Kerin melihat Alvo berjalan lesu ke arahnya. Sesaat, ia bingung dan bertanya, bagaimana caranya menghibur Alvo di kala patah hati? Mantan pacar yang ia harapkan bisa kembali padanya, justru sebentar lagi akan bertunangan dan menikahi lelaki lain.
"Lo mau balik, kan? Biar gue anter," ujar Alvo lesu. Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan kunci mobil.
Kerin diam untuk beberapa detik. Melihat Alvo begitu, ia jadi tidak tega membiarkan Alvo sendiri dan menghabiskan banyak waktu untuk melamun. Mengasihani diri sendiri karena tidak bisa mendapatkan seseorang yang ia inginkan. Kerin paham sekali bagaimana rasanya. Diberi harapan pada awalnya, lalu dijatuhkan begitu saja.
Tanpa kentara Kerin menarik napas panjang. Melirik Alvo yang diam di sampingnya, memandangi kunci mobil di tangannya.
"Masih ada waktu," gumam Kerin melirik arloji di tangan. "Dari sini, lo pengin ditemenin ke mana lagi?"
Pertanyaan Kerin barusan menarik perhatian Alvo. Bahkan seluruh pandangannya tertuju ke perempuan itu. Kerin memandanginya ragu, terrsenyum canggung ke arahnya. Sejenak, Alvo bingung dan mengerutkan dahi. Akan tetapi setelah ia pikir lagi, ini adalah kesempatannya agar bisa bersama Kerin sedikit lebih lama sebelum Alfa tahu-tahu muncul dan mengganggu momen di antara ia dan Kerin.
"Kalau lo nggak keberatan, gue pengin lo nemenin gue pergi ke pantai."
Dalam hitungan detik, Kerin menganggukkan kepalanya. Mengiyakan ajakan Alvo. Kerin menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan agak terburu.
Berbeda dari sebelumnya, Alvo tidak lagi berjalan mendahului Kerin. Alvo tidak lagi buru-buru meninggalkannya seolah malu karena berjalan berdampingan dengan dirinya. Alvo menunggu Kerin hingga langkah mereka sejajar. Kerin menambah kecepatan langkahnya sebelum ia menyadari bahwa Alvo telah menunggunya agar jalan mereka seimbang.
Kerin pikir Alvo berubah banyak hanya dalam hitungan beberapa hari saja. Rasanya baru kemarin Alvo menjemputnya makan malam dan mengatakan sesuatu dengan intonasi ketus. Ada apa? Pertanyaan paling dasar, namun tidak kunjung berhenti juga. Tapi biarlah, justru perubahan Alvo ke hal lebih baik, kenapa tidak didukung saja. Ya, kan?
***
Langen tidak berpikir bahwa Lando akan sungguhan marah padanya. Mengingat sikapnya yang kurang ajar kepada lelaki itu selama ini, Langen menyesali, seharusnya Langen belajar menerima lelaki itu. Mau atau tidak sekali pun.
Sesungguhnya Langen ingin bertanya kepada Lando. Apa yang disukai lelaki itu dari dirinya? Soal wajah, Langen bisa berbangga hati. Ia tidak akan mengelak mengakui bahwa dirinya memiliki rupa yang cantik. Jika membicarakan perempuan cantik, Lando bisa mendapatkan yang lebih dari dirinya.
Langen duduk di sudut ranjang. Memandangi layar ponselnya sedih. Sudah beberapa hari ini Lando tidak kunjung menghubunginya. Langen ingin menghubungi Lando terlebih dahulu kemudian bertanya, "Kenapa nggak telepon gue? Lo sibuk banget atau pura-pura sibuk, sih?!" Akan tetapi, gengsi tinggi Langen mengalahkan rasa rindunya kepada lelaki itu.
Rindu? Astaga. Tidak.
Langen menggelengkan kepala lantas duduk dengan tegap. Beberapa kali ia meyakinkan dirinya. Bahwa ia sama sekali tidak merindukan lelaki itu. Iya. Langen hanya..., ia menggigit bibir. Mencari alasan, membantah dengan keras kalau ia sungguhan tidak rindu. Haha! Mana mungkin!
"DENIAL TERUUUS!"
Pintu kamarnya tahu-tahu terbuka. Di sana ada Ola, sepupunya yang menyebalkan, sedang menatap tengil ke arah Langen. Perempuan yang usianya belum genap dua puluh tahun itu masuk ke dalam kamarnya tanpa meminta izin lebih dulu. Seolah kamar yang ia masuki adalah kamar Nenek moyangnya!
"Ngaku aja kali kalau kangen. Nggak bakal bikin mati juga," sindir Ola berani.
