasaannya sedikit lebih ringan daripada kemarin. Tapi saat mendengar Kerin dan Alfa mengobrol di telepon, reaksi Alvo berbeda. Selain perasaan yang tidak rela. Alvo juga merasakan sesak di dadaanya.
Kenapa?
Kerin menepuk celana jinsnya sebelum berdiri. Ia mengulurkan tangannya ke Alvo. "Udah sore, Vo. Yuk, kita balik sekarang."
Alvo memandangi uluran tangan Kerin. Perempuan itu menunjukkan ekspresi lucu karena ia tidak kunjung bangun juga. Alvo menjabat tangan Kerin hendak berdiri. Namun karena perbedaan kontras tubuh mereka yang jauh. Kerin yang tampak kecil saat bersama Alvo, jelas jatuh akibat tidak sengaja ditarik Alvo.
Deg.
Kerin meneguk ludah susah payah. Alvo sama sekali tidak bisa mengerjapkan matanya. Untuk pertama kalinya mereka menatap lebih dekat. Kerin tanpa sengaja meremas bahu Alvo kemudian meringis.
"Duh!" Lamunan Kerin buyar. Kepalanya menengadah ke atas langit dan menyadari hujan yang turun.
"Hujan, Vo!" Tanpa sadar Kerin berteriak.
Alvo melepaskan tangannya dari pinggang Kerin yang kecil. Kerin dan Alvo berdiri bergantian. Sibuk menatap ke sana kemari untuk membuat perasaan mereka lebih ringan setelah kejadian barusan.
"Sori, Ke. Gue—"
Kerin mengangkat sebelah tangannya lantas meletakkannya ke atas kepalanya sendiri. "Yuk balik sekarang aja, Vo!"
Alvo mengangguk dengan canggung. "Ah, iya. Ayo, Ke."
Kerin berjalan mendahului Alvo. Ah, bukan. Lebih tepatnya Kerin berlari meninggalkan lelaki itu karena terlanjur malu. Kerin memegangi kedua pipinya yang terasa panas. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Alvo dari belakang. Kerin mengipasi wajahnya. Walau hujan turun tambah deras, nyatanya tidak bisa mengalahkan rasa hangat di kedua pipinya.
Dari kejauhan seseorang menertawakan tingkah Kerin. Lelaki itu menjejalkan satu tangannya ke saku celana yang ia kenakan. Layaknya remaja yang pertama kali jatuh cinta, Kerin dan Alvo terlihat canggung. Malu-malu tapi mau.
Rencana pertama telah berhasil. Sekarang... Alfa akan memulai rencana selanjutnya. Membuat kedua orang itu menyadari bahwa—Kerin dan Alvo sudah saling menyukai sejak lama.
***
Kerin dan Ola hampir frustrasi hanya karena mendengar suara tangis Langen yang menggelegar. Seperti yang dikatakan Ola kemarin perihal Lando yang akan melepas Langen. Tidak menunggu lama, keesokan harinya Sandra memberitahu Langen bahwa wanita itu kecewa.
Karena sikap Langen yang buruk pada Lando selama ini membuat lelaki itu melepas anak perempuan Sandra pada akhirnya.
Entah sudah berapa banyak lembar tissue yang dihabiskan Langen untuk menghapus air mata di pipinya. Kerin tidak berhenti mengusap lengan temannya sembari mengucapkan kata sabar. Sementara Ola, perempuan itu terlalu semangat menghibur Langen sehingga tidak sadar terlalu keras menepuk punggung Kakak sepupunya sampai terdengar bunyi, bugh!
"OLAAA!" teriak Langen sesak. Ia melempar gumpalan tissue di tangan yang telah basah.
Di samping Langen, Kerin memberi isyarat agar Ola tidak membuat masalah. Langen sedang sedih karena hubungannya dan Lando telah berakhir.
"Lo merasa aneh nggak sih, Kak?" tanya Ola, khas dengan gayanya yang tengil.
"Aneh kenapa?" timpal Kerin.
Ola menyibak rambut hitam panjangnya ke belakang punggung. "Kak Langen nangis buat apa? Selama ini keinginan terbesar Kak Langen, kan, pengin putus sama Bang Lando! Giliran udah putus beneran, kenapa nangis?"
Tangis Langen langsung berhenti. Gerakkan tangannya yang terus mengusap air mata di pipi kini berhenti. Sejenak perempuan itu diam mematung. Detik berikutnya Langen bergumam, "Iya, ya. Kenapa gue nangis, Ke?" Langen menoleh ke temannya. "Harusnya gue seneng karena Lando mau ngelepas gue. Ya, kan?"
Kerin dan Ola mengangguk-angguk.
"Reaksi lo sekarang sama kayak orang yang nggak terima diputusin." Kerin mengatakannya hati-hati. "Lo beneran nggak apa-apa Lando ngelepasin lo?"
Langen diam mematung. Ada banyak pertanyaan di kepalanya sekarang. Kenapa Lando melepasnya? Apa artinya hubungan mereka selama ini? Mereka bertunangan bukan satu atau bulan. Lebih dari setahun mereka bersama. Walau tidak banyak memiliki kenangan manis karena Langen selalu menolak setiap diajak pergi, tetapi jauh dari lubuk hati Langen paling dalam, ia tidak rela Lando melepasnya begitu saja. Bahkan tidak mengatakannya secara langsung kepada Langen. Atau... Lando mulai membenci dirinya?
Langen terisak-isak lagi. Tissue bekas yang telah lama dipegangnya kini ia empaskan ke lantai kemudian menarik tissue baru. Air mata Langen semakin banyak berjatuhan sampai Langen kesal sendiri. Kenapa ia menangis sebanyak ini untuk lelaki yang tidak pernah ia sukai!
"La?" panggil Kerin cemas. Pasalnya, Langen berubah mirip patung. Tapi yang mengerikan air matanya tidak berhenti jatuh.
"Gini aja nangis! Kemaren-kemaren lo gimana emang sama Bang Lando? Tiap ke sini diketusin. Bahkan lo pernah ganti gula di kopinya sama garam! Inget nggak lo, Kak? Kalau lupa, gue ingetin sekarang!" oceh Ola.
Kerin menutup bibirnya dan menatap temannya tidak percaya. "Serius lo, La?" tanya Kerin. "Gila! Parah banget lo, astaga!"
"Tuh, kan!" seru Ola sambil mengangguk. "Coba itu Natan, auto deh... auto gue dikerjain balik sama dia!"