Langen mengangkat dagu, menatap Ola sinis. "Apa sih lo bocil! Pergi sana deh. Ganggu orang mulu!"
"Gue nggak ganggu lo, Kak. Gue berusaha meyakinkan lo nih. Kangen sama Bang Lando kan, lo?" ledeknya.
Ola duduk ke tepi ranjang awalnya. Melihat respons Langen yang baik-baik saja saat ia duduk di ranjang Kakak sepupunya, Ola perlahan-lahan membaringkan tubuhnya. Kedua matanya menatap langit-langit kamar Langen lalu mengerjap beberapa kali.
Sesaat, mereka tampak akur saat ini. Beda dari hari-hari sebelumnya selalu gelud lantas adu mulut. Hampir setiap hari. Sandra terkadang kuwalahan melerainya. Dua-duanya sama tengil. Baik Langen mau pun Ola tidak ada yang mau mengalah.
"Kak..."
"Apa?" Langen menyahut, tapi mata serta seluruh perhatiannya hanya tertuju ke layar ponsel. Berharap ia mendengar bunyi notifikasi pesan.
"Kalau lo dikasih pilihan selain terima perjodohan kalian. Lo bakal pilih apa?" tanya Ola tiba-tiba.
Langen menarik kedua kakinya kemudian menekuknya. "Lo ngomong apa sih bocil..." gumam Langen, tidak tertarik dengan pertanyaan Ola.
Tubuh Ola bergerak. Semula terlentang kini menjadi tengkurap. Kepalanya agak ia dongakkan, lantas bertanya lagi, "Misal Mama lo kasih dua pilihan. Lo terima atau lo tolak, lo pilih yang mana?"
Langen mulai geram. Bocah tengil itu menanyai hal yang jelas tidak mungkin terjadi. Langen sudah bertunangan dengan Lando. Lalu, untuk apa mamanya akan memberinya pilihan? Apa lagi salah satu pilihannya menolak Lando! Kan, tidak mungkin!
"Akh, pergi lo. Sana balik kamar!" usir Langen kesal. Ia mendorong-dorong bahu Ola. "Lo di sini bukan bikin gue tenang malah nambah beban pikiran!"
Ola berusaha tetap berbaring di kasur Langen. "Gue nanya seriusan, Kak!"
Langen mendelik. "Gue juga serius ngusir lo dari kamar gue! Sana!"
Pada akhirnya Ola bangun juga. Berdiri buru-buru sambil menatap Langen kesal. Ola berkacak pinggang, raut wajahnya masih saja tengil.
"Gue kasih tahu lo ya, Kak," ujar Ola menurunkan sebelah tanganya. "Rencana lo berhasil!"
Sebelah alis Langen terangkat naik. Ia bingung. "Rencana apa?"
"Selama ini lo sengaja memperlakukan Bang Lando buruk karena berniat bikin dia nggak betah sama lo, kan?" tanya Ola sok tahu. "Gue nggak sengaja denger Natan ngobrol sama Bang Lando. Katanya, dia mau ngalah sama lo. Seneng kan lo sekarang?! Akh! Andai aja Natan mau ngalah juga dan lepasin gue. Gue bakal sangat berterima kasih sama dia!"
Langen belum bisa memahami kata-kata yang disampaikan Ola. Kedua kaki perempuan itu berubah posisi menjadi lurus. Kemudian perlahan menarik badannya ke tepi ranjang.
"Maksud lo apa sih? Siapa yang mau ngalah dan lepasin siapa?" tanya Langen bingung.
"Bang Lando," jawab Ola santai. "Dia kayaknya sayang beneran sama lo, Kak. Buktinya, karena nggak mau bikin lo merasa terbebani sama perjodohan kalian, Bang Lando mau ngalah aja. Tapi nggak tahu kapan bakal bilang sama Tante Sandra."
Detik itu, Langen merasa dunianya berhenti berputar untuk beberapa saat. Rasanya seperti tidak bisa bernapas. Antara percaya dan tidak. Lando akan melepasnya? Sungguh?
"Bang Lando baik gitu lo sia-siain." Ola mengomeli Kakak sepupunya. "Belum tentu setelah lo berdua udahan, lo dapet yang lebih baik dari Bang Lando."
Dengan kurang ajar Ola berjalan keluar kamar Langen. Meninggalkan kebingungan luar biasa. Setengah dadaanya sesak, setengah heran karena ada air mata yang tiba-tiba jatuh.
Kenapa?
Pertanyaan pendek itu terasa menyesakkan. Kalau memang benar Lando melepasnya, bukannya ia harus berpesta? Kenapa malah menangis seolah tidak terima lelaki itu melepaskannya